Masa Lalu, Masa Depan, dan Masa Kini

Masa Lalu, Masa Depan, dan Masa Kini –  “Karena orang tidak hidup di masa lalu ataupun masa depan. Aku hanya tertarik pada masa kini. Bila kau dapat selalu konsentrasi pada masa kini, ka uakan menjadi orang yang bahagia”, begitu kata Paulo Coelho dalam novelnya The Alchemist yang menjadi International Bestseller. Dalam buku tersebutdiceritakan seo rang bocah yang akhirnya menemukan harta karun yang selama ini dia impikan. Tidak mudah untuk menemukannya, butuh waktu panjang dan perjuangan yang berliku-liku, hingga pengorbanan dari sebuah kenyamanan dan godaan pencapaian yang hampir saja melupakan bocah itu akan mimpi besarnya. Sebuah novel yang menjadi favorit berjuta orang, termasuk saya.

Masa Lalu, Masa Depan, dan Masa Kini
Masa Lalu, Masa Depan, dan Masa Kini

Memori masa lalu

Dua tahun yang lalu Anda diberi hadiah oleh teman anda. Lima tahun yang lalu anda mengalami kecelakaan membuat tangan dan kaki anda patah. Pertanyaannya adalah, mana yang lebih anda ingat?

Ini pendapat subjektif, saya juga pernah mengalami dua hal yang hampir serupa dengan ilustrasi diatas. Sampai sekarang saya akan lebih memberi kesan lebih terhadap kejadian yang nomor dua. Sampai sekarang saya jadi lebih takut untuk mengendarai motor dengan cepat. Itulah dampak.

Kita, saat ini, adalah akibat dari kita dimasa lalu. Bertubuh gemuk adalah akibat dari makan yang banyak dimasa lalu, kita terpeleset dan jatuh adalah akibat dari kita tak berhati dari jalan yang licin (1 detik juga masa lalu)

Bukan hanya tindakan, perilaku, kita di masa lalu juga termasuk pikiran. Kita adalah pikiran kita di masa lalu (walaupun tindakan ikut mempengaruhi). “Diri kita adalah akibat dari apa yang sudah kita pikirkan” (Budha 563-483 SM)

Bayang-bayang masa depan

Seorangpun tidak ada yang bisa memastikan kejadian masa depan. Memprediksi bisa, tapi memastikan tidak. Masa depan itu seperti setan, pasti ada tapi tak bisa dilihat. Mengapa Tuhan membutakan kita dari masa depan layaknya setan? Karena akan sangat mengerikan bila itu terjadi. Bayangkan bila itu bisa dilihat, kita akan menyaksikan saat kita mati, kita kan menyaksikan saat diri kita jatuh, bangkrut, ditinggalkan seseorang, dikhianati, dipecat. Mungkin kita akan bunuh diri duluan.

Dari ketidakpastian yang diberikan Tuhan (walaupun ditangan Tuhan semuanya pasti dan sudah selesai) tersebutlah muncul perasaan khawatir, sebuah rasa manusiawi yang memang Tuhan berikan pula.

Khawatir tidak dapat kerja, khawatir miskin, khawatir tidak dapat jodoh, khawatir dan khawatir-khawatir banyak lagi. Apakah tidak boleh? Jawabannya adalah sebuah pertanyaan juga, “apakah kita bisa untuk tidak khawatir?”.

Semua orang “dikutuk” punya rasa khawatir, bohong kalau para ustad, motivator, atau pastor melarang kita untuk tak kahawatir, menghilangkan khawatir. Bohong! Kita tak bisa untuk khawatir, tapi, kita bisa meminimalisir dan mempersingkat rasa kahawatir tersebut.

Rasa khawatir jangan dipelihara, segenap rasa yang akan kita pelihara dalam pikiran lalu akan dipantulkan ke semesta kemudian akan mewujud. “Segala sesuatu yang datang ke dalam hidup Anda ditarik oleh Anda ke dalam hidup Anda. Dan segalasesuatu itu tertarik oleh citra-citra yang anda pelihara dalam benak. Oleh apa yang Anda pikirkan. Apapun yang berlangsung dalam benak, Anda menariknya ke  diri Anda.” (Prentice Mulford “The Secret”)

Bagaimana untuk “Masa Kini”?

Yang dapat saya katakan (terutama kepada jiwa sendiri) adalah baca paragraf pertama dalam tulisan ini dan simpan dalam jadikan teori kehidupan, kesimpulannya tentu kita sendiri yang akan menentukan, benar atau tidak.

Dan saya juga ingat, bahwa Allah berkata, “Aku mengabulkan permintaan orang yang berdo’a jika ia berdoa kepada-Ku”

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !