Mekanisme Osmoregulasi

Osmoregulasi – adalah mekanisme pengaturan air dan ion dalam tubuh atau sejumlah mekanisme yang dilakukan untuk mengatasi problem osmotik dan mengtur perbedaan diantara intra sel dan ekstra sel dan diantara ekstrasel dengan lingkungan secara kolektif disebut Mekanisme Osmoregulasi. Kapasitas osmoregulasi adalah rasio antara nilai osmolalitas plasma dengan nilai nilai osmolalitas media. Bila nilai kapasitas osmoregulasi mendekati dua maka ikan dikelompokkan dalam kondisi hiperosmotik bila nilai kapasitas osmoregulasi berkisar satu maka ikan dikatakan isoosmotik dan bila nilai kapasitas osmoregulasi dibawah satu maka ikan dikatakan dalam kondisi hipoosmotik (Evans, 1998).

Berdasarkan hasil praktikum menunjukkan bahwa pada perlakuan terhadap ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan salinitas 0 ppt diperoleh nilai osmolaritas media sebesar 143 mmol/kg dan nilai osmolaritas plasma darahnya sebesar 289 mmol/kg, sedangkan pada salinitas 5 ppt didapatkan nilai osmolaritas media sebesar 273 mmol/kg dan nilai osmolaritas plasma darah sebesar 249 mmol/kg. Pada perlakuan 10 ppt didapatkan osmolaritas media sebesar 311 mmol/kg dan osmolaritas plasma darah 417  mmol/kg. Pada perlakuan 15 ppt didapatkan osmolaritas media sebesar 341 mmol/kg dan osmolaritas plasma darah 259 mmol/kg. Pada salinitas 20 ppt hanya memiliki nilai osmolalitas media yaitu 494 mmol/kg, dikarenakan plasma darah ikan yang diperoleh sedikit. Pada sanilitas 25 ppt diperoleh nilai osmolaritas media sebesar  679 mmol/kg dan memiliki nilai osmolalitas plasmanya dengan nilai 580 mmol/kg.

Hasil percobaan praktikum sesuai dengan pernyataan Kay (1998), bahwa salinitas berbanding lurus dengan osmolalitas baik media maupun plasma darah, ikan air tawar memiliki ketepatan nilai osmolalitas darah antara 200-300 mmol/kg, sedangkan osmolalitas media air tawar kurang dari 50 mmol/kg dalam keadaan kontrol. Pada salinitas lebih besar dari 12 ppt ikan air tawar berperilaku seperti ikan air laut sehingga ikan air tawar bersifat osmoregulator. Besarnya osmolaritas pada plasma darah lebih besar jika dibandingkan dengan besarnya osmolaritas pada media. Menurut Hickman (1972), hewan-hewan air tawar harus menyimpan kadar garam pada cairan tubuhnya lebih tinggi daripada yang terdapat dalam air (media). Oleh karena itu, air akan masuk ke dalam tubuh secara osmosis dan garam keluar secara difusi.

Sintasan merupakan kemampuan ikan untuk mempertahankan hidupnya. Nilai sintasan yaitu presentase dari perbandingan antara jumlah hewan uji yang hidup pada waktu sampling, dengan jumlah hewan uji yang ditebar pada awal penelitian dengan persamaan sebagai berikut :

                        SR = S ikan yang hidup ( ekor ) /S ikan yang ditebar ( ekor )   X100 %

Ikan Nilem kurang tahan terhadap perubahan salinitas lingkungan yang tajam. Ikan Nilem termasuk golongan osmoregulator yaitu hewan yang memiliki tekanan osmosis di dalam tubuhnya tetap konstan walaupun terjadi perubahan pada lingkungan eksternalnya. Mekanisme osmoregulasi salah satunya dipengaruhi oleh sintasan atau kelangsungan hidup. Hal tersebut terbukti dengan angka mortalitas 100% pada perlakuan direct dengan salinitas 25 ppt. Sedangkan, kapasitas osmoregulasi ikan Nilem sebesar 0,88. Angka tersebut menunjukkan ikan Nilem bersifat hipoosmotik karena 0,88<1 (Ville et al., 1988)  ikan Nila termasuk organisme stenohalin, artinya ikan Nilem ini mampu mentolerir perubahan salinitas lingkungan dalam rentang yang relatif sempit atau terbatas. Menurut (Feng et al., 2001) Ikan Nila air tawar mampu mengaklimasi terhadap kondisi air laut setelah dipindahkan ke air tawar. Aktifitas creatin kinase otak dan kadar CK meningkat dalam satu dan setengah jam setelah dipindahkan.

 Berdasarkan data praktikum bahwa dengan sanilitas 25 ppt direc ikan yang hidup hanya 1 dengan nilai persentase sintasannya 10% sedangkan pada sanilitas 25 ppt indirec ikan yang masih hidup ada 3 ekor sehingga mempunyai sintasan sebesar 30%. Hubungan antara sintasan dan salinitas terhadap kelangsungan hidup ikan dapat terlihat pada data rombongan dimana sebagian besar ikan mati pada salinitas 25 ppt. Hal tersebut sesuai dengan referensi yang menyatakan bahwa pada umumnya ikan asli
air tawar hanya mampu beradaptasi terhadap salinitas sampai 9,75 ppt dan ada batas tertentu pertumbuhannya menurun dan pada salinitas 15 ppt akan mati. Kematian ikan setelah melewati batas salinitasnya dapat disebabkan oleh gagalnya mekanisme pengaturan yang akhirnya menyebabkan perubahan konsentrasi internal yang berakibat fatal, gangguan fungsi respirasi insang sehingga menyebabkan asphyxia (gangguan nafas) yang fatal dan kegagalan jantung sehingga ikan tidak dapat melakukan fungsi metabolisme dengan baik (Goenarso, 1989). Kay (1998) menyatakan bahwa ikan nila pada salinitas 0-5 ppt dapat bertahan hidup karena mampu melaksanakan mekanisme yang salah satunya yaitu mekanisme adapatasi air tawar dengan membuang urine yang bersifat hipotonis terhadap cairan tubuh. Air yang berlebihan dibuang dalam bentuk urine yang encer.

 Mekanisme
osmoregulasi ikan air tawar yaitu dengan mempertahankan keseimbangan osmotik dalam lingkungan yang hipertonik dengan mengaktifkan absorbsi garam melewati insang dan memompa air keluar ginjal, membuangnya melalui urine dan mengganti hilangnya air dengan difusi (Hickman, 1972). Kemampuan hewan dalam melakukan osmoregulasi dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan yaitu osmokonformer, yaitu hewan yang konsentrasi osmotiknya berubah-ubah sesuai dengan konsentrasi lingkungan eksternalnya dan osmoregulator, yaitu hewan yang konsentrasi osmotic cairan tubuhnya tidak berubah atau konstan meskipun hewan tersebut berada dalam lingkungan eksternal yang konsentrasinya berubah-ubah (Kay ,1998). Menurut Kurniawan (1988), salinitas sangat berhubungan erat dengan osmoregulasi hewan air dimana jika salinitas tidak stabil (naik turun) secara mendadak dalam kisaran yang besar maka akan menyulitkan hewan dalam mengatur osmoregulasi tubuhnya dan akan dapat menyebabkan kematian. Semakin besar salinitas maka tingkat kemolalitasannya akan semakin kecil. Sedangkan semakin lama waktu pendedahan maka tingkat kemolalitasannya juga semakin kecil.

Mekanisme osmoregulasi ikan air tawar (nila) dapat dijelaskan sebagai berikut: mula-mula ikan air tawar akan mengalami dehidrasi, kemudian ikan tersebut akan mengatasinya dengan sedikit meminum air dan mengeluarkan banyak urine yang bersifat encer. Hal ini perlu dilakukan unuk menjaga agar konsentrasi osmotik di dalam tubuh tetap stabil. Menurut Kimball (1991), ikan air tawar yang selalu menderita kemasukan air secara terus menerus dari lingkungannya yang hipertonik memiliki sisik-sisik yang tidak tertembus oleh air, akan tetapi membran insang akan memberikan kemudahan bagi masuknya air ke dalalm tubuh. Hickman (1972) menambahkan bahwa ikan air tawar mempertahankan keseimbangan osmotik dan ionik di lingkungan lemah dengan pengaktifan absorpsi garam melewati insang dan memompa air melalui ginjal. Selain itu, ikan air tawar mendapat sejumlah garam dari makanan yang merupakan cara utama menambah dan memelihara konsentrasi garam cairan tubuh. Derajat toleransi tergantung pada lamanya hewan tersebut dan lingkungan itu. Ketahanan ikan air tawar selain dipengaruhi oleh faktor tersebut juga dipengaruhi oleh faktor suhu tubuh dan kondisi lingkungan

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

  1. Ikan nila (Oreochromis niloticus)termasuk golongan hewan osmoregulator.
  2. Semakin besar salinitas maka tingkatkemolalitasannya semakin kecil dan semakin lama waktu pendedahan maka tingkatkemolalitasannya juga semakin kecil

DAFTAR REFERENSI

Evans,D.H.1998.The
Physiology of Fishes Second Edition.CRC Press.New York Goenarso.1989. Fisiologi Hewan. Pusat Antar Universitas Bidang Ilmu Hayati. ITB, Bandung

Hickman, C. F. 1972. Biology of Animals. The CV Mosby Co. Saint Louis, Canada

Kurniawan, D. 1988. Pengaruh Pemberian Ammonicidin Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Udang Windu. Skripsi Fakultas Biologi UNSOED, Purwokerto

 Kimball, J. W. 1991. Biologi. Erlangga, Jakarta.

Ville, C. A, W. F. Walker and R. D. Barnes. 1988. General Zoology. W. B. Sunders
Company, London.

Weng.F.Chiang C.Chang. Gong.H.Y.Chen.C.H.2002. Bioenergetic of Adaptation to Salinity Transition in Euryhaline Teleost (Oreochromis mossambicus Brain. Institute ofBiotechnology, National Dong Hwa University.Taiwan (Journal).

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !