Jadilah Pahlawan Meski Sangat Kesiangan

Jadilah Pahlawan Meski Sangat Kesiangan – Setiap orang berpotensi menjadi pahlawan minimal dikeluarganya masing-masing, menjadi pahlawan tidak harus menjadi orang besar ataupun menjadi tokoh yang bisa mempengaruhi lingkungan dalam lingkup yang luas.

Kebermanfaatan seseorang dilingkunganya juga bisa diartikan pahlawan, budaya Indonesia mengajarkan seseorang untuk saling membantu kepada sesama, kita sering menjumpai itu dalam sistem gotong royong yang dicanangkan oleh para pendiri bangsa kita.

Namun sayangnya budaya saling bantu ini semakin hari rasanya semakin pudar saja, kita disibukkan dengan menumpuk harta, demi penghormatan orang lain kepada kita, yang nyatanya di era seperti sekarang orang yang punya harta berlimpah akan secara langsung dihormati orang lain.

Jadilah pahlawan meski sangat kesiangan

ilustrasi pahlawan kecil

Dalam peringatan hari pahlawan seperti sekarang, saya ingin mengajak kepada kita semua, untuk menjadi pahlawan, orang yang bisa diandalkan bagi kepentingan bersama tanpa tedensius apapun selain murni dari kedalaman hati untuk saling membantu.

Mungkin kita sudah cukup terlena dengan hingar-bingar isi dunia, dengan materi yang Nampak mata, dengan mengesampingkan fitrah kita sebagai manusia, yang pada dasarnya harus menebartkan kasih terhadap sesama.

Tidak harus menjadi orang besar yang mempunyai kedudukan tinggi, kita juga bisa menjadi pahlawan minimal terhadap keluarga dan orang-orang terdekat kita dengan cara yang beragam.

Mulai belajarlah bermanfaat, dimulai dari keluarga kita, yang punya adik misalnya bantulah adiknya untuk mengejarkan PR, yang punya pacar misalnya bantulah dia untuk bisa mencintaimu dengan sederhana, Haha

Ya memang kita harus kembali kesederhana diatas rakusnya kita mencari hal-hal yang bersifat dunia, kita harus menyederhanakan lagi keinginan kita, menyederhanakan lagi tingkah laku kita dan segala sesuatu yang mengarah kekesombongan.

Sulit memang dimasa sekarang, dimana harta itu dianggap penting,, dan kebaikan kalah populer dengan “kebajingan-kebajingan” yang ada.

Meski seperti itu apakah kita akan diam, saya yakin manusia kelak akan kembali kefitrahnya meski mungkin banyak orang yang akan terlambat (termasuk saya), karena negeri ini sedang mabuk-mabuknya mengejar dunia.

Menjadi baik dan mau mebantu orang kadang memang harus dipaksa, seperti kita memaksa diri untuk bisa bangun pagi dan melaksanakan salat subuh, kalau kita tidak memaksa diri untuk bangun, maka memang masa-masa subuh tadi merupakan masa yang paling nyaman untuk tidur.

Lagi, lagi saya harus katakan mulailah merubah pola pikir kita, merubah pandangan lama, bahwa nanti saya akan menjadi dermawan ketika kita kaya. Atau ketika kita sedang punya banyak uang.

Ini yang sulit dilakukan manusia pada masa sekarang, sulit menahan lapar, sulit membantu kalau dirinya saja masih kesulitan, entah kita mau berkaca kepada siapa? Bagi kalian yang beragama muslim apakah kalian tidak cukup mencontoh nabimu (Muhammad).

Nabimu itu orang yang serba kekurangan, namun ketika ada orang yang minta makan, Beliau akan dengan senang hati memberikan makan, meski Dia harus menahan lapar dengan waktu yang lebih lama.

Malu kita, malu sebagai manusia. Lalu apalagi yang kita perlu sombongkan. Ampuni kami Gusti.

Selamat hari pahlawan. Semoga bermanfaat.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !