KUANTITAS DAN KUALITAS GURU

KUANTITAS DAN KUALITAS GURU
Pendidikan  merupakan usaha sadar dan bertujuan untuk mengembangkan kualitas manusia. Berbicara mengenai pendidikan, maka tidak jauh dari faktor Kuantitas dan Kualitas guru. Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia, arti Kualitas yaitu Tingkat baik buruknya sesuatu. Sedangkan Kuantitas yaitu Jumlah. Jadi, Kualitas guru berarti tingkat baik buruknya guru, sedangkan kuantitas guru berarti jumlah guru.
KUANTITAS DAN KUALITAS GURU
KUANTITAS DAN KUALITAS GURU
Keadaan guru di indonesia saat ini sungguh memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat. 
Kendati secara kuantitas jumlah guru di Indonesia cukup memadai, namun secara kualitas mutu guru di negara ini, pada umumnya masih rendah. Secara umum, para guru di Indonesia kurang bisa memerankan fungsinya dengan optimal, karena pemerintah masih kurang memperhatikan mereka, khususnya dalam upaya meningkatkan profesionalismenya. Secara kuantitatif, sebenarnya jumlah guru di Indonesia relatif tidak terlalu buruk. Apabila dilihat ratio guru dengan siswa, angka-angkanya cukup bagus yakni di SD 1:22, SLTP 1:16, dan SMU/SMK 1:12. Meskipun demikian, dalam hal distribusi guru ternyata banyak mengandung kelemahan yakni pada satu sisi ada daerah atau sekolah yang kelebihan jumlah guru, dan di sisi lain ada daerah atau sekolah yang kekurangan guru. Dalam banyak kasus, ada SD yang jumlah gurunya hanya tiga hingga empat orang, sehingga mereka harus mengajar kelas secara paralel dan simultan. Oleh karena itu, kebijakan yang akan kami bicarakan yaitu mengenai Kuantitas dan Kualitas guru di indonesia.
PROFIL KEBIJAKAN
Dalam paradigma Jawa, pendidik diidentikkan dengan guru, yang mempunyai makna “Digugu dan ditiru” artinya mereka yang selalu dicontoh dan dipanuti. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah seorang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Dalam bahasa Arab disebut mu’allim dan dalam bahasa Inggris disebut Teacher. Itu semua memiliki arti yang sederhana yakni “A Person Occupation is Teaching Other” artinya guru ialah seorang yang pekerjaannya mengajar orang lain. Menurut Ngalim Purwanto bahwa guru ialah orang yang pernah memberikan suatu ilmu atau kepandaian kepada seseorang atau sekelompok orang. Ahmad Tafsir mengemukakan pendapat bahwa guru ialah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi afektif, kognitif maupun psikomotorik.
Dari beberapa pengertian diatas maka penulis dapat mengambil sebuah  kesimpulan bahwa yang dimaksud guru adalah seorang atau mereka yang pekerjaannya khusus menyampaikan (mengajarkan) materi pelajaran kepada siswa serta mendidik siswa disekolah agar menjadi pribadi yang baik. 
Berbicara tentang guru maka tidak lepas dari kuantitas dan kualitas guru. Yang dimaksud dengan Kuantitas guru yaitu Jumlah guru, sedangkan yang dimaksud dengan Kualitas guru adalah kemampuan yang dimiliki seorang guru untuk diberikan pada anak didiknya. Ada tiga kegiatan penting yang diperlukan oleh guru untuk bisa meningkatkan kualitasnya sehingga bisa terus menanjak pangkatnya sampai jenjang kepangkatan tertinggi. Pertama para guru harus memperbanyak tukar pikiran tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman mengembangkan materi pelajaran dan berinteraksi dengan peserta didik. Tukar pikiran tersebut bisa dilaksanakan dalam pertermuan guru sejenis di sanggar kerja guru, ataupun dalam seminar-seminar yang berkaitan dengan hal itu. Kegiatan ilmiah ini hendaknya selalu mengangkat topik pembicaraan yang bersifat aplikatif. Artinya, hasil pertemuan bisa digunakan secara langsung untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Hanya perlu dicatat, dalam kegiatan ilmiah semacam itu hendaknya faktor-faktor yang bersifat struktural administrative harus disingkirkan jauh-jauh. Misalnya, tidak perlu yang memimpin pertemuan harus kepala sekolah. Kedua, akan lebih baik kalau apa yang dibicarakan dalam pertemuan- pertemuan ilmiah yang dihadiri para guru adalah merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh para guru sendiri. 
Dengan demikian guru harus melakukan penelitian. Untuk ini perlulah anggapan sementara ini bahwa penelitian hanya dapat dilakukan oleh para akademisi yang bekerja di perguruan tinggi atau oleh para peneliti di lembaga-lembaga penelitian harus dibuang jauh-jauh. Justru sekarang ini perlu diyakini pada semua fihak bahwa hasil-hasil penelitian-penelitian tentang apa yang terjadi di kelas dan di sekolah yang dilakukan oleh para guru adalah sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Sebab para gurulah yang nyata-nyata memahami dan manghayati apa yang terjadi di sekolah, khususnya di kelas. Ketiga, guru harus membiasakan diri untuk mengkomunikasikan hasil penelitian yang dilakukan, khususnya lewat media cetak. 
Kompetensi Guru merupakan kompetensi yang sangat penting. Oleh sebab langsung berhubungan dengan kinerja yang ditampilkan. Oleh sebab itu, tingkat keprofesionalan seorang guru dapat dilihat dari kompetensi sebagai berikut: (1)kemampuan untuk menguasai landasan kependidikan, misalnya paham akan tujuan pendidikan yang harus dicapai baik tujuan nasional, institusional, kurikuler dan tujuan pembelajaran; (2) pemahaman dalam bidang psikologi pendidikan, misalnya paham tentang tahapan perkembangan siswa, pahamtentang teori-teori belajar; (3) kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran sesuai dengan bidang studi yang diajarkannya; (4) kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi pembelajaran; (5) kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumberbelajar; (6) kemampuan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran; (7) kemampuan dalam menyusun program pembelajaran; (8) kemampuan dalam melaksanakan unsur penunjang, misalnya administrasi sekolah, bimbingan dan penyuluhan dan; (9) kemampuan dalam melaksanakan penelitian dan berpikir ilmiah untuk meningkatkan kinerja. 
Dari 300.207 guru (seluruh jenjang) di Jawa Tengah baru 56.802 guru yang lulus sertifikasi (18,92%). Sementara jumlah guru yang telah memenuhi kualifikasi S1 atau DIV sebagaimana disyaratkan UU Guru dan Dosen, sebanyak 130.125 orang guru (43,34%) Sementara prosentase guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidangnya berkisar antara 3% hingga 12%.
Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan sbb: untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12% (negeri) dan 60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta), serta untuk SMK yang layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26% (swasta).
Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri. Data Balitbang Depdiknas (2010) menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8% yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah, dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas (3,48% berpendidikan S3). 
Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru Independen Indonesia) pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya.
C. ANALISA KEBIJAKAN
1. Analisa proses pembuatan kebijakan
a) Perumusan masalah 
Guru yang ideal itu harus mempunyai empat kompetensi yang terdiri dari : Personal, profesional, pedagogis, dan sosial. Jika dari keempat unsur tersebut tidak dikuasai oleh guru, maka guru tersebut dikatakan sebagai guru yang belum berkualitas ataupun ideal. Dari pemaparan diatas, maka muncul suatu perumusan masalah yang dirumuskan sebagai berikut: 
Bagaimana mutu guru yang ideal di indonesia saat ini?
b) Peramalan
Dengan adanya kebijakan pemerintah tentang  kuantitas dan kualitas guru di indonesia, maka diharapkan kedepannya pemerintah mampu mengatasi persoalan-persoalan dalam pendidikan, terutama dalam meningkatkan mutu dan kompetensi guru. 
c) Rekomendasi
Merujuk dari pemaparan diatas, maka pemakalah merekomendasikan  bahwa pemerintah seharusnya lebih memperhatikan terhadap kesejahteraan guru baik yang sudah PNS maupun belum agar kedepannya guru lebih sejahtera dan mampu menghasilkan output pendidikan yang baik. Pemerintah juga harus melakukan pelatihan bagi guru untuk menunjang kualitas guru seperti diadakannya program training, DMS, PLPG, dsb.
d) Pemantauan
Pemerintah harus melakukan pengawasan atau penyeleksian /rekrutmen yang lebih ketat bagi calon guru dan calon PNS agar menghasilkan guru-guru yang profesional yang memiliki kualitas baik.
e) Evaluasi
Pemerintah melakukan evaluasi terhadap kinerja guru yaitu dengan melakukan uji kompetensi untuk setiap tahunnya. Yang bertujuan agar adanya perbaikan dan peningkatan dari kinerja guru tiap tahunnya.
2. Analisis pihak-pihak yang terlibat (stakeholder)
Yang terlibat ataupun yang terkait dalam kebijakan  kuantitas dan kualitas guru yaitu : Pemerintah yaitu sebagai pembuat kebijakan melalui kemendiknas. DPR yaitu yang menggodok bentuk kebijakan tentang kuantitas dan kualitas guru itu patut diterapkan atau tidak. Kepala sekolah dan guru yaitu sebagai pihak atupun objek yang menjalankan kebijakan tersebut dan sekaligus sebagai fasilitator. Peserta didik yaitu sebagai subyek dari kebijakan tersebut. Orang tua ataupun masyarakat yaitu sebagai konsumen sekunder pendidikan dalam kebijakan ini.
3. Analisis SWOT
Kekuatan: Niat baik pemerintah
Dengan kebijakan tersebut maka kesejahteraan guru memadai, guru lebih kreatif, guru memiliki potensi atau profesionalitas yang baik. Serta dengan adanya uji kompetensi kemampuan guru lebih terukur. Pelaku pendidikan lebih kreatif,  dan jumlah guru yang makin banyak dapat teratasi.
Kelemahan
Kesejahteraan guru di indonesia belum memadai, Kualitas Sumber daya manusia masih rendah, Kurangnya sarana dan prasarana untuk menunjang kinerja guru, Kurangnya perhatian pemerintah terhadap jumlah guru yang makin banyak di indonesia.
Peluang
Untuk meningkatkan mutu pendidikan, peluang bagi guru yaitu dengan diadakannya pensiunan guru dan mengangkat guru-guru yang baru, agar dapat mengatasi kelebihan guru yang terjadi saat ini.
Tantangan
Pemerintah harus mampu mengatasi kelebihan guru yang terjadi saat ini,  mampu meningkatkan kualitas guru, menyediakan sarana dan prasarana yang memadai bagi peningkatan kualitas guru, Mampu mendirikan lembaga-lembaga pendidikan baru untuk mengatasi rasio guru yang makin banyak. 
DAFTAR PUSTAKA
http://taktiktek.blogdetik.com/2012/09/26/upaya-pemerintah-untuk-meningkatkan-kualitas-guru-di-indonesia/
Mulyasa.2008. Standar Kompetensi Dan Sertifikasi Guru.Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.
http://dkpmm.wordpress.com/2011/12/21/pengertian-guru-menurut-para-ahli/
http://www.slideshare.net/elyfitriyana/upaya-meningkatkan-kualitas-guru
Isjoni.2009. Guru Sebagai Motivator Perubahan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Chan,M.sam, dan Tuti T.sam. Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah. Jakarta:Raja Grafindo Persada.
Loading...
About Tohir 849 Articles
Kalo satu lidi bisa patah dengan mudah, tapi seratus lidi yang bersatu akan sangat susah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*