Cerpen

Kerja Bakti Membuat Gapura

Kerja Bakti Membuat Gapura – Terdengar suara orang memanggil-manggil dari kejauhan,   dan semakin lama suara itu terdengar semakin keras kearah gerombolan anak di depannya, Hay,,, pada mau kemana teriak Ijun beberapa kali, mau ke hutan mencari bambu jawab Eko dengan suara tak kalah keras.

Tunggu aku ikut, akhirnya semakin ramailah rombongan anak kampung itu melangkah mantap menuju hutan di belakang desa untuk mencari pohon bambu, Ijun kenapa baru kelihatan dari mana saja kau? Kata Eko, Aku tadi habis ngantar Ibu dulu ke pasar.

Ohhh,, kirain baru bangun mentang-mentang hari ini libur. Engga lah aku kan anak rajin bangun ya gasik ya. Iya percaya Ipung menimpali, bangun gasik tapi tidur lagi ya kan? Haha tau aja nih si Brader.

kerja bakti membuat gapura
Ilustrasi kerja bakti membuat gapura

Tadi malam kayanya pak RT agak kurang sependapat ya mengenai kegiatan yang akan diadakan di RT kita. Iya bener kayanya seperti itu loh Jun, Pak RT harapanya yang anak muda kaya kita. Ikut andil dalam perlombaan 17-an nanti.

Namun katanya anak muda sekarang cenderung apatis terhadap kegiatan yang diadakan di desa. Hanya ikut berpartisipasi saja mereka enggan, mereka lebih suka bermain game dari pada ikut kegiatan seperti itu.

Halah gak usah ngomongin mereka, kita saja kalau tidak dipaksa oleh pak RT untuk hadir tadi malam dalam rapat kegiatan 17-an kita juga malas bukan? Hahaha iya juga ya Pung. Pagi-pagi gini biasanya kita masih tidur eh ini disuruh cari bambu untuk pembuatan gapuran dan umbul-umbul.

Memang harus ada yang memulai dan menjebatani, anak muda tidak bisa langsung disalahkan juga mengenai ketidakaktifan mereka di desa. Kadang baik perangkat desa maupun tokoh masyarakat tidak memperdulikan kegiatan untuk anak muda.

Orang tua di desa kita juga kadang mengangap anak muda sebelah mata, kita sudah di cap buruk terlebih dahulu dengan hal-hal yang negatif. Kalau caranya seperti itu mana mungkin anak muda mau untuk ikut serta membangun dan meramaikan desa.

Jadi kalau menurutku sih, perlu adanya sinergi antara orang tua dan anak muda untuk bisa berperan memajukan daerahnya masing-masing, “mbok yo orang tua itu ngemong aja malah mateni dengan pandangan yang negatif”.

Bener Jun apa katamu, kadang perangkat desa juga terlalu bersifat eksklusif  ingin “diwongkan” karena merasa punya jabatan, lah wong kita kalau ngurus apa-apa aja lama di desa belum lagi kebiasaan buruk yang harus memberikan imbalan, kalau tidak diberi imbalan tidak dilaksanakan, padahal itu kan sudah menjadi pekerjaan mereka.

Kenyataanya memang seperti itu Ek, makanya kelak kalau kamu jadi lurah atau perangkat desa jangan seperti itu ya? Kasian masyarakatnya. Orang desa itu sudah muak dengan segala aturan yang ada yang justru menghambat kemajuan seseorang.

Setelah beberapa lama mereka berjalan akhirnya sampailah ketempat yang dituju, yaitu hutan bambu.

Wah kita dah sampai nih kata Ipung, sembari melihat-lihat sekitar dan membuang semak-semak yang menghalangi jalan kita.

Pohon Bambu milik Pak Jaya mana ya? Katanya dipojok paling selatan hutan ini, ohh berarti itu tuh Pung. Seketika kami menuju ke sana dan memilih-milih pohon bambu terbaik untuk dijadikan gapuran dan umbul-umbul.

Untuk gapura kita butuh sekitar 15-20 Batang pohon bambu sedangkan untuk umbul-umbul kita butuh 30 batang. Dengan segala tenaga yang ada dan atas bantuan dari masyarakat akhirnya kami bisa menebang pohon bambu sebanyak itu.

Karena memang tidak berselang lama setelah kami sampai, masyarakat desa Suka Tani, berbondong-bondong kerja bakti untuk menebang pohon bambu untuk selanjutnya dibawa ke RT masing-masing.

Wah bakalan jadi ramai nih RT kita nanti, karena banyaknya umbul-imbul dan gapura yang dipasang disekitar rumah penduduk, iya Man mudah-mudahan RT kita tahun ini mendapat juara terbaik dalam perlombaan menghias kampung ini.

Okeh kita nanti hias dengan lampu-lampu juga ya biar lebih menarik, jangan lupa diberi tulisan-tulisan perjuangan yang bisa memotifasi para generasi muda. Untuk bisa bermanfaat bagi desanya. Wah ide yang brilian itu bray.

Sesampainya mereka kembali ke desa, para Ibu-ibu sudah menunggu mereka dengan masakan yang sudah disediakan, karena memang hari ini adalah kerja bakti maka sudah menjadi kebiasaan di desa kami, para ibu-ibu akan memasak bagi para kaum laki-laki.

Moment yang sangat kami nanti-natikan acara makan bersama ini dengan tubuh yang sudah mulai lemas dan rasa lapar yang sudah tidak bisa ditahan, akhirnya kami makan dengan penuh kenikmatan yang tiada tara. Apapun makananya kalau sudah bunyinya makan bersama akan berasa lebih nikmat.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !