Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional)

Suwardi Suryaningrat atau yang akrab dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, adalah bapak pendidikan nasional, dan tokoh persuratkabaran pada masa pergerakan memerdekaan Indonesia.

Ki Hajar Dewantara ditakdirkan sebagai pembela kepentingan rakyat terutama pendidikan, seperti yang kita ketahui zaman pergerakan dulu kualitas pendidikan di Indonesia begitu sangat tertinggal dari negara-negara lain.

Beliau merupakan sosok pribadi yang tegar, kuat dan bersahaja. Suwardi Suryaningrat selalu membela kepentingan rakyat Indonesia, lewat perjuangannya yang tak kenal lelah membela rakyat Indonesia untuk bisa menikmati pendidikan sepenuhnya.

Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara

Beliau dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1899. Beliau merupakan bangsawan dari Keraton Pakualam Yogyakarta karena ayahnya yang bernama Soeryaningrat merupakan putra Pakualam ke III.

Semasa kecil beliau bersekolah di Europesche Lagere School yang merupakan sekolah dalam kategori rendah yang dimiliki oleh Belanda, beliau merupakan keturunan bangsawan oleh sebab itu dengan mudah beliau bisa bersekolah disana.

Kemudian beliau melanjutkan sekolah di Kweekschool (sekolah guru), namun belum sempat selesai beliau pindah ke sekolah dokter pribumi (STOVIA). Disekolah yang baru pun Ki Hajar Dewantara tidak bisa menyelesaikan sekolahnya karena kekurangan uang untuk membayar sekolahnya.

Setelah keluar dari STOVIA, Ki Hajar Dewantara beralih profesi ke bidang jurnalistik, meski di dunia yang relatif baru bagi beliau namun perjuangan-perjuangan beliau dalam pergerakan nasional untuk mencapai kemerdekaan lebih banyak dalam bidang persuratkabaran, tulisan-tulisan beliau banyak ditemukan di surat kabar serta pendidikan rakyat.

Tentu saja perjalanan menjadi jurnalistik tidak mudah dilalui Ki Hajar Dewantara, mengawali jurnalistik sebagai pembantu harian “Sedya Utama”, surat kabar berbahasa Jawa di Yogyakarta.

Kemudian juga beliau membantu surat kabar berbahasa Belanda bernama Midden Jawa, di semarang. Hingga pada tahun 1912, beliau bekerja sebagai anggota redaksi harian “de Express” di Bandung.

Di harian “de Express” ini banyak memuat tulisan-tulisan dari para politikus yang menyampaikan suara hatinya menghadapi pemerintahan kolonial Belanda. Di antaranya tulisan-tulisan para tokoh pergerakan nasional seperti Abdul Muis, dr. Tjipto Mangunkusumo dan tentunya tulisan dari Ki Hajar Dewantara sendiri.

Selain bekerja di harian “de Express”, beliau juga bekerja dibeberapa surat kabar seperti harian “Kaoem Moeda”, harian S.I “Soerabaya” dan Cahaya Timoer di Malang. Karena sepak terjang Ki Hajar Dewantara ini dalam bidang jurnalistik maka beliau dikenal juga sebagai perintis pers Indonesia.

Pada tanggal 25 Desember 1912, atas prakarsa Douwes Dekker. Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangungkusumo, mendirikan partai politik yang diberi nama Indische Partij,  ketiganya kelak dikenal sebagai tiga serangkai.

Tujuan dari Indische Partij adalah menyatukan semua golongan untuk memajukan tanah air dan menuntut kemerdekaan Indonesia.  Indische Partij merupakan organisasi pertama di Indonesia yang bertujuan menuntut kemerdekaan. Tujuan-tujuan tersebut disebarluaskan melalui surat kabar “de Express”.

Belanda cepat merespon tentang kegiatan tokoh tiga serangkai ini baik melalui surat kabar atau propaganda yang lain hingga pada akhirnya mereka ditangkap dan diasingkan ke Negeri Belanda.

Semasa pengasingannya di Belanda Ki Hajar Dewantara memperdalam ilmu pendidikan modern dari Dr. Maria Montessori dan Jan lichthart, tokoh pendidikan modern Belanda. Hingga pada tahun 1916 Ki Hajar Dewantara berhasil mendapatkan gelar dalam bidang Pendidikan.

Dibuang dan diasingkan tidak membuat Ki Hajar Dewantara berpangku tangan, beliau juga masih aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi negerinya, beliau masih aktif menulis baik di media Belanda maupun Indonesia.

Bahkan setelah hukumanya dicabut pada tahun 1917, beliau tetap tinggal di Belanda dan mendirikan kantor berita bernama Indonesische Pers Bureau. Untuk membuat propaganda pergerakan kemerdekaan di Indonesia. Juga digunakan sebagai markas pemuda Indinesia yang bersekolah di Belanda.

Ki Hajar Dewantara kembali ke Indonesia pada tahun 1919. Kemudian beliau mendirikan National Indische Partij (NIP), merupakan organisasi yang dibentuk untuk menggantikan Indische partij yang dulu dibubarkan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Selain berjuang diranah persuratkabaran, Ki Hajar Dewantara juga akktif dalam memajukan pendidikan rakyat. Beliau berpendapat bahwa satu-satunya cara untuk memajukan taraf hidup rakyat adalah melalui pendidikan.

Quotes Ki Hajar Dewantara

Quotes Ki Hajar Dewantara

Beliau ingin menerapakan pola pendidikan modern yang beliau pelajarai di Belanda, oleh karena itu beliau setelah kembali dari Belanda, beliau menjadi seorang guru di sekolah yang didirikan R.M. Soeryopranoto, kakaknya. Sekolah tersebut bernama Adhi Dharma.

Ki Hajar Dewantara kemudian mendirikan sekolah yang bernama Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta, pada tanggal 3 Juli 1922, tujuan dari Taman Siswa adalah mengganti sistem pendidikan dan pengajaran yang dipakai oleh pemerintah kolonial Belanda, dengan sistem pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan kebudayaan Indonesia. Sistem pendidikan tersebut dinamakan among.

Sedangkan semboyan yang diterpakan oleh Ki Hajar Dewantara adalah Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, yang bermaksud adalah sebagai seorang pemimpin atau guru kita harus bisa member teladan apa bila di depan, apabila di tengah harus bisa menciptakan ide dan dari belakang harus bisa memberi dorongan semangat. Semboyan tersebut masih dipakai hingga sekarang.

Perguruan Taman Siswa cepat berkembang oleh karenanya kemudian Taman Siswa dibagi menjadi dua, yaitu taman muda (sekolah dasar) dan taman dewasa atau Mulo Kweekschool yang merangkap taman guru.

Selain itu Taman Siswa pada perkembanganya juga mendirikan taman kanak-kanak (Frobel Onderwijs) yang dipimpin langsung oleh Nyi Hajar Dewantara istri dari Ki Hajar Dewantara.

Ki Hajar Dewantara lewat Taman Siswanya berperan menumbuhkan jiwa nasionalisme bagi kaum muda yang bersekolah disana, melalui pendidikan pula Ki Hajar Dewantara bercita-cita memerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.

Pada masa pendudukan Jepang, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai pemimpin Putera (Pusat Tenaga Rakyat), bersama Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan K.H. Mas Mansur. Mereka dikenal dengan sebutan empat serangkai.

Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran pada kabinet pertama, setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945. Kemudian pada tahun 1946 beliau menjadi ketua panitia, Penyelidik Pengajaran yang merumuskan pokok-pokok pendidikan dan pengajaran sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia.

Ki Hajar Dewantara juga menjadi ketua penasihat pembentukan undang-undang pada 1948. Undang-undang tersebut menempatkan dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di Indonesia.

Karena jasa-jasa beliau dibidang pendidikan dan kebudayaan maka Ki Hajar Dewantara pernah dianugerahi bintang Mahaputra dan gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang kebudayaan dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Tokoh pergerakan Indonesia dalam bidang pers dan pendidikan ini meninggal dunia pada tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di Wijayabrata Yogyakarta.

Semoga Bermanfaat !

Baca juga :

 

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !