Artikel, Ilmiah

Keanekaragaman Organisme Dalam Sistem Pertanian

Keanekaragaman Organisme Dalam Sistem Pertanian – Biological diversity (biodiversity) dapat ditinjau dari tiga level yaitu diversitas genetik,diversitas spesies, dan diversitas ekosistem. Diversitas Genetik tidak hanya terdiriatas variasi genetic dari individu-individu dalam populasi, tetapi juga mencakup variasi genetic antar populasi. Diversitas genetik seringkali diasosiasikan dengan adaptasi terhadap kondisi local. Diversitas spesies adalah variasi spesies dalam suatu ekosistem atau dalam keseluruhan biosfer. Berkurangnya diversitas spesies dapat disebabkan oleh punahnya suatu spesies. Diversitas Ekosistem merupakan variasi ekosistem dalam biosfer. Diversitas ekosistem adalah level ketiga dalam diversitas biologi. Jaringan interaksi antar populasi suatu spesies dalam komunitas terjadi di dalam suatu ekosistem, sehingga kepunahan lokal dari satu spesies mampu memberikan dampak negatif terhadap keseluruhan kekayaan spesies dari suatu komunitas (Champbell, 2000).

Unsur abiotik dan biotik saling berinteraksi pada suatu lingkungan membentuk suatu ekosistem, misalnya ekosistem sungai terdiri dari unsur biotik seperti katak, ular, ikan, dan unsur abiotik seperti batu, tanah, air, udara, dan lain-lain. Selain dalam lingkungan sungai, keanekaragaman organisme juga dapat dijumpai dalam sistem pertanian. Dalam sistem pertanian, dapat kita jumpai berbagai organisme seperti capung, keong mas, bekicot, belalang, kodok, ulat, atau bahkan mikroorganisme yang tidak dapat kita lihat dengan mata telanjang. Organisme tersebut berinteraksi dengan organisme lain, dengan bentuk interaksi yang beraneka ragam, mulai dari simbiosis, predasi, dan kompetisi hingga membentuk suatu peristiwa makan dan dimakan antar organisme tersebut yang membentuk rantai makanan dan jaring-jaring makanan (Amir, 2000).

Pengamatan yang dilakukan secara langsung menuju lingkungan pertanian dimana terdapat berbagai organisme pada sistem pertanian tersebut. Kemudian pengamatan secara langsung ini bertujuan agar kita mengetahui ciri-ciri dan organisme-organisme yang terdapat pada lingkungan pertanian dan peran masing-masing organisme tersebut, serta hubungannya dengan organisme lain yang berada dalam satu lingkungan pertanian. Sehingga didapatkan data primer yang merupakan data yang diperoleh secara langsung dengan cara pengamatan atau melakukan observasi langsung ke tempat tujuan.

Dalam sistem pertanian terdapat berbagai organisme yang berperan sebagai hama yang dapat merusak tanaman di lingkungan pertanian tersebut seperti ualat grayak daun, kutu, kepik, tikus, serta dijumpai pula agen pengendali dari hama-hama yang ada seperti burung dan laba-laba. Selain itu terdapat hewan yang tidak tergolong hama ataupun musuh alami karena peran di lingkungan pertanian jstru menguntungkan, seperti cacing tanah yang dapat menyuburkan tanah, dan lebah menyerbuk yang membantu penyerbukan antar tanaman dalam sistem pertanian.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, organisme dalam sistem pertanian yaitu pada tanaman Terong (Solanaceae) yang diperoleh adalah kumbang lebah, Grashopper Longhorn (belalang sembah), kepik, ulat bulu (ulat grayak), semut, dan laba-laba. Berdasarkan organisme yang diperoleh, maka organisme tersebut dalam digolongkan ke dalam tiga kelompok besar hewan berdasarkan fungsinya, yaitu hewan sebagai hama, musuh alami, dan lain-lain. Hewan yang tergolong hama yaitu Grashopper Longhorn (belalang sembah), dan ulat bulu (ulat grayak), sedangkan hewan yang berfungsi sebagai musuh alami atau agen pengendali adalah semut, kumbang kubah, kepik dan laba-laba. Hewan yang tergolong lain-lain saat pengamatan belum dijumpai, karena mungkin cuaca saat itu panas dan kondisi tidak mendukung, selain itu tanaman terong yang ada belum mulai berbunga dan tanamannya cukup rusak karena hama yang menyerang tanaman terong tersebut.

Hewan yang tergolong hewan lain-lain yaitu lebah penyerbuk, cacing tanah, tungau, dan kutu buku. Masing-masing organisme yang didapat akan dijelaskan sebagai berkut :

1. Kumbang Kubah

Kumbang Kubah merupakan salah satu Famili Coleoptera adalah Coccinellidae. Kelompok serangga ini mempunyai bentuk badan tertentu, oval sampai bulat dengan pola warna yang beragam (Amir, 2002). Tubuh kumbang Coccinelidae berbentuk setengah bola atau cembung, bagian pemukaan perut atau ventral datar. Kepalanya kecil, sebagian ditarik ke dalam protoraks atau tertutup di bawah pronotum. Sayap depan atau elitra menutupi hampir seluruh abdomen. Elitra kumbang predator biasanya berwarna cerah dan mengkilat (Kalshoven, 1981). Sebagian besar anggota Coccinellidae bersifat predator. Kelompok ini mempunyai beberapa peran dalam sistem ekologi, diantaranya adalah sebagai pengendali hayati terhadap hama tanaman. Mangsa dari kumbang kubah antara lain dari famili coccidae, pseudococcidae, diaspidae, aphididae. 

Kalasifikasi Kumbang Kubah dalam buku Kunci Determinasi Serangga Predigo (2006) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Mandibulata
Classis : Insekta
Subclassis : Pterygota (Endopterygota)
Ordo : Coleoptera
Familia : Coccinelidae
Genus : Epilachna
Species : Epilachna sparsa

Keanekaragaman Organisme Dalam Sistem Pertanian

Kumbang kubah memiliki beberapa stadium dalam hidupnya antara lain yaitu sebagai berikut :

  1. Telur : Telur kumbang kubah biasa diletakan secara berkelompok. Warna umumnya kuning muda pada saat diletakan, kemudian menjadi kuning tua, dan menjadi coklat kehitaman pada saat akan menetas. Bentuk telur oval dan berukuran kecil.
  2. Larva : larva darikumbang kubah memiliki beberapa ciri yaitu terdapat bagian dorsal, badan lebar di bagian tengah dan mengecil pada bagian kepala dan abdomen. Mulut tipe menggigit dan menguyah.
  3. Pupa : Pupa dari kumbang kubah  berada dalam puparium dan umumnya menempel pada substrat dengan ujung abbdomenya. Pupa meliliki bentuk cembung dengan bagian ke arah kepala membesar. Pupa merupakan fase tidak aktif bergerak, namun bila disentuh akan memberikan respons.
  4. Imago (Dewasa) : Bentuk badan seperti diskus, oval, warna dan pola tubuh bervariasi tergantung spsies, umumnya berwarna mengkilat. Memiliki sepasang sayap berbentuk lembaran tipis yang dipergunakan sewaktu terbang. Memiliki antena dengan bentuk seragam, umumnya pendek terdiri dari 6-11 segmen dengan bagian ujung membesar.

2. Laba-laba

Laba-laba bukan termasuk serangga tetapi masuk dalam kelas Arachnida, yaitu sekelompok dengan caplak, tungau, dan kalajengking. Laba-laba termasuk ke dalam ordo Araneae. Ordo laba-laba terbagi atas tiga golongan besar pada subordo, yaitu Mesothelae, Mygalomorphae atau Orthognatha, dan Araneomorphae (Dakir, 2009). Laba-laba hanya memiliki dua segmen tubuh. Segmen bagian depan disebut cephalothorax atau prosoma, yang sebetulnya merupakan gabungan dari kepala dan dada (thorax). Sedangkan segmen bagian belakang disebut abdomen (perut) atau opisthosoma. Pada cephalothorax melekat empat pasang kaki, dan satu sampai empat pasang mata (Dakir, 2009).

Keanekaragaman Organisme Dalam Sistem Pertanian

Daur hidup pada kebanyakan labah-laba adalah kurang dari 12 bulan. Perkawinan labah-labah sangat menarik. Bila siap berkopulasi laba-laba jantan memintal jaring kecil dan menaruh setitik spermanya di situ atau di tanah atau beberapa tumpukan serasah. Setelah itu dia mengambil cairan tersebut dipindahkan ke dalam labu-labu kecil pada pedipalpinya. Setelah itu dia mengambil cairan tersebut dengan pedipalpi dan mencari betina, serta menyalurkannya kepada spermateka betina. Setelah betina dibuahi, jantan seringkali ditangkap dan dimakan oleh yang betina. Laba-laba mengalami sangat sedikit metamorfosis selama perkembangan mereka. Apabila menetas, mereka kelihatan seperti dewasa-dewasa yang kecil. Bila tungkai-tungkai hilang selama perkembangan, mereka biasanya dapat beregenerasi. Laba-laba biasanya berganti kulit dari 4 sampai 12 kali selama pertumbuhan mereka sampai dewasa. Kebanyakan laba-laba berumur 1-2 tahun (Budiyarto. 2008).

3. Kepik

Hemiptera adalah ordo dari serangga yang juga dikenal sebagai kepik. Hemiptera terdiri dari 80.000 spesies serangga seperti tonggeret, kutu daun, anggang-anggang, walang sangit, dan lain-lain. Mereka memiliki ciri-ciri khusus seperti mulut berbentuk jarum dan tidak mengalami metamorfosis sempurna. Hemiptera terdiri dari 4 subordo berbeda: Auchenorrhyncha, Coleorrhyncha, Heteroptera, dan Sternorrhyncha. Ciri morfologi kepik yaitu struktur mulutnya berbentuk seperti jarum, sayap depan bagian pangkalnya keras seperti kulit, namun bagian belakangnya tipis seperti membran.

Kepik tidak mengalami metamorfosis sempurna. Anakan serangga dari ordo Hemiptera yang baru menetas biasanya memiliki penampilan yang sama dengan induknya, namun ukuranya lebih kecil dan tidak besayap. Fase anakan ini dikenal dengan nama nimfa. Nimfa Hemiptera ini kemudian melakukan pergantian kulit berkali-kali hingga akhirnya menjadi dewasa tanpa melalui fase kepompong (Bellows dan Van, 1996).

Menurut Capinera (2001) dalam Amalia dan Amanda (2011), kepik polong Riptortus linearis F. Hemiptera: Alydidae) menjadi salah satu hama penting pada pertanaman kacang panjang. Dalam upaya pengendalian hama R. linearis dibutuhkan informasi dasar seperti informasi biologi dan neraca kehidupan dari serangga tersebut. Salah satu langkah awal dalam mempelajari perkembangan suatu populasi serangga adalah dengan mengetahui aspek-aspek demografinya. Demografi adalah analisis kuantitatif karakteristik suatu populasi, terutama hubungannya dengan pola pertumbuhanpopulasi, hubungan ketahanan, dan pergerakan populasi.

4. Ulat Grayak

Menurut Kalshoven (1981) ulat grayak dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom    : Animalia
Phylum     : Arthropoda
Class     : Insecta
Ordo    : Lepidoptera
Familia    : Noctuidae
Genus    : Spodoptera
Species     : Spodoptera litura (F.)

Spodoptera litura (Lepidoptera: Noctuidae) lebih dikenal dengan hama ulat grayak. Menurut Pracaya (1995) Spodoptera litura F. disebut ulat grayak karena ulat ini dalam jumlah yang sangat besar sampai ribuan menyerang dan memakan tanaman pada waktu malam hari sehingga tanaman akan habis dalam waktu yang singkat. Pada waktu pagi hari petani melihat tanaman yang telah rusak, sedangkan hamanya sudah tidak ada, bersembunyi di dalam tanah. Ulat grayak termasuk dalam keluarga Noctuidae, yang berasal dari bahasa Latin noctua yang artinya burung hantu.

Spodoptera litura F. merupakan hama perusak daun yang bersifat  polifag  (mempunyai kisaran inang yang luas). Tanaman inangnya antara lain jagung, tomat, kapas, t3mbakau, padi, kakao, jeruk, ubi jalar, kacang tanah, jarak, kedelai, kentang, kubis, dan bunga matahari (Rockwood, 2006). Ada dua cara yang dilakukan serangga dalam memilih dan menentukan makanan yang dibutuhkannya. Pertama melalui isyarat kemoreseptor yang terdapat pada maksila dan yang kedua adalah respon metabolik. Jika seekor serangga mengkonsumsi makanan yang kekurangan nutrisi maka akan dirasakan oleh organ perasa internal, dalam keadaan tersebut serangga akan bergerak atau mencari sumber makanan yang lain yang memberi pengaruh positif (Rockwood, 2006).

Baca Juga : Peran Unsur Hara Pada Pertumbuhan Tanaman Jagung

Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian dasar melekat pada daun (kadang- kadang tersusun dua lapis), berwarna coklat kekuningan, diletakkan berkelompok masing-masing 25-500 butir. Telur diletakkan pada bagian daun atau bagian tanaman lainnya, baik pada tanaman inang maupun bukan inang. Bentuk telur bervariasi. Kelompok telur tertutup bulu seperti beludru yang berasal dari bulu-bulu tubuh bagian ujung ngengat betina, berwarna kuning keemasan (Wilson, 1971). Diameter telur 0,3 mm sedangkan lama stadia telur berkisarn antara 3-4 hari (Kalshoven, 1981).

Larva S. litura yang baru keluar memiliki panjang tubuh 2 mm. Ciri khas larva S. litura adalah terdapat 2 buah bintik hitam berbentuk bulan sabit pada tiap ruas abdomen terutama ruas ke-4 dan ke-10 yang dibatasi oleh garis-garis lateral dan dorsal berwarna kuning yang membujur sepanjang badan (Arifin, 1992). Lama stadium larva 18-33 hari. Sebelum telur menetas, larva yang baru keluar dari telur tidak segera meninggalkan kelompoknya tetapi tetap berkelompok (Indrayani et al., 1990). Pada stadium larva terdiri dari enam instar dan berlangsung selama 13-17 hari dengan rerata 14 hari.

Baca Juga : Pemasakan Buah

Menjelang masa prepupa, larva membentuk jalinan benang untuk melindungi diri dari pada masa pupa. Masa prepupa merupakan stadium larva berhenti makan dan tidak aktif bergerak yang dicirikan dengan pemendekan tubuh larva. Panjang prepupa 1,4-1,9 cm dengan rerata 1,68 cm dan lebarnya 3,5-4 mm dengan rerata 3,7 mm. Masa prepupa berkisar antara 1-2 hari (Mardiningsih, 1995). Pupa S.litura berwarna merah gelap dengan panjang 15-20 mm dan bentuknya meruncing ke ujung dan tumpul pada bagian kepala (Mardiningsih, 1995). Pupa terbentuk di dalam rongga-rongga tanah di dekat permukaan tanah (Wilson, 1971). Masa pupa di dalam tanah berlangsung 12-16 hari (Indrayani et al., 1990).

Imago (ngengat) muncul pada sore hari dan malam hari. Pada pagi hari, serangga jantan biasanya terbang di atas tanaman, sedangkan serangga betina diam pada tanaman sambil melepaskan feromon. Perkembangan dari telur sampai imago berlangsung selama ± 35 hari. Faktor density dependent (bertautan padat) yaitu faktor penghambat laju populasi hama ini adalah sifatnya yang kanibal, sedangkan populasi telur dan larva instar muda dapat tertekan oleh curah hujan yang tinggi, kelembaban yang tinggi yang mana membuat larva mudah terserang jamur. Musim kering dapat berpengaruh pada tanah dalam menghambat perkembangan pupa (Kalshoven, 1981).

5. Belalang sembah

Keanekaragaman Organisme Dalam Sistem Pertanian
Klasifikasi Belalang sembah (Grashopper Longhorn) menurut Pracaya (1995) adalah sebagai berikut :
Kingdom     : Animalia
Phylum     : Arthropoda
Class     : Insecta
Ordo     : Mantodea
Familia     : Mantidae
Genus     : Stagmomantis
Spesies    : Stagmomantis carolina

Hubungan grup serangga, mantis melewati tiga tahap metamorphosis: telur, nimfa, dewasa (Mantis termasuk golongan serangga hemimetabola) (Pracaya,  1995). Belalang ini termasuk serangga dalam golongan karnivora, yang termasuk dalam family mantidae. Umur  telur  dari Mantidae sekitar 3-6 bulan. Telur menetas sekitar diatas beberapa minggu. Ootheca akan menggantung sedikitnya 5 cm diatas sangkar. Ketika telur menetas, cara bergantung mereka dengan memasang benang dari ootheca sampai kulit mereka keras (Syamsudin, 2007).

Nimfa akan berganti kulit 6-7 seri sebelum mereka menjadi dewasa. Pada saat molting, nimfa menggantungkan atau meninggalkan kulit lama pada ranting atau batang dengan meninggalkan perekat sehingga ada robekan dan basah pada thorax dan kembali lagi menjadi punggung. Kegiatan molting ini dilakukan secara perlahan, jika tidak nimfa akan mati. Antara nimfa dengan dewasa, struktur tubuhnya hampir sama/mirip tetapi ukuran nimfa lebih kecil dan tidak mempunyai sayap maupun fungsi genetalia. Terdapat perbedaan pada warna tubuh nimfa dari dewasa. Setelah molting, beberapa spesies mempunyai sayap walaupun beberapa spesies juga ada yang kehilangan sayap (sayap lebih kecil) terutama pada s3ks betina. Nimfa mantid adalah hemimetabola, mereka mengalami hanya sebagian metamorphosis dari nimfa ke dewasa. Ukuran nimfa kira-kira seukuran dengan nyamuk. Perkembangan nimfa, ada 3 langkah untuk memperoleh telinga, hal ini sangat penting untuk kelangsungan hidupnya, dengan membutuhkan dua tympana pada dinding telinga dan banyak sensillae. Langkah pertama, organ tympana terbentuk saat masih pada telur kemudian berlubang pada dindingnya. Setelah nimfa berkembang dan kemudian molting (Dakir, 2009).

Betina akan makan lebih dan akan jadi gemuk sebelum menempatkan ootheca diatas ranting, jika betina sudah gemuk maka akan meletakkan ootheca pertama dihari setelah bereproduksi. Nimfa berkelompok dalam beberapa waktu, hal ini membutuhkan sangkar yang besar dengan banyak tempat sembunyi dan persediaan makanan yang banyak guna mengurangi terjadinya saling makan-memakan. Mantids yang berkelompok akan terpisah setelah fase kedua atau ketiga (Agus dan Najamuddin, 2008).

Belalang besar berukuran berkisar 2/5-12 inchi. Mantis China ukurannya paling besar sekitar 3-7 inchi. Mantis Eropa mempunyai ukuran lebih kecil dari Mantis China yakni 2-3 inchi, sedangkan ukuran Mantis Carolina paling kecil diantara keduanya yakni dibawah 2 inchi (Syamsudin, 2007). Mempunyai warna bermacam-macam, mulai dari hijau terang sampai kemerahmudaan. Kebanyakan berwarna hijau muda atau coklat. Mantis China berwarna coklat lembut dengan adanya garis pudar disekitar sayap, Mantis Eropa mempunyai warna hijau terang dan Mantis Carolina berwarna coklat kehitam-hitaman atau abu-abu (Setiawati,  2004).

Kepala mantis dapat berputar sampai 180 derajat setelah melihat kehadiran mangsa. Mata mereka sangat sensitif terhadap cahaya, paling sedikit pada gerakan diatas 60 kaki.. Mereka punya alat mulut lurus yang keras dan punya capit yang kuat untuk melahap mangsanya (Setiawati, 2004). Mereka punya pendengaran ultrasonik pada bagian metathorax. Letak metathorax berada pada thorax dan juga alat kelamin jantan adalah asimetris. Mereka mempunya prothorax yang panjang dan kuat dan pada kaki terdapat seperti duri. (Van dan Bellows, 1996).

Musuh mantids adalah burung, mamalia, laba-laba, ular dan manusia. Ada 4 mekanisme mantids untuk melindungi dirinya. Penyamaran mantids coklat dan hijau menyerupai daun-daunan ataupun batang. Kemampuan mantids bersembunyi dalam waktu yang lama, untuk keefisiennya menjadi predator. Sayap mantids yang terbuka lebar ini, maka mantis terlihat lebih besar dan lebih menantang dengan beberapa spesies yang memiliki warna terang dan susunannya dibelakang sayap dan didalam permukaan kaki depan mereka. Jika ada gangguan, mantis kemugkinan akan melakukan serangan dengan kaki depan dan mencoba dengan menjepit atau menggigit. Pada keadaan terancam, beberapa Mantis juga dapat mengeluarkan suara yang keluar pada bagian spirakel abdomen. Pendengaran ultrasonic digunakan pada saat terbang. Sayangnya, mantids tidak dapat bertahan akibat pestisida dimana pencernaannya terganggu setelah memakan mangsanya yang sudah terkena pestisida. Hewan yang paling utama menjadi predator adalah betina. Mantid makan hanya pada mangsanya saja sangat jarang mantid memakan segalanya. Lebih disukai tubuh yang lembut seperti serangga karena lebih mudah untuk ditelan (Setiawati, 2004).

6. Semut

Klasifikasi semut menurut Pracaya (1995) yaitu sebagai berikut :
Kingdom    : Animalia
Phylum    : Artropoda
Classis    : Insekta
Ordo    : Hymenoptera
Familia    : Formicidae

Secara khas, semut mempunyai tiga bagian tubuh yang jelas, yaitu: kepala, mesosoma/thorax, dan metosoma/gaster. Umumnya, ruas mesosoma pertama atau dua ruas mesosoma depan lebih kecil dari pada yang lainnya sehingga tampak seperti pinggang. Ruas mesosomka basal yang kecil ini disebut pedisel atau petiol, biasanya mempunyai satu atau dua tonjolan yang disebut node, sedang ruas bagian belakangnya disebut metasoma/gaster. Kepalanya terdapat sepasang mata majemuk, sepasang  ntenna yang membentuk siku dan kadang-kadang mempunyai oseli. Memiliki sting (bagi betina) yang berfungsi sebagai alat sengat. Sayap (jika ada) bening (membranus), dan sayap depan lebih luas dan panjang dari pada sayap belakang (Setiawati, 2004).

Ringkasan :

  1. Organisme dalam sistem pertanian yaitu pada tanaman Terong (Solanaceae) yang diperoleh adalah kumbang lebah, Grashopper Longhorn (belalang sembah), kepik, ulat bulu (ulat grayak), semut, dan laba-laba.
  2. Hewan yang tergolong hama yaitu Grashopper Longhorn (belalang sembah), dan ulat bulu (ulat grayak). Sedangkan hewan yang berfungsi sebagai musuh alami atau agen pengendali adalah semut, kumbang kubah, kepik dan laba-laba. Hewan yang tergolong lain-lain saat pengamatan belum dijumpai, tetapi jika ada hewan tersebut yaitu lebah penyerbuk, cacing tanah, tungau, dan kutu buku.

Amanda, M dan H. Amalia. 2011. Statistika Demografi Riptortus linearis F. (Hemiptera: Alydidae) pada Kacang Panjang (Vigna sinensis L.). J. Entomologi Indonesia, April 2011, Vol. 8, No. 1, 8-16

Amir M. 2002. Kumbang Lembing Pemangsa Coccinellidae (Coccinellinae) di Indonesia. Bogor: JICA Puslit Biologi LIPI.

Budiyarto. 2008. Identifikasi Fitoplasma Penyebab Penyakit Sapu Kacang Hias (Arachis pintoi Krapov.& W.C.Greg) Berdasarkan Gejala, Penularan dan Polymerase Chain Reaction. Skripsi. Departemen Proteksi Tanaman. Fakultas pertanian. IPB. Bogor.

Campbell, N.A. Reece, J.B. dan Mitchell. 2000. Biologi Edisi Kelima-Jilid 1. Erlangga. Jakarta.

Dakir. 2009. Keanekaragaman dan Komposisi Spesies Semut (Hymenoptera: Formicidae) Pada Vegetasi Mangrove Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara dan Muara Angke Jakarta [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Indriyani. I.G.A.A, Subiyakto dan A.A.A Ghotama. 1990. Prospek NPV untuk Pengendalian Ulat Buah Kapas Helicoverpa armigera dan Ulat grayak S. litura. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.

Kalshoven LGE. 1981. The Pest of Crop in Indonesia. Dr. Van der Lan D.A, Revisi. Jakarta: PT. Ichtiar Baru-Van Hoeve.

Mardiningsih, Tri. L dan Barriyah Barimbing. 1995. Biologi S.litura F. Pada Tanaman Kemiri. Dalam Prosiding Seminar Nasional Tantangan Entomologi pada Abad XXI. Perhimbunan Entomologi Indonesia. Balai Tanaman Rempah dan Obat. Bogor. 96-102 hal.

Pedigo LP, Rice ME. 2006. Entomology and Pest Management. New Jersey: Prentice Hall.

Pracaya. 1995. Hama dan penyakit tanaman. Panebar Swadaya. Jakarta. 417 p

Rockwood LL. 2006. Introduction to Popuation Ecology. Oxford, UK: Blackwell Publishing.

Setiawati, W., T.S. Uhan, dan B.K. Udiarto. 2004. Pemanfaatan musuh alami dalam pengendalia~ hayati hama pada tanaman sayuran. Monograf No.24, Balitsa, Lembang, Bandung, page  68.

Syamsudin. 2007. Intensitas Serangan Hama dan Populasi Predator Pada Berbagai Waktu. Balai Penelitian Serealia, Maros.

Van Driesche, R.G. dan T.S. Bellows, 1996. Biological Control. Chapman and Hall. ITP Comp. 539p.

Wilson EO, Bossert WH. 1971. A Primer of Population Biology. Stamford: Sinaver Associates.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !