Panduan

Memelihara Tanaman Kelengkeng dalam Polybag Generatif

Memelihara Tanaman Kelengkeng dalam Polybag Generatif – Perbanyakan tanaman secara generatif merupakan perbanyakan tanaman melalui proses perkawinan antara dua tanaman induk melalui organ reproduksi berupa bunga yang kemudian terjadi penyerbukan benang sari pada kepala putik dan menghasilkan buah dengan kandungan biji di dalamnya. Biji ini dapat ditanam kembali untuk menghasilkan tanaman baru yang memungkinkan terjadinya variasi karakter.

Jika Anda ingin memulai dari awal tentang perbanyakan kelengkeng, saya sudah menuliskannya di artikel sebelumnya berjudul :

Perbanyakan tanaman secara generatif dilakukan dengan menanam biji yang dihasilkan dari penyerbukan antara bunga jantan (serbuk sari) dan bunga betina (kepala putik). Secara alami, proses penyerbukan terjadi dengan bantuan angin atau serangga. Namun saat ini, penyerbukan sering dilakukan manusia, terutama para pemulia tanaman untuk memperbanyak atau menyilang tanaman dari beberapa varietas berbeda.

Berdasarkan definisi dari perbanyakan tanaman secara generatif, maka yang dilakukan yaitu tanaman kelengkeng diperbanyak secara generatif dengan cara menanam biji buah tanaman kelengkeng baik biji yang berasal dari pohon induk kelengkeng Diamond River maupun pohon induk kelengkeng Itoh.

Tahapan memelihara kelengkeng polybag secara generatif adalah sebagai berikut.

#1. Pemilihan biji kelengkeng sebagai benih

Biji yang digunakan sebagai benih didapatkan dari pohon induk yang ada di UPTD Hortikultura Kalimandi. Menurut BBPPTP Ambon (2015), Buah kelengkeng yang bijinya akan digunakan sebagai benih hendaknya memiliki kriteria sebagai berikut:

  1. Berasal dari pohon dewasa yang tumbuh sehat, bebas dari hama dan penyakit, seperti kanker batang, belah putih, gugur sebelum tua, rumah laba-laba, busuk buah kering, busuk buah basah, dan gugur buah muda. Tanaman juga harus sehat secara fisiologi, yaitu percabangan pohon kelengkebg yang teratur serta proporsi batang dan cabang juga seimbang.
  2. Pohon induk telah memasuki masa produktif, yaitu diatas empat tahun. Biji yang dihasilkan pada usia produktif akan lebih berkualitas dibandingkan biji hasil pembuahan di awal masa produktif.
  3. Buah harus masak secara fisiologis. Buah kelengkeng yang masak fisiologis memiliki ciri-ciri kulit buah berwarna kuning kecoklatan, tekstur kulit buah agak kasar, dan buah tidak terlalu lunak.

#2. Penyemaian benih Kelngkeng di polybag

Biji yang telah dipilih untuk dijadikan benih selanjutnya dilakukan penyemaian. Penyemaian pada benih dapat dilakukan di lahan bedengan dan di polybag, namun pada perbanyakan tanaman buah lebih direkomendasikan untuk menggunakan polybag sebagai media penyemaian.

Berikut merupakan langkah-langkah penyemaian yang harus dilakukan terhadap benih dalam polybag.

  1. Polybag berukuran 15×10 cm atau 15×15 cm disiapkan dan disesuaikan dengan ukuran benih. Kemudian polybag diisi dengan media berupa tanah, sekam, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1.
  2. Lubang kecil dibuat pada permukaan media di polybag, lalu benih ditanamkan ke dalam lubang tersebut.
  3. Lubang benih ditutup dengan media yang ada, lalu siram media semai hingga lembab. Polybag yang sudah berisi benih sebaiknya diletakkan di tempat teduh atau naungan. Dalam hal ini polybag dimasukkan ke dalam sungkup paranet.
  4. Penyiraman dilakukan jika media sudah mengalami kekeringan agar proses pembenihan tidak gagal.
  5. Ditunggu selama 2-3 minggu untuk mendapatkan benih yang sudah mengeluarkan tunas akar dan tunas daun. Saat praktik kerja lapangan, tunas akar dan daun muncul setelah 3 minggu sejak penyemaian.

#3. Pemeliharaan persemaian dalam polybag

Pemeliharaan persemaian bibit tanaman kelengkeng untuk mendapatkan perbanyakan tanaman secara generatif tidak berbeda dengan pemeliharaan pada umumnya. Pemeliharaan dilakukan dengan melakukan hal-hal sebagai berikut.

  1. Persemaian disiram pada pagi dan sore hari. Frekuensi penyiraman dapat disesuaikan dengan kondisi kelembaban media tanam. Jangan sampai media tanam dalam keadaan kering atau terlalu lembab (jenuh air).
  2. Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk daun dengan intensitas pemberian setiap dua minggu sekali. Umumnya pupuk daun diaplikasikan dalam bentuk cair dengan cara disemprot ke daun tanaman. Selain pupuk daun, diberikan pupuk NPK mutiara sebanyak 10 butir pertanaman dengan frekuensi pemberian satu bulan sekali.
  3. Fungisida disemprotkan untuk mencegah serangan jamur dan atau insektisida untuk mencegah serangan hama. Kedua pestisida ini hanya diberikan apabila tanaman menunjukkan tanda-tanda terserang. Dosis pemakaian disesuaikan dengan peraturan di dalam kemasan.

Perbanyakan tanaman secara generatif memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan perbanyakan tanaman secara generatif yaitu tanaman baru dapat diperoleh dengan cepat dan mudah, biaya yang dikeluarkan relatif murah, umur tanaman lebih lama, tanaman yang dihasilkan memiliki perakaran yang kuat, dan dapat menghasilkan varietas-varietas baru yaitu dengan cara menyilangkan.

Sedangkan kelemahan perbanyakan tanaman secara generatif adalah tanaman baru yang dihasilkan belum tentu memiliki sifat yang sama dengan induknya, varietas yang baru muncul belum tentu lebih baik, waktu berbuah lebih lama, dan kualitas tanaman baru diketahui setelah tanaman berbuah.

Panduan selanjutnya : Perbanyakan Kelengkeng (Cangkok, Stek, Okulasi dan Sambung)

Baca juga :

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !