Budaya

Kisah Hidup Luar Biasa Ken Arok From Zero to Hero

Siapa yang tidak tahu dengan kisah Ken Arok, penjahat yang dikagumi dewa – dewa berkat kecerdikan yang dimilikinya. Kisah dalam kitab Pararaton yang ditulis sekitar abad-15 ini memuat rangkaian peristiwa yang terjadi pada Ken Arok. Tertulis bahwa seorang anak yang lahir dari seorang petani bernama Ken Ndok dari hubungan gelapnya dengan murid dari Maharesi Agung Sri Yogiswara Girinata, Maharesi Gajah Para. Dimana Maharesi Agung Sri Yogiswara Girinata itu sendiri suami dari Ken Ndok yang pada saat itu belum pernah saling bersentuhan. Sebagai perempuan normal Ken Ndok tentu sangat ingin sekali bersentuhan dengan sang suami, Maharesi Agung Sri Yogiswara Girinata. Karena hal itu Maharesi Gajah Para yang merupakan selingkuhan dari Ken Ndok tidak mau bertanggung jawab. Ken Ndok pun merasa bersalah kepada Maharesi Agung lalu kabur dari padepokan dan melahirkan Ken Arok.

Karena tekanan kemiskinan, Ken Ndok tidak mau merawat Ken Arok. Ketika bayi Ken Arok dibuang dengan cara meletakkannya dalam keranjang yang dihanyutkan di sungai Brantas. Ia berharap Ken Arok akan ditemukan oleh seseorang yang bernasib lebih baik dari dirinya. Tetapi, Ken Arok ditemukan oleh seorang yang bernama Ki Lembong. Setelah melihat secarik kertas di tangan Ken Arok. Dibawa pulanglah Ken Arok dengan keyakinan akan membawa keberuntungan untuknya. Pada awalnya Ki Lembong tidak tahu nama anak tersebut dan kemudian memberinya nama “Temon” (kepada Ken Arok). Temon pun dibesarkan menjadi seorang pencuri yang cerdik dan selalu ikut mencuri bersama Ki Lembong. Hingga suatu saat Ki Lembong ingin agar Temon pergi untuk mencari jati dirinya sendiri. Temon berjalan tanpa tujuan, kemudian bertemu dengan Banggo Samparan seorang pemain judi. Disinilah nama Temon diganti menjadi “Ken Arok” dan petualangan dimulai.

Saat berjudi Banggo Samparan selalu mengajak Ken Arok dan selalu menang. Ken Arok mulai terbiasa dengan kehidupan berandalannya. Tidak hanya bermain judi saja, kebiasaan lama Ken Arok ketika bersama Ki Lembong pun semakin menjadi. Dia pandai mencuri dan bermain judi, bahkan saat ini Ken Arok telah memiliki seorang sahabat yang memiliki kesamaan dengannya. Anak kepala dusun Seganggeng yang bernama Tita. Akibat perbuatan tidak baik itu keduanya dibawa ke padepokan Mpu Palot  untuk belajar sastra dan silat. Sayangnya mereka berdua tidak betah dan kabur, bermain judi dan mencuri lagi.

Kelihaiannya dalam mencuri telah membuat resah orang  – orang  hingga sampai ke telinga raja Kediri, Kertajaya.   Ia memerintahkan adipati Tumapel yaitu Tunggul Ametung, untuk menangkap Ken Arok. Mereka berpisah ketika sedang dikejar – kejar pasukan Tumapel dan Ken Arok sampai ke tepi sungai yang merupakan perbatasan Kediri dengan kerajaan lain. Ken Arok berhasil melarikan diri dari atas pohon Siwalan dengan menggunakan sayap berupa dua helai daunt alas yang lebar dan bersembunyi di wilayah kerajaan tetangga.

Kecerdikan Ken Arok ini membuat dewa – dewa sepakat untuk melindunginya, karena ia berbakat dan diramalkan akan menjadi orang besar di kemudian hari. Setelah keluar dari persembunyiannya para dewa lalu mengutus  seorang Brahmana yang bernama Hyang Lohgawe untuk membantu Ken Arok menjadi orang baik. Hyang Lohgawe mengajak Ken Arok hingga sampai di padepokan Hyang Lohgawe. Sesammpainya di padepokan Ken Arok di perintah untuk menetap dan dididik oleh Hyang Lohgawe. Hyang Lohgawe menyuruhnya untuknya untuk berhenti mencuri dan berhenti bermain judi. Hyang Lohgawe menganggap Ken Arok seperti anaknya sendiri dan mengajarinya untuk hidup dengan cara yang baik. Di tempat inilah yang menjadi titik terang Ken Arok yang dulunya pencuri dan penjudi ingin berubah menjadi orang yang baik.

Tumapel menjadi lebih sejahtera. Namun, Kediri memaksa Tumapel untuk menambah prajurit. Hal ini membuat adipati Tunggul Ametung meminta lebih kepada rakyat. Rakyat sejak dulu kurang suka dengan Tunggul Ametung karena kebiasaan buruknya, semakin benci karena prajuritnya harus ditambah. Kemudian Hyang Lohgawe mengajak Ken Arok untuk menjadi prajurit Tunggul Ametung. Sang adipati yang tidak mengenali wajah Ken Arok setelah merapikan diri itu menerimanya bekerja menjadi pengawal istana kadipaten.

Sementara itu, Tunggul Ametung berniat mencari seorang istri. Ia mendengar bahwa di sebuah desa, ada seorang pendeta Buddha bernama Mpu Purwa yang memiliki seorang anak yang sangat beautiful bernama “Ken Dedes”. Suatu hari saat sang pendeta pergi bertapa ke hutan, pasukan Tunggul Ametung memporakporandakan desa,  menculik Ken Dedes  dan membawanya ke istana. Mpu Purwa yang mengetahui hal itu marah besar dan  mengutuk Tunggul Ametung bahwa ia  kelak akan mati dibunuh.

Ketika Ken Dedes sedang hamil muda, Tunggul Ametung mengajak Ken Dedes bertamasya ke taman Baboji. Saat akan turun dari kereta, Ken Arok yang bertugas sebagai body guard istana membantu meletakkan bangku kecil sebagai injakan. Secara tidak sengaja, kain Ken Dedes tersingkap sedikit dan menunjukkan seberkas cahaya muncul dari antara  kakinya. Malamnya, Ken Arok menceritakan kejadian itu kepada Hyang Lohgawe, dan Hyang Lohgawe  mengatakan “Perempuan ini seperti diyakini akan membawa kekuasaan kelak”. Ken Arok yang terpesona disaat itu juga bersumpah dalam hatinya untuk  menjadikan Ken Dedes sebagai istrinya dengan cara apapun.

Kemudian Ken Arok  pergi kepada seorang pandai yang terkenal bernama Mpu Gandring  yang tinggal di desa Lulumbang. Ia memesan sebuah keris yang sangat indah, dan harus selesai dalam waktu sesingkat mungkin. Mpu Gandring sebenarnya meminta waktu dua belas bulan untuk menyelesaikannya, tetapi Ken Arok memaksanya dan akhirnya ia menyanggupi akan menyelesaikan keris itu dalam waktu lima bulan.

Mpu Gandring pun bekerja sangat keras dan disertai tapa lalu tirakat agar dapat menyelesaikan keris pesana Ken Arok itu dalam waktu yang telah disepakati.  Lima bulan kemudian Ken Arok dating lagi ke tempat Mpu Gandring, di desa Lullumbang. Sesampainya disana, keris pesanan Ken Arok itu belum selesai dengan sempurna. Ken Arok menjadi sangat marah dan menusuk Mpu Gandring dengan keris buatannya sendiri. Namun, sebelum menghembuskan napas terakhir,  Mpu Gandring sempat mengucapkan kutukannya terhadap Ken Arok, bahwa tujuh orang yang dikenal Ken Arok akan mati dengan keris buatannya itu.

Ternyata Ken Arok menyusun sebuah siasat dengan meminjamkan keris bagus itu  kepada seorang temannya  sesama pengawal istana yang bernama Kebo Ijo. Setelah diterima oleh Kebo Ijo, Ken Arok meminta agar jika ditanya Kebo Ijo selalu menjawab bahwa keris itu adalah miliknya  sendiri. Kebo Ijo yang sangat bangga selalu membawa keris itu dipinggangnya, kemanapun Kebo Ijo pergi ia selalu  memamerkannya kepada orang – orang yang ditemuinya. Karena itu semua orang menganggap bahwa Kebo Ijo  memang  memiliki keris itu.

Beberapa waktu kemudian, suatu malam Ken Arok mencuri keris itu dan segera membunuh Tunggul Ametung yang sedang tidur. Keris itu sengaja ditinggalkan tertancap di jantung sang adipati, sehingga Kebo Ijo langsung dituduh sebagai tersangka pembunuhan. Ken Dedes yang tidur di sebelah Tunggul Ametung sesungguhnya mengetahui siapa pembunuh aslinya, tetapi karena hatinya juga tertarik kepada Ken Arok, ia pun lebih memilih untuk menutup mulut. Kemudian Ken Arok berperan sebagai pahlawan yang menangkap dan membunuh Kebo Ijo dengan keris Mpu Gadring. Karena aksi heroic-nya Ken Arok bisa menikahi Ken Dedes, bahkan ia diangkat menjadi adipati di Tumapel menggantikan Tunggul Ametung. Kemudian, Ken Dedes melahirkan anak dari Tunggul Ametung yang diberi nama  Anusapati. Ken Arok juga memiliki selir bernama Ken Umang dan mempunyai anak yang bernama Tohjaya.

Di bawah pimpinan Ken Arok, Tumapel memperluas wilayahnya dengan menaklukkan daerah – daerah yang ada disekitarnya. Tindakan ini terkesan membangkang terhadap kerajaan Kediri, tetapi Ken Arok tidak ditindak tegas oleh raja Kediri, Kertajaya. Di saat itu juga kekuasaan Kertajaya semakin melemah. Kertajaya yang semakin  sombong, sering mengancam kaum brahmana dan suka memamerkan kekuatan ghaibnya. Ken Arok dengan cerdik memanfaat keadaan ini, ia menampung dan melinduni para brahmana yang  melarikan diri dari Kediri. Sehingga pertentangan pertentangan dengan Kertajaya semakin meruncing.

Pada tahun 1222, Tumapel menyerang ibu kota (Kediri) dan pada pertempuran di Ganter, Kertajaya berhasil dikalahkan.  Ken Arok lalu mengangkat diri menjadi raja dengan gelar  “Sri Ranggah Rajasa Bhatara Amurwabhumi”. Ia juga memindahkan ibu kota kerajaan dari Kediri ke Singasari.

Anusapati selalu curigga kepada ayah tirinya. Ia selalu merasa bahwa Ken Arok ikut terlibat dalam tewasnya ayah yang tak pernah dilihatnya. Ketika Anusapati bertanya kepada ibunya, ibunya hanya terdiam dan hanya memberikan keris pembunuh ayahnya. Pada tahun 1227 , Anusapati yang sedang kesal disertai dendam menusuk Ken Arok yang sedang makan di meja makan. Ia kemudian menjadi raja selama lebih dari dua puluh tahun.

Pada tahun 1248, Tohjaya (putra Ken Arok dari Ken Umang) membunuh Anusapati dengan keris yang sama. Hanya sempat berkuasa sebentar, Tohjaya di bunuh oleh Ranggawuni (putra Anusapati dan Mahisa Campaka) dengan keris yang sama. Akhirnya Ranggawuni menjadi raja  dangan gelar “Wishnuwardhana”  dan sang ibu, Mahisa Campaka menjadi patih bergelar “Narasinghamurti”.  Berkat kedua orang inilah pertikaian antar keluarga dapat dijernihkan dan tidak lagi yang namanya perang saudara.

Di bawah pimpinan Ken Arok, Tumapel memperluas wilayahnya dengan menaklukkan daerah – daerah yang ada disekitarnya. Tindakan ini terkesan membangkang terhadap kerajaan Kediri, tetapi Ken Arok tidak ditindak tegas oleh raja Kediri, Kertajaya. Pada tahun 1222, Tumapel menyerang ibu kota (Kediri) dan pada pertempuran di Ganter, Kertajaya berhasil dikalahkan.  Ken Arok lalu mengangkat diri menjadi raja dengan gelar  “Sri Ranggah Rajasa Bhatara Amurwabhumi”. Pada tahun 1248, Tohjaya (putra Ken Arok dari Ken Umang) membunuh Anusapati dengan keris yang sama. Hanya sempat berkuasa sebentar, Tohjaya di bunuh oleh Ranggawuni (putra Anusapati dan Mahisa Campaka) dengan keris yang sama. Akhirnya Ranggawuni menjadi raja  dangan gelar “Wishnuwardhana”  dan sang ibu, Mahisa Campaka menjadi patih bergelar “Narasinghamurti”.  Berkat kedua orang inilah pertikaian antar keluarga dapat dijernihkan dan tidak lagi yang namanya perang saudara dan semua berjalan sesuai apa yang diharapkan.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !