INVENTORY DAERAH ALIRAN SUNGAI

PENDAHULUAN
Daerah aliran sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan antara sungai dan anak-anak sungainya yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, dengan batas di darat sebagai pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan ( Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air). Menurut Rahayu et all. (2009), DAS adalah daerah tertentu yang bentuk dan sifat alaminya sedemikian rupa sehingga merupakan suatu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungai yang melaluinya. Sungai dan anak-anak sungai tersebut berfungsi untuk menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan serta sumber air lainnya (Anonim, 2010).

Daerah Aliran Sungai dapat dibedakan menjadi ekosistem sungai & daratan:

1. Sungai : Bagian-bagian dari sungai bisa dikategorikan menjadi tiga, yaitu bagian hulu, bagian tengah da n bagian hilir.
a. Bagian Hulu.
Bagian hulu memiliki ciri-ciri: arusnya deras, daya erosinya besar, arah erosinya (terutama bagian dasar sungai) vertikal. Palung sungai berbentuk V dan lerengnya cembung (conveks), kadang-kadang terdapat air terjun atau jeram dan tidak terjadi pengendapan.
b. Bagian Tengah.
Bagian tengah mempunyai ciri-ciri: arusnya tidak begitu deras, daya erosinya mulai berkurang, arah erosi ke bagian dasar dan samping (vertikal dan horizontal) palung sungai berbentuk U (konkaf), mulai terjadi pengendapan (sedimentasi) dan sering terjadi meander yaitu kelokan sungai yang mencapai 180° atau lebih.
c. Bagian Hilir.
Bagian hilir memiliki ciri-ciri: arusnya tenang, daya erosi kecil dengan arah ke samping (horizontal), banyak terjadi pengendapan, di bagian muara kadang-kadang terjadi delta serta palungnya lebar.
Geologi, geografi dan kegiatan manusia di daerah aliran sungai sangat penting sekali untuk mempelajari ekosistem air tawar, karena mempengaruhi komposisi air dan laju masukan air. Masukan air bagi kebanyakan sungai berasal dari rembesan air tanah. Air bergerak sangat lambat di dalam tanah dan masuknya air kedalam sungai setelah hujan memerlukan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.
Air tawar mengandung bahan-bahan kimia yang mempengaruhi sifat-sifat komunitas biologis yang ada di dalamnya. Semua tumbuh-tumbuhan, baik yang mikro maupun makroskopis, memerlukan unsure-unsur yang banyak untuk pertumbuhan, terutama nitrogen, fosfor dan kalium. Berbagai hewan – hewan air juga memerlukan kalsium yang cukup banyak bagi pertumbuhan kulitnya.
Gas-gas terlarut berperan sangat penting dalam proses metabolic pada semua organisme air. Sebagian dari gas-gas tersebut masuk secara difusi dari udara, atau secara turbulensi bagi sungai-sungai yang arusnya deras bergolak. Proses-proses kehidupan di dalam air sungai berpengaruh terhadap gas-gas yang terlarut. Sebagai contoh, keadaan fotosintesis pada siang haridi cirikan oleh perubahan konsentrasi oksigen dan karbondioksida di dalam air. Bila sampah buangan organik terdapat dalam sungai (misalnya dekat dengan tempat pemukiman atau pabrik minyak kelapa sawit), maka proses penguraian oleh mikroorganisme meingkat dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut. 
Unsur-unsur kimia yang terlarut dari partikel-partikel kimia lainnya yang ada dalam air, berasal dari dua sumber, yaitu :
  • Dari air hujan, yang mungkin banyak mengandung campuran bahan anorganik dalam jumlah yang cukup besar
  • Dari air tanah, yang memasuki sungai dan banyak diantaranya langsung mengalami pelapukan udara. Akibatnya akan membawa serta bahan-bahan anorganik maupun organic membuat larutan atau suspensi.
Komponen biotik pada ekosistem air tawar dikenal sebagai makrofit. Golongan makrofit yang utama adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) dan lumut daun. Makrofit yang tidak terapung atau yang kebanyakan daunnya tidak bermunculan ke udara harus menyesuaikan diri dengan kadar oksigen yang rendah, laju difusi oksigen yang lambat serta intensitas cahaya yang rendah. 
Hewan di sungai dapat digolongkan secara kasar menurut habitatnya. Beberapa jenis hewan hidup di permukaan air dengankekuatan tegangan permukaan. Jenis-jenis hewan ini disebut neuston. Jenis yang mampu berenang nekton jenis yang lainnya disebut zooplankton. Zooplankton yang paling umum dijumpai adalah rotifera dan crustacea kecil. Jenis zooplankton tersebut banyak ditemukan di hilir sungai. Kebanyakan jenis invertebrate erat hubungannya dengan dasar sungai yang dikenal sebagai bentos. Kebanyakan bentos terdiri dari serangga, tetapi di habitat tertentu cacing tanah, lintah, siput, kerang, atau kutu air.
Pola intensitas factor-faktor abiotik biasanya dapat dilihat dari hulu sampai ke muara sungai. Pola tersebut umumnya di jumpai pada semua sungai, tetapi tidak selalu berjalan secara normal dan berlangsung terus-menerus, misalnya air terjun yang besar. Berdasarkan penampang melintang sungai, dijumpai variasi dalam hal kedalaman, komposisi substrat dan kecepatan aliran. 
Walaupun tidak nyata, kecepatan aliran bertambah dari hulu ke hilir. Tegangan geser tidak hanya merugikan terhadap hewan-hewan dan tumbuhan, tetapi juga terhadap partikel-partikel anorganik yang dapat terlepas. Partikel-partikel yang tetap berada pada suatu tempat adalah partikel yang lebih besar dari pada yang dapat dihanyutkan oleh aliran air. Tanah adalah penyangga yang baik terhadap pengaruh perubahan suhu udara dan terhadap sinar matahari, oleh karena itu suhunya lebih stabil dari suhu udara. Maka suhu hulu sungai yang masukan airnya dari air tanah akan mendekati suhu tanah di sekelilingnya. Suhu tersebut umumnya lebih rendah dari suhu udara, tetapi ketika air mengalir ke hilir, suhunya akan naik perlahan-lahan akibat sentuhan dengan udara dan sinar matahari. 
2. Daratan
Perbedaan pokok antara ekosistem darat dan air terletak pada ukuran tumbuhan hijau, di mana autotrof daratan cenderung lebih sedikit, akan tetapi ukurannya lebih besar. Perbedaan antara habitat daratan dan air adalah sebagai berikut:
1. Habitat daratan, kelembaban merupakan faktor pembatas, organisme daratan selalu dihadapkan pada masalah kekeringan. Evaporasi dan transpirasi merupakan proses yang unik dari kehilangan energi pada ingkungan daratan.
2. Variasi suhu dan suhu ekstrem lebih banyak di udara daripada media air.
3. Sirkulasi udara yang cepat di permukaan bumi akan menghasilkan isi-campuran O2 dan CO2 yang tetap.
4. Meskipun tanah sebagai penyangga yang padat bukan udara, kerangka yang kuat telah berkembang di tanah yaitu tanaman dan binatang yang akhir-akhir ini mempunyai arti khusus bagi perkembangan.
5. Tanah tidak seperti lautan yang selalu berhubungan dimana tanah sebagai barier geografi terpenting dala gerak bebasnya.
6. Sebagai substrat alam, meskipun yang terpenting adalah di air. Namun, yang paling khusus adalah dalam lingkngan daratan. Tanah adalah sumber terbesar dari bermacam-macam nutrisi 9nitrit, fosfor, dan sebagainya) yang merupakan perkembangan besar dari subsistem ekologi (Heddy, 1989).
MATERI DAN METODE
A. Materi
Alat yang digunakan pada prakikum ini adalah thermometer 2 buah (udara dan air), patok 2 set (moluska dan bambu), botol kosong 2 buah (untuk kecepatan arus dan sampel air), tali raffia 3 utas ( untuk kecepatan arus, kuadrat 0,5 x 0,5 m dan 10 x 10 m), kantong plastic untuk sampel moluska, bambu dan tanah, kertas pH dan soil tester, penggaris, timbangan dan kamera.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sampel moluska, sampel bambu, sampel air, dan sampel tanah.
B. Metode 
1. Ekosistem 
Diamati tipe pemanfaatan lahan dan aktivitas di daerah sekitar sungai. 
Dibuat model interaksi factor abiotik dan biotik ( diperlukan data tentang benda abiotik dan biotik yang dapat ditemukan di lokasi pengamatan) 
Dibuat skema hubungan antara komponen biotik dan abiotik. 
Data yang diperoleh, ditentukan peranan (fungsi ekologis) dari organism tersebut. 
2. Komunitas 
Pengambilan sampel moluska dan air 
1. sampel diambil dengan metode kuadrat
2. dibuat kuadrat dengan menggunakan 4 patok dengan jarak 0,5 x 0,5 m
3. diplih lokasi yang menjadi habitat moluska dengan meletakan kuadrat tersebut.
4. Dikumpulkan moluska yang ada dalam kuadrat, dimasukan dalam kantong plastic.
5. Diamati bentuk cangkang, warna, arah lingkarannya, dan diberi kode
6. Diidentifikasi dan dihitung di Laboratorium. 
Pengambilan sampel bambu sebagai tumbuhan tepian atau riparian 
1. Sampel diambil dengan metode kuadrat
2. dibuat kuadrat dengan menggunakan 4 patok dengan jarak 10 x 10 m
3. diplih lokasi yang menjadi habitat bambu, dibentangkan pada kawasan bambu tersebut.
4. Diamati daun pelepah. Warna buluh, buliran, perbungaan, percabangan, dan durinya.
5. Diambil foto pada masing-masing bagian tersebut dan beberapa contoh bagian bambu untuk diidentifikasi di Laboratorium
6. Dihitung jumlah batang bambu yang terdapat pada kuadrat.
3. Populasi 
Populasi moluska dan bambu dideskripsikan dengan membuat piramida ukuran dari spesies yang dominan. 
Individu dari setiap spesies yang dominan pada lokasi tersebut dilakukan pengukuran pada sampel moluska (panjang dan bobotnya), pada sampel bambu (tinggi dan diameter). 
Pengukuran moluska dilakukan di Laboratorium, sedangkan pengukuran bambu dilakukan di lapangan. 
Dikelompokan moluska dan bambu berdasarkan ukurannya. 
Dibuat empat piramida populasi berdasrkan ukuran (panjang, bobot, tinggi dan diameter) dari data diatas. 
4. Faktor Lingkungan 
Mengukur kondisi lingkungan dengan parameter lingkungan seperti : temperatur udara, air, kecepatan arus, tipe substrat, dan pH air pada ekosistem perairan, temperatur udara dan pH tanah pada ekosistem daratan. 
Diambil sampel air sungai sebanyak 250 ml dan tanah sebanyak 250 gr yang kemudian diukur pH nya di laboratorium. 
5. Distribusi organism dan Faktor Lingkungannya 
Dibuat table kehadiran spesies yang ditemukan di sungai (sungai kranji 1,2,3 dan 4). 
PEMBAHASAN
Ekosistem yang diamati di Daerah Aliran Sungai Kranji terdiri dari ekosistem daratan dan perairan. Komponen abiotik pembentuk ekosistem daratan Daerah Aliran Sungai Kranji terdiri dari batu, air, tanah, pasir, lumpur, kayu, ranting, serasah dan sampah. Komponen biotik pembentuk ekosistem daratan DAS Sungai Kranji antara lain bambu, moluska, kepiting, lumut, ikan, udang, ulat, cacing dan burung (Anonim, 2010).
Ekosistem
merupakan tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap komponen
lingkungan hidup yang saling berinteraksi membentuk satu kesatuan yang teratur
(Deshmukh, 1992). Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah dan
termasuk dalam ekosistem perairan tawar yang memiliki ciri-ciri antara lain
variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh
iklim dan cuaca. Berdasarkan Desanto (1978), Odum (1988), dan Ewusie (1990)
mengklasifikasikan habitat perairan darat dibagi menjadi dua yaitu :
1.     
Air tergenang atau habitat
lentik, seperti danau rawa
2.     
Air deras atau habitat lotik,
seperti sungai dan mata air

Menurut Odum (1988), terdapat dua zona utama pada aliran sungai yaitu :
  1. Zona air deras: daerah yang dangkal dimana kecepatan arus cukup tinggi untuk menyebabkan dasar sungai bersih dari endapan dan materi lain yang lepas, sehingga zona ini padat. Zona ini umumnya terdapat di hulu pegunungan.
  2. Zona air tenang: bagian sungai yang dimana kecepetan arus mulai berkurang, maka lumpur dan materi lepas mulai mengendapan di dasar sehingga dasar sungai menjadi lunak. zona ini di jumpai pada daerah landai.
Berdasarkan pengelompokan diatas habitat Sungai Kanji termasuk perairan darat air tenang dengan zona utama aliran sungai termasuk zona air tenang. Macam-macam komunitas yang terdapat di alam secara garis besar dapat dibagi dalam dua bagian yaitu:
  1. Komunitas akuatik, yaitu kelompok organisme yang terdapat di perairan misalnya di laut, di danau, di sungai, di parit atau di kolam.
  2. Komunitas terrestrial, yaitu kelompok organisme yang terdapat di daratan misalnya di pekarangan, di hutan, di padang rumput, atau di padang pasir.
Beberapa macam bentuk karakter komunitas, diantaranya adalah:
  1. Karakter kualitatif, yang termasuk seperti komposisi, bentuk hidup, fenologi dan vitalitas. Vitalitas menggambarkan kapasitas pertumbuhan dan perkembangbiakan organisme.
  2. Karakter kuantitatif, yang termasuk seperti frekuensi, densitas dan densitas relatif. Frekuensi kehadiran merupakan nilai yang menyatakan jumlah kehadiran suatu spesies di dalam suatu habitat. Densitas (kepadatan) dinyatakan sebagai biomassa per unit contoh atau persatuan luas/volume.
  3. Karakter sintesis adalah proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah yang berlangsung lambat secara teratur pasti terarah dan dapat diramalkan. Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitasnya dan memerlukan waktu. Tingkat ini komunitas sudah mengalami homoestasis. 
Penggolongan organisme dalam air dapat berdasarkan pada:
  1. Berdasarkan aliran energi, organisme dibagi menjadi autotrof (tumbuhan), dan fagotrof (makrokonsumen), yaitu karnivora predator, parasit, dan saprotrof atau organisme yang hidup pada substrat sisa-sisa organisme.
  2. Berdasarkan kebiasaan hidup, organisme dibedakan sebagai berikut.
a. Plankton;
Terdiri atas fitoplankton dan zooplankton, biasanya melayang-layang (bergerak pasif) mengikuti gerak aliran air.
b. Nekton;
Hewan yang aktif berenang dalam air, misalnya ikan.
c. Neuston;
Organisme yang mengapung atau berenang di permukaan air atau bertempat pada permukaan air, misalnya serangga air. 
d. Perifiton; 
Merupakan tumbuhan atau hewan yang melekat/bergantung pada tumbuhan atau benda lain, misalnya keong.
e. Bentos; 
Hewan dan tumbuhan yang hidup di dasar atau hidup pada endapan. Bentos dapat sessil (melekat) atau bergerak bebas, misalnya cacing dan remis. 
Adaptasi yang dilakukan oleh organisme air tawar dengan cara sebagai berikut:
1. Adaptasi tumbuhan 
Tumbuhan yang hidup di air tawar biasanya bersel satu dan dinding selnya kuat seperti beberapa alga biru dan alga hijau. Tumbuhan tingkat tinggi, seperti teratai (Nymphaea gigantea), mempunyai akar jangkar (akar sulur). Tumbuhan rendah yang hidup di habitat air, tekanan osmosisnya sama dengan tekanan osmosis lingkungan atau isotonis.
2. Adaptasi hewan
Ekosistem air tawar dihuni oleh nekton. Nekton merupakan hewan yang bergerak aktif dengan menggunakan otot yang kuat. Hewan tingkat tinggi yang hidup di ekosistem air tawar, misalnya ikan. Mekanisme ikan dalam mengatasi perbedaan tekanan osmosis adalah dengan melakukan osmoregulasi untuk memelihara keseimbangan air dalam tubuhnya melalui sistem ekskresi, insang, dan pencernaan. 
Salah satu organisme yang terdapat di Sungai Kranji adalah mollusca. Ciri-ciri mollusca adalah sebagai berikut: berbadan lunak, diselubungi oleh semacam kantong otot (mantel) yang tidak bersegmen beserta berculum; sebagai tempat organ-organ dalam. Mantel ini mempunyai keunikan lain, yaitu dapat menghasilkan sekresi spikulum (menyerupai jarum) yang berkulit kapur. Salah satu kelas yang di Mollusca adalah Gastropoda. Gastropoda termasuk hewan yang sangat berhasil menyesuaikan diri untuk di beberapa tempat dan cuaca. Distribusi penyebaran gastropoda air tawar ini umumnya meliputi daerah yang sangat luas, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi yang mempunyai ketinggian 2.000 m dpl (Benthem, 1953).
Semua organisme merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya saling berhubungan melalui keragaman interaksinya. Interaksi antarkomponen ekologi dapat merupakan (a) interaksi antarorganisme, (b) antarpopulasi, dan (c) antarkomunitas.
(a). Interaksi antar organisme. 
Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Interaksi antarorganisme dapat dikategorikan sebagai berikut: 
a. Netral, yaitu hubungan tidak saling mengganggu antarorganisme dalam habitat yang sama yang bersifat tidak menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak. Contohnya adalah antara capung dan sapi. 
b. Parasitisme, yaitu hubungan antarorganisme yang berbeda spesies, dan jika salah satu organisme hidup mengambil makanan dari hospes/inangnya sehingga bersifat merugikan inangnya. Contohnya adalah benalu dengan pohon inang.
c. Komensalisme, merupakan hubungan antara dua organisme yang berbeda spesies dalam bentuk kehidupan bersama untuk berbagi sumber makanan, yaitu salah satu spesies diuntungkan dan spesies lainnya tidak dirugikan. Contohnya, Anggrek dengan pohon yang ditumpanginya.
d. Mutualisme, adalah hubungan antara dua organisme yang berbeda spesies yang saling menguntungkan diantara keduanya. Contohnya bakteri Rhizobium yang hidup pada bintil akar kacang-kacangan.
(b). Interaksi antarpopulasi, yaitu antara populasi yang satu dengan populasi lain selalu terjadi interaksi secara langsung atau tidak langsung dalam komunitasnya. Contoh interaksi antarpopulasi adalah sebagai berikut:
  • Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik
  • Kompetisi merupakan interaksi antarpopulasi, bila antarpopulasi terdapat kepentingan yang sama sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Contoh, persaingan antara populasi kambing dengan populasi sapi di padang rumput.
(c). Interaksi antarkomunitas, yaitu kumpulan populasi yang berbeda di suatu daerah yang sama dan saling berinteraksi. Contoh komunitas, misalnya komunitas sawah dan sungai. Komunitas sawah disusun oleh bermacam-macam organisme, misalnya padi, belalang, burung, ular, dan gulma. Komunitas sungai terdiri dari ikan, ganggang, zooplankton, fitoplankton, dan dekomposer. Antara komunitas sungai dan sawah terjadi interaksi dalam bentuk peredaran nutrien dari air sungai ke sawah dan peredaran organisme hidup dari kedua komunitas tersebut. Interaksi antarkomunitas cukup kompleks karena tidak hanya melibatkan organisme, tapi juga terjadi aliran energi.
Interaksi antarkomponen biotik dengan komponen abiotik yaitu hubungan antara organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energi dalam sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem juga terdapat struktur atau tingkat trofik, keanekaragaman biotik, serta siklus materi.
Spesies bambu yang berada di Sungai Kranji 3 yaitu bambu apus (Gigantochloa apus). Klasifikasi Gigantochloa apus yaitu:
Kingdom : Palantae
Divisi : Magnoliophyta
Klas : Liliopsida
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Gigantochloa 
Spesies : Gigantochloa apus Kurz.
Daun : Permukaan bawah daun agak berbulu, kuping pelepah daun kecil dan membulat, gundul, ligula rata dan gundul.
Pelepah buluh : Tidak mudah luruh, tertutup bulu coklat, kuping pelepah buluh seperti bingkai, daun pelepah buluh berketuk balik menyegi tiga dengan ujung sempit.
Bambu biasanya digunakan sebagai tanaman pagar penghias. Batangnya juga dapat dipakai sebagai alat pembuatan pegangan payung, peralatan memancing, kerajinan tangan (rak buku), industri pulp dan kertas dan penghalau angin kencang (wind-break) (Gunawan , 2008). 
Hasil pengamatan distribusi bambu di Sungai Kranji pada daerah hulu, tengah, dan hilir didapatkan sebagai berikut:
Daerah hulu 
Distrubusi bambu : Bambusa vulgaris 16.
Parameter lingkungan : 
· temperatur udara : 250C
· tipe tanah : serasah dan tanah
· pH tanah : 7
Daerah Tengah
Distribusi bambu : Gigantochloa apuskurz 25, Schizostachycum brachycladium 43.
Parameter lingkungan : 
· temperatur udara : 270C
· tipe tanah : tanah berpasir
· pH tanah : 7
Daerah Hilir
Distribusi bambu : Bambusa vulgaris 10.
Parameter lingkungan : 
· temperatur udara : 29,50C
· tipe tanah : batu berpasir
· pH tanah : 7
Penyebaran distribusi bambu yang paling dominan di Sungai Kranji adalah bagian tengah yaitu Schizostachycum brachycladium sebanyak 43 pohon.
Spesies moluska yang dominan di Sungai Kranji yaitu siput air (Lymnaea sp.). Klasifikasi yaitu:
Kingdom : Animalia
Filum : Mollusca 
Klas : Gastropoda
Ordo : Pulmonata
Famili : Lymnacidae
Genus : Lymnaea
Spesies : Lymnaea sp.
Mollusca adalah hewan lunak dan tidak memiliki ruas. Tubuh hewan ini tripoblastik, bilateral simetri, umumnya memiliki mantel yang dapat menghasilkan bahan cangkok berupa kalsium karbonat. Cangkok tersebut berfungsi sebagai rumah (rangka luar) yang terbuat dari zat kapur misalnya kerang, tiram, siput sawah dan bekicot. Namun ada pula Mollusca yang tidak memiliki cangkok, seperti cumi-cumi, sotong, gurita atau siput telanjang. Mollusca memiliki struktur berotot yang disebut kaki yang bentuk dan fungsinya berbeda untuk setiap kelasnya.
Mollusca memiliki alat pencernaan sempurna mulai dari mulut yang mempunyai radula (lidah parut) sampai dengan anus terbuka di daerah rongga mantel. Di samping itu juga terdapat kelenjar pencernaan yang sudah berkembang baik. Peredaran darah terbuka ini terjadi pada semua kelas Mollusca kecuali kelas Cephalopoda. Pernafasan dilakukan dengan menggunakan insang atau “paru-paru”, mantel atau oleh bagian epidermis. Alat ekskresi berupa ginjal. Sistem saraf terdiri atas tiga pasang ganglion yaitu ganglion cerebral, ganglion visceral dan ganglion pedal yang ketiganya dihubungkan oleh tali-tali saraf longitudinal. Alat reproduksi umumnya terpisah atau bersatu dan pembuahan internal atau eksternal.
Hasil pengamatan distribusi moluska di Sungai Kranji pada daerah hulu, tengah, dan hilir didapatkan sebagai berikut:
Daerah hulu 
Distribusi moluska : Margaritifera margaritifera 3, Pomaceae paludosa 1, Paludestrina minota 11.
Parameter lingkungan : 
· Temperatur udara : 250C
· Temperatur air : 270C
· Arus air : 0,44 m/s
· Substrat dominan : batu dan lumpur
· pH : 6
Daerah tengah 
Distribusi moluska : Lymnaea sp. 12, Pleurosera rafinesque 4, Goniobasis airginica 11, apella demissum 5. 
Parameter lingkungan :
· Temperatur udara : 270C
· Temperatur air : 260C
· Arus air : 0,78 m/s dan 0,83 m/s
· Substrat dominan : batu berlumpur dan pasir
· pH : 6 dan 7
Daerah hilir 
Distribusi moluska : Paludestrima minuta 6
Parameter lingkungan :
· Temperatur udara : 29.50C
· Temperatur air : 270C
· Arus air : 0,15 m/s
· Substrat dominan : batu berlumpur
· pH : 6
Penyebaran distribusi moluska yang paling dominan di Sungai Kranji adalah bagian tengah yaitu Lymnaea sp. , Pleurosera rafinesque , Goniobasis airginica , apella demissum.
Penyebaran bambu yang luas ini sangat dipengaruhi oleh faktor iklim antara lain suhu, curah hujan, kelembaban yang berkaitan satu dengan yang lain (Sutiyono, et al., 1992). Menurut Huberman (1959) daerah yang memiliki curah hujan tahunanan minimal 1020 mm dan kelembaban udara minimal 80% dengan suhu optimum antara 8,8-360C merupakan daerah yang cocok untuk pertumbuhan bambu. Bambu dapat tumbuh baik di berbagai jenis tanah, kecuali tanah yang berada di dekat pantai. Pada tanah tersebut, bambu dapat tumbuh tetapi pertumbuhannya lambat dan buluh kecil. Umumnya bambu dapat tumbuh di tempat dengan ketinggian 1-1200 m dpl dengan keadaan pH tanah antara 5,0-6,5 (Alrasyid, 1990). Verhoef (1957) menyatakan bahwa berbagai keadaan tanah dapat ditumbuhi oleh bambu mulai dari tanah ringan sampai tanah berat, tanah kering sampai tanah becek dan dari tanah yang subur sampai ke tanah yang kurang subur.
Daerah di sekitar ekosistem sungai biasanya terdapat vegetasi berupa pohon maupun semak dan beberapa hewan seperti moluska. Daerah Sungai Kranji bagian hulu banyak terdapat populasi bambu dan gastropoda. Berdasarkan relung ekologinya bambu termasuk dalam produsen dan gastropoda termasuk dalam konsumen. Moluska dalam ekosistem perairan sering disebut juga sebagai makrobentos. Kehidupan makrobentos pada perairan ini sangat ditentukan oleh faktor biotik. Keberadaan moluska juga dapat digunakan sebagai penanda kualitas air sungai. Berikut ini adalah faktor-faktor biotik yang mempengaruhi keberadaan moluska pada ekosistem Sungai Kranji: 
a. Gas terlarut
Presentase oksigen di perairan jauh lebih rendah daripada yang ada di atmosfer yaitu sekitar sepersepuluh atau kurang. Jumlah oksigen dalam air tidak sekonstan seperti di udara, tetapi berfluktuasi dengan nyata tergantung pada kedalaman, suhu, angin dan banyaknya kegiatan biologis. Kenaikan suhu atau keragaman air menyebabkan penurunan dalam kandungan oksigen. 
Karbondioksida (yang tergabung dalam air membentuk asam karbonat.), amoniak dan hidrogen sulfida juga merupakan gas terlarut yang berada dalam air. Moluska yang ditemukan pada ekosistem Sungai Kranji daerah hulu ditemukan hanya sedikit sekali. Hal itu disebabkan karena kadar oksigen rendah yang disebabkan oleh adanya amonia hasil dari kegiatan sehari-hari masyarakat sekitar meskipun permukaan air cukup dangkal dan angin cukup kencang sehingga dapat diperkirakan oksigen cukup. 
a. Kejernihan
Kejernihan berpengaruh terhadap distribusi moluska pada perairan. Kejernihan disebabkan oleh warna perairan. Curah hujan juga menyebabkan kejernihan terganggu. Saat hujan turun maka tanah di atasnya akan larut terbawa dan membawa humus, hal itu yang menyebabkan kejernihan air berkurang, akan tetapi pada saat itu juga plankton banyak tersebar di sungai yang dapat dimanfaatkan oleh moluska sebagai makanan. 
b. Suhu
Suhu perairan di daerah tropik tentu lebih hangat daripada di daerah tidak beriklim tropik. Suhu permukaan pada perairan tropik umumnya 250C-280C dan pada perairan yang dangkal biasanya lebih tinggi yaitu 280C-320C. Suhu yang lebih tinggi menyebabkan berkurangnya kadar oksigen terutama pada malam hari. Sungai Kranji daerah hulu, tengah, dan hilir mempunyai suhu yang cukup tinggi sehingga apabila dikaitkan dengan teori yang ada maka perairan Sungai Kranji daerah hulu, tengah dan hilir mempunyai kadar oksigen sedikit sehingga untuk keberadaan distribusi moluska sedikit. 
c. Cahaya
Cahaya sangat diperlukan pada ekosistem perairan sungai. Cahaya dimanfaatkan oleh fitoplankton untuk berfotosintesis, dan nantinya fitoplankton tersebut mempunyai peranan produsen pada relung ekologi. Cahaya pada Sungai Kranji daerah hulu, tengah dan hilir mempunyai intensitas yang cukup. 
d. Arus air.
Sungai merupakan ekosistem lotik sehingga ekosistem ini dipengaruhi oleh aliran dan arus air. Kecepatan arus bervariasi pada tempat yang berbeda yaitu dari suatu aliran air yang sama atau dari satu waktu ke waktu. Sifat komunitas lotik aliran air Kranji daerah hulu, tengah dan hilir adalah tidak begitu deras. 
e. pH
pH pada Sungai Kranji daerah hulu, tengah dan hilir semuanya bersifat asam. Padahal pH yang baik di perairan adalah normal. 
f. Substrat
Substrat pada Sungai Kranji daerah hulu, tengah dan hilir umumnya batu berlumpur. Substrat yang cocok untuk keberadaan moluska sebenarnya adalah tanah berlumpur. Tanah berpasir tidak cocok untuk moluska, dan biasanya pada substrat batuan berpasir tersebut moluska akan menguburkan dirinya dalam-dalam pada batuan pasir tersebut (Ewusie, 1990).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat diperoleh kesimpulansebagai berikut:
  1. Penyebaran distribusi bambu yang paling dominan di Sungai Kranji adalah bagian tengah yaitu Schizostachycum brachycladium, sedangkan penyebaran ditribusi moluska yang paling dominan di daerah tengah.
  2. Perpindahan energi akan terjadi melalui proses makan-memakan atau disebut rantai makanan yang kemudian bergabung membentuk jaring-jaring makanan.
  3. Faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi moluska dan distribusi bambu antara lain: kejernihan, arus air, suhu, penetrasi cahaya, pH, dan substrat.
  4. Faktor lingkungan yang penting untuk daratan yaitu cahaya, temperatur dan air, sedangkan cahaya, temperatur dan kadar garam merupakan faktor tiga besar untuk perairan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Daerah Aliran Sungai. http://www.satuiku.com/2009/12/daerah-aliran-sungai.html
Anonim. 2020. Pengertian Ekosistem. http://www.g-excess.com/id/pengertian-ekosistem-adalah.html
Desanto, R.S. 1978. Consepts of Applied Ecology. Springer- Verlad. New York.
Ewusie, J.Y. 1990. Pengantar Ekologi Tropika. ITB. Bandung. 
Gunawan , 2008. “Kajian Sifat-sifat Finishing Anyaman Bambu Tali (Gigantochloa apus (J.A & J. H. Schultes) Kurz)”. Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. 
Heddy, S. dan K. Metty. 1989 . Prinsip-Prinsip Dasar Ekologi. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Odum, E. P. 1988. Dasar-Dasar Ekologi Edisi 3. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Sutiyono, Hendromono, M., Wardani dan I. Sukardi. 1992. Teknik Budidaya Bambu. Pusat Penilitian dan Pengembangan Hutan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan. Bogor. (15). 1-25
Verhoef, L. 1957. Tanaman bambu di Jawa. Lembaga Pusat Penilitian Kehutanan. Bogor. 25 hal

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !