Jenis-Jenis Fungi Dan Klasifikasinya

Jenis-Jenis Fungi Dan Klasifikasinya – Banyak jenis jamur dari golongan edible dan medicinal telah dikenal di dunia, juga di Indonesia, serta telah dibudidayakan. Kelompok jamur yang mempunyai tubuh buah cukup besar baik termasuk dalam Basidiomycetes, maupun Ascomycetes. Chang (2003) membagi cendawan menjadi 4 kategori berdasarkan khasiatnya, yaitu jamur yang dapat dimakan, khasiat obat, beracun, dan jamur yang belum diketahui manfaatnya atau disebut miscellaneous.

Cendawan adalah suatu kelompok jasad hidup yang menyerupai tumbuhan tingkat tinggi karena mempunyai dinding sel, tidak bergerak, berkembang biak dengan spora, tetapi tidak mempunyai klorofil. Cendawan tidak mempunyai batang, daun, akar dan system pembuluh seperti pada tumbuhan tingkat tinggi. Umumnya cendawan berbentuk benang, bersel banyak dan semua bagian cendawan tersebut memiliki potensi untuk tumbuh. Tubuhnya dinamakan miselium dan benangnya disebut hifa yang tebalnya antara 0,5-100 mikron atau lebih (anonym, 2011).

Identifikasi dapat dilihat dari karakteristik morfologi, baik makromorfologi maupun mikromorfologi, termasuk di dalamnya warna tubuh buah, ukuran, bentuk, tangkai atau stipe, tipe lamella, pori, ukuran hifa, ukuran spora, tipe himenium, dan cirri-ciri koloni jamur lainnya. Hal utama yang perlu diperhatikan yaitu ciri khusus dan struktur jamur tersebut yang mencirikan dalam kelasnya (Ratnaningtyas, 2010).

Tujuan

Tujuan dalam praktikum ini anntara lain:

1. Mengetahui jenis-jenis jamur makroskopis yang ada di sekitar kita (edible).

2. Mengetahui karakteristik makromorfologi jamur makroskopis yang diperoleh di sekitar kita.

3. Mengetahui karakteristik mikromorfologi jamur makroskopis yang diperolah di sekitar kita.

Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop cahaya, objek glass, cover glass, dan cawan petri.

Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah jenis-jenis jamur yang diperoleh di sekitar kita (edible) dan larutan lactophenol cotton blue.

Cara Kerja

1. Pengamatan karakteristik makromorfologi jamur

a. Amati bentuk, ukuran, dan warna tudung.

b. Amati ada tidaknya tangkai, ukuran tangkai dan letak tangkai terhadap tudung.

c. Amati karakter makromorfologi sebalik tudung tubuh buah jamur. Jika terdapat lamella, gambar gill spacing nya. Adapun bila memiliki pori, hitung jumlah pori pada 1mm2.

2. Pengamatn karakteristik mikromorfologi jamur

a. Iris melintang tudung jamur setipis mungkin.

b. Letakn irisan tersebut pada gelas benda, kemudian tetesi dengan lactophenol cotton blue.

c. Amati mnggunakan mikroskop dengan perbesaran lemah dan kuat, gambar adanya lapisan himenium, basidium/askus, basidiospora, dan struktur lain yang terlihat.

Pembahasan

Kelompok jamur yang mempunyai tubuh buah cukup besar baik termasuk dalam Basidiomycetes, maupun Ascomycetes. Alexopoulus (1996), membagi cendawan menjadi 4 kategori berdasarkan khasiatnya, yaitu jamur yang dapat dimakan (edible), khasiat obat (medicinal), beracun (poisonous), dan jamur yang belum diketahui manfaatnya (miscellaneous).

Berdasarkan hasil, jamur yang dapat dimakan yaitu Auricularia auricula, Agaricus brunescens, Lentinus edodes, Pleurotus ostreatus dan Volvariella volvaceae. Jamur yang berkhasiat sebagai obat (medicinal) yaitu Ganoderma lucidum. Tidak ditemukan jamur yang beracun. Mikoriza yaitu jamur yang berasosiasi dengan akar tumbuhan. Dibagi menjadi 2 yaitu ektomikoriza dan endomikoriza.

Untuk klasifikasi jamur, baik jamur mikro dan makro, anda bisa membacanya di Struktur jamur makro dan mikro beserta klasifikasinya.

Menurut Chang dan Miles cendawan atau mushroom adalah kelompok jamur yang mempunyai tubuh buah cukup besar sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang, dapat dipetik oleh tangan, tidak selalu berdaging, tidak selalu dapat dimakan. Cendawan dikelompokan menjadi empat kategori berdasarkan khasiatnya, yaitu:

  1. Jamur yang dapat dimakan, biasanya berdaging dan dapat dimakan, contoh Agaricus brunescens;
  2. Jamur yang mempunyai khasiat obat, contoh Ganoderma lucidum;
  3. Jamur yang beracun, termasuk di dalamnya jamur yang diketahui beracun atau diduga beracun, contoh Amanita phallolides;
  4. Jamur yang khasiatnya belum diketahui atau disebut kelompok miscellaneous.

Tabung merupakan saluran tempat keluarnya spora. Tabung ini baru ditemukan pada Ganoderma lucidum.

Media tumbuh jamur ling zhi seperti halnya jamur kayu lainnya yaitu bahan yang mengandung selulosa dan lignin. Salah satu media yang umum digunakan yaitu limbah serbuk gergajian. Serbuk kayu albasiah merupakan jenis serbuk yang banyak digunakan untuk media tumbuh jamur karena sifatnya yang lunak dan mudah lapuk (Aditya, 2010).

Setelah mengamati histologi preparat awetan Ganoderma lucidum dapat dilihat pada potongan membujur dan melintang terdapat kutis dan tabung. Kutis yaitu hifa yang terdiferensiasi. Tabung di dalamnya terdapat himenium, basidium, dan basidiospora, yang kemudian akan keluar dan lepas melalui porus. Porus yakni suatu pangkal dimana spora keluar. Basidium adalah tempat dimana basidiospora terbentuk. Basidiospora itu terbentuk di luar basidium.

Tipe hifa dibagi 3, yaitu :

  1. Hifa generatif, yaitu hifa yang mampu memproduksi basidia, ciri-ciri : bercabang, dinding tipis, berseptat
  2. Hifa dinding, yaitu hifa untuk menyatukan hifa satu dengan yang lain, cirinya bercabang
  3. Hifa skeletal, yaitu hifa untuk memperkuat basidiocarp, cirinya tidak bercabang.

Jika basidiocarp terdiri dari hifa generatif disebut hifa monomitik, terdiri dari hifa dinding dan hifa skeletal disebut hifa dimitik. Jika terdiri dari hifa generatif, hifa dinding dan hifa skeletal disebut hifa trimitik.

Menurut Chang (1993) berdasarkan kategori taksonomi jamur dibedakan atas dasar tipe spora, morfologi hifa dan siklus seksualnya menjadi 5 kelompok diantaranya Oomycetes, Zygomycetes, Ascomycetes, Basidiomycetes dan Deuteromycetes.

Manfaat yang dapat diambil dari pengetahuan tentang bentuk dan bagian dari jamur itu sendiri adalah mengetahui jenis-jenis jamur yang dapat dimakan, di jadikan obat ataupun jamur beracun. Bentuk dan bagian jamur memang sangat penting untuk dipelajari dimana warna yang mencolok biasanya menandakan bahwa jamur memiliki sifat beracun. tempat hidup jamur juga akan mempengaruhi kandungan yang ada di dalam tubuh jamur (Dwidjoseputro, 1978).

Bacaan lebih lanjut ;

Anonim. 2011. Tentang Cendawan. http:// WordPress.com/2011/10/20/cendawan. Diakses tanggal 15 Oktober 2011.

Aditya, Rial. 2010. Budidaya Jamur Lingzhi / Reishi / Ganoderma lucidum Bagian 2. http://organikganesha.wordpress.com/2010/04/06/budidaya-jamur-lingzhi- reishi-ganoderma-lucidum-bagian-2/. Diakses 16 Oktober 2011.

Agromania. 2010. http://groups.yahoo.com/group/agromania/message/61217. Diakses tanggal 22 November 2010

Alexopoulos, C.J., C. W. Mims and M. Blackwell. 1996. Introductory Mycology. John willey and Sons Inc., New York.

Chang, L.M. Antioxidant Activity and Total Phenolic of Edible Mushroom Extract Food Chem. 81,pp. 249-25.

Dwidjoseputro. 1978. Pengantar Mikologi. Penerbit Alumni, Bandung.

MycoBank.org. 2010. Fungal Databases Nomenclature and Species Banks Online Taxonomic Novelties Submission. http://www,mycobank.org /MycoTaxo.aspx?Link=T&Rec=239416

Ratnaningtyas, N. I. 2010. Petunjuk Praktikum Biologi Jamur Makroskopis. Laboratorium Mikologi-Fitopatologi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !