Maaf, Ini Karena Kamu Cintaku

Maaf, Ini Karena Kamu Cintaku

Hari itu ahad, hari libur,

saat dimana sebagian orang enggan beranjak, me-ngelantur.

Dia -si bocah- akan bertemu gadis yang selama ini menjadi teman hatinya.

Seorang penghibur dari segala kesepian besarnya.

Pemurah hati diantara kepungan perempuan-perempuan pemurah harga diri.

Maaf, Ini Karena Kamu Cintaku
I’ll let you go

“Aku sudah sampai” pesan yang
ditulis bocah pada si gadis

“Pertemuan biasanya telat,
sekarang setengah jam lebih awal, aku segera kesitu” jawab si gadis

20 menit kemudian si gadis
datang dengan bawaan khas perempuan(ku), dua bungkus kacang asin dan satu botol
teh manis.

Obrolan itu lebih berisik dari
kicauan burung emprit penghuni pribumi taman itu. Dari negara sampai miskin,
dari presiden sampai boneka, dari pencitraan sampai keberhasilan, dari bangsa
sampai hal lucu. Dalam satu jam, semuanya dibahas, diterabas, mereka adalah
pendebat paling mesra.

“I love you” bunyi bibir si
gadis saat tiba-tiba obrolan mereka terhenti

“kata –love you too- terlalu
kecil untuk mewakili rasa ini” kata si bocah menyahut

“saat ini, apakah kita akan
membuka pembahasan kita yang selalu kita tunda untuk diselesaikan?” lanjut si
bocah

“Aku mau mendengar tentang
ceritamu kemarin, tentang pembahasan berbeda, dari ratusan pembicaraan manis
kita, dari segala obrolan kita yang manisnya sama.”

“Aku tak mau membahas apapun”
ketus gadis yang tetap kelihatan manis yang sudah tahu maksud si bocah

“Yang tersirat itu lebih murni
dan tajam ketimbang yang tersurat” sambut si bocah dengan bahasa khasnya

“Ceritamu tentang usiamu,
tentang orang tuamu, tentang dia, menjadi alasan besar mengapa kita harus
membahas sesuatu” lanjut si bocah lagi

“Jangan bicarakan tentang itu
sekarang, aku sedang tak ingin membahasnya” bentak si gadis yang memang masih
tetap saja manis

“Aku akan tetap bicara. Aku…”
ucap si bocah langsung dipotong oleh si gadis

“Diam!” teriak gadis memuncaki
emosional khas seorang perempuan

Keduanya hening sejenak, bagi
si bocah itu adalah pembuktian saat dimana sekuat-kuatnya laki-laki tetap akan
kalah dari perempuan. Tapi bagi si bocah, laki-laki selalu punya cara untuk
membuat takluk perempuan, itu dengan menatap matanya dalam-dalam.

“Sekarang dengar, aku adalah
sampah, kayuhku terlalu kecil untuk membawa beban itu. Aku belum cukup kuat
melawan sang bayu dan badai samudera di depan kita. Naiklah ke perahu yang
lebih besar, perahu yang besar.” Ucap lembut diikuti mata si bocah yang mulai
berkaca

Dibalas juga oleh mata si
gadis yang sebenarnya sedari awal sudah menahan tangis

“Dia yang akan bisa membawamu
sampai dipelabuhan, aku tak begitu tega melihat matamu melihat petir yang bisa
saja menghancurkan perahu kecilku. Atau hatimu yang demikian lembut akan terguncang
dari hempasan ombak samudera ini”.

Mata yang dulu berbinar, kini berubah
menjadi hati yang menangis kencang. Segelas es teh manis dengan dua sedotan
menjadi saksi dari kenyataan yang tak lagi manis. Mereka bukan lagi satu dari
suatu pengharapan yang sebelumnya menjadi bayangan.

Ciuman tangan si gadis kepada
si bocah menjadi ritual sakral terakhir. Dan puncak dari segala kesedihan dari
keduanya dirangkum berbalas senyum manis keduanya. Semanis cerita mereka, yang
kini sudah menjadi dahulu.

“Maaf, ini karena kamu cintaku”
batin si bocah

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !