Wawancara kerja dengan telepon ?Kumpulan tips sukses wawancara kerja

Mengenal Jenis Pemodelan Hidrologi “Distributed Model”

Mengenal Jenis Pemodelan Hidrologi “Distributed Model” – Merupakan representasi atau gambaran dari seuatu keadaan (states) (systems), obyek atau benda (objects) dan kejadian (events). Representasi tersebut dinyatakan dalam bentuk sederhana, yaitu variabel-variabel lain yang rumit dan tidak terkait secaralangsung dengan model tersebut. Representasi tersebut dinyatakan dalam bentuk sederhana yangdapat dipergunakan untuk berbagai macam tujuanpenelitian. Penyederhanaan dilakukan secararepresentatif terhadap perilaku proses yang relevandari keadaan yang sebenarnya. Model hidrologi adalah sebuah sajian sederhana(simple representation) dari sebuah sistem hidrologi yang kompleks.

Model hidrologi merupakan gambaran sederhana dari suatu sistem hidrologi yang aktual. Model hidrologi biasanya dibuat untuk mempelajari fungsi dan respon suatu DAS dari berbagai masukan DAS. Melalui model hidrologi dapat dipelajari kejadian-kejadian hidrologi yang pada gilirannya dapat digunakan untuk memprediksi kejadian hidrologi yang akan terjadi. Pendekatan sistem dalam dalam analisis hidrologi merupakan suatu teknik penyederhanaan dari sistem prototipe ke dalam suatu sistem model, sehingga perilaku sistem yang kompleks dapat ditelusuri secara kuantitatif. Hal ini menyangkut sistem dengan mengidentifikasikan adanya aliran massa/energi berupa masukan dan keluaran serta suatu sistem simpanan.

Konsep dasar yang digunakan dalam setiap sistem hidrologi adalah siklus hidrologi. Persamaan dasar yang menjadi landasan bagi semua analisis hidrologi adalah persamaan neraca air (water balanced equation). Persamaan neraca air dari suatu DAS untuk suatu periode dapat dinyatakan dengan persamaan berikut :

∆S = Input – Output

Dimana :

∆ S      = perubahan tampungan (storage change)

Input    = masukan (inflow)

Output = keluaran (outflow).

Harto (1993) mengemukakan bahwa tujuan penggunaan suatu model dalam hidrologi, antara lain sebagai berikut :

  1. Peramalan (forecasting), menunjukkan besaran maupun waktu kejadian yang dianalisis berdasar cara probabilistik
  2. Perkiraan (predicting) yang mengandung pengertian besaran kejadian dan waktu hipotetik (hipotetical future time)
  3. Sebagai alat deteksi dalam masalah pengendalian
  4. Sebagai alat pengenal (identification) dalam masalah perencanaan
  5. Tranpolasi data/informasi
  6. Perkiraan lingkungan akibat tingkat perilaku manusia yang berubah/meningkat
  7. Penelitian dasar dalam proses hidrologi

Model di dalam studi hidrologi atas dasar pendekatan pembentukan model, dapat dipilah secara umum menjadi lima, yaitu :

1. Model Stokastik

Model Stokastik adalah suatu model matematik yang dapat menerima sembarang peubah, yaitu sebagai peubah acak (random variable) yang mempunyai sebaran acak. Model ini umumnya digunakan untuk menganalisa sifat fisik statistik output dari suatu sistem yang didasarkan pada urutan kejadian sebagai akibat perubahan waktu dan menghasilkan suatu set data dalam jangka panjang dengan sifat yang sama pula. Set data tersebut dapat dianalisa untuk memperoleh gambaran mengenai kemungkinan urutan kejadian yang akan terjadi di masa datang, misalnya frekuensi harapan dari debit air.

2. Model Probabilitas

Dalam model ini konsep frekuensi dan probabilitas memegang peranan penting seperti halnya dalam model stokastik, namun dalam model ini tidak memperhitungkan urutan kejadian.Misalnya kejadian diperlakukan sebagai time-independent dan memperkirakan kejadian yang paling ekstrim berdasarkan karakteristik dari populasi data yang tersedia.

3. Model Konseptual

Model Konseptual didasarkan pada keadaan yang sebenarnya dari sistem dengan struktur yang lebih sederhana, misalnya penyederhanaan proses di dalam DAS dan modelnya antara lain :

  • Pendekatan model rasional
  • Pendekatan linear dan non linear dari suatu reservoir
  • Kombinasi model rasional dan pendekatan reservoir.

4. Model Parametrik

Model ini umumnya digunakan untuk mendapatkan pernyataan matematik yang mengungkapkan fungsi dari DAS yang akan dikonversi ke dalam input dan output (black box models). Selanjutnya model tersebut akan menjadi lebih rumit apabila ditambahkan parameter-parameter DAS penting yang muncul kemudian jika dibandingkan dengan respon yang berbeda dari DAS lain berdasarkan input yang sama. Model parametrik akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai bagaimana sistem bekerja.

5. Model Deterministik

Model Deterministik adalah suatu model matematik yang hanya dapat menerima peubah yang bebas dari variasi acak (random variation). Model ini didasarkan pada struktur sebenarnya dari sistem dan kaidah fisika yang mengatur perilaku sistem tersebut. Berdasarkan variable dan parameter input atau output maka model deterministik dapat dikelompokkan dalam dua bentuk, yaitu lumpeddan terdistribusi (distributed).

Variabel atau parameter disebut lumped apabila besaran yang diwakilinya tidak mempunyai variabilitas ruang, misalnya masukan yang berupa hujan rata-rata DAS adalah masukan yang bersifat lumped. Sebaliknya, variabel dan parameter yang distributed mengandung variabilitas ruang dan waktu. Pengertian parameter adalah suatu besaran yang menandai suatu sistem hidrologi yang memiliki nilai tetap, tidak tergantung pada waktu.V ariabel adalah besaran yang menandai suatu sistem yang dapat diukur dan memiliki nilai berbeda pada waktu berbeda.

Oke, mari kita mengenal lebih dalam terkait Pemodelan Hidrologi Jenis Distributed Model

 Distributed parameter, yaitu model yang berusaha menggambarkan proses dan mekanisme fisik dan keruangan, memperlakukan masing komponen DAS atau proses sebagai komponen mandiri dengan sifatnya masing- masing. Model tersebut secara teori sangat memuaskan, tetapi data lapangan sering terbatas untuk mengkalibrasi dan memverifikasi hasil simulasi. Berikut penjelasan terkait macam macam pemodelan hidrologi yang tergolong dalam jenis distributed.

1. Model ANSWERS

Model ANSWERS (areal nonpoint source watershed environmental response simulation) merupakan sebuah model hidrologi dengan parameter terdistribusi yang mensimulasikan hubungan hujan-limpasan dan memberikan dugaan hasil sedimen. Model hidrologi ANSWERS dikembangkan dari US-EPA (United States Environment Protection Agency) oleh Purdue Agricultural Enviroment Station (Beasley and Huggins 1991).

Salah satu sifat mendasar dari model ANSWERS adalah termasuk kategori model deterministik dengan pendekatan parameter distribusi. Model distribusi parameter DAS dipengaruhi oleh variabel keruangan (spatial), sedangkan parameter- parameter pengendalinya, antara lain : topografi, tanah, penggunaan lahan dan sifat hujan.

2. Struktur Model ANSWERS

Model ANSWERS adalah model deterministik yang didasarkan pada hipotesis bahwa setiap titik di dalam DAS mempunyai hubungan fungsional antara laju aliran permukaan dan beberapa parameter hidrologi yang mempengaruhi aliran, seperti intensitas hujan, infiltrasi, topografi, jenis tanah dan beberapa faktor lainnya. Laju aliran yang terjadi dapat digunakan untuk memodelkan fenomena pindah massa, seperti erosi dan polusi dalam wilayah DAS.

Dalam model ini suatu DAS yang akan dianalisis responnya dibagi menjadi satuan elemen yang berukuran bujursangkar, sehingga derajat variabilitas spasial dalam DAS dapat terakomodasi. Konsep distribusi disefinisikan melalui hubungan matematika untuk semua proses simulasi, model ini mengasumsikan bahwa suatu DAS merupakan gabungan dari banyak elemen yang diartikan sebagai suatu areal yang memiliki paramater hidrologi yang sama. Setiap elemen akan memberikan kontribusi sesuai dengan karakteristik yang dimiliki. Model ini juga mengikut sertakan semua parameter kontrol secara spasial. Oleh karena itu model ANSWERS melakukan analisis pada setiap satuan elemen.

3. Parameter Masukan Model ANSWERS

Data masukan model ANSWERS dikelompokkan dalam lima bagian (de Roo 1993), yaitu :

  • Data curah hujan, yaitu : jumlah dan intensitas hujan pada suatu kejadian hujan.
  • Data tanah, yaitu : porositas total (TP), kapasitas lapang (FP), laju infiltrasi konstan (FC) selisih laju infiltrasi maksimum dengan laju infiltrasi konstan (A), eksponen infiltrasi (P), kedalaman zona kontrol iniltrasi (DF), kandungan air tanah awal (ASM), dan erodibilitas tanah (K).
  • Data penggunaan dan kondisi permukaan lahan, meliputi : volume intersepsi potensial (PIT), persentase penutupan lahan (PER), koefisien kekasaran permukaan (RC), tinggi kekasaran maksimum (HU), nilai koefisien manning untuk permukaan lahan (N), faktor tanaman dan pengelolaannya (C).
  • Data karakteristik saluran, yaitu lebar saluran (CW) dan koefisien manning (N).
  • Data satuan individu elemen, yaitu : kemiringan lereng, arah lereng, jenis tanah, jenis penggunaan lahan, liputan penakar hujan, kemiringan saluran, dan elevasi elemen rata-rata.

4. Mekanisme model ANSWERS

Mekanisme model ANSWERS dapat dijelaskan sebagai berikut (de Roo 1993) :

  • Hujan yang jatuh pada suatu DAS dengan vegetasi tertentu, sebagian akan diintersepsi oleh tajuk vegetasi (PER) sampai potensial simpanan intersepsi (PIT) tercapai.
  • Apabila laju hujan lebih kecil dari laju intersepsi, maka air hujan tidak akan mencapai permukaan tanah. Sebaliknya jika laju hujan lebih besar dari laju intersepsi, maka terjadi infiltrasi.
  • Laju infiltrasi awal tersebut dipengaruhi oleh kandungan air tanah awal (ASM = anticedent soil moisture), porositas tanah total (TP), kandungan air tanah pada kapasitas lapang (FP), laju infiltrasi pada saat konstan (FC), laju infiltrasi maksimum (FC+A), dan kedalaman zona kontrol infiltrasi (DF). Laju infiltrasi akan menurun secara eksponensial dengan bertambahnya kelembaban tanah.
  • Jika hujan terus berlanjut, maka laju hujan menjadi lebih besar dari laju infiltrasi dan intersepsi. Pada kondisi ini air mulai mengumpul dipermukaan tanah dalam depresi mikro (retention storage) yang dipengaruhi oleh kekasaran permukaan tanah, yaitu RC dan HU.
  • Jika retensi permukaan melebihi kapasitas depresi mikro, maka akan terjadi limpasan permukaan, di mana besarnya limpasan permukaan tersebut dipengaruhi oleh kekasaran permukaan (N), kelerengan dan arah aliran.
  • Bila hujan terus berlanjut, maka akan tercapai laju infiltrasi konstan (FC).
  • Pada saat hujan reda, proses infiltrasi masih terus berlangsung sampai simpanan depresi sudah tidak tersedia lagi.

5. Parameter Keluaran Model ANSWERS

Keluaran model berupa hasil prediksi, yaitu : ketebalan aliran permukaan, debit puncak, waktu puncak, rata-rata kehilangan tanah, laju erosi maksimum tiap elemen, laju deposisi maksimum tiap elemen dan pengurangan jumlah sedimen akibat tindakan konservasi tanah.

Model ANSWERS juga menampilkan grafik yang berisi hyetograf hujan terpilih, hidrograf aliran permukaan, dan sedimentasi. Dari setiap kajadian hujan dapat dianalisis debit puncak dan waktu puncak. Debit puncak adalah nilai puncak (tertinggi) dari suatu hidrograf aliran, dan waktu puncak adalah selang waktu mulai dari awal terjadinya aliran permukaan sampai terjadinya debit puncak.

6. Kelebihan dan Kelemahan Model ANSWERS

Beasley dan Huggins (1991) menyebutkan bahwa model ANSWERS dapat digunakan untuk DAS yang luasnya kurang dari 10.0000 ha. Kelebihan dan model ANSWERS adalah : a) analisis parameter distribusi yang dipergunakan dapat memberikan hasil simulasi yang akurat terhadap sifat daerah tangkapan; b) dapat mensimulasi secara bersamaan dari berbagai kondisi dalam DAS; c) memberikan keluaran berupa limpasan dan sedimen dari suatu DAS yang dianalisis.

Beasley dan Huggins (1991), mengemukakan bahwa model ANSWERS sebagai sebuah model hidrologi mempunyai kelebihan, antara lain :

  • Dapat mendeteksi sumber-sumber erosi di dalam DAS serta memiliki kemampuan sebagai alat untuk strategi perencanaan dan evaluasi kegiatan RLKT DAS.
  • Dapat mengetahui tanggapan DAS terhadap mekanisme pengangkutan sedimen ke jaringan aliran yang ditimbulkan oleh kejadian hujan
  • Sebagai suatu paket program komputer yang ditulis dalam bahasafortran, mempunyai kemampuan untuk melakukan simulasi hujan-limpasan dari berbagai perubahan kondisi penggunaan lahan dalam DAS.
  • Untuk melakukan inputing data base (topografi, tanah, penggunaan lahan, sistem saluran) ke dalam model dapat diintegrasikan dengan data dari remote sensing maupun SIG.
  • Adanya variasi pemilihan parameter input dan output dari model disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.
  • Sesuai untuk diterapkan pada lahan pertanian, hutan, maupun perkotaan.
  • Satuan pengukuran dapat berupa metrik ataupun British unit
  • Dapat diterapkan pada DAS dengan ukuran lebih kecil dari 10.000 ha.

Sedangkan kekurangan nodel ANSWERS antara lain :

  • Semakin kompleks, terutama pada data perlukan dan waktu penghitungan, dimana besarnya tergantung dari berbagai faktor, seperti luas DAS dan jumlah grid.
  • Model terdistribusi relatif masih bari dibanding lumped parameter, sehingga masih perlu pengembangan dan penyesuaian.
  • Karena hanya untuk tiap kejadian hujan (individual event), maka model ini

tidak memiliki sub model untuk evapotranspirasi.

  • Erosi dari saluran belum diperhitungkan ke dalam model.
  • Batas grid kemugkinan tidak menggambarkan batas yang sebenarnya.
  • Untuk sebuah grid dalam kenyataan dapat lebih besar dari luas sub-sub DAS.

7. Aplikasi Model ANSWERS

Hipotesis yang dikembangkan dalam model ini adalah bahwa setiap bagian dalam DAS terjadi hubungan antara laju aliran dan parameter-parameter hidrologi, serta tipe tanah, topografi, infiltrasi, penggunaan lahan dan sifat hujan. Laju aliran yang terjadi dapat digunakan untuk mengkaji hubungan antara komponen hidrologi yang menjadi dasar dalam pemodelan fenomena transport, seperti erosi tanah dan pengangkutan serta pergerakan bahan kimia tanah. Model ANSWERS ini telah diaplikasikan penggunaannya pada beberapa DAS di Indonesia melalui beberapa riset.

8. Model AGNPS

Model AGNPS (agricultural non point source pollution model) dikembangkan oleh USDA-ARS, North Central Soil Consrvation Service, Morris, Minnesota yang bekerjasama dengan USDA-SCS, MPCA (Minnesota Pollution Control Agency), LCMR (Legeslative Commission in Minnesota Resources) dan EPA (Environmental Protection Agency). Model ini terus berkembang dan telah diterapkan di beberapa negara untuk menentukan langkah-langkah kebijakan dan evaluasi dalam kegiatan konservasi, seperti di Amerika, Canada dan negara-negara di Eropa.

9. Struktur Model AGNPS

Model AGNPS bekerja pada basis sel geografis (dirichlet tesselation) yang digunakan untuk menggambarkan kondisi daratan (upland) dan saluran (channel). Dirichlet tesselation adalah proses pembagian dan pengelompokan DAS menjadi sel (tiles) yang juga dikenal dengan nama polygon Thiessen atauVoronoi. Setiap sel berbentuk bujur sangkar seragam yang membagi DAS secara merata, di mana memungkinkan analisis pada titik dalam suatu DAS.

Polutan potensial ditelusuri melalui sel-sel dari awal hinggaoutlet secara bertahap, sehingga aliran pada setiap titik antar sel dapat diperhitungkan. Seluruh karakteristik DAS dan masukan digambarkan pada tingkatan sel.

Setiap sel mempunyai resolusi 2,5 akre (1,01 ha) hingga 40 akre (16,19 ha). Ukuran sel yang lebih kecil dari 10 akre direkomendasikan untuk DAS dengan luas kurang dari 2000 akre (809,36 ha). Untuk DAS yang luasnya lebih dari 2000 akre, maka ukuran seladapat berukuran 40 akre .

Setiap sel utama dapat dibagi lagi menjadi sel-sel yang lebih kecil untuk memperoleh resolusi yang lebih rinci dari kondisi topografi yang komplek. Ketelitian hasil dapat ditingkatkan dengan mengurangi ukuran sel, tetapi hal ini akan membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih banyak untuk menjalankan model.

Nilai-nilai parameter model untuk skala sel ditetapkan berdasarkan kondisi biofisik aktual pada masing-masing sel. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan satu nilai parameter yang seragam pada masing-masing sel, perlu ditetapkan nilai tunggal parameter sel dengan menghitung nilai rata-rata tertimbang dari berbagai kondisi beragam yang ada.

10. Parameter Masukan Model AGNPS

Ada dua parameter masukan dalam model AGNPS, yaitu inisial data dan data per sel (spreadseheet data entry). Parameter masukan inisial data, meliputi : 1) identifikasi DAS; 2) deskripsi DAS; 3) luas sel (akre); 4) jumlah sel; 5) curah hujan (inci); 6) konsentrasi N dalam curah hujan (ppm); 7) energi intensitas hujan maksimum 30 menit (EI30); 8) durasi hujan (jam); 9) perhitungan debit puncak aliran; 10) perhitungan geomorfik; dan 11) faktor bentuk hidrograf.

Sedangkan parameter masukan per sel dalam model AGNPS terdiri dari 22 parameter, yaitu : 1) nomor sel; 2) nomor sel penerima; 3) divisi sel; 4) divisi sel penerima; 5) arah aliran; 6) bilangan kurva aliran permukaan; 7) kemiringan lereng (%); 8) faktor bentuk lereng; 9) panjang lereng; 10) koefisien aliran Manning; 11) faktor erosibilitas tanah; 12) faktor pengelolaan tanaman; 13) faktor pengelolaan tanah; 14) konstanta kondisi permukaan; 15) faktor COD; 16) tekstur tanah; 17) indikator pemupukan; 18) indikator pestisida; 19) indikator point source; 20 ) indikator tambahan erosi; 21) faktor genangan; dan 22) indikator saluran.

11. Parameter Keluaran Model AGNPS

Hasil keluaran (output) dari model AGNPS dapat berupa grafik dan tabular dengan informasi yang sangat lengkap, baik keluaran DAS (watershed summary) maupun keluaran per sel. Keluaran DAS, meliputi : 1) volume aliran permukaan; 2) laju puncak aliran permukaan; 3) total hasil sedimen; 4) total N dalam sedimen; 5) total N terlarut dalam aliran permukaan; 6) konsentrasi N terlarut dalam aliran permukaan; 7) total P dalam sedimen; 8) total p terlarut dalam aliran permukaan; 9) konsentrasi P terlarut dalam aliran permukaan; 10) total COD terlarut dan konsentrasi COD terlarut dalam aliran permukaan.

Sedangkan keluaran per sel dari masing-masing sel yang terdapat dalam DAS dapat berupa :

1)Hidrologi, meliputi volume aliran permukaan, laju puncak aliran permukaan dan bagian aliran permukaan yang dihasilkan di dalam sel.

2) Sedimen, meliputi hasil sedimen, konsentrasi sedimen, distribusi ukuran partikel sedimen, erosi yang dipasok dari sel sebelah atasnya, jumlah deposisi, sedimen di dalam sel, rasio pengkayaan oleh ukuran partikel dan rasio pengangkutan oleh ukuran partikel.

3) Kimiawi, meliputi nitrogen (massa N per satuan luas di dalam sedimen,konsentrasi material terlarut, dan massa dari material terlarut),  fosfor (massa P per satuan luas di dalam sedimen, konsentrasi dari material terlarut, dan massa dari material terlarut) dan COD (konsentrasi COD dan massa COD terlarut per satuan luas).

12. Kelebihan Model AGNPS

Kelebihan model ini terletak pada parameter-parameter model yang terdistribusi di seluruh areal DAS, sehingga nilai-nilai parameter model benar-benar mencerminkan kondisi biofisik DAS pada setiap satuan luas di dalam DAS. Selain erosi, model ini mampu menghasilkan keluaran-keluaran seperti : volume dan laju puncak aliran permukaan, hasil sedimen, kehilangan N, P dan COD.

13. TOP MODEL

TOP MODEL adalah, didistribusikan Model DAS berdasarkan fisik yang mensimulasikan fluks hidrologi air (infiltrasi-kelebihan aliran darat, aliran, infiltrasi, exfiltration, aliran bawah permukaan darat jenuh, evapotranspirasi, dan saluran routing) melalui DAS. Model mensimulasikan eksplisit tanah / permukaan

interaksi air dengan memprediksi pergerakan permukaan air, yang menentukan di mana jenuh tanah permukaan daerah mengembangkan dan memiliki potensi untuk menghasilkan aliran permukaan jenuh.

TOP MODEL didefinisikan sebagai model konseptual variabel daerah berkontribusi di mana dinamika permukaan dan daerah jenuh bawah permukaan diperkirakan atas dasar hubungan debit penyimpanan didirikan dari disederhanakan Teori steady state untuk zona lereng bawah jenuh mengalir. Teori ini mengasumsikan bahwa gradien hidrolik lokal adalah sama dengan kemiringan permukaan lokal dan menyiratkan bahwa semua titik dengan nilai yang sama dari indeks topografi, a / tan akan B merespon dengan cara hidrologis yang sama. Indeks ini berasal dari topografi cekungan, di mana adalah dikeringkan daerah per satuan panjang kontur dan tan B adalah kemiringan permukaan tanah di lokasi. Dengan demikian model perlu membuat perhitungan hanya untuk nilai perwakilan dari indeks. Hasil kemudian dapat dipetakan kembali ke angkasa oleh

pengetahuan tentang pola indeks berasal dari analisis topografi. Profil tanah didefinisikan oleh satu set toko. Yang atas adalah penyimpanan zona akar, di mana curah hujan infiltrat sampai kapasitas lapangan tercapai. Ketika kanopi hutan muncul, intersepsi dan permukaan penyimpanan tambahan mungkin perlu. Di toko ini, evapotranspirasi diasumsikan berlangsung di tingkat potensi untuk menurunkan pada tingkat linear ketika zona akar menjadi habis. Setelah kapasitas lapang terlampaui, toko kedua mulai mengisi sampai kadar air mencapai saturasi. Itu toko gravitasi drainase menghubungkan zona tak jenuh dan jenuh, menurut fungsi linear yang mencakup waktu menunda parameter untuk routing vertikal melalui zona tak jenuh.

Sebuah pendekatan alternatif yang didasarkan pada fluks Darcian di dasar zona tak jenuh dapat dipertimbangkan. Ketika defisit di toko gravitasi drainase atau kedalaman muka air sama dengan 0 kondisi saturasitercapai dan curah hujan menghasilkan aliran permukaan langsung. Oleh karena itu tujuan utama dari TOP MODEL adalah perhitungan Defisit penyimpanan atau kedalaman muka air di setiap lokasi untuk setiap timestep. Teori ini berkaitan rata penyimpanan DAS Defisit defisit penyimpanan lokal menggunakan nilai lokal dari fungsi indeks topografi. Dalam versi asli TOP MODEL tanah konduktivitas hidrolik, atau dengan ekstensi keterusan tanah, diasumsikan membusuk berikut hukum eksponensial negatif. Dalam hal ini, ekspresi yang memperkirakan nilai defisit penyimpanan lokal atau kedalaman muka air diberikan dalam hal indeks ln topografi (a / tan B).

Bentuk lain dari tanah konduktivitas hidrolik fungsi pembusukan menyebabkan fungsi indeks yang berbeda. Ketika nilai-nilai didistribusikan keterusan tanah (T0) dikenal a Indeks tanah-topografi dapat dipertimbangkan, ln (a / T0 tan B). Indeks derivasi topografi diperoleh dengan analisis manual dari peta kontur dan streamtubes lereng bukit di versi awal dari model. Versi saat ini dari model menyediakan program untuk menurunkan distribusi dari teratur raster grid elevasi untuk DAS atau DPS menggunakan algoritma beberapa aliran arah dan ambang batas inisiasi saluran untuk posisi hulu sungai. Untuk menghitung limpasan sesuai dengan infiltrasi kelebihan TOP MODEL mekanisme menggunakan eksponensial Green-Ampt model. Jika infiltrasi kelebihan tidak terjadi ia melakukannya di seluruh wilayah DPS (meskipun alternatif yang distribusi statistik dari nilai-nilai konduktivitas hidrolik di DAS dapat diasumsikan).

Parameter untuk mengendalikan fraksi DAS yang menghasilkan limpasan oleh infiltrasi kelebihan dianggap baru oleh beberapa studi untuk menghitung limpasan menggunakan Philip ‘dua jangka persamaan. Pembuangan DPS yang diarahkan ke outlet DAS menggunakan algoritma routing linear dengan kecepatan konstan baik dalam saluran utama dan di DPS internal.

14. Model SWAT

SWAT merupakan singkatan dari Soil Water Assessment Tools, yang merupakan suatu model hidrologi yang pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat dibawah naungan Departemen Pertanian. Tujuan awal pengembangan model ini adalah untuk mensimulasikan dampakpengelolaan lahan terhadap aliran dan sedimentasi dalam suatu daerah aliran sungai (DAS) yang tidak memilikisistem pengamatan dan pencatatan data. Saat ini model SWAT telah berkembang dengan pesat dengan aplikasi yang sangat beragam mulai dari simulasi hidrologi yangsangat sederhana, simulasi dampak perubahan tata gunalahan, simulasi dampak perubahan iklim bahkan sampaidengan simulasi untuk memprediksikan produktifitas suatu lahan pertanian.

Tujuan yang lainnya dari pengembangan model SWAT adalah untuk mensimulasikandampak manajemen lahan terhadap hidrologi,sedimen dan zat kimia terlarut dalam suatu DAS yang luas yang didominasi oleh kegiatan pertanian dan tidak memiliki pencatatan data.SWAT merupakan suatu model yang mampu mensimulasikan parameter-parameter hidrologi dalam jangka panjang dengan mempertimbangkan karakteristik fisiksuatu DAS. Model ini pada awalnya membagi DAS menjadi beberapa Sub-DAS yang kemudian setiap Sub-DAS tersebut akan dibagi kembali menjadi beberapa unit respon hidrologi (Hidrologic Response Unit, HRU) berdasarkantata guna lahan, jenis tanah dan kelas lereng.Dengan asumsi tidak ada hubungan antar HRU, modelkemudian mensimulasikan proses hidrologi untuk setiap HRU menggunakan metode neraca air. Simulasi neracaair tersebut meliputi parameter-parameter seperti kandunganair tanah, limpasan permukaan, evapotranspirasi, perkolasi,dan aliran bawah permukaan tanah yang kembali ke sungai.

WEPP (water erosion predicting project), KINEROS (kinematic erosion simulation), EUROSEM (european soils erosion model), TOP MODEL (topografically and physically based, variable contributing area model of basin hidrology) dan ANSWERS (areal nonpoint source watershed environmental response simulation) AGNPS, SWAT, tergolong distributed parameter, yaitu model yang berusaha menggambarkan proses dan mekanisme fisik dan keruangan, memperlakukan masing komponen DAS atau proses sebagai komponen mandiri dengan sifatnya masing- masing. Model tersebut secara teori sangat memuaskan, tetapi data lapangan sering terbatas untuk mengkalibrasi dan memverifikasi hasil simulasi.

KESIMPULAN

Model hidrologi merupakan gambaran sederhana dari suatu sistem hidrologi yang aktual. Model hidrologi biasanya dibuat untuk mempelajari fungsi dan respon suatu DAS dari berbagai masukan DAS. Melalui model hidrologi dapat dipelajari kejadian-kejadian hidrologi yang pada gilirannya dapat digunakan untuk memprediksi kejadian hidrologi yang akan terjadi. Distributed parameter, yaitu model yang berusaha menggambarkan proses dan mekanisme fisik dan keruangan, memperlakukan masing komponen DAS atau proses sebagai komponen mandiri dengan sifatnya masing- masing. Model tersebut secara teori sangat memuaskan, tetapi data lapangan sering terbatas untuk mengkalibrasi dan memverifikasi hasil simulasi. Beberapa contoh model hidrologi jenis distributed yaitu ANSWER, AGNPS, TOP MODEL, SWAT dll.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *