Berita, Inspirasi

Lunturnya Jiwa Nasionalisme Dan Menghilangnya Makanan Organik

Bro, post pertama nih di bulan Agustus…. bingung mau posting apa, eh, mondar mandir akhirnya nemu juga ide. Dari rasa jenuh dengan kondisi perpolitikan Indonesia, saya jadi ingin menulis tentang alam. Khususnya alam Indonesia yang Indah Ini sob.

Itung itung, sebentar lagi kan kita merayakan 17 Agustus, Jadi mari kita flash back sejenak. Setidaknya meningkatkan rasa nasionalisme kita broo..

BEGINI !!

Pernah dengar dengan lagu, Bukan lautan hanya kolam susu, air dan garam cukup menghidupi mu, tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu.

Haha, . saya sangsi pemuda sekarang tahu lagu tersebut, bukan apa-apa, kalau sekarang kan lagu-lagu keypop atau lagu barat-barat gituu. Nah, kalau saya beda, saya yang lahir di era delapan puluhan jadi hapal sekali dengan lagu-lagu bertema nasionalisme. Dulu tuhh, di sekolah masih ada yang namanya pelajaran PMP, atau yang sekarang disebut Pendidikan Kewarganegaraan.

Lunturnya Jiwa Nasionalisme Dan Menghilangnya Makanan Organik

Nah bro, dalam pendidikan kewarganegaran itu kita diajarkan untuk mencintai Negeri Indonesia. Yah, caranya dengan menyanyikan lagu-lagu khas Indonesia, menghapalkan Nama-nama pahlawan gitu lah..hehe

Waduh, ko isi artikel tidak sesuai judul bro,? judul apa isi kemana. Tenang bro…Paragraf-paragraf di atas hanya sebagai prolog saja, Yang mana saya ingin menggambarkan betapa orang-orang dulu itu sangat Nasionalis, bahkan para pahlawan bersedia mati Demi Indonesia.

Untuk menghubungkan antara makanan dan rasa nasionalisme, maka saya ambil dari sudut pandang yang sedikit saya paksakan..haha, Lunturnya Jiwa Nasionalisme Seiring Hilangnya Makanan Organik. Iya kan, judulnya agak di paksakan. Tapi anggap saja berhubungan, kalau tetap tidak logis, ya dinikmati saja.

Begini Ceritanya !

Waktu saya kecil, setiap hari ibu saya memasak padi yang di panen dari sawah. Saya masih sangat ingat, panen kedua pasti selalu di bulan Agustus. Setelah panen selesai, lahan bekas panen selalu di gunakan untuk bermain layang-layang. Nah loh, layang-layang bro,  jadi inget masa kecil kan ? Pasti ada yang suka layang-layang waktu keci kanl?

Layang layang kami buat sendiri dari bambu, kemudian di lambari dengan kertas lambar yang seharga 2000 rupiah. Kami menggunakan lem organik dari sagu untuk merekatkanya. Kalau sekarang yah, layang-layang plastik, dengan lem sintetik, tidak perlu membuat cukup membeli di toko-toko..akhh, bermain layangan sekarang tidak seasik dulu bro…

Organik, yah sebenarnya ini adalah kata yang ingin saya ungkapkan dan patrikan di dalam artikel ini. Dulu saya memakan nasi dari beras, tidak tahu apa pupuk yang di pakai, tidak tahu apa obat hama yang di pakai. Karena dulu semua masih mengandalkan alam untuk mempermudah kehidupan. Dan sekarang saya baru sadar bahwa ternyata makanan yang dulu saya makan pasti selalu makanan organik, Beras Organik dan sayur-sayur organik.

Seiring kemajuan jaman, pupuk dan obat untuk memanipulasi pertanian pun ditemukan oleh para ahli. Tujuanya memang mulia, untuk memperbanyak produk atau hasil yang didapatkan. Namun, ternyata banyak yang melupakan tentang kesehatan dan kemurnian alam itu sendiri. Mungkin inilah dampak dunia yang semakin komersial. Bukan lagi kesehatan yang dipentingkan, namun keuntungan dan uang adalah prioritas utama.

Dulu saya sangat jarang mendengar, ada orang yang terkena kangker, serangan jantung atau penyakit-penyakin aneh lain. tapi kini penyakit-penyakit tersebut sudah terbiasa kita jumpai dan dengar. Haduh, apa karena dulu akses informasi yang masih minim yah? Sehingga tidak banyak mendengar kejadian-kejadian selain di lingkup rumah. Haha, tapi serius bro, kini banyak tetanggaku juga terkena penyakit-penyakit aneh yang dulu belum pernah saya dengar. Apakah ini akibat makanan yang kita konsumsi sekarang yah…haha, entahlah.

Eh, ternyata kawan,! setelah saya amati benar-benar. Hilangnya makanan-makanan organik berbanding lurus dengan hilangnya rasa Nasionalisme penduduknya, serta sebanding juga dengan penurunan kualitas kehidupan warganya.

Sekarang, kita jarang menjumpai hegemoni menyambut Hari kemerdekaan sedasyat dulu. Individualis kini mendominasi. Hah, beruntung rasanya saya masih bisa merasakan momentum seperti dahulu. Kasihan rasanya anak-anak ku kelak, karena tidak pernah merasakan kebahagiaan sewaktu di jaman saya kecil..hehe

Sekian, Semoga artikel ini bermanfaat. Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia..MERDEKA !!

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !