Membuat Stup Lebah Madu Lokal Khas Indonesia

Membuat Stup Lebah Madu Lokal Khas Indonesia – Lebah madu adalah salah satu jenis dari 20.000 spesies lebah yang terdapat hampir di seluruh belahan dunia kecuali di antartika, yang seluruhnya termasuk kedalam genus Apis. Lebah dikenal sebagai serangga yang sering membentuk koloni, walaupun sebenarnya ada pula yang hidup secara soliter atau sendiri. Mekanisme hidup lebah sangat disiplin dan penuh perhitungan.

Sejak zaman purba manusia berburu sarang lebah untuk diambil madunya. Lebah biasanya membuat sarang di atas bukit, goa-goa, lubang pohon kayu, dan juga pada atap rumah. Sarangnya dibangun dari malam yang terdapat dalam badannya. Lebah memakan nektar bunga dan serbuk sari. Lebah juga menghasilkan produk yang yang sangat dibutuhkan untuk dunia kesehatan yaitu royal jelly, pollen, malam (lilin) dan sebagainya. Selanjutnya manusia mulai membudidayakan dengan memakai gelodog kayu dan hingga pada saat ini lebih umum dengan menggunakan sistem stup .

Baca Juga : Syarat dan Kendala dalam ternak lebah

Kegiatan budidaya sangat penting yaitu menentukan lokasi dan pembuatan sarang. Sarang lebah madu ada dua jenis, pertama yang bersifat tradisional yaitu glodog dan kedua yang bersifat modern yaitu stup. Glodog terbuat dari batang kayu kelapa dan bentuk stup atau kotak lebah madu. Lebah madu yang dapat dibudidayakan dan diambil manfaatnya yaitu Apis melifera dan Apis cerana. Sarang lebah madu yang lebih efisien yaitu stup karena sangat mudah dalam pemanenan.

Usaha budidaya lebah madu lokal di Indonesia masih dipandang sebagai sampingan dari pekerjaan sehari-hari kebanyakan orang. Paradigma mengenai lebah merupakan hewan penyengat dan pengganggu harus secepatnya diubah menjadi konsepsi pemikiran baru. Lebah adalah hewan yang berpengaruh besar terhadap kelangsungan hidup manusia. Tumbuhan bergantung pada lebah dalam proses penyerbukan dan pembuahan, begitu pula dengan manusia yang memerlukan kehadiran lebah sebagai sumber makanan dan menyembuhkan berbagai penyakit.

Untuk mengetahui cara membuat stup yang sesuai dengan ukuran tubuh lebah madu lokal yang dibudidayakan peternak, mengetahui bagian-bagian pada stup, dan dapat membedakan kategori stup dingin dengan stup hangat.

Cara dan Peralatan yang di gunakan 

Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah stup lebah madu, mistar dan kamera digital. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sarang tradisional berupa glodog dan bahan pembuat stup modern.

Metode

  1. Seluruh bagian stup diperiksa, diukur bagian-bagian stup yang meliputi kotak stup, tutup atas, tutup bawah atau dasar stup, bingkai, dan penyangga stup.
  2. Ditentukan bagian-bagian stup mana yang harus tepat ukuran dan tidak boleh ditinggalkan keberadaannya.
  3. Ditentukan pula bagian stup mana yang dapat dimodifikasi sesuai dengan bahan yang tersedia di lokasi.
  4. Stup yang ada diamati, kemudian dibedakan antara stup dingin dan stup hangat
Membuat Stup Lebah Madu Lokal Khas Indonesia
Artikel : 
Lebah merupakan serangga sosial yang membentuk koloni dan menghasilkan madu yang sebenarnya dimanfaatkan sebagai cadangan makanan baginya. Tetapi manusia dapat memanfaatkannya sebagai saha budidaya yang sangat menguntungkan dan mempunyai nilai jual yang tinggi. Usaha budidaya ebah madu harus memperhatikan penentuan lokasi dan konstruksi sarangnya agar lebih efektif dan fisien. Penentuan lokasi dalam hal ini, suhu ideal yang cocok bagi lebah adalah sekitar 260 C – 34° C dengan kelembagaan 70-80 %, pada suhu ini lebah dapat beraktifitas normal. Suhu di atas 100C lebah masih beraktifitas. Lokasi yang disukai lebah adalah tempat terbuka, jauh dari keramaian dan banyak terdapat bunga sebagai pakannya.
Ada dua metode yang digunakan dalam model tempat atau sarang pada budidaya lebah madu, yaitu metode tradisional dan metode setup. Kegiatan usaha budidaya lebah madu yang bersifat tradisional terbuat dari batang kayu kelapa, contohnya adalah glodog. Glodog terbuat dari batang kelapa yang dibelah menjadi dua bagian. Bagian dalam dibuat rongga sehingga apabila kedua belahan tersebut dipasang akan terjadi batang pohon kelapa yang terdapat rongga. Belahan atas dari potongan tersebut merupakan tempat meletakkan sisiran sedangkan bagian bawah berfungsi sebagai tutup. Bentuk ini seperti sarang lebah di alam dan jika dibuka hanya bagian atas saja yang dilekati oleh sisiran.
Budidaya lebah secara modern menggunakan stup dari kayu yang berisi bingkai-bingkai sisiran. Cara ini memberikan keuntungan yang lebih baik karena mudah pengelolaannya. Pemanenan madu tidak akan merusak tempat sarang. Budidaya lebah madu secara modern ini dirintis Dr. L.L. Langstroth dari Amerika Serikat pada tahun 1851. Penciptaannya dimulai dengan memperhatikan lebah madu di alam dalam membuat sisiran sarang. Lebah madu membuat sarang yang terdiri dari sisir-sisir yang selalu dibangun sejajar antara satu dan lainnya. Jarak antardua-sisiran sarang itu selalu tetap, yaitu 1.0-1.2 cm atau 5/6 inci. Sisir itu dilengkapi dengan akomodasi bagi pertumbuhan, eraman, dan penyimpanan madu serta pollen. Langstroth menciptakan kandang lebah madu berbentuk peti dengan bingkai sarang di dalamnya yang dapat diangkat dan dipindahkan. Tipe kandang modern ini sampai sekarang terkenal dan dipakai di seluruh dunia dengan sebutan tipe L (Langstroth). Tipe L hanya memakai satu ruangan eraman, akan tetapi induk yang baik membutuhkan dua ruangan eraman. Di dalamnya dipasang sepuluh bingkai, dan ruang antardua-pusat bingkai berukuran 3.5 cm.
Pada tahun 1917 Dadants mencoba memakai kandang yang lebih besar, dan hanya ada satu ruangan eraman yang cukup luas. Di dalamnya dipasang sebelas bingkai yang sama panjang seperti tipe L, tetapi kedalamannya dibuat 5.4 cm dan ruang antardua pusat bingkai dibuat berukuran 3.5 cm. Alasan menggunakan ukuran yang lebih besar adalah untuk mengurangi naluri perpindahan pada lebah. Kandang ciptaan Dadants itu terkenal sebagai kandang tipe MD (Modified Dadants). Tipe ini termasuk yang banyak dipakai oleh peternak lebah.
Baik tipe L maupun tipe MD mempunyai bentuk serupa. Perbedaannya terletak pada ukurannya. Keuntungan stup modern adalah praktis dipakai, perawatan lebahnya mudah, pengambilan hasilnya gampang, produksi madu yang diperoleh berlipat ganda, serta gangguan hama dan penyakit lebah jarang. Sedemikian sempurnanya hasil rekayasa sarang lebah buatan itu sampai-sampai ratu lebah tidak bisa meninggalkan stup sarangnya.
Ternak lebah modern melibatkan penggunaan sarang modern seperti batang kayu, lumpur dan kayu olahan dibandingkan tipe tradisional yang menggunakan kulit kayu. Sarang lebah modern yang paling umum adalah kotak sisiran, ekstraktor madu, penekan madu, pengasapan, penyemprot air, tudung muka, sarung tangan.
Stup merupakan peti lebah yang terbuat dari bahan kayu yang tidak terlalu keras misalnya kayu kalba, sengon dan kayu kapok randu, berbentuk persegi panjang tetapi mempunyai atap yang dapat diangkat. Bagian-bagian stup meliputi :

Bagian-bagian tubuhnya atau kotaknya menurut dengan ukuran. Panjang kotak stup 35 cm dengan bagian dalamnya berukuran kira-kira 33 cm. Lebar kotak stup 30 cm dengan bagian dalamnya berukuran 27.8cm. Tinggi kotak stup 16.8 cm.

Tutup luar (bagian atas) terbuat dari kayu yang tebanya kira-kira 4.5cm yang ditutup dengan seng atau plastik. Berfungsi sebagai pelindung dari panas matahari dan hujan tubuh stup.
Tutup alas (bagian dasar) terbuat dari papan kayu dengan panjang 42 cm, lebar 32.2 cm. dbagian ketiga sisi diberi bingkai dan satu sisi tidak sebagai pintu masuk lebah.
Frame, bagian ini merupakan bagian isi tubuh stup dan berfungsi sebagai tempat perlekatan sisir lebah. Tedapat 10 frame dan masing-masing berukuran panjang atas 33 cm, tinggi 16 cm, lebar 1.9 cm, panjang bawah 32 cm penguat tengah berjarak 6 cm dari atas.
Tiang penopang, sebagai tempat berdirinya stup agar tidak mudah dijangkau oleh anak-anak. Tingginya kira-kira 75 cm.
Dasar landasan kotak berfungsi sebagai pintu keluar-masuk lebah. Kotak sarang peneluran berguna untuk memperbanyak jumlah anggota koloni lebah. Penyekat ratu berperan untuk mencegah lebah ratu berkeliaran ke luar sarang. Kotak sarang madu berfungsi khusus untuk memproduksi madu dan royal jelly. Penyekat kawat kassa diletakkan di antara kotak sarang khusus madu dan penutup stup. Fungsinya untuk memudahkan pengontrolan. Penutup stup sarang lebah dilapisi seng agar tidak basar terkena hujan. Frame terdiri dari frame untuk sarang peneluran, frame untuk madu, frame untuk royal jelly, frame untuk perbanyakan raut, dan frame untuk menyimpan sirup gula saat paceklik bunga.

Langkah-langkah pembuatan stup modern untuk lebah madu dapat ditempuh sebagai berikut.

  1. Mula-mula dibuat kotak dari papan setebal 2 cm dengan ukuran bagian dalamnya 34 cm x 18 cm x 7.5 cm. Bagian depan berukuran 18 cm x 7.5 cm. Di sisi bawahnya dibuat lubah berukuran 5 cm x 1 cm. lubang ini nantinya dipakai sebagai tempat keluar masuk lebah.
  2. Kotak penutup alas berukuran 40 cm x 24 cm. Alas tampak lebah menonjol daripada kotak diatasnya. Kalau pekerjaan ini selesai, berarti dasar kandang sudah siap.
  3. Kotak peneluran dibuat dengan ukuran bagian dalam 34 cm x 18 cm x 13 cm. Bagian luar sebelah kotak sebaiknya diberi bilah penghalang berkeliling. Lebar bilah penghalang 10 cm, ditempelkan pada kotak selebar 4 cm. sehingga tersisa 6 cm. Sisa lebihnya ini nantinya berfungsi sebagai penyambung antara kotak peneluran dan kotak dasar supaya tidak bergeser ke kiri atau ke kanan, tetapi mudah diangkat atau dilepaskan kalau diperlukan.
  4. Di bagian dalam kotak peneluran pada sisi bidang yang berkurukan 18 cm dipasang bilah dengan tebal 1.5 cm dan lebar 2 cm. Pemasangan dilakukan 3 cm di bawah bagian atas kotak. Bilah berguna sebagai penggantung tempat sisiran sarang pada bingkai.
  5. Di tengah-tengah sisi bidang yang berukuran 18 cm diberi lubang sebesar 3.7 mm. di bagian bawah sebelah luarnya diberi papan tenggeran secukupnya. Papan ini dipakai untuk bertengger sementara sebelum lebah pekerja masuk ke lubang atau terbang mencari pakan.
  6. Di salah satu dinding samping dibuatkan pintu untuk memudahkan perawatan. Engsel-engsel pintu dipasang di tepi bagian atas kotak. Dengan demikian, pintu dapat dibuka dari bawah. Kalaupun tidak dibuka, akan menutup sendiri. Pintu ini perlu diberi pengancing dari kayu sebagai penghalang agar tidak sembarang terbuka.
  7. Setelah kotak peneluran selesai dibuat, selanjutnya buatlah kotak sarang madu yang ukuran bagian dalamnya 34 cm x 18 cm x 15 cm. Cara membuatnya sama dengan cara membuat kotak peneluran, lengkap dengan lubang keluar –masuk, bilah penghalang, bilah penggantung, dan pintu.
  8. Antara kotak peneluran dan kotak sarang madu dibuatkan penyekat dari papan atau kawat kassa berukuran 34 cm x 18 cm. Fungsinya untuk menghalangi lebah ratu masuk ke dalam kotak madu, tetapi lebah pekerja masih dapat leluasa melewati lubang penyekat. Penyekat diberi lubang sebesar 3.7 mm, persis seukuran tubuh lebah pekerja yang lebih kecil daripada lebah ratu dan lebah jantan.
  9. Setelah kotak sarang madu selesai dibuat, lanjutkan dengan membuat bingkai-bingkai untuk tempat sisiran sarang lebah. Bahannya dari kayu, dan dibentuk bangunan segi empat. Ukurannya disesuaikan dengan kotak peneluran dan sarang madu. Tebal bingkai 1 cm dan lebarnya 2 cm. Bingkai yang menggantung dalam kotak dibuat menonjol ke kiri 1 cm dan ke kanan 1 cm. Dengan demikian, bilah bingkai-bingkai akan dipasang berjejer dengan jarak 2 cm.
  10. Di atas bingkai-bingkai kotak sarang madu diberi penyekat kawat kassa agar semua lebah tidak dapat naik ke atas.
  11. Bagian paling atas kotak sarang madu diberi tutup atau atap kandang agar terlindung dari hujan atau panas matahari. Di bawah atap diberi ruang angin cukup lebar yang ditutup kawat kassa supaya tidak dimasuki lebah. Adanya lubang angin ini penting sekali agar uap air bekas pernapasan lebah-lebah dapat cepat menguap. Kalau tidak, aup air akan mengembun pada waktu udara dinging, dan ini akan merusak sisiran sarang lebah yang ada di bawahnya. Atap kandang itu diberi bilah penghalang di kelilingi luarnya agar mudah diangkat atau dilepaskan dan dipasang kembali pada kotak sarang madu.
Baca Juga : Panduan Budidaya Lebah IndonesiaSesuai dengan kondisi iklim, penempatan stup bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama, dilakukan secara searah dengan lubang masuk lebah. Stup yang ditempatkan seperti ini disebut stup dingin (angin masuk ke dalam secara leluasa). Kedua, dilakukan secara bersilang 90o dengan arah lubang masuk lebah. Stup yang ditempatkan seperti ini disebut stup panas atau hangat (angin yang masuk tertahan oleh frame paling depan). Mengingat lebah menyukai hawa panas, tipe stup panas sangat cocok digunakan. Namun, kebanyakan peternak lebah di dalam negeri dan luar negeri menggunakan tipe stup dingin karena bentuk dan ukuran stup memungkinkan lebah membuat iklim mikro tersendiri sesuai dengan yang dikehendaki oleh lebah.

Bagian stup yang tidak boleh ditinggalkan keberadaannya oleh koloni adalah peti paling bawah yang berfungsi sebagai tempat ratu dan pertumbuhan serta perkembangbiakan koloninya. Hal ini disebabkan koloni dewasa harus memberi makan untuk larva anakan lebah koloni selama 3 hari dan anakan calon ratu lebah setiap hari dengan royal jelly. Ratu pun harus diberi makan tiap hari oleh koloni dengan royal jelly, sehingga tempat ratu ini tidak boleh ditinggalkan oleh koloni. Dalam membuat tempat sisiran sarang atau biasa disebut frame dapat dilakukan modifikasi sesuai dengan bahan yang tersedia. Modifikasi bisa dilakukan jika bingkai sarang dalam stup telah penuh dengan lebah, maka harus segera ditambah dengan bingkai baru yang masih kosong dan disisipkan di bagian tengah bingkai yang telah terpasang. Apabila tidak memungkinkan dilakukan penambahan sisiran, maka harus ditambah satu kotak kosong yang diletakkan di atas kotak super, sehingga kotak tersebut menjadi bersusun tiga. Modifikasi juga bisa dilakukan dengan menambah jumlah sisiran sekat dalam satu frame sehingga dalam satu frame terdapat tiga baris sisiran yang bisa digunakan sebagai tempat ratu untuk meletakkan telur.
Penempatan stup yang ideal adalah dekat dengan tanaman pangan lebah yang mengandung nectar, tepung sari bunga, sebagi makanan pokok lebah madu. Di tempat tersebut juga harus tersedia air bersih untuk menjamin hidupnya koloni lebah madu. Selain itu, di tempat tersebut juga kaya akan propolis, yaitu semacam zat perekat yang digunakan oleh lebah untuk menutup celah-celah peti lebah. Semua sumber makanan ini harus terjangkau oleh jarak radius terbang lebah, yakni sekitar 1-2 km. Propolis yang dikumpulkan oleh lebah pekerja lapangan untuk digunakan sebagai penutup celah stup atau sisiran, menempel lubang-lubang kecil untuk perlindungan diri darimusuh alami terutama bakteri dan virus. Dadan and Sons menjelaskan bahwa propolis dibawa oleh lebah pekerja ke dalam stupnya dalam bentuk butiran di dalam sel atau lubang kerak yang terbentuk atau celah dengan sebaran yang tidak merata.
Syarat lain untuk menempatkan stup adalah dekat dengan sarana transportasi agar memudahkan pengangkutan lebah dan hasil-hasilnya. Terlindung dari angin kencang, terik matahari dan air hujan. Penempatan peti-peti lebah harus jauh dari tempat-tempat berasap dan rumah-rumah tempat tinggal. Penempatan stup tersebut diusahakan berderet rapi, dengan jarak antar peti lebah kira-kira 1-2 meter. Di bawah peti lebah juga harus diberi penyangga dengan ketinggian dari tanah sekitar 50 cm. Tujuannya adalah agar lebah madu bebas dari serangan hama misalnya ular dan sebangsanya.Baca : Cara Panen Lebah Madu

Berdasarkan Praktikum Lapangan hari Rabu, 6 November 2013, hasil yang kami dapatkan adalah stup dengan ukuran kotak stup yang panjangnya 36 cm, lebar 27 cm dan tinggi 20.5 cm. Alas kotak stup dan penutup kotak stup dengan ukuran panjang 38.5 cm dan lebar 28.5 cm. Ukuran frame atau sisiran memiliki panjang 21.8 cm dan tingginya 15-17 cm. Jarak antar frame adalah 2.8 cm, sehingga satu stup mampu menampung minimal sebanyak 9 frame. Menurut kelompok kami, komponen pada stup lebah madu adalah alas dan tutup stup, kotak stup, frame atau sisiran dan lubang untuk keluar masuk lebah. Alas dibuat agar bisa dilepas untuk memudahkan membersihkan stup. Letak lubang masuk dan keluarnya lebah pekerja perlu diperhatikan, karena menentukan keefektifan proses pembuatan sarang lebah madu dalam stup. Dan tipe stup yang digunakan adalah stup hangat yang berada di bawah pohon dan stup dingin yang berada di sawah.
Jadi dapat disimpulkan bahwa :
Bagian-bagian stup terdiri atas, tutup luar (bagian atas) berfungsi sebagai pelindung dari panas matahari dan hujan tubuh stup, tutup alas (bagian dasar) berfungsi sebagai pintu masuk lebah, frame berfungsi sebagai tempat perlekatan sisir lebah dan tiang penopang sebagai tempat penopang.
Bagian stup yang tidak boleh ditinggalkan keberadaannya adalah tempat ratu dan pertumbuhan serta perkembangbiakan koloninya.
Bagian stup yang dapat dimodifikasi sesuai dengan bahan yang tersedia adalah bagian stup berupa frame.Stup merupakan peti lebah yang terbuat dari bahan kayu yang tidak terlalu keras misalnya kayu kalba, sengon dan kayu kapok randu, berbentuk persegi panjang tetapi mempunyai atap yang dapat diangkat. Stup yang digunakan dalam praktikum lapangan adalah stup hangat yang digunakan di bawah pohon dan stup dingin yang berada di sawah.

Manfaat dari stup sendiri yaitu praktis dipakai, perawatan lebahnya mudah, pengambilan hasilnya gampang, produksi madu yang diperoleh berlipat ganda, serta gangguan hama dan penyakit lebah jarang.

Dari berbagai sumber :

Baharudin, M. 2008. Usaha Budidaya Lebah Madu (Apis melifera). Pustaka. Bogor.

Budiaman dan Arief Rahman. 2006. Uji Efektivitas Empat Variasi Propolis Trap Terhadap Produksi Propolis Lebah Madu Apis mellifera L. Jurnal Perennial. 2(2) : 1-4.

Sarwono, B. 2006. Kiat Mengatasi Masalah Praktis Lebah Madu. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Siswowijoto, A. 1991. Bahan Kuliah Lebah Madu (Apis cerena L). PAU Bidang Hayati ITB. Bandung.

Sumoprastowo, R. M. dan Suprapto Agus R. 1993. Beternak Lebah Madu Modern. Bhratara. Jakarta.

Tarliyah, Lea et. al. 1999. Pergerakan Spermatozoa Lebah Madu. Media Veteriner. Bogor.

Trubus. 1992. Beternak Lebah di Jerman. Penebar Swadaya. Jakarta.

Yehuala, S., Malede Birhan and Degsew Melak. 2013. Perception of Farmers Towards The Use of Modern Beehives Technology in Amhara Region, Ethiopia. European Journal of Biological Sciences 5 (1): 01-08.

Zahrina. 2008. Keistimewaan Pemanfaatan dan Pelestarian Lebah Madu. Jakarta.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !