Kemampuan BTA Dan Prestasi Belajar Mapel PAI

Kemampuan BTA Dan Prestasi Belajar Mapel PAI

Kemampuan BTA Dan Prestasi Belajar Mapel PAI
Kemampuan BTA Dan Prestasi Belajar Mapel PAI

A. Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an

1. Pengertian Kemampuan Baca Tulis al-Qur’an

Kata “kemampuan” sebagaimana disebut dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti “kesanggupan, kecakapan, dan kekuatan”.   Dengan kata lain, kemampuan merupakan kesanggupan masing-masing individu untuk melakukan sesuatu.
Yang dimaksud baca di sini adalah membaca yaitu mengucapkan lafal bahasa tulis ke bahasa lisan. Henry Guntur Tarigan dalam bukunya “Membaca sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa” mengatakan bahwa:
Membaca adalah suatu kemampuan untuk melihat lambang-lambang tertulis serta mengubah lambang-lambang tertulis tersebut melalui fonik (phonics: suatu metode pengajaran membaca, ucapan, ejaan berdasarkan interpretasi fonetik terhadap ejaan biasa) menjadi/menuju membaca lisan (oral reading). 
Sedangkan membaca menurut Crawley dan Mountain (1995) seperti yang dikutip Farida Rahim dalam bukunya “Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar” menjelaskan bahwa
Membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekedar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktifitas visual, berpikir, psikolinguistik dan metakognitif. Sebagai proses visual membaca merupakan proses menerjemahkan simbol tulis (huruf) ke dalam kata-kata lisan.
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan membaca dibatasi sebagai aktifitas menerjemahkan simbol tulis (huruf) yang berupa huru-huruf Arab/ huruf al-Qur’an ke bahasa lisan dengan cara yang benar, fasih dan lancar sesuai kaidah ilmu tajwid.
Tulis atau menulis adalah “membuat huruf atau melahirkan gagasan”.  Henry Guntur Tarigan juga menjelaskan bahwa:
Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu. 
Sedangkan menurut Lado (1964) seperti yang dikutip Zubad Nurul Yakin dalam bukunya “Al-Qur’an sebagai Media Pembelajaran Bahasa Indonesia” menjelaskan bahwa “menulis adalah suatu kegiatan meletakan (mengatur) simbol-simbol grafis yang menyatakan pemahaman suatu bahasa, sehingga orang lain dapat membaca simbol-simbol grafis itu sebagai bagian penyajian satuan-satuan ekspresi bahasa”. 
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan tulis atau menulis dibatasi sebagai aktifitas membuat simbol-simbol huruf Arab (huruf al-Qur’an) secara putus-putus atau secara sambung sesuai dengan kaidah penulisan al-Qur’an.
Al-Quran menurut Ash-Shabuni yang dikutip oleh Abdul Majid Khon mengatakan bahwa:
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang mengandung mukjizat (sesuatu yang luar biasa yang melemahkan lawan) diturunkan kepada penghulu para nabi dan Rasul SAW (Nabi Muhammad SAW) melalui malaikat Jibril yang tertulis pada mushhaf, yang diriwayatkan kepada kita secara mutawatir, dinilai ibadah membacanya, yang dimulai dari surah al-Fatihah dan diakhiri dengan surah an-Nas. 
Yang dimaksud dalam penelitian ini al-Qur’an adalah ayat-ayat yang terkait dengan materi baca tulis al-Qur’an yang ada dalam mata pelajaran PAI. 
Jadi yang dimaksud dengan kemampuan baca tulis al-Qur’an pada penelitian ini adalah kesanggupan dan kecakapan siswa SMA Ya BAKII Kesugihan dalam membaca ayat-ayat al-Qur’an dengan sifat yang benar, fasih, dan lancar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid, dan kemampuan dalam menulis ayat-ayat al-Qur’an baik secara putus atau sambung sesuai dengan kaidah penulisan al-Qur’an yang terdapat dalam mata pelajaran PAI.
Data kemampuan baca tulis al-Qur’an yang merupakan variabel X dalam penelitian ini diperoleh dari tes yang dilakukan oleh pihak sekolah yaitu dilakukan oleh guru mata pelajaran Qur’an Hadits pada semester 1 sebagai syarat ketuntasan nilai pada mata pelajaran Qur’an Hadits.
Perlu diketahui bahwa membaca al-Qur’an dengan baik dan benar tidaklah sama dengan membaca tulisan-tulisan Arab pada umumnya, karena dalam membaca al-Qur’an, seseorang dituntut untuk memiliki kemampuan membaca tulisan Arab, selain itu juga harus memiliki kemampuan dan ketrampilan dalam menggunakan ilmu tajwid.
Begitu juga dalam menulis tulisan huruf Arab (al-Qur’an) secara sambung, juga diperlukan kemampuan seseorang untuk mengetahui kaidah-kaidah penulisan huruf Arab, karena dalam menulis huruf Arab secara sambung berbeda dengan menulis huruf abjad, terutama ketika menyambung antara kata yang satu dengan kata yang lain, seseorang harus mengetahui bentuk kalimah/kata yang dimaksud, agar tidak terjadi salah dalam menuliskan kalimatnya.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas kefasihan membaca al-Qur’an. Peserta didik harus mengetahui sifat bacaan al-Qur’an dan yang dimaksud dengannya. Sifat-sifat itu adalah benar, fasih, dan lancar. Ketiga hal ini erat kaitannya dengan makhraj huruf, dan hukum-hukum tajwid. Yang dimaksud dengan ketiganya adalah:
  1. Benar: yang dimaksud dengan benar adalah benarnya ucapan bunyi huruf al-Qur’an yang benar dari segi makhrajnya.
  2. Fasih: yang dimaksud dengan fasih adalah benar bacaan ayat-ayat al-Qur’annya sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.
  3. Lancar: yang dimaksud dengan lancar adalah bacaan siswa yang benar dan fasih itu cepat, tidak tersendat-sendat dan tidak berhenti bukan pada tempatnya. 

2. Tujuan Belajar Baca Tulis al-Qur’an

Memelihara bacaan pada hakikatnya adalah memelihara makna sekaligus memelihara al-Qur’an secara keseluruhan.  Dapat dibayangkan bagaimana perubahan, ketidak jelasan, dan salahnya bacaan dan maksud firman Allah SWT jika dibaca dan ditulis secara salah, baik aspek tajwid, makhraj, dan kaidah penulisannya. Padahal firman Allah sudah pasti benar maknanya dan fasih bahasanya. Dengan demikian, “membaca al-Qur’an dengan menerapkan teori makhrajnya secara tepat guna, adalah wajib hukumnya”. 
Tujuan merupakan sesuatu yang ingin dicapai setelah melakukan kegiatan, maka dalam pembelajaran PAI pun ada beberapa tujuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh peserta didik. Menurut Ahmad Tafsir (2008) yang dikutip Direktorat Jendral Pendidikan Islam dalam Modul Pembelajaran Membaca al-Qur’an dan Hadits menyebutkan tujuan pembelajaran membaca al-Qur’an  memiliki tiga aspek: 
a) Aspek Pengetahuan (knowing)
Dalam hal ini siswa memiliki pengetahuan mengenai berbagai hal yang berkenaan dengan membaca al-Qur’an:
  1. Pengetahuan tentang kewajiban seorang muslim menguasai keterampilan membaca al-Qur’an
  2. Dengan membaca al-Qur’an menjadi pintu pertama untuk menghafalkannya, karena hafalan al-Qur’an dengan bacaan yang benar menjadi syarat dalam ibadah shalat.
  3. Pengetahuan bahwa membaca al-Qur’an menjadi bagian dari ibadah
  4. Pengetahuan bahwa al-Qur’an dinarasikan dalam bahasa Arab yang memiliki norma, kaidah, dan aturan-aturan tersendiri dalam pembacaanya.
  5. Pengetahuan bahwa ilmu tajwid adalah bagian dari cabang ilmu yang dapat membantu seseorang untuk membaca al-Qur’an dengan baik dan benar. 

c) Aspek Pelaksanaan (doing)
Pelaksanaan yang dimaksud adalah peserta didik terampil dalam membaca ayat-ayat dari surat-surat tertentu dalam al-Qur’an yang menjadi materi pelajaran.
c) Aspek Pembiasaan (being)
Ketrampilan dalam melafalkan dan membaca al-Qur’an itu tidak hanya sekedar untuk diketahui tetapi juga menjadi miliknya dan menyatu dalam kepribadiaannya.

B. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 
Menurut  Ki  Hajar  Dewantara  sebagaiman  dikutip  oleh  Abuddin Nata,  bahwa  pendidikan  adalah  “Usaha  yang  dilakukan  dengan  penuh keinsyafan yang ditujukan untuk keselamatan dan kebahagiaan”. 
Dari  pengertian  di  atas  maka  dapat  disimpulkan  bahwa  pendidikan adalah  usaha  yang  dilakukan  secara  sadar  untuk  mendewasakan  manusia baik jasmani maupun rohani melalui pengajaran dan pelatihan.
Adapun  yang  dimaksud  dengan  Pendidikan  Agama Islam seperti  yang dijelaskan oleh Zakiyah Darajat  dan  kawan-kawan dalam bukunya Ilmu Pendidikan  Islam, adalah :
Suatu  usaha  bimbingan  dan  asuhan  terhadap  anak  didik  agar nantinya  setelah  selesai  dari pendidikan  dapat  memahami  apa  yang terkandung  di  dalam  Islam  secara  keseluruhan, menghayati  makna  dan maksud  serta  tujuannya  dan  pada  akhirnya  dapat  mengamalkannya serta menjadikan  ajaran-ajaran  agama  Islam  yang  telah  dianutnya  itu  sebagai pandangan  hidupnya sehingga  dapat  mendatangkan  keselamatan  dunia dan akhirat kelak.
Kemudian  dalam Kurikulum PAI yang dikutip oleh Abdul Madjid dan Dian Andayani dalam  buku Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004, mengartikan bahwa:
Pendidikan  Agama  Islam  adalah  usaha  sadar  untuk  menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalakan agama Islam  melalui  kegiatan  bimbingan,  pengajaran atau  latihan  dengan memperhatikan  tuntutan adalah menghormati agama  lain dalam hubungan kerukunan  antar  umat  beragama  dalam  masyarakat  untuk  mewujudkan persatuan nasional. 
Pendidikan Agama Islam juga diartikan sebagai upaya untuk mendidik, memahami sekaligus menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai ajaran Islam untuk anak didik. 
Dari  berbagai  definisi  di  atas  maka  dapat  disimpulkan  bahwa Pendidikan  Agama  Islam adalah usaha  bimbingan  yang  dilakukan  secara sadar  untuk  mengarahkan  anak  didik  mencapai kedewasaan  baik  jasmani maupun rohani sesuai dengan ajaran agama Islam dan pada akhirnya dapat menjadikan  ajaran  agama  Islam  sebagai  pandangan  hidupnya  sehingga dapat mendatangkan keselamatan. 

2. Dasar pelaksanaan Pendidikan Agama Islam

Pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah mempunyai dasar yang kuat. Menurut Zuhairini seperti yang dikutip oleh Abdul Madjid menyebutkan dasar tersebut dapat ditinjau dari berbagai segi, yaitu:

a) Dasar Yuridis/hukum
Dasar yuridis merupakan dasar  pelaksanaan pendidikan agama yang berasal dari perundang-undangan yang secara tidak langsung dapat menjadi pegangan dalam melaksanakan pendidikan agama di sekolah formal. Dasar yuridis formal tersebut terdiri dari tiga macam:
i) Dasar ideal
ialah falsafah negara, yaitu Pancasila, dimana sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini mengandung pengertian, bahwa seluruh bangsa Indonesia harus percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, atau tegasnya harus beragama. 
ii) Dasar konstitusional

ialah UUD 1945 dalam Bab XI pasal 29 ayat (1) dan (2) yang berbunyi :

  1. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
  2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu.

iii) Dasar operasional
ialah dasar yang secara langsung mengatur pelaksanaan pendidikan agama di sekolah-sekolah di Indonesia seperti yang disebutkan pada Tap MPR  No. IV/MPR/1973 yang kemudian dikokohkan kembali pada Tap MPR No. II/MPR/1993 tentang GBHN, yang pada pokoknya dinyatakan bahwa pelaksanaan pendidikan agama secara langsung dimasukkan ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah, mulai dari Sekolah Dasar sampai dengan Universitas Negeri.  
b) Dasar Religius
Yang dimaksud dasar religius dalam uraian ini adalah dasar-dasar yang bersumber dari ajaran agama Islam yang tertera dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits.
c) Dasar Psikologis
Psikologis yaitu dasar yang berhubungan dengan aspek kejiwaan kehidupan bermasyarakat.  Manusia di dalam hidupnya membutuhkan suatu pegangan (hidup) yang disebut dengan agama. Mereka merasakan bahwa di dalam jiwanya ada sesuatu perasaan yang mengakui adanya zat Yang Maha Kuasa tempat berlindung dan tempat mereka memohon pertolongan, yaitu Allah SWT. Mereka akan merasa tenang dan tentram hatinya apabila dapat mendekat dan mengabdikan diri pada zat Yang Maha Kuasa.

3. Tujuan Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Bila  pendidikan  kita  dipandang  sebagai  suatu  proses,  maka  proses tersebut  akan  berakhir  pada tercapainya  tujuan  akhir  pendidikan.  Dalam proses  pendidikan,  tujuan  akhir  merupakan  tujuan tertinggi  yang  hendak dicapai.  Suatu  tujuan  yang  hendak  dicapai  oleh  pendidikan  pada hakekatnya  adalah  suatu  perwujudan  dari  nilai-nilai  ideal  yang  terbentuk dalam pribadi manusia yang diinginkan.  Oleh  karena  itu  suatu  proses  yang  diinginkan  dalam  usaha pendidikan  adalah proses  yang  terarah  dan  bertujuan  yaitu  mengarahkan anak  didik  kepada  titik  optimal kemampuannya. 
Tujuan utama dari pendidikan islam ialah membina dan mendasari kehidupan anak didik dengan nilai-nilai agama sekaligus mengajarkan ilmu agama Islam.  
Sedangkan  tujuan  yang hendak  dicapai  adalah  terbentuknya  kepribadian  yang  bulat  dan  utuh sebagai  manusia  individual  dan  sosial  serta  hamba  Tuhan  yang mengabdikan diri kepada Nya.  Dalam  pendidikan  agama  Islam,  nilai-nilai  yang  hendak  dibentuk adalah    nilai-nilai  Islam.  Artinya  tujuan  pendidikan  agama  Islam  adalah tertanamnya  nilai-nilai  Islam  ke  dalam  diri  manusia  yang  kemudian terwujud dalam tingkah lakunya. 
Untuk  lebih  jelasnya  tentang  tujuan  pendidikan  agama  Islam,  maka peneliti  akan  mengutip  beberapa  pendapat  ahli  pendidikan  sebagai berikut:

Loading...
Menurut  Mahmud  Yunus,  tujuan  pendidikan  agama  Islam  adalah menyiapkan  anak  supaya diwaktu  dewasa  kelak mereka  cakap melakukan pekerjaan  dunia  dan  amalan  akhirat,  sehingga tercapai  kebahagiaan bersama dunia dan akhirat
M.  Arifin  mengemukakan  bahwa  tujuan  pendidikan  agama  Islam adalah  terciptanya  manusia yang  berilmu  pengetahuan  tinggi,  dimana  iman  dan  takwanya  menjadi  pengendali  dalam penerapan  atau pengaruhnya dalam masyarakat. 
Sedangkan  secara  garis  besarnya  tujuan  pendidikan  agama  Islam menurut  Zakiyah  Darajat ialah “untuk  membina  manusia  menjadi  hamba Allah  yang  shaleh  dengan  seluruh  aspek  kehidupannya, perbuatan, pikiran dan perasaan”. 
Sedangkan dalam GBPP mata pelajaran pendidikan agama Islam kurikulum 1999, menyebutkan tujuan pendidikan agama Islam yaitu agar siswa memahami, menghayati, meyakini, dan mengamalkan ajaran Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman, bertaqwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia. 
Pada  dasarnya  tujuan  yang  hendak  dicapai  dalam  pendidikan  Islam tak  terlepas dari eksistensi manusia hidup di dunia ini, yaitu dalam rangka beribadah  kepada  Allah  selaku  khalik  sekalian makhluknya.  Dalam  Surat Adz-Dzariyat ayat 56 Allah berfirman :
“Dan  Aku  tidak  menciptakan  jin  dan  manusia  melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat : 56)
Dari  penjelasan  di  atas  dapat  disimpulkan  bahwa  tujuan  pendidikan agama  Islam  adalah merealisasikan  manusia  muslim  yang  beriman  dan bertaqwa  serta    berilmu  pengetahuan  yang mampu  mengabdikan  diri kepada Allah dan selalu mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

4. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Ruang  lingkup  pendidikan  agama  Islam  memiliki  cakupan  sangat luas,  karena  ajaran  Islam memuat  ajaran  tentang  tata  hidup  yang meliputi seluruh  aspek  kehidupan  manusia,  maka pendidikan  agama  Islam merupakan  pengajaran  tata  hidup  yang  berisi  pedoman  pokok  yang digunakan  oleh  manusia  dalam  menjalani  kehidupannya  di  dunia  ini  dan untuk menyiapkan kehidupannya yang sejahtera di akhirat nanti.
Dalam  bukunya,  “Ilmu  Pendidikan  Islam”,  M.  Arifin   mengatakan  bahwa  ruang  lingkup pendidikan  agama  Islam  mencakup segala  bidang  kehidupan  manusia  di  dunia  dimana  manusia mampu memanfaatkannya  sebagai  tempat  menanam  benih  amaliah  yang  buahnya akan dipetik di akhirat nanti, maka pembentukan nilai dan sikap amaliyah islamiyah  dalam  pribadi  manusia  baru akan  tercapai  dengan  efektif bilamana  dilakukan  melalui  proses  kependidikan  yang  berjalan  di atas kaidah-kaidah ilmu pengetahuan kependidikan. 
Dalam Kurikulum 1994 ruang lingkup materi pendidikan agama Islam pada dasarnya mencakup tujuh unsur pokok, yaitu al-Qur’an dan Hadits, keimanan, syariah, ibadah, muamalah, akhlak, dan tarikh (sejarah Islam yang menekankan pada perkembangan politik). Pada Kurikulum 1999 dipadatkan menjadi lima unsur pokok, yaitu al-Qur’an, keimanan, akhlak, fiqih, dan bimbingan ibadah serta ttarikh/sejarah yang lebih menekankan pada perkembangan ajaran agama, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. 
Jadi secara kaseluruhannya ruang lingkup mata pelajaran pendidikan agama Islam adalah al-Qur’an dan hadits, keimanan, akhlak, fiqih/ibadah, dan sejarah. Hal tersebut menunjukan bahwa ruang lingkup pendidikan agama Islam mewujudkan  keserasian,  keselarasan  dan  keseimbangan  antara hubungan  manusia  dengan  Allah  SWT,  hubungan  manusia  dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam.
Sedangkan  luas dan dalamnya  pembahasan  tergantung  pada  lembaga pendidikan  yang  bersangkutan,  tingkat  kelas,  tujuan  dan  tingkat kemampuan  anak  didiknya.  Untuk  sekolah-sekolah agama (madrasah), pembahasannya  lebih  luas  dan  mendalam  dari  pada  sekolah-sekolah umum.

C. Prestasi Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Prestasi Belajar  Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

Prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, yakni “prestasi”  dan  “belajar”, mempunyai  arti  yang  berbeda.  Untuk  memahami lebih  jauh  tentang  pengertian  prestasi  belajar, peneliti  menjabarkan  makna dari kedua kata tersebut.
Prestasi adalah “hasil yang telah dicapai atau dilakukan”.  Saiful  Bahri  Djamarah  dalam bukunya Prestasi  Belajar  dan  Kompetensi  Guru, yang  mengutip  dari  Mas’ud Hasan  Abdul  Qahar,  bahwa “prestasi  adalah  apa  yang  telah  dapat  diciptakan, hasil  pekerjaan,  hasil  yang  menyenangkan hati  yang  diperoleh  dengan  jalan keuletan  kerja”.   Dalam  buku  yang  sama  Nasrun  Harahap, berpendapat  bahwa prestasi  adalah  “penilaian  pendidikan  tentang  perkembangan  dan  kemajuan siswa  berkenaan  dengan  penguasaan  bahan  pelajaran  yang  disajikan  kepada siswa”. 
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi adalah sesuatu yang telah dicapai dan diperoleh berkenaan dengan perkembangan dan kemajuan seseorang setelah melakukan suatu kegiatan dengan jalan keuletan.
Selanjutnya akan dibahas tentang pengertian belajar. Untuk  memahami  pengertian  tentang belajar berikut dikemukakan beberapa pendapat tentang pengertian belajar diantaranya :
Belajar adalah “suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.”  Muhibbin Syah,  menambahkan  bahwa  belajar  adalah  “tahapan perubahan  seluruh  tingkah  laku individu yang  relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif”. 
Jadi, belajar adalah suatu proses perubahan perilaku secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman dan interaksi individu itu sendiri dengan lingkungannya.
Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh suatu mata pelajaran yang lazimnya ditunjukan dengan nilai test atau angka yang diberikan oleh guru. 
Prestasi belajar juga diartikan sebagai satu sumber informasi terpenting dalam pengambilan keputusan pendidikan, pengukuranya diperoleh dari tes belajar yang biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai-nilai akademik individu (siswa). 
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil penguasaan terhadap pengetahuan atau ketrampilan yang diperoleh dari pengalaman dan proses belajar, pengukurannya diperoleh dari tes belajar dan biasanya diwujudkan dalam bentuk angka atau nilai.
Sedangkan yang dimaksud dalam penelitian ini sebagai prestasi belajar mata pelajaran PAI adalah nilai raport mata pelajaran PAI semester 1 yang ada pada guru PAI.
Data prestasi belajar mata pelajaran PAI yang merupakan variabel Y dalam penelitian ini diperoleh dari hasil tes yang dilakukan oleh pihak sekolah yaitu dilakukan oleh guru mata pelajaran PAI pada semester 1 sebagai hasil evaluasi terhadap pembelajaran mata pelajaran PAI selama satu semester.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar

Prestasi belajar merupakan hasil kegiatan yang dicapai oleh individu setelah  melakukan proses belajar dengan sadar dan disengaja. Tinggi rendahnya prestasi belajar yang dicapai seseorang tergantung sejauh manakah siswa itu mampu menerima, mengevaluasi, dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya setelah proses pembelajaran berlangsung.
Dalam proses pembelajaran sudah menjadi harapan bagi setiap pendidik apabila peserta didiknya mendapatkan hasil yang memuaskan. Namun pada kenyataannya tidak selalu menunjukan apa yang diharapkannya itu. Prestasi yang dicapai seseorang atau individu merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal maupun eksternal.
M. Dalyono dalam bukunya Psikologi Pendidikan mengemukakan bahwa faktor yang menentukan pencapaian hasil belajar ada dua macam yaitu faktor internal (yang berasal dari dalam diri) dan faktor eksternal (yang berasal dari luar diri). 
Adapun yang termasuk dalam faktor internal adalah:
1) Kesehatan
2) Intelegensi dan bakat
3) Minat dan motivasi
4) Cara belajar
Adapun yang termasuk dalam faktor eksternal adalah:
1) Keluarga
2) Sekolah
3) Masyarakat
4) Lingkungan sekitar
Sedangkan menurut Muhibin Syah, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dibedakan menjadi tiga macam yaitu:
  • Faktor Internal (faktor dari dalam diri siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siwa.
  • Faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa.
  • Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran. 

Adapun yang tergolong faktor internal adalah :

a.  Faktor Fisiologis
Keadaan  fisik  yang  sehat  dan  segar  serta  kuat  akan  menguntungkan dan memberikan hasil belajar yang baik. Tetapi keadaan fisik yang kurang baik akan berpengaruh pada siswa dalam  keadaan belajarnya.
b.  Faktor Psikologis
Yang termasuk dalam faktor psikologis adalah intelegensi, perhatian, minat, motivasi dan bakat yang ada dalam diri siswa.
  1. Intelegensi, kemampuan psikofisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat.
  2. Sikap, gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons (response tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya baik secara positif maupun negatif.
  3. Minat,  Kecenderungan  dan  kegairahan  yang  tinggi  atau  keinginan yang besar terhadap sesuatu.
  4. Motivasi, merupakan  keadaan  internal  organisme  yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu.
  5. Bakat,  kemampuan  potensial  yang  dimiliki  seseorang  untuk mencapai keberhasilan pada masa yag akan datang. 
Adapun yang termasuk golongan faktor eksternal adalah :
a.  Faktor Sosial, yang terdiri dari :

  1. Lingkungan keluarga
  2. Lingkungan sekolah
  3. Lingkungan masyarakat
b.  Faktor Non Sosial
Faktor-faktor  yang  termasuk  lingkungan  non  sosial  adalah  gedung sekolah  dan  letaknya,  rumah tempat  tinggal  keluarga  dan  letaknya,  alat-alat  belajar,  keadaan  cuaca  dan  waktu  belajar  yang digunakan siswa. Faktor ini dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. 
Adapun yang termasuk faktor pendekatan belajar adalah:

  1. Pendekatan tinggi, yaitu speculative dan achieving
  2. Pendekatan sedang, yaitu analitical dan deep
  3. Pendekatan rendah, yaitu reproductive dan surface. 
Dari  uraian  di  atas  dapat  disimpulkan  bahwa  prestasi  belajar  siswa  di sekolahnya  sifatnya relatif,  artinya  dapat  berubah  setiap  saat.  Hal  ini  terjadi karena  prestasi  belajar  siswa  sangat berhubungan  dengan  faktor  yang mempengaruhinya,  faktor-faktor  tersebut  saling  berkaitan antara  yang  satu dengan yang  lainnya. Kelemahan  salah  satu  faktor,  akan dapat mempengaruhi keberhasilan  seseorang  dalam  belajar.  Dengan  demikian,  tinggi  rendahnya prestasi  belajar  yang dicapai  siswa  di  sekolah  didukung  oleh  faktor internal dan eksternal, serta pendekatan dalam belajar seperti tersebut di atas.

3. Indikator Prestasi Belajar

Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa.  Tapi hal tersebut dirasa sulit karena tidak semua ranah psikologis siswa dapat diungkapkan. Oleh karena itu, guru hanya perlu mengambil cuplikan perubahan tingkah laku siswa yang dianggap penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagi hasil belajar siswa.
Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa adalah mengetahui garis-garis besar indikator (penunjuk adanya prestasi tertentu) dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur. Berikut adalah tabel tentang indikator prestasi belajar.

4. Evaluasi Pembelajaran

a. Pengertian Evaluasi

Evaluasi adalah penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program.  Evaluasi juga diartikan sebagai penilaian yang berkenaan dengan seluruh kegiatan yang dilakukan, baik kegiatan mengajar maupun kegiatan belajar, sampai sejauhmana tujuan yang ditetapkan dapat tercapai.  Sukardi menakbahkan bahwa evaluasi adalah proses yang menentukan kondisi, di mana suatu tujuan telah dapat dicapai. 
Dari berbagai pengertian di atas dapat dikatakan bahwa evaluasi adalah suatu proses penilaian terhadap seluruh kegiatan yang telah dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
b. Tujuan Evaluasi
Adapun tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui hal-hal berikut:
  1. Tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu  kurun waktu proses belajar tertentu.
  2. Untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa dalam kelompok kelasnya
  3. Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar
  4. Untuk mengetahui sejauh manasiswa telah mendayagunakan kapasitas kognitifnyauntuk keperluan belajar
  5. Untuk menegtahui daya guna dan hasil guna metode mengajar yang telah digunakan guru dalam proses belajar mengajar. 
Sukardi dalam bukunya Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya juga mengatakan minimal ada 6 tujuan evaluasi dalam kaitanya dengan belajar mengajar, keenam tujuan evaluasi adalah sebagai berikut: 

  1. Menilai ketercapaian (attainment) tujuan
  2. Mengukur macam-macam aspek belajar yang bervariasi
  3. Sebagai sarana (means) untuk mengetahui apa yang telah siswa ketahui
  4. Memotivasi belajar siswa
  5. Menyediakan informasi untuk tujuan bimbingan dan konseling 
  6. Menjadikan hasil evaluasi sebagai dasar perubahan kurikulum.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sesungguhnya tujuan evaluasi itu dilakukan tidak hanya untuk mengetahui sejauhmana keberhasilan siswa setelah menempuh proses belajar dalam waktu kurun tertentu, tapi juga mempunyai tujuan bagi guru untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan proses pembelajaran yang telah diberikan.

c. Fungsi Evaluasi

Di samping memiliki tujuan, evaluasi belajar juga memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut:
  1. Fungsi administratif untuk penyusunan daftar nilai dan pengisian buku raport.
  2. Fungsi promosi untuk menetapkan kenaikan atau kelulusan.
  3. Fungsi diagnostik untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa dan merencanakan program remidial teaching (pengajaran perbaikan).
  4. Sumber daya BP untuk memasok data siswa tertentu yang memerlukan bimbingan dan penyuluhan (BP).
  5. Bahan pertimbangan pengembangan pada masa yang akan datang yang meliputi pengembangan kurikulum, metode, dan alat-alat PBM. 
Sukardi juga menyebutkan bahwa evaluasi mempunyai fungsi yang bervariasi di dalam proses belajar mengajar, yaitu sebagai berikut: 
  1. Sebagai alat guna mengetahui apakah peserta didik telah menguasai pengetahuan, nilai-nilai, dan ketrampilan yang telah diberikan oleh seorang guru.
  2. Untuk mengetahui aspek-aspek kelemahan peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar.
  3. Mengetahui tingkat ketercapaian siswa dalam kegiatan belajar.
  4. Sebagai sarana umpan balik bagi seorang guru, yang bersumber dari siswa.
  5. Sebagai alat untuk mengetahui perkembangan belajar siswa.
  6. Sebagai materi utama laporan hasil belajar kepada para orang tua siswa. 
Dari berbagai fungsi yang telah disebutkan di atas, dapat dikatakan bahwa fungsi evaluasi adalah untuk mengukur kemampuan siswa setelah menempuh proses belajar dan juga sebagai sarana untuk menentukan kenaikan dan kelulusan siswa.

d. Ragam Evaluasi

Pada dasarnya evaluasi hasil belajar merupakan kegiatan berencana dan berkesinambungan sehingga memiliki banyak ragam, berikut ragam evaluasi:

  1. Pre test dan Post test
  2. Evaluasi Prasyarat
  3. Evaluasi Diagnostik
  4. Evaluasi Formatif
  5. Evaluasi Sumatif
  6. EBTA DAN EBTANAS

e. Ragam Alat Evaluasi

Secara garis besar ragam alat evaluasi terdiri atas dua macam yaitu:
1) Bentuk Objektif
Yaitu bentuk tes yang jawabannya dapat diberi skor nilai secara lugas (seadanya) menurut pedoman yang ditentukan sebelumnya. Bentuk tes tersebut yaitu tes benar-salah, tes pilihan ganda, tes pencocokan, tes isian, dan tes pelengkapan.
2) Bentuk Subjektif
adalah alat pengukur prestasi belajar yang jawabannya tidak dinilai dengan skor atau angka pasti seperti yang digunakan dalam tes objektif. 
Instrumen evaluasi mengambil bentuk essay examination yakni soal ujian yang mengharuskan siswa menjawab setiap pertanyaan dengan cara menguraikan atau dalam bentuk karangan bebas.

f. Syarat Alat Evaluasi

Langkah pertama yang perlu ditempuh guru dalam menilai prestasi belajar siswa adalah menyusun alat evaluasi yang sesuai dengan kebutuhan yaitu tdak menyimpang dari indikator dan jenis prestasi yang diharapkan.
Persyaratan pokok penyusunan alat evaluasi yang baik dalam perspektif psikologi belajar meliputi dua macam yaitu reliabilitas (tahan uji atau dapat dipercaya) dan validitas (keabsahan atau kebenaran).

D. Hubungan Antara Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an Dengan Prestasi Belajar Mata Pelajaran PAI

Setiap siswa atau peserta didik setelah mengikuti suatu proses belajar mengajar tentunya akan mempunyai suatu perkembangan, kemajuan dan akan memiliki kemampuan sesuai dengan tujuan pemberian materi atau mata pelajaran yang disampaikan oleh pendidik. Perkembangan, kemajuan dan kemampuan peserta didik pada suatu mata pelajaran tentunya tidak sama dan sangat bervariasi. Ini sangat tergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor tersebut bisa berasal dari dalam diri siswa (faktor internal) dan faktor yang berasal dari luar diri siswa (faktor eksternal).
Faktor-faktor di atas dalam banyak hal sering berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Seorang siswa yang bersikap conserving terhadap ilmu pengetahuan/bermotif ekstrinsik umpamanya, biasanya cenderung mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tak mendalam. Sebaliknya seorang yang berintelegensi tinggi (faktor internal), mungkin akan memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil pembelajaran. Jadi karena pengaruh faktor-faktor tersebut di ataslah, muncul siswa-siswa yang berprestasi tinggi dan berprestasi rendah atau gagal sama sekali. Dalam hal ini, seorang pendidik yang kompeten dan profesional diharapkan mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan munculnya kelompok siswa yang menunjukan gejala kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi faktor yang menghambat proses belajar mereka. 
Kemampuan, kemajuan, dan perkembangan siswa dalam menguasai mata pelajaran tertentu setelah proses belajar mengajar dapat dilihat melalui nilai prestasi siswa baik melalui nilai ulangan harian, nilai ulangan tengah semester, nilai ulangan semester maupun nilai raport siswa. 
Dalam melaksanakan tugasnya, seorang pendidik akan terlibat  pada masalah penilaian atau evaluasi yaitu penilaian/evaluasi terhadap hasil pendidikan atau setelah anak didik menempuh proses pendidikan selama jangka waktu yang telah ditentukan. Hasil penilaian itu biasanya dinyatakan dalam berbagai macam cara, namun cara yang paling umum digunakan adalah dengan menyatakan dalam bentuk angka (bilangan) untuk dijadikan salah satu tolak ukur dalam suatu keberhasilan.
Kemampuan, perkembangan dan kemajuan siswa dalam menguasai materi pelajaran pendidikan agama Islam yang di dalamnya sedikit banyak berisi bacaan, pemahaman, penerjemahan ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits tentunya akan dipengaruhi atau mempunyai hubungan yang erat dengan materi baca tulis al-Qur’an yang di dalamnya berisikan materi seperti bagaimana cara membaca al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai kaidah ilmu tajwid, tata cara menulis yang baik dan benar, yang kesemuanya itu akan membantu siswa mempercepat pemahaman, hafalan terhadap materi-materi pelajaran di atas yang terkait dengan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits. 
Baca tulis al-Quran merupakan sebagian dari materi dalam mata pelajaran PAI yang diberikan secara kontinu untuk membantu siswa lebih mudah dalam memahami mata pelajaran PAI, karena materi PAI tidak terlepas dari hal-hal yang berkaitan dengan ibadah yang mengharuskan seseorang untuk memiliki kemampuan baca tulis al-Qur’an yang baik.
Materi baca tulis al-Qur’an juga dapat digunakan untuk mengarahkan pemahaman dan pendalaman serta kecintaan terhadap baca tulis al-Qur’an, seperti qiroah, tilawatil Qur’an, seni khot, dan kaligrafi. Bila dilihat dari keterhubungannya dengan mata pelajaran PAI, baca tulis al-Qur’an mempunyai hubungan yang saling mengait, ini bisa dilihat dari beberapa aspek kemajuan yang akan diperoleh peserta didik setelah menerima materi baca tulis al-Qur’an dalam mata pelajaran PAI. Aspek-aspek tersebut diantaranya:
1. Kemampuan membaca al-Qur’an secara fasih, tertib, lancar, dan benar menurut kaidah ilmu tajwid.
Setelah  siswa menerima materi tentang baca tulis al-Qur’an siswa akan mempunyai kemampuan dasar tentang membaca al-Qur’an  secara fasih. Lancar dan benar menurut kaidah ilmu tajwid. Kelancaran siswa dalam membaca al-Qur’an sesuai dengan kaidah ilmu tajwid tentunya akan sangat memudahkan siswa dalam menghafalkan ayat-ayat al-Qur’an pilihan yang terdapat pada materi pelajaran pendidikan agama Islam.
2. Kemampuan memahami kaidah-kaidah ilmu tajwid.
Kemampuan baca tulis al-Qur’an peserta didik akan lebih baik jika peserta didik juga telah memahami kaidah ilmu tajwid dengan baik. Karena baca tulis al-Qur’an tidak terlepas dari ilmu tajwid. Semakin luas pengetahuan dan pemahaman peserta didik terhadap kaidah ilmu tajwid maka semakin baik kemampuan baca tulis al-Qur’annya.
3. Kemampuan mengahafal dan menyalin al-Qur’an.
Peserta didik yang mampu menghafal ayat-ayat al-Qur’an dan mampu menyalin tulisan-tulisan al-Qur’an tanpa menyimaknya akan meningkatkan pemahamannya terhadap materi pendidikan agama Islam dan akan mempermudah dalam menjawab soal-soal evaluasi yang berkaitan dengan menulis al-Qur’an. 
4. Kemampuan menerjemahkan ayat al-Qur’an dan menyimpulkan makna ayat-ayat al-Qur’an
Peserta didik yang mampu menerjemahkan ayat-ayat al-Qur’an mulai dari perkosakata atau permufrodat hingga perkalimat atau perayat akan menambah tingkat kemudahannya dalam memahami dan menyimpulkan isi kandungan setiap ayat al-Qur’an yang dipelajarinya.
5. Kemampuan mengamalkan baca tulis al-Qur’an
Dengan kemampuan baca tulis al-Qur’an yang baik peserta didik dapat mengamalkannya dalam ibadah dengan baik karena ibadah umat Islam tak lepas dari bacaan al-Qur’an, sehingga seseorang yang kemampuan baca tulis al-Qur’annya baik maka pengamalan dalam ibadahnya pun akan baik.  
6. Kemampuan menulis huruf al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah penulisan huruf Arab.
Pengajaran pada siswa tentang tata cara menulis huruf al-Qur’an secara tertib, rapi, dan benar menurut kaidah penulisan huruf Arab pada mata pelajaran PAI akan memberikan kemampuan pada siswa bagaimana cara menulis huruf al-Qur’an (bagaimana cara menyambung huruf-huruf hijaiyah, dan memberi syakal dengan benar) yang dengan kemampuan ini nantinya akan sangat membantu siswa dalam memahami mata pelajaran PAI. Selain itu juga akan membantu siswa pada proses evaluasi pada mata pelajaran PAI.
Jika kemampuan menulis huruf al-Qur’an siswa sudah rapi, tertib, dan benar tentunya nanti dalam menjawab soal tertulis pada mata pelajaran PAI pun akan benar tapi sebaliknya jika kemampuan siswa dalam menulis huruf al-Qur’an tidak bisa rapi, tertib dan benar tentunya pada evaluasi nanti ayat-ayat al-Qur’an dan hadits yang ditulisnya akan salah. Dengan demikian sudah tentu jawaban siswa terhadap pertanyaan evaluasi al-Qur’an secara baik, tertib dan benar menurut kaidah penulisan huruf al-Qur’an yang diajarkan pada mata pelajaran  PAI sangat menunjang proses pembelajaran PAI.

(Ceria Nur Rohmah)

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.