KANDUNGAN AL-BAYYINAH TENTANG TOLERANSI

KANDUNGAN AL-BAYYINAH TENTANG TOLERANSI
Toleransi merupakan sebuah kondisi yang memperbolehkan adanya kebebasan, namun ia tetap memperlihatkan sikap tidak setuju yang  tersembunyi pada sebuah kondisi di mana kebebasan yang diperbolehkannya bersifat terbatas dan bersyarat.

Adanya kaum Kafir dan Ahlul Kitab yang tidak mau meninggalkan agama mereka sebelum datang bukti yang nyata tentang agama Islam. Akan tetapi Islam tetap memberi kebebasan kepada mereka untuk tetap meyakini agamanya sebelum bukti nyata itu datang. Namun setelah bukti nyata itu datang kepada mereka pun mereka tetap tidak mau mempercayainya, meskipun mereka sudah tau tanda-tanda tentang akan diturunkannya Nabi yang membawa risalah dan bukti-bukti nyata untuk membawa mereka kepada agama yang benar yaitu Islam.
Qs. al-Bayyinah dan Artinya 
  1.  “Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata”.
  2. “(yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran).”
  3. “di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus.”
  4. “Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.”
  5. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”
  6. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” 
  7.  “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.
  8. “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” 
Isi Kandungan Qs. al-Bayyinah
Isi pokok dari QS. al-Bayyinah  di antaranya mengenai pernyataan Ahli Kitab dan orang-orang kafir (Musyrik) bahwa mereka akan tetap dalam agamanya masing-masing sampai datang Nabi yang telah dijanjikan oleh Tuhan. Setelah Nabi Muhammad SAW datang, mereka berpecah belah, ada yang beriman dan ada yang tidak, pada hal Nabi yang datang itu sifat-sifatnya sesuai dengan sifat-sifat yang mereka kenal pada kitab-kitab mereka dan membawa ajaran yang benar yaitu ikhlas dalam beribadah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat.

KANDUNGAN AL-BAYYINAH TENTANG TOLERANSI

Pada ayat pertama mengandung artian bahwa kaum Kafir dan Ahlul Kitab tidak mau meninggalkan agamanya sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.  
Ahli kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dan yang dimaksud dengan orang-orang musyrik adalah para penyembah berhala dan api, baik dari masyarakat Arab maupun non Arab. Mujahid mengatakan bahwa mereka “mungfakkiina” (“tidak akan meninggalkan”) artinya, mereka tidak akan berhenti sehingga kebenaran tampak jelas di hadapan mereka.
Maka pada ayat ke 2-3 Allah menegaskan kembali apa ucapan mereka yakni bahwa bukti nyata yang meraka harapkan dan siapa yang mereka nantikan adalah seorang Rasul yang merupakan utusan Allah yang membacakan kepada mereka lembaran-lembaran yang disucikan dari segala najis dan kekotoran immaterial seperti syirik dan dosa yang di dalamnya terdapat kitab-kitab yakni ketetapan hukum yang sangat lurus, menjadi pedoman bagi kebahagiaan hidup pribadi dan masyarakat dunia akhirat.
Ayat 2-3 juga mengacu pada surat an-Nisaa: 174; bahwa Allah telah mendatangkan bukti nyata kebenaran dengan diturunkannya Nabi Muhammad SAW. dengan mukjizat.  Dengan memandang keutamaan rasio yang tersirat dalam seruan “hai sekalian manusia”, maka seruan itu diserukan pada orang-orang yang mengingkari kebenaran. Mereka berasal dari orang-orang musyrik yang membantah ketuhanan dan kerasulan.
Ini merujuk pada surat an-Nisaa (174): 
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran). 
Kemudian pada ayat ke lima diartikan bahawa mereka enggan percaya serta berselisih satu sama lain padahal mereka tidak diperintahkan yakni tidak dibebani tugas baik yang terdapat dalam kitab-kitab maupun melalui Rasul yang menyampaikannya, kecuali supaya mereka menyembah yakni beribadah dan tunduk kepada Allah SWT. dengan memurnikan untuk-Nya dan juga mereka diperintahkan supaya mereka melaksanakan shalat secara baik dan menunaikan zakat dengan sempurna sesuai ketentuan yang sudah ditetapkan.

Karena adanya perpecahan mereka kaum Kafir maka pada ayat yang ke lima dengan nada mencerca, Allah menegaskan bahwa mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Allah. Perintah yang ditujukan kepada mereka adalah untuk kebaikan dunia dan agama mereka, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, yang berupa ikhlas lahir batin dalam berbakti kepada Allah dan membersihkan amal perbuatan dan syirik menjauhkan dirinya dari kekufuran kepada agama tauhid dengan mengikhlaskan ibadah kepada Allah. Pada ayat yang terakhir Allah juga menjanjikan adanya surga bagi mereka yang beriman kepada-Nya, dan neraka bagi mereka yang mengingkari-Nya.
D. Kandungan Tajwid dalam Surat al-Bayyinah
Hukum Bacaan                           Contoh Bacaan
1. Idzhar                                   من اهل, عنهم, لمن خشي,
2. Ikhfa                                   منفكين, كتب قيمة, عند, عدن تخري, 
3. AlQomariah                           والمشركين, البينة, اوتوالكتب, دين القيمة,
4. Iqlab                                   من بعد
5. Mad Wajib Muttasil           ماحاْتهم, حنفاء, اولئك,
6. Mad Jaiz Munfasil                   وماامروا, جزاؤهم, فيهاابدا 
7. Idzhar Syafawi                   لم يكن, 
8. Idghom Bighunnah             رسل من الله, صحفا مطهرة, 
9. Assyamsiyah                           ويقيمواالصلوة, وعملواالصلحت,  
10. Ghunnah                                   رجهنم, جنت,  
E. Kesimpulan
Di lihat dari arti dan isi kandungan surah aL-Bayyinah, secara sekilas dapat ditemukannya isi kandungan tentang toleransi. Setelah mengaitkan ayat pertama dengan ke lima ayat al-Kafirun; yaitu:
 “Orang-orang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata. Tiadalah orang-orang yang kafir dari) huruf Min di sini mengandung makna penjelasan (kalangan ahlulkitab dan orang-orang musyrik) orang-orang musyrik artinya orang-orang yang menyembah berhala; lafal Musyrikiina di’athafkan kepada lafal Ahlilkitaabi (mau meninggalkan) agamanya; lafal Munfakkiina sebagai Khabar dari lafal Yakun; artinya mereka akan tetap memegang agama yang mereka peluk (sebelum datang kepada mereka) artinya sampai datang kepada mereka (bukti yang nyata) berupa hujah yang jelas, yang dimaksud adalah Nabi Muhammad saw.” 
Sedangkan dalam surat aL-Kafirun terdapat pada ayat ke 2-6, dimana kaum Kafir tetap menyembah berhala sebagai agama mereka dan Islam pun tidak akan menyembah agama apa yang kaum Kafir sembah. Ini terlihat dimana Islam tetap membiarkan kaum Kafir dan Ahli Kitab menyembah agama mereka tanpa memaksa untuk menyembah apa yang Islam sembah, walaupun sudah dijelaskan juga secara tegas adanya balasan bagi mereka yang ingkar terhadap agama yang benar yaitu Islam adalah neraka Jahanam dan balasan bagi mereka yang menyembah Allah sebagai tuhannya serta mempercayai Islam sebagai agama yang benar adalah surga. Namun pada akhirnya kaum kafir dan ahlul kitab tetap ingkar dan bertahan dengan agama mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Halim, Muhammad. 2002. Memahami al-Quran. Bandung: Marja’.
Asyuyuthi, Jalaluddin . 2010. Tafsir Jalalain Digital. Pesantren Persatuan Islam Tasikmalaya.
Gani, Bustami. . al-Quran dan Tafsir. Semarang: Citra Effhar.
Jalaluddin al-Mahali, Imam. 2006. Tafsir Jalalain. Bandung: Algensindo.
Shihab, Quraish. 2002. Tafsir al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.
Syaltut, Muhammad. 1990. Tafsir al-Quranul Karim. Bandung: CV. Diponegoro.

Tinggalkan komentar