Infeksi HIV / AIDS ; Sejarah, Jenis dan Cara Deteksi

Infeksi HIV / AIDS  ; Sejarah, Jenis dan Cara Mendeteksi – Infeksi HIV dan penyakit AIDS saat ini telah menjadi masalah kesehatan global. Selama kurun waktu 25 tahun, infeksi HIV telah berkembang dengan pesat, berawal dari beberapa kasus di area dan populasi tertentu hingga menyebar ke seluruh negara di dunia. Acquired immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah sindroma penyakit defisiensi imunitas seluler yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang merusak sel yang berfungsi untuk sistem kekebalan tubuh yaitu CD4 (Lymphocyte T-helper).

AIDS merupakan suatu sindrom atau kumpulan gejala penyakit dengan karakteristik defisiensi kekebalan tubuh yang berat dan merupakan stadium akhir infeksi HIV.

Infeksi HIV/ Penyakit AIDS   ; Sejarah, Jenis dan Cara Deteksi

Ilustrasi

HIV ditemukan oleh Barre-Sinoussi, Montagnier, dan kawan-kawan di Institut Pasteur tahun 1983 yang menyebabkan limfadenopati sehingga disebut LAV (Lymphadenopathy Associated Virus). Tahun 1984, Popovic, Gallo dan teman kerjanya menggambarkan adanya perkembangan sel yang tetap berlangsung dan produktif setelah diinfeksi oleh virus yang sama dengan LAV yang kemudian disebut HTLV-III. Tahun 1986 Komisi Taksonomi Internasional memberi nama baru, yaitu Human immonodeficiency Virus (HIV).

Jenis, Dampak Virus HIV dan Penularanya

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah sejenis retrovirus. Ada dua tipe yaitu tipe 1 (HIV-1) dan tipe 2 (HIV-2). Virus-virus ini secara serologis dan geografis relatif berbeda tetapi mempunyai ciri epidemiologis yang sama. Patogenitas dari HIV-2 lebih rendah dibanding HIV-1. Sebagian besar HIV/AIDS berakibat fatal, sekitar 75% pasien yang terkena AIDS meninggal tiga tahun kemudian, 5% pasien terinfeksi HIV tetap sehat secara klinis dan imunologis.

HIV dapat ditularkan dari orang ke orang melalui kontak seksual, penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi, transfusi darah atau komponen-komponennya yang terinfeksi, serta transplantasi dari organ dan jaringan yang terinfeksi HIV. HIV juga bisa menular melalui cairan tubuh seperti darah, cairan genitalia, ASI, saliva, air mata, urin dan sekret bronkial.

Dampak dari HIV/AIDS tidak hanya berpengaruh pada sektor kesehatan saja, tetapi juga mempengaruhi kondisi sosial ekonomi. HIV/AIDS akan membuat penderitanya lebih rentan terhadap infeksi oportunistik. Perawatan terhadap penderita HIV/AIDS membutuhkan perhatian dan pelayanan khusus. Hal ini akan meningkatkan kebutuhan penderita terhadap pelayanan kesehatan maupun sistem kesehatan publik yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Diskriminasi dan stigmatisasi juga dapat menimpa penderita maupun keluarga dengan HIV/AIDS. Hal tersebut dapat menyebabkan kesulitan dalam pekerjaan, perawatan, pengobatan, dan interaksi sosial keluarga di dalam masyarakat. Berbagai akibat dan kompleksnya masalah yang dihadapi penderita maupun keluarga dalam merawat klien HIV/AIDS menimbulkan upaya preventif maupun kuratif.

Perkembangan HIV/AIDS menunjukkan lonjakan yang sangat tinggi, bahkan banyak orang yang meninggal karena AIDS. HIV/AIDS tidak hanya menyerang mereka yang tinggal di kota besar, akan tetapi sekarang sudah merambat ke daerah-daerah. Apabila seseorang positif tertular HIV/AIDS, hal ini merupakan persoalan besar karena sampai sekarang penyakit AIDS belum ada obatnya dan belum ada vaksin yang dapat mencegah serangan virus HIV, namun hanya ada obat yang dapat memperlambat pertumbuhan virus HIV seperti Azidothymidine (AZT), atau disebut juga dengan Zidorudine. Tetapi obat tersebut tidak dapat menyembuhkan penyakit yang ada di tubuh saat terkena AIDS.

Cara Tes HIV/AIDS dengan Rapid Test

Dari uraian tersebut, cara untuk mendeksi HIV/AIDS. Salah satu contoh yaitu dengan Rapid Test. Rapid test dapat mendeteksi antibodi HIV secara cepat. Saat ini sudah tersedia beberapa perangkat uji cepat HIV (rapid test) yang telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) dan telah dipasarkan secara komersial di Amerika serikat, yaitu OraQuick Advance Rapid HIV-1/2 Antibody Test, Reveal G3 Rapid HIV-1 Antibody Test, Uni-Gold Recombigen HIV Test, Multispot HIV-1/HIV-2 Rapid Test, Clearview HIV 1 / 2 Pak Stat, Clearview Complete HIV 1/2, dan INSTI HIV-1 Antibody Test. Adanya perangkat uji cepat (rapid test) HIV, memungkinkan seseorang untuk mengetahui status HIV dalam satu kali kunjungan.

Hal ini akan meningkatkan kenyamanan baik bagi pasien maupun dokter, dan jika pasien dinyatakan positif, dapat langsung diberi kesempatan untuk mendapatkan perawatan medis. Adanya rapid test juga akan membantu meningkatkan akses terhadap tes HIV karena dapat digunakan di luar laboratorium (Almazini, 2011). Jenis rapid test yang digunakan untuk mendeteksi HIV di Rumah Sakit Wijaya Kusuma (RSWK) Purwokerto yaitu dengan menggunakan Rapid Test Anti-HIV 1/2 Cassette (Focus Diagnostic) dan Rapid One Step Test (Mono Test Dipstik).

Teknis Kerja yang Dilakukan Tenaga Kesehatan

(Pertama) Cara Pengambilan Sampel Darah

  1. Lengan pasien diikat dengan tourniquet (pengikat lengan).
  2. Spuit injeksi (5cc) disiapkan.
  3. Lengan pasien diraba hingga ditemukan letak venanya.
  4. Darah diambil sebanyak 5 cc dengan menyuntikkan spuit injeksi pada vena.
  5. Darah dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
  6. Tabung diberi label dengan identitas pasien.

(Kedua) Pengambilan Serum Darah

  1. Sampel darah di dalam tabung reaksi didiamkan membeku pada suhu ruang selama beberapa menit.
  2. Sampel darah dimasukan ke dalam sentrifuge dan diseimbangkan dengan tabung yang berisi akuades dengan volume yang sama dengan sampel darah yang digunakan.
  3. Sentrifuge ditutup.
  4. Sampel darah diputar dengan sentrifuge selama ± 10 menit.
  5. Serum diambil dengan menggunakan mikropipet 100 µL sebanyak 500 µL (5x).
  6. Serum dimasukkan ke dalam kuvet.

(Ketiga) Deteksi HIV dengan Rapid Test Anti-HIV 1/2 Cassette / Test Card (Focus Diagnostic).

  1. Buka kemasan Rapid Test Anti-HIV 1/2 Cassette . Ambil port sampel dan pipet.
  2. Pipet dipegang secara vertikal di atas port sampel. Port sampel diletakkan pada permukaan yang rata dan diberi label sesuai identitas pasien.
  3. Serum diambil dengan pipet tetes sekali pakai yang disertakan dalam kit, kemudian ditambahkan ke dalam port sampel sebanyak 1 tetes (3 ml).
  4. Segera tambahkan 3 tetes diluent anti-HIV (larutan pencuci) ke dalam port sampel yang berisi serum.
  5. Hasil uji dibaca langsung 10 hingga 12 menit setelah serum ditambahkan diluent anti-HIV. Untuk memastikan hasil tes nonreaktif, tunggu sampai 12 menit. Jangan membaca hasil setelah 20 menit.

(Keempat) Deteksi HIV dengan Rapid One Step Test (Mono Test Dipstik).

  1. Buka kemasan Rapid One Step Test (Mono Test Dipstik), keluarkan kartu Mono Test Dipstik.
  2. kartu Mono Test Dipstik langsung dicelupkan ke dalam serum. Jangan sampai menyentuh batas tanda sampel maksimal.
  3. Setelah 10 hingga 12 menit, hasil langsung dibaca. Untuk memastikan hasil tes nonreaktif, tunggu sampai 12 menit. Jangan membaca hasil setelah 20 menit.

Interpretasi hasil:

(+) / reaktif : terdapat 2 garis merah
(-) / nonreaktif : terdapat 1 garis merah

Invalid : tidak terdapat garis merah (tidak valid), harus diulang.

Baca juga : Manfaat Propolis sebagai penghambat virus HIV

Demikian artikel kesehatan berjudul, Infeksi HIV / AIDS  ; Sejarah, Jenis dan Cara Mendeteksi, semoga bermanfaat.

Bacaan Lebih lanjut

Almazini, P. 2011. Rapid Test Makin Cepat Mendeteksi Antibodi HIV. UI Press, Jakarta.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !