Manusia atau Manusiawi

Manusia atau Manusiawi – Di dunia  ini tak ada manusia baik, baiknya manusia hanya karena ada sesuatu, memberi dengan mengharap menerima lebih, beribadah hanya sekedar mengharap pahala. Okeh tak usah berbicara terlalu jauh dulu malah nanti bingung, iya sih kita sebenarnya juga manusia-manusia bingung yang sering berlagak sok tahu. Sok tahu ini, itu. Tanpa ingin tahu keadaan orang lain. Singkat cerita ingginya dimengerti tanpa mau mengerti orang lain, mau mengerti saja tak sudi apa lagi memberi.

Ya manusia sekarang memang seperti itu, jauh dari kata manusia itu sendiri, atau memang kita senang berlindung dengan kata manusiawi. “Ahh itu kan manusiawi” dasar pembelaan. Tulisan ini juga manusiawi loh ya jadi jangan serius-serius amat. Okeh kembali ke pembahasan awal, manusia menurut Erben Sentanu adalah mahluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa dibilang manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lain. Busyet mulia banget ya manusia.
Manusia atau Manusiawi
Segerombolan Manusia

Tapi entah mengapa manusia diatara kita kok kurang peka ya, pekanya kok Cuma masalah rangsang. Liat rok kebuka dikit, mata keluar deh. Huhu.. Beda sedikit, kafir, sesat, neraka. Mana coba sisa-sisa pelajaran PPKN dulu yang mengajarkan tentang toleransi “Bhineka Tunggal Ika” apa pada nda sekolah kali ya? Weleh-weleh, kepekaan sosial juga hilang sob, teman  sedang dirundung masalah ketawa, menjauh, menghilang bahkan lenyap. Giliran bahagia aja datang tuh berbondong-bondong. Eciehhhh teman apaan tuh.

Baca : Fatwa Hijab Halal MUI.

Dunai ini hanya soal uang, uang dan uang setelah itu sex, aduh apa aku harus ikut pola seperti ini? Kerja taget, nulis target, ibadah target, nda tahu sih kayanya hidup kok kaya gini banget ya. apa karena sistem kali ya, apa ini sudah menjadi konspirasi Y@hudi. Wkwkwk. Jadi manusia itu diciptakan menjadi robot. Robot perusahaan, robot untuk pacar, bahkan robot untuk teman. Haha

Hallo kita tak harus sama, kita punya peran masing-masing kalau juga belum punya peran ya kita jangan mendikte hidup orang toh, apa lagi sampai ngomong kaya gini. “Kaya gitu aja nda bisa. B0do banget sih loe”. Mengutip dari pernyataan Gus Mus “Kita hanya manusia-manusia kecil di atas luasnya semesta alangkah lucunya ketika kita takabur”. Jangan takabur ya gaes nanti kita kabur (terbawa angin). Lalu lenyap musnah.

Begini kira-kira macam-macam manusia berdasarkan versiku

 1. Manusia tenang

 Manusia yang dalam kondisi apapun masih bisa tenang, tenangnya berpikir mendalam. Manusia seperti ini sudah dalam pemahaman hidup yang tinggi. Karena proses benturan cobaan dan pengalaman yang tidak biasa, seperti orang pada umumnya.

2. Manusia lucu

Manusia yang satu ini memandang segala sesuatu itu tidak pada umumnya, simpel dan apa adanya, senang tesenyum bahkan ketika tidak ada orang. Eh busyet.. Memandang hidup hanya sebagai lelucon, tak perlu serius-serius banget menjalankan hidup. Toh awal penciptaan manusia sudah sangat serius.

 3. Manusia Serius

Ciri-ciri manusia ini biasanya berkaca mata, pintar, putih, ulet, berambut lurus. Kok ciri-cirinya mirip salah-satu Admin di blog ini sih. Haha piss broo, lupakan ciri-ciri tadi, manusia ini memandang sesuatu dengan penuh optimis, juga senang ilmu pasti, pokoknya dua tambah dua ya empat. Titik tanpa bisa dibicarakan lagi.

4. Manusia Alay

Manusia yang satu ini yang paling membuat saya iri, bagaimana tidak. Manusia dalam kategori ini seakan menjadi manusia yang paling merdeka, kemerdekaanya bahkan mengalahkan rakyat Indonesia. haha. Coba saja manusia yang satu ini ketika makan bersama teman-temannya dan kebetulan menu makanannya agak lumayan, langsung deh mereka keluarkan handphone mereka langsung foto-foto selfi langsung update status bertuliskan. “Menu makan malam kali ini istimewa” atau apalah yang mewakili mereka pada saat itu. Coba kalau saya update status seperti itu, pasti langsung saya di bully oleh teman-teman. Idih kamu alay banget sih? inget umur. Jlep.

Kira-kira seperti ini gambaran manusia, nda tau juga sih ya soalnya agama juga mengajarakan iming-iming. Ya sudah lah pokoknya kita hidup berusaha jadi yang terbaik bagi diri sendiri, keluarga, agama, bangsa, bumi, langit dan seluruh isinya. Tak juga harus mudah menyalahkan orang lain, sesungguhnya tingkat interaksi sosial tertinggi adalah “Memaklumi” mari belajar memaklumi, mari belajar mendamaikan, mari belajar seni keindahan dalam dunia yang mulai tak bercorak ini. Mudah-mudahan ada manfaat kalau pun tidak toh ini hanya lelucon dikala malam. Dan semoga Gusti Allah meridoi. Amiin

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !