ISLAM, IMAN, DAN IHSAN

ISLAM, IMAN, DAN IHSAN
      Dalam suatu kehidupan tentulah seseorang harus memiliki pegangan hidup berupa agama yang akan menuntunnya ke kehidupan yang sebenarnya yaitu di akhirat kelak. Manusia berhak memilih agama apapun yang akan dianutnya sesuai dengan kepercayaan mereka masing-masing yang mereka anggap benar, yang nanti akan memberikan pengaruh yang sangat besar bagaimana seseorang bertindak di alam dunia untuk menuju ke alam akhirat.
      Berkait dengan agama, dari sekian banyaknya agama di dunia ini hanya ada satu agama yang paling benar di sisi Allah SWT yaitu agama Islam. Di dalam agama islam ini, terdapat trilogy islam yang mencakup tiga hal, yaitu: Islam, Iman dan Ihsan. Islam berbicara masalah lahir, iman berbicara masalah batin, dan Ihsan mencakup keduanya. Ihsan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari iman, dan iman memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari Islam. Tidaklah ke-Islaman dianggap sah kecuali jika ada iman, karena konsekuensi dari syahadat mencakup lahir dan batin. 
      Ketiga-tiganya merupakan hal yang sangat penting bagi agama seseorang. Tanpa ketiganya, maka belumlah sempurna agamaya. Oleh karena itu, pada makalah ini, kami akan membatasi pembahasan kami hanya sebatas pengertian dari Iman, Islam, dan Ihsan, serta hubungan atau korelasi antara ketiganya. 
A. Islam
      1. Pengertian 
            Al-Islam berasal dari kata “salama” yang berarti damai atau selamat . dalam Al-Quran juga terdapat beberapa kata yang merupakan perubahan atau tambahan dari kata salama tersebut, seperti kata “salm” yang berarti damai, kata “aslama” yang berarti menyerah, kata “istasmala-taslim-mustaslimun” yang artinya penyerahan total kepada Allah, kata “saliim”” yang berarti bersih, suci, dan kata “salaam” yang berarti kesejahteraan.
            Menurut istilah, Islam berarti ketundukan dan kepatuhan kepada peraturan-peraturan Allah yang disampaikan melalui Nabi Muhammad saw, untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup, baik di dunia maupun di akhirat .
Adapun Islam adalah agama yang paling benar disisi Allah SWT. Seperti firman Allah SWT dalam QS.Ali Imron : 19
Artinya : “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”
Karena memang agama disisi Allah adalah penyerahan yang sesungguhnya kepada Allah. Maka, walaupun seseorang mengaku memeluk agama Islam, kalau tidak berserah diri yang sesungguhnya kepada Allah, tidak mau mematuhi seruan dan larangannya, belumlah dia dianggap Islam.
B. Iman
      1. Pengertian 
            Pengertian dasar dari istilah “iman” ialah “memberi ketenangan hati;  pembenaran hati”.  Jadi makna iman secara umum mengandung pengertian pembenaran hati yang dapat menggerakkan anggota badan memenuhi segala konsekuensi dari apa yang dibenarkan oleh hati.  Selain itu, iman juga dapat diartikan sebagai pernyataan lisan ketika mengucap syahadat, pembenaran kalbu, dan pengaplikasian nyata dalam aktifitas(amal) kebajikan.
Iman sering juga dikenal dengan istilah aqidah, yang berarti ikatan, yaitu ikatan hati. Bahwa seseorang yang beriman mengikatkan hati dan perasaannya dengan sesuatu kepercayaan yang tidak lagi ditukarnya dengan kepercayaan lain. Aqidah tersebut akan menjadi pegangan dan pedoman hidup, mendarah daging dalam diri yang tidak dapat dipisahkan lagi dari diri seorang mukmin. Bahkan seorang mukmin sanggup berkorban segalanya, harta dan bahkan jiwa demi mempertahankan aqidahnya.
Adapun pengertian iman secara khusus sebagaimana yang tertera dalam hadis di atas ialah: keyakinan tentang adanya Allah swt., malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab yang diturunkan-Nya, Rasul-rasul utusan-Nya, dan yakin tentang kebenaran adanya hari kebangkitan dari alam kubur.
2. Indikasi- indikasi  dari iman adalah amalan-amalan hati, seperti:
      a. Dzikir
            Dzikir menurut Bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan dalam Al-Quran. Dzikir terbagi menjadi dua yakni dzikir hati adan dzikir lisan.
Dzikir hati terdapat pada firman Allah:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya dan adalah Allah Maha melihat akan apa yang kamu kerjakan.”
Dzikir dengan lisan  terdapat pada firman Allah Q.S. Al-Maidah:4
Artinya : “Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.”
            Berdzikirlah dengn lisan, karena seutama-utama dzikir adalah dzikir dengan lisan yang dibarengi dengn kehadiran hati . Dzikir yang diucapkan tidak dengan dibarengi oleh hati, pemikiran yang melayang dan tidak memahami apa yang diucapkan, maka dzikirnya adalah perkataan tanpa makna.
      b. Antara takut dan harap
            Sebagai seorang mukmin, hendaknya dalam keadaan antara takut dari hukuman Allah dan berharap kepada ampunan-Nya. Karena jika hatinya hanya ada rasa takut, maka ia telah putus asa dari rahmat Allah. Orang yang berputus asa dari rahmat Allah adalah kafir. Jika hatinya hanya dipenuhi dengan harapan, maka tidak akan merasa putus asa dari rahmat Allah dan selalu yakin bahwa Allah akan selalu bersamanya. Firman Allah surat Al-A’raf:99
Artinya : “Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”
      c. Tawakal
            Allah Ta’ala berfirman dalam surat Ynus :84
  
Artinya : “Berkata Musa: ‘Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.”
      Menurut syara’ tawakal adalah hendaknya sesorang melaksanakan segala sebab, kemudian meminta terwujudnya keberhasilan kepada Allah . Tawakal yakni mengerahkan segala upaya untuk mencapai tujuan, melaksanakan berbagai sarana yang disyariatkan, lalu meyakini bahwa yang menyampaikan kepada tujuan tersebut adalah Allah, sehingga ia bertawakal dan memohon kepada Allah agar memperkenankan apa yang dituju.
      d. Syukur
Allah berfirman dalam Surat An-Naml:40
Artinya : “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.
      Syukur merupakan buah dari keimanan. Bukti kita bersyukur kepada Alalh yakni dapat dengan memuji-Nya seperti, Alhamdulillah atau dengan amal yakni memberikan sebagian dari nikmat yang kita peroleh kepada orang yang tidak mendapatkannya.
Barangsiapa telah memadukan syukur hati dengan perasaan ridha kepada Allah, syukur amal dengan memberikan kelebihan nikmat kepada mereka yang tidak mendapatkan dan syukur lisan dengan banyak memuji Allah, berarti ia termasuk orang-orang yang bersyukur .
      e. Sabar
            Seorang muslim berada diantara dua nikmat, yakni bila ia ditimpa kebaikan lalu bersyukyur maka ia memperoleh pahala, dan apabila ia ditimpa kemadharatan lalu bersabar, maka ia juga akan mendapat pahala. Maka tidak ada yang setara atau melebihi pahala orang kaya yang bersyukur, kecuali pahala orang fakir yang bersabar . Allah berfirman dalam surat An-Nahl:96
   
Artinya : “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.
Ada tiga macam sabar, yakni:
  1. kesabaran terhadap musibah
  2. kesabaran terhadap maksiat
  3. kesabaran dalam ketaatan

      f. Kepatuhan kepada Hukum Syara’
            Iman merupakan salah satu amalan hati dan salah satu rahasia yang hanya diketahui oleh Allah, sedangkan manusia hanya bisa melihat hal-hal yang lahir. Untuk membedakan antara orang mukmin dan orang yang tidak mukmin adalah melalui ucapan dan perbuatan. Keislaman merupakan salah satu indikasi iman. Sedangkan Islam secara bahasa berarti kepatuhan.
      Kepatuhan memiliki dua aspek yakni aspek amal berupa kepatuhan dengan perkataan dan perbuatan dan aspek kejiwaan, menurut aspek kejiwaan kepatuhan adalah kerelaan hati terhadap hukum syara’, ketentraman jiwa terhadapnya dan melaksanakan kewajiban dan menjauhi perbuatan haram secara suka rela tanpa perasaan kesal.
      g. Keras dan Lunak
            Bukti dari keimanan adalah kecintaan dan kebencian karena Allah. Seorang mukmin bila mencintai , maka ia mencintai karena agama dan bila membenci maka ia membenci karena agama pula. Apabila ia mencintai akan tampak pada dirinya kemurahan hati, kelembutan sifat, toleransi dan pengorbanan, merendahkan hati kepada saudaranya tanpa menganggapnya sebagai kerendahan serta mengutamakan dia daripada dirinya sendiri. Apabila marah, muncul pada dirinya kemarahan karena Allah, kekerasan dalam membela agamanya, keberanian dalam memerangi musuh-musuh. 
Sikap lembut dan lunak kepada saudaranya, sdangkan sikap keras dan kasar terhadap musuh-musuh agama dan pembela-pembela setan.
Allah berfirman dalam surat Al-Maidah :54
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”
      h. Taubat dan Istighfar
Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Furqon :70
Artinya : “kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
      Taubat adalah kembali kepada Allah secara sukarela, padahal ketika ia dikembalikan kepada Allah secara terpaksa, maka tidaklah berguna pengakuannya itu setelah ia kehilangan kemampuannya untuk berikhtiyar . Allah Ta’ala berfirman pada surat An-Nisa: 17-18.
Artinya : “Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan[277], yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.”
Syarat taubat yang pertama yakni berhenti dari kejahatan dan tekad tidak mengulanginya. Taubat memiliki ruh dan jasad, yakni ruhnya adalah kesadaran akan buruknya kemaksiatan dan jasad adalah pencegahan diri dari pelaksanaannya. 
Syarat taubat yang kedua, hendaklah ia menjadikan perbuatan baik serta perbaikan sebagai pengganti pengrusakan. Taubat mengubah amal dan meluruskan perilaku. Allah berfirman dalam surat Al-An’am:54
Artinya : “Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Bentuk perbaikan adalah bersungguh-sungguh dalam meninggalkan dosa dan bertekad untuk tidak mengulanginya.
Istighfar adalah meminta ampunan kepad Allah. Firman Allah dalam surat Hud:6
Artinya : “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).”
C. Ihsan
Ihsan secara bahasa berasal dari akar kata kerja ahsana-yuhsinu, yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk mashdarnya adalah ihsan yang artinya kebaikan. Mengenai hal ini, Allah swt. berfirman dalam QS. an-Nahl : 90.
Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
Adapun pengertian Ihsan secara khusus yang disebutkan dalam hadis di atas, yaitu “menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak mampu melihatnya, ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat.”
Menurut Ibnu Hajar, Ihsan berarti berusaha menjaga tata krama dan sopan santun dalam beramal, seakan-akan kamu melihat-Nya seperti Dia melihat kamu. Hal itu harus dilakukan bukan karena kamu melihat-Nya, tetapi karena Dia selamanya melihat kamu. Maka beribadahlah dengan baik meskipun kamu tidak dapat melihat-Nya.
Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah swt. Sebab, Ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat dimata Allah swt. Rasulullah saw. pun sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia.
Ihsan dianalogkan sebagai atap bangunan Islam (rukun Iman adalah pondasi dan rukun Islam adalah bangunanya). Ihsan berfungsi sebagai pelindung bagi bangunan keIslaman seseorang. Jika seseorang berbuat Ihsan, maka amal-amal Islam lainnya akan terpelihara dan tahan lama sesuai dengan fungsinya sebagai atap bangunan.
Dengan kata lain, sikap ihsan akan menampilkan seseorang menjadi muslim-muslim yang memiliki akhlaq. Akhlak berasal dari kata khalaqa (menjadikan, membuat). Dari kata dasar itu dijumpai kata khuluqun sebagai jamaknya. Arti akhlaq itu adalah perangai, tabi’at, adat atau system perilaku yang dibuat. Dalam kamus bahasa Indonesia akhlaq  diartikan sebagai budi pekerti, kelakuan. Adapula kalangan ahli yang mensinonimkan kata akhlaq dengan etika, moral, sopan santun. 
Akhlaq al-Karimah atau akhlaq mulia merupakan target tertinggi dari misi kerasulan Nabi Muhammad  SAW. Beliau mengatakan: “Sesungguhnya aku diutus sebagai Rasul untuk menyempurnakan kemuliaan akhlaq manusia. (HR. Bukhari). Ketika Aisyah istri Rasulullah ditanya perihal akhlak Rasulullah, dengan ringkas Aisyah menjawab bahwa akhlaq Nabi itu adalah Al-Quran. Ketika kita membuka Al-Quran, disana disebutkan dalam QS. 33:21:
“ Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Dengan demikian untuk berakhlaq mulia kita harus berpedoman pada Al-Qur’an, sedang praktek secara nyata yang sesuai dengan maksud Al-Qur’an kita harus meneladani contoh-contoh yang dilaksanakan Nabi Muhammad SAW sehari-hari.
Bagi Islam sumber nilai yang tidak berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah hanya digunakan sepanjang yang dapat menunjang dan tidak menyimpang dari dari kedua sumber hukum yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Akhlaq yang dibangun atas dasar tata nilai Al-Qur’an dan As-Sunnah tersebut yang mencerminkan ihsan (serba keindahan perilakau dan tindakan yang dilandasi iman) itulah yang dikenal dengan al-akhlaq al-karimah (akhlaq mulia).
Contoh-contoh akhlaq karimah itu antara lain sebagai berikut:
1. Akhlaq terhadap Allah SWT (Khalaik)
  1. Mencintai Allah dengan mentauhidkan-Nya serta menyembah dan berdoa (memohon rahmat, berkah, dan perlindungan) kepada-Nya semata. Ini terdapat dalam QS. 1:5, 3:159, 23:60, 23:60, 112:1-4.
  2. Bersyukur atas segala nikmat Allah dan bersabar atas segala musibah dan ujian-Nya. (QS. 3:146, 11:115, 14:7, 31:12)
  3. Fikr dan zikr tetang Allah dan kebesaran-Nya, tentang keajaiban ciptaan-Nya, dan bertaubat atas segala kesalahan, dosa dan maksiat. (QS. 2:152, 198:203, 3:190-191)
  4. Bertawakal dengan cara berikhtiar sekuat kemampuan dan kemudian ikhlas menerima segala ketentuan yang diberikan-Nya, karena yakin bahwa Allah telah memberikan potensi untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Namun sebaliknya percaya pula bahwa kemampuan yang dimiliki manusia itu memang terbatas. Kita berusaha dan Allah yang menentukan.
  5. Bertakwa dengan berupaya melaksanakan apa yang diridhoi (diperintahkan dan dianjurkan melakukannya) serta meninggalkan, menghindari apa yang dibenci, dilarang dan diharamkan Allah SWT. 

2. Akhlaq kepada diri sendiri
  1. Menjaga diri dan jiwa agar tidak terlempar dalam kehinaan dan terjerumus kejurang kenistaan.
  2. Berupaya dan berusaha agar tetap memiliki sifat-sifat terpuji seperti anamah dan jujur, terpercaya, adil, menepati janji, istiqomah, ramah, sabar, disiplin, rendah hati, dan sifat terpuji lainnya.
  3. Berusaha dan berlatih untuk meninggalkan dan menjauhi sifat-sifat yang tidak terpuji, seperti berbohong, berkhianat, dendam, menipu, mencuri dan sifat-sifat tidak terpuji lainnya.

Loading...
3. Akhlaq terhadap orang lain
a. Terhadap keluarga
  1. Berbakti kepada kedua orang tua, mendoakan keduannya, dan menjauhi hal-hal yang menyakiti mereka.
  2. Hormat terhadap saudara yang tua dan menyayangi yang muda, mendidik dan menyantuni serta mambina keluarga, memelihara kehormatan mereka dan tetap menjalin silaturahmi. 

b. Terhadap tetangga dan masyarakat
Saling membina hubungan baik, saling membantu dan tolong menolong, saling tenggang rasa, saling memberi atau meminta (tidak mengambil sesuatu milik ntetangga tanpa izin), saling menghindari pertengkaran, perselisihan, permusuhan, dan curiga mencurigai, bermusyawarah dan mufakat dalam memecahkan masalah-masalah ketetanggaan dan kemasyarakatan dan mencari keputusan yang adil dan bijaksana, dan lain sebagainya.
c. Terhadap alam semesta (lingkungan).
Memperhatikan dan merenungkan penciptaan alam semesta untuk mendekatkan diri kepada penciptanya, menyelidiki dan memanfaatkan alam semesta dengan sebaik-baiknya untuk kemakmuran hidup, menghindari pengrusakan lingkungan atau mengeksploitasinya secara berlebihan, berupaya melestarikan alam dan sayang kepada makhluk hidup lainnya. 
D. Hubungan antara Islam, Iman dan Ihsan.
Iman, Islam, dan Ihsan adalah tiga hal yang tidak dapat terpisahkan. Ketiganya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Bahkan bisa diibaratkan bahwa Iman, Islam, dan Ihsan seperti sebuah segitiga sama sisi dengan Ihsan sebagai puncak atasnya. Hal itu dapat terlihat seperti pada gambar dibawah ini:
Seseorang yang hanya menganut Islam sebagai agama belum cukup tanpa adanya iman. Sebaliknya, iman tidak berarti apa-apa tanpa didasari dengan Islam. Islam dan iman akan mencapai kesempurnaan jika dibarengi  dengan ihsan
Selain itu juga antara Iman dan Islam diibaratkan sebuah koin yang mempunyai dua sisi. Dan kedua sisi itu saling berhubungan satu sama lain. Jika salah satu sisinya hilang, maka koin itu tidak ada harganya. Begitupun Iman dan Islam. Jika salah satu dari keduanya tidak ada, maka seseorang akan menjadi tidak ada harganya sama sekali dalam pandangan Allah SWT.
Iman itu membentuk jiwa dan watak manusia menjadi kuat dan positif, yang akan mengakar dan diwujudkan dalam bentuk perbuatan dan tingkah laku akhlaqiah manusia sehari-hari. Iman yang tertanam di dada memberi inspirasi positif kepada seseorang untuk berlaku dan beramal shaleh. Iman yang benar membawa pribadi ke arah perubahan jiwa dan cara berpikir positif. Perubahan jiwa tersebut merupakan suatu revolusi dan pembeharuan tentang tujuan hidup, pandangan hidup, cita-cita, keinginan-keinginan dan kebiasaan (Yusuf Qadlawi, 1977: 251) . 
Melakukan pembaruan jiwa, mengubah pandangan dan semangat adalah hal yang berat dan sulit, karena di dalam diri manusia terdapat berbagai keadaan dan sifat. Nafsu dan syahwat adalah dua kekuatan yang cendrung mendorong ke arah perbuatan negatif, menyimpang dari akal sehat dan syari’at agama. Al-Qur’an membenarkan hal itu. 
DAFTAR PUSTAKA
Kaelany.2005. Islam & Aspek-aspek Kemasyarakatan.Jakarta: Bumi Angkasa.
Thanthawi, Ali.2004.Aqidah Islam,Doktirn dan Filosofi.Solo:Era Intermedia.
Ahmad, Abu al-Husain bin Faris bin Zakariya al-Raziy.1999. Mu’jam Maqayis al-Lugah, juz I Cet. I.Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah.
Ahmad bin Ali bin Hajar Abu al-Fadhl al-‘Asqalaniy al-Syafi’i.1379 H.Fath al-Bariy, juz I. Beirut: Dar al-Ma’rifat.
www.sribd.com

Tinggalkan komentar