www.FolderBisnis.comSajian lengkap seluk beluk usaha dari strategi sampai promosi

Klasifikasi, Morfologi dan Syarat Hidup Tanaman Pala

Klasifikasi, Morfologi dan Syarat Hidup Tanaman Pala. Tanaman pala (Myristica fragrans H) merupakan tanaman asli Indonesia yang sudah terkenal di Indonesia dan produsen pala terbesar di dunia (70 – 75%). Negara produsen lainnya adalah Grenada sebesar 20 – 25 % kemudian selebihnya India, Srilangka dan Malaysia.

Pala memiliki banyak kegunaan yaitu untuk bumbu masak, ramuan kecantikan, kesehatan dan juga dijadikan pewangi ruangan. Semakin banyaknya kegunaan pala sehingga di pasar memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Pala Indonesia memiliki nilai tinggi di pasar dunia karena aromanya yang khas dan rendemen minyaknya tinggi.

1. Klasifikasi

Pala (Myristica fragrans Houtt) merupakan jenis tanaman perkebunan yang tumbuh baik pada daerah tropis. Tanaman pala merupakan tanaman asli Indonesia karena berasal dari Banda dan Maluku. Tanaman ini terkenal karena biji buahnya yang tergolong rempah-rempah dan banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Biji dan selaput biji (fuli) merupakan komoditas ekspor Indonesia dan menduduki sekitar 60% dari jumlah ekspor pala dunia.

Klasifikasi tanaman pala menurut Cronquist (1981) adalah sebagai berikut:

Kingdom: Plantae; Subkingdom: Tracheobionta; Super Divisi: Spermatophyta; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Sub Kelas: Magnolidae; Ordo: Magnoliales; Famili: Myristicaceae, Genus: Myristic; Spesies: Myristica fragrans Houtt.

2. Morfologi

Akar tanaman pala merupakan akar tunggang yang dalam akar lateralnya (feeder alias penghisap zat makanan) berakar serabut yang cukup tebal, dangkal letaknya dibawah permukaan tanah. Oleh karena itu mudah diserang erosi air dan mudah menderita kekeringan.

Batang pokok tanaman bisa mencapai ketinggian 18-20 meter lebih. Tumbuhnya tegak, bentukny bulat agak berbonggol-bonggol. Cabang primernya membentuk krans ( karangan ) melingkari batang pokok abu-abu kelam atau hijau tua. Mahkota pohon berbentuk pyramid yang indah dan sempurna bila tumbu sendiri.

Daun tanaman pala memiliki ukuran yang berbeda antara jantan dan betina.  “ ukuran daun pala jantan lebih kecil daripada daun pala betina. Bentuknya seperti telur elip, dengan pangkal dan pucuknya meruncing. Warna bagian bawah hijau kebiru-biruan muda, sedangkan bagian atasnya hijau tua”.

Tanaman merupakan tanaman berumah dua (dioecus) yaitu dalam satu tanaman berbunga betina saja atau bunga jantan saja. Namun, tanaman pala biasanya berumah satu yaitu dalam satu pohon terdapat bunga betina dan jantan. Kemungkinan-kemungkinan tampilnya tiga jenis tanaman tersebut berbanding 55% tanaman berbunga betina, 40% tanaman berbunga jantan, dan 5% tanaman berumah satu.

Bunga pala berbentuk malai (tandan) karena termasuk bunga majemuk. Malai bunga jantan terdiri dari 1-10 bunga, sementara malai bunga betinahanya 1-3 bunga. Bunga jantan tumbuh lebih tegak pada ranting buah, tetapi ukurannya lebih kecil dari bunga betina. Bunga betina tumbuh pada ketiak daun dengan kekhasannya yang berbau harum, berwarnakuning muda, dan halus. Persarian bunga pala terjadi jika ada bantuan dari semut dan angin.

Jenis kelamin bunga dapat diketahui dari arah tumbuhnya cabang-cabang primer. Pohon penghasil bunga betina cabang primernya mendatar (vertical) tumbuhnya, sedang yang menghasilkan bunga jantan membentuk siku sampai lancip dengan batang pokoknya. Cirri-ciri pohon betina dan jantan tersebut akan lebih dipertegas lagi, bila sudah mulai berbunga, atau umur +5 tahun.

Ciri utama marga myristica adalah tumbuhan pohon, percabangan monopodial, daun tunggal berseling dengan permukaan bawah daun agak kasar, pangkal daun meruncing, dan ujung daun runcing. Bunga terdapat pada ketiak daun, terdiri dari 2-4 bunga, berumah satu, dua atau lebih. Bunga jantan, perhiasan bunga berbentuk tabung dengan bagian luar berbulu halus kecoklatan, terdiri dari tiga ruang (kadang 2-4), keseluruhan bunga jantan berupa kolum dengan benang sari berjumlah 8-30.

Bunga betina lebih besar dari bunga jantan, ovarium gundul atau berbulu halus, dan putik berupa ruang. Buah bulat sampai agak lonjong dengan panjang antara 1-10 cm dan berdaging tipis samapai agak tebal. Biji dengan kulit yang keras dan diselubungi oleh salut biji (arilus) bersifat aromatik dengan kandungan senyawa utama myristicin.

Tanaman mulai berbuah pada umur 5-8 tahun setelah tanam. Sebelum fase berbuah antara pohon jantan dan betina sulit dibedakan. Pada pertanaman dewasa, cukup satu jantan untuk 10 tanaman betina. Pala berproduksi penuh setelah umur 15 tahun dan dapat berproduksi sampai umur 15 tahun dan dapat berproduksi  sampai umur 50 tahun dengan produksi dapat mencapai 2000 butir per pohon, namun umumnya 1000 butir per pohon.

Umumnya pohon pala mulai berbuah pada umur 7 tahun dan pada umur 10 tahun telah berproduksi secara menguntungkan. Produksi pada akan terus meningkat dan pada umur 25 tahun mencapai produksi tertinggi. Pohon pala terus berproduksi sampai umur 60–70 tahun.

Buah tanaman pala berbentuk bulat, berwarna hijau kekuning kuningan buah ini apabila masak terbelah dua. Garis tengah buah berkisar antara 3-9 cm, daging buahnya tebal dan asam rasanya. Biji berbentuk lonjong sampai 5 Universitas Sumatera Utara 18 bulat, panjangnya berkisar antara 1,5-4,5 cm dengan lebar 1-2,5 cm. Kulit biji berwarna coklat dan mengkilat pada bagian luarnya. Kernel biji berwarna keputi hputihan, sedangkan fulinya berwarna merah gelap dan kadang-kadang putih kekuning-kuningan dan membungkus biji menyerupai jala.

Minyak pala dengan kualitas baik dapat dilihat dari kualitas biji pala yang baik pula, terutama umur buah pala harus sungguh-sungguh tua. Kadar minyak atsiri yang terbesar adalah pada buah yang berumur 3-4 bulan di pohon. Jika mengalami kesulitan dalam memilih buah pala yang umurnya seragam yakni 3-4 bulan, maka buah-buah pala dari berbagai umur petik dapat dicampur dan diusahakan agar perbandingan umur petik 3-4 bulan, 4-5 bulan, 5-6 bulan adalah 2 : 1 : 1.

Dari hasil pengujian yang telah dilakukan, kandungan yang terdapat pada buah pala yaitu kadar air (83%), protein (0,28%), lemak (0,28%), pectin (6,87%), dan minyak pala (7-15%). Bila minyak pala tersebut diproses kimia lebih lanjut akan dihasilkan lemak/mentega (8,05%), 16 komponen terpenoid (73,91%), dan 8 komponen aromatik (18,04%). Komponen utama dari senyawa aromatik ini disebut miristin.

3. Ekologi

Tanaman pala merupakan penghuni daerah tropis, untuk dapat berkembang biak, tumbuh, dan menghasilkan buah yang banyak tidak luput dari pengaruh lingkungan mikro maupun makro.

Tanaman pala bisa berumur panjang hingga lebih dari 100 tahun. Untuk itu membutuhkan lingkungan yang tentunya sangat berbeda dengan tanaman yang berumur pendek.

Lingkungan hidup tanaman pala harus disesuaikan dengan factor-faktor yang mempengaruhi ekosistemnya diantaranya adalah sebagai berikut:

4. Iklim

Kepulauan banda merupakan pusat tanaman pala jenis M. fragans  yang menyebar hingga Sulawesi utara, pantai barat sumatera, Bengkulu dan jawa barat. Daerah tersebut termasuk wilayah basah karena curah hujan yang turun lebih dari 100 ppm. Curah hujan yang baik bagi pertumbuhan tanaman pala lebih kurang 2175-3550 mm/tahun. Namun setelah diteliti ternyata tanaman pala bisa beradaptasi di daerah panas dan lembab dengan suhu udara sekitar 25-30º C.

5. Angin

Tanaman pala agak peka terhadap angin yang kencang, karena dapat mengganggu penyerbukan tanaman dan mengakibatkan buah dan pucuk tanaman berguguran sebelum wakrunya.

6. Tanah

Tanaman pala yang berumur panjang memiliki kedalam akar hampir sama dengan ketinggian pohonnya yaitu 18 m. sehinnga tanaman pala membutuhkan tanah yang cerul (porous), dalam arti tanahnya gembur, mudah meyimpan air, remah strukturnya, solum dalam atau lapisan tanahnya tebal, draenase dan aerasinya baik, serta tidak pecah-pecah pada musim kemarau. Tanah yang porous dapat meresap air hujan kedalam tanah sehingga tidak mengganggu pertumbuhan akarnya. Karena itu, pH tanah harus disesuaikan dengan tanaman pala, yaitu berkisar 5,5-6,5.

7. Ketinggian tempat diatas permukaan laut

Tanaman pala dapat tumbuh dengan optimal pada ketinggian 500-700 meter di bawah permukaan laut.

8. Air tanah

Air tanah yang letaknya dalam tidak masalah bagi tanaman pala karena akarnya bisa menembus jauh kedalam tanah. Namun, air tanah yang dangkal berakibat fatal terhadap tanaman karena bisa mengakibatkan busuk akar yang dapat menghambat pertumbuhannya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *