Artikel

Kultur In Vitro Anggrek

Kultur In Vitro Anggrek – Kegiatan kultur in vitro merupakan kelanjutan dari perbanyakan cara konvensional. Dengan teknik in vitro, perbanyakan generatif dan vegetatif dilakukan dengan cepat dan efisien. Terdapat beberapa car ape;alsanaan kultur in vitro, tergantung bahan tanam dan media yang digunakan. Bahan tanaman dipilih dari biji dan mata tunas. Buah atau biji hasil persilangan disemai dengan cara teknik kultur biji. Untuk mendapatkan persediaan bibit secara cepat dan missal, maka digunakan metode kultur mata tunas. Metode itu menghasilkan anggrek dengan pertumbuhan seragam dan mempunyai sifat genetic serupa induknya. Dengan menumbuhkan satu jaringan meristem saja berpotensi menghasilkan 4 juta calon bibit per tahun. Itu sama artinya dengan satu tahun lebih cepat dibandingkan perbanyakan bibit lewat biji (TRUBUS, 2005).

Menurut Hendaryono et.al. (1994), kegunaan utama dari kultur jaringan adalah untuk mendapatkan tanaman baru dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang relatif singkat, yang mempunyai sifat fisiologi dan morfologi sama persis dengan tanaman induknya. Dari teknik kultur jaringan ini juga diharapkan pula memperoleh tanaman baru yang bersifat unggul. Kultur in vitro dikelompokkan menjadi tiga yaitu meristem culture, organ culture, serta sel yang mempunyai tipe khusus.

KULTUR IN VITRO ANGGREK

Teknik kultur in vitro akan berhasil dengan baik apabila syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi. Syarat-syarat tersebut meliputi pemilihan eksplan sebagai bahan dasar untuk pembentukan kalus, penggunaan medium yang cocok, keadaan yang aseptik dan pengaturan udara yang baik terutama untuk kultur cair. Meskipun pada prinsipnya semua jenis sel dapat ditumbuhkan, tetapi sebaiknya dipilih bagian tanaman yang masih muda dan mudah tumbuh yaitu bagian meristem, seperti : daun muda, ujung akar, ujung batang, keeping biji dan sebagainya. Bila menggunakan bagian embrio bagian biji-biji yang lain sebagai eksplan, yang perlu diperhatikan adalah kemasakan embrio, waktu imbibisi, temperature, dan dormansi (Abdullah, 2009).

Menurut Sagawa (1976) beberapa keuntungan dapat diperoleh dengan menggunakan kultur in vitro tersebut antara lain merupakan perbanyakan yang cepat dan efisien, mempermudah seleksi mutan, menghindari sterilisasi yang menghambat program hibridisasi, menghasilhan tanaman bebas pathogen dan sebagai pelestarian plasma nutfah.

Dalam penerapannya, bahan yang digunakan sebagai eksplan adalah :

1. Generatif (biji) dikenal dengan seed culture. (kultur biji)

2. Vegetatif (jaringan) dikenal dengan tissue culture.

Perbanyakan generatif dilakukan dengan cara menyemai biji anggrek yang dihasilkan dari penyerbukan. Anggrek membutuhkan waktu 4-6 bulan untuk mematangkan buah secara sempurna. Buah anggrek yang sudah matang berwarna hijau kekuningan. Media yang dapat digunakan untuk menanam biji anggrek adalah knudson C (AgroMedia, 2006).

 1. Kultur Biji (Seed Culture)
a. Biji anggrek distrerilisasi terlebih dahulu dengan cara biji dimasukkan kedalam larutan HgCl 0.1% dan digojlok selama 10 menit, lalu larutan dibuang dan diganti dengan Alkohol 70% dan digojlok selama 5 menit. Lalu biji dibilas dengan menggunakan aquades selama 5 menit dengan pengulangan sebanyak tiga kali. Semua kegiatan sterilisasi dilakukan didalam Laminar Air Flow cabinet.
b. Memotong biji anggrek yang sudah steril dibelah menjadi dua secara membujur dengan menggunakan scalpel steril.
c. Mengambil biji anggrek dengan menggunakan pinset steril, kemudian diletakkan pada permukaan media secara hati-hati.
d. Menutup kembali botol yang telah ditaburi biji-biji anggrek dan diletakkan dalam rak inkubasi dengan mengatur suhu ruangan serta pencahayaan yang dapat merangsang perkecambahan biji anggrek.
e. Diamati selama 2 minggu lalu hasilnya dicatat.
2. Kultur Jaringan (Tissue Culture)
a. Planlet yang berisi anggrek jenis Phaleonopsis diambil satu bibit dengan menggunakan pinset steril lalu ditaruh di cawan petri yang telah dialasi kertas steril.
b. Bibit dipotong bagian akar, batang dan daun dengan menggunakan scalpel steril.
c. Jaringan yang telah dipotong lalu ditanam kedalam botol yang berisi media tanam dengan menggunakan pinset.
d. Botol ditutup lalu ditaruh di rak inkubasi. Diamati selama 2 minggu dan dicatat hasilnya.
3. Subkultur
a. Planlet yang berisi bibit Onchidium diambil satu pohon dengan menggunakan pinset.
b. Bibit kemudian ditanam kedalam media baru lalu botol ditutup dan ditaruh di rak inkubasi dan diamati selama 2 minggu dan dicatat hasilnya.
Menurut Daisy et.al. (1994), teknik kultur jaringan akan berhasil dengan baik apabila syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi. Syarat-syarat tersebut meliputi pemilihan eksplan sebagai bahan dasar untuk pembentukkan kalus, penggunaan medium yang cocok, keadaan yang aseptik dan pengaturan udara yang baik terutama untuk kultur cair. Meskipun pada prinsipnya semua jenis sel dapat ditumbuhkan, tetapi sebaiknya dipilih bagian tanaman yang masih muda dan mudah tumbuh yaitu bagian meristem, seperti daun muda, ujung akar, ujung batang, keeping biji dan sebagainya. Bila menggunakan embrio bagian biji-biji yang lain sebagai eksplan, yang perlu diperhatikan adalah kemasakan embrio, waktu imbibisi, temperatur dan dormansi.
Kultur jaringan lebih cepat menghasilkan anakan yang banyak dalam waktu yang singkat sedangkan pada kultur biji lama. Hal ini disebabkan karena biji anggrek tidak memiliki cadangan makanan oleh karena itu untuk mengalami perkecambahan dibutuhkan waktu yang lama. Sedangkan subkultur dilakukan untuk menjaga tanaman agar tetap hidup dan menjaga agar makanan yang dibutuhkan oleh tanaman tetap ada.
Saat sterilisasi biji anggrek digunakan larutan HgCl 0.1% yang berfungsi sebagai pembunuh mikroba yang terdapat pada kulit buah, lalu dimasukkan kedalam alkohol 70% selama 5 menit sebanyak tiga kali, larutan ini berfungsi sebagai penghilang larutan HgCl yang melekat pada kulit buah. Sedangkan aquades berfungsi sebagai pembilas yaitu menghilangkan alkohol yang menempel.
Abdullah, Tegar. 2009. Pengertian Kultur Jaringan. Diakses tanggal 30 Mei 2010.
AgroMedia. 2006. Agar Tanaman Hias Tampil Cantik. AgroMedia Pustaka. Depok.

Daisy, P et.al., 1994. Teknik Kultur Jaringan. Kanisius. Yogyakarta.

Hendaryono, Ir. Daisy P. Sriyanti dan Ir. Ari Wijayani. 1994. Teknik Kultur Jaringan : Pengenalan dan Petunjuk Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif-Modern. Kanisius. Yogyakarta.

Sagawa, Y. 1976. Potential of in vitro culture technigues for improvement of holtikultural. 6:61-66.

TRUBUS. 2005. Anggrek Dendrobium. Redaksi Trubus. Depok.

One Comment

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !