MENENTUKAN LOKUS TUMBUHAN PADA TANAMAN

Berdasarkan pengamatan, menunjukkan bahwa perpanjangan batang paling tinggi terletak pada lokus sembilan (daerah dekat basal) yaitu 26 mm pada perlakuan pertama, sedangkan pada perlakuan kedua pertambahan paling panjang terjadi pada lokus pertama yaitu 3 mm. Abidin (1985) menyebutkan bahwa pertumbuhan tertinggi pada batang terdapat pada pucuk bagian yang paling rendah (basal), karena pada bagian tersebut mempunyai kandungan auksin yang paling tinggi sehingga dapat memacu pertumbuhan selnya, hasil pengamatan tidak sesuai dengan pustaka.

Pengamatan lokus akar menunjukan bahwa perpanjangan akar tertinggi terjadi pada lokus ketujuh yaitu 2 mm. Hal ini sesuai dengan pendapat Salisbury (1995), yang menyebutkan bahwa titik pemanjangan maksimum terletak pada sekitar 4 mm dari ujung. Menurut Lakitan (1995), bagian ujung akar mempunyai tudung akar yang berfungsi untuk melindungi sel-sel meristematik pada bagian ujung akar tersebut. Bagian tudung akar yang rusak akan diganti kembali oleh aktivitas pembelahan sel pada bagian meristematik.

Loveles (1991) menambahkan, setiap akar tumbuh dari meristem ujung. Selain menghasilkan sel-sel baru untuk memperpanjang sumbu akar, meristem juga menghasilkan sejumlah sel ke arah ujung yang membentuk tudung akar. Pertumbuhan tertinggi terjadi di belakang tudung akar, sepanjang kurang lebih 1 cm terdapat permukaan akar yang halus. Bagian ini biasanya tampak tembus cahaya bila dilihat dibelakang cahaya karena bagian ini belum mengalami diferensiasi jaringan. Bagian ini dikenal sebagai daerah pemanjangan, karena di daerah inilah sel-sel baru yang terbentuk dari meristem membesar dengan hebat dan mengakibatkan akar tumbuh memanjang. Perpanjangan maksimal terjadi hanya beberapa mm di belakang ujung akar. Pertambahan panjang di bagian belakang berangsur-angsur menjadi kecil sampai pada titik sekitar 1 cm dari ujung, perpanjangan tidak terjadi lagi. Menurut Heddy (1986), proses perpanjangan akar lebih lambat dibandingkan pada batang.

Menurut Noggle dan Fritz (1976), definisi lokus pertumbuhan tanaman adalah daerah dimana terjadi pemanjangan sel. Pertumbuhan tanaman tidak terjadi pada sembarang bagian tanaman, tetapi hanya dimulai pada jaringan tertentu pada distribusi yang terbatas yang disebut meristem. Meristem merupakan sebuah jaringan dimana dibawah kondisi yang menguntungkan, sel baru dibentuk terus menerus sebagai hasil pembelahan berulang dari beberapa atau semua sel. Meristem yang paling penting dalam tubuh mayoritas tanaman vascular adalah meristem apikal akar, meristem apikal batang dan kambium vaskular. Meristem apikal batang ditunjukkan pada setiap pucuk batang termasuk pucuk dorman, sedangkan meristem apikal akar terdapat pada setiap pucuk atau ujung akar dan kambium vaskular terdapat pada batang dan akar Gymnospermae dan sebagian besar Dicotyledon. Ambercrombe et al., (1990) mendefinisikan lokus sebagai posisi kromosom homolog yang ditempati oleh suatu gen yang mencirikan fenotip tertentu biasanya terdapat pada seluruh populasi spesies. Posisi tersebut dapat ditentukan dengan pemetan kromosom, dan posisi relatif suatu lokus dalam sel individu dapat diubah oleh suatu mutasi.

Mekanisme pertumbuhan akar dimulai dengan menginisiasi meristem apikal batang dan akar disebut pertumbuhan primer. Pertumbuhan primer akar menunjukkan bahwa salah satu meristem yang aktivitasnya paling intensif adalah pada tudung akar. Bagian meristem yang paling muda disebut promeristem. Bagian pusat dari promeristem akar ditransformasikan selama pertumbuhan menuju prokambium yang berkembang masuk jaringan vaskuler. Sel di seluruh bagian meristem relatif kecil, dinding sel tipis dan isodiometrik. Sel apikal khusus dari promeristem disebut dengan inisial yang secara langsung maupun tidak langsung setelah mengintervensi pembelahan sel akan membentuk sel baru dalam proses pertumbuhan pada ujung akar. Pembelahan sel pada meristem apikal akan terjadi secara longitudinal dan beberapa ke arah lateral yang menyebabkan akar mempunyai tipe silindris. Daerah meristem merupakan daerah pendek dimana pemanjangan sel berlanjut, akan tetapi disini pembelahan sel dihambat. Pembelahan dan pembesaran sel merupakan bagian utuh dari proses pertumbuhan. Beberapa pembesaran terjadi selama pembelahan sel, tetapi biasanya penambahan ukuran sel yang terjadi selama fase pertumbuhan mempunyai perbandingan yaang kecil dengan yang terjadi setelahnya (Meyer dan Anderson, 1952).

Organ tumbuhan yang memanjang, seperti batang dan akar pembesaran hanya terjadi ke arah satu dimensi saja, artinya hanya ke arah memanjangnya saja. Tentu saja sel meristem yang baru terbentuk membesar ketiga dimensi, tetapi pada batang dan akar pembesaran segera menjadi pemanjangan (Salisbury dan Ross, 1995). Menurut Heddy (1985), Tunas-tunas cabang tumbuh pada batang akibat dari pembentukan jaringan serupa meristem sekunder pada perisikel, floem, xilem, bahkan kambium.

Salisbury dan Ross (1995) menjelaskan mekanisme pertumbuhan dan perkembangan sel pada batang monokotil dimulai dengan pembelahan yang terjadi di seluruh bagian memanjang ruas muda, tapi kemudian aktivitas meristematik hanya terjadi di daerah dasar ruas tepat di atas buku (nodus). Daerah meristem berulang ini disebut meristem interkalar karena tersisip diantara daerah sel yang lebih tua yang tiadak lagi membelah. Setiap ruas terdiri dari sejumlah sel yang lebih muda yang berasal dari meristem interkalar di dekat dasar.

Petumbuhan akar atau batang dapat dipengaruhi oeh beberapa faktor. Menurut Dwijoseputro (1978) panjang pendeknya akar dipengaruhi oleh faktor-faktor pembawaan dan oleh faktor luar seperti keras lunaknya tanah, banyak sedikitnya air, dan jauh dekatnya air tanah dan sebagainya. Peresapan elemen-elemen oleh ujung akar dipengaruhi oleh faktor luar seperti temperatur, kebasahan tanah dan ventilasi tanah. Pertumbuhannya akan terhambat apabila tidak terpenuhinya unsur-unsur hara tertentu. Selain itu perpanjangan akar dan batang juga dipengaruhi oleh auksin . Penggunaan NAA, IAA dan IAN akan mendorong pertumbuhan primordial akar (Abidin, 1985).

Meyer dan Anderson (1952), menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi kecepatan pertumbuhan baik akar maupun batang. Faktor-faktor tersebut antara lain :

Konsentrasi cairan tanah

Peningkatan tekanan osmotik cairan tanah menyebabkan penurunan kecepatan absorbsi air yang diharapkan bisa menimbulkan penghambatan pertumbuhan. NaCl, Na2SO4 atau CaCl2 merupakan garam yang digunakan untuk meningkatkan tekanan osmotik.

Air

Air mempengaruhi proses pertumbuhan terutama sebagai faktor internal. Tetapi tidak semua fase pertumbuhan dipengaruhi oleh penyusutan volume air di dalam tanaman.

Temperatur

Kecepatan dari setiap proses fisiologis yang terjadi pada tanaman, termasuk tumbuh dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Temperaatur akan berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan, sebagai faktor pembatas untuk kelangsungan hidup tanaman, sebagai efek morfogenik dan termoperiodisitas.

Konsentrasi gas dalam atmosfer tanah

Konsentrasi CO2 dalam atmosfer tanah biasanya tinggi dan konsentrasi O2 biasanya rendah dibanding dengan atmosfer aerial pada tanah pasir. Umumnya, aerasi tidak cukup menyebabkan panghambatan dalam pertumbuhan dan metabolisme tanaman.

Nitrogen

Jika suplai nitrogen untuk mengaktifkan pertumbuhan meristem vegetatif relatif melimpah terhadap suplai karbohidrat, sejumlah protoplasma akan dibentuk menjadi sejumlah material dinding sel.

Energi radiasi

Radiasi dapat mematikan selsel tumbuhan dan dapat dapat merusak kromosom dlam inti tumbuhan sehingga mneyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman.

Kesimpulan

Berdasar hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa :

  1. Daerah pertambahan panjang pada pada batang terletak pada daerah basal,
  2. Daerah pertambahan panjang akar terletak pada ujung akar dekat dengan tudung akar.

 

Daftar Referensi

Abidin, Z. 1985. Dasar-dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuhan. Angkasa, Bandung.

Ambercrombre, M. Hickman, M.L. Johnson, M. Thain. 1990. Kamus Lengkap Biologi. Erlangga, Jakarta.

Dwidjoseputro, D. 1978. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia, Jakarta.

Heddy, S. 1986. Hormon Tumbuhan. CV Rajawali, Jakarta.

Lakitan. 1995. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Loveless, A.R.1991. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. Gramedia, Jakarta.

Meyer, B.S dan D.B Anderson.1952. Plant Physiology. D Van Nostrand Company In, New Jersey.

Noggle, G.R dan G.J Fritz.1976. Introductory Plant Physiology Second Edition. Prentice-Hall Inc, New Jersey.

Salisbury, F. B. dan C. W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. ITB, Bandung.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !