Menuju Jiwa Yang Merdeka

Menuju Jiwa Yang Merdeka
Ilustrasi olah jiwa

Menuju Jiwa Yang Merdeka – Kehidupan memang unik bahkan saking uniknya kadangkala kita menertawakan diri sendiri. Memusuhinya bahkan mengutuk.

Loh kok bisa? Ya memang seperti itulah adanya, contohnya kita seringkali kalah dalam “pertarungan”, kita merasa prustasi lalu mengatakan diri kita bodoh.

Hidup terdiri dari dua sisi kebahagiaan dan kesedihan, keduanya sama-sama mempunyai porsi yang seimbang. Tidak ada manusia yang selamanya merasa bahagia dan tidak pula ada manusia yang selamanya menderita.

Namun kenapa kita seringkali mengeluh untuk menjalankan hidup ini? Secara sederhana jawabnya mungkin kita kurang bersyukur, namun apakah hanya karena itu?.

Menuju Jiwa Yang Merdeka
Ilustrasi olah jiwa

Toh ketika kita sudah bersyukur pun, masih saja mengeluh dan berprasangka tidak baik kepada Sang pencipta.

Ya memang tidak sesederhana menyebut kata syukur saya pikir, namun lebih kepada esensi syukur yang diaplikasikan lewat aktifitas sehari-hari.

Mensyukuri apa yang sudah kita punya saat ini, misalnya kita sudah punya pekerjaan maka bentuk rasa syukur itu adalah kita bekerja sebaik mungkin dalam pekerjaan yang sudah kita dapat. Ini bentuk paling riil dari syukur.

Apabila kita menginginkan sesuatu berusahalah dengan sekuat daya untuk mencapai apa yang kita inginkan. Untuk itu kita perlu jiwa yang merdeka, jiwa yang bersih dari segala nafsu dan prasangka.

Karena jiwa yang merdeka akan melekat pada kecerdasan otak, kemampuan memahami sesuatu dan nalar baik untuk berpikiran maju.

Memang untuk mencapai ketingkatan sana tidak mudah, namun kita juga berhak untuk memperjuangkanya. Bukankah tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini apalagi jika Ia sudah berkehendak.

Penghalang utama manusia untuk “sukses” adalah “nafsu”. Sudah menjadi hal lumrah memang manusia memiliki itu. Namun bila tidak bisa dikontrol dengan baik nafsu juga yang akan mengantarkan manusia kepada jiwa yang kerdil.

Manusia seringkali menjadi jahat karena nafsu yang tidak terkendali. Contohnya ada orang yang menginginkan uang banyak namun tidak mau bekerja, alhasil ia menjadi koruptor.

Sexsualitas juga tak kalah penting untuk dicermati dalam dinamika nafsu ini, kebanyakan orang mengabaikan itu semua. Imbasnya sekarang banyak terjadi pencabulan, dan tindak pemerkosaan.

Orang yang sudah terjerat nafsu ini akan sulit keluar, karena menurut penelitian para ahli otak manusia akan memikirkan sex puluhan kali dalam sehari.

Selain itu juga ada beberapa hal yang bisa membelenggu jiwa manusia, seperti dendam dan iri hati.

Cobalah untuk mengiklaskan apa yang sudah terjadi, membuang sisa-sisa sakit hati dan membuang jauh-jauh dari ingatan kita.

Hal yang sudah terjadi takkan bisa kembali, lagian untuk apa dipikirkan. Menambah beban pikiran kita saja yang sudah dijubeli berbagai masalah yang ada.

Iya tidah mudah, namun ingat kita harus berusaha. Kita harus memperjuangkan jiwa kita untuk bisa merdeka.

Bila itu semua sudah bisa kita lakukan saya yakin, kita akan menjadi pribadi yang berkualitas, pribadi yang tenang, kuat, dan tentunya bersahaja.

Perkara hubungan kita dengan Tuhan urusan masing-masing. Kita tidak boleh mendikte orang. Belum tentu orang yang ritual agamanya rajin maka secara otomatis dia orang baik.

Tidak juga, yang sedang kita bicarakan esensinya bukan wujud fisik yang kasap mata, banyak juga pemuka agama yang taat beribadah namun terjerat banyak kasus kejahatan.

Kita harus berusaha melepaskan belenggu-belenggu di atas yang seringkali dominan dalam jiwa setiap orang. Mari berusaha bersama untuk menuju jiwa yang tenang, jiwa yang merdeka.

Baca Juga: Tidah Hanya Tubuh Jiwa Kita Juga Perlu Eksistensi

About Agus Prasetio 135 Articles

Seorang manusia biasa terlahir dari orang tua yang sangat luar biasa, Bapak Jaya Sumitro dan Ibu Jawen

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*