www.FolderBisnis.comSajian lengkap seluk beluk usaha dari strategi sampai promosi

MENYAMBUNG TALI UKHUWAH (Pembahasan Hadits Tentang Persaudaraan)

MENYAMBUNG TALI UKHUWAH

(Pembahasan Hadits Tentang Persaudaraan)

Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai Nabi penutup bagi para Nabi yang lain atau dikenal dengan Khotamul Anbiya. Nabi Muhammad membawakan Islam dengan syari’at dan kesempurnaan dalam ajarannya. Salah satu bentuk ajarannya adalah bahwa setiap Muslim wajib mengetahui dan mengamalkan hal – hal yang menjadi kewajibannya sesuai dengan sumber Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak lain, bahwa hal tersebut pada hakikatnya adalah untuk mengukur tingkat ketaqwaan manusia terhadap Allah SWT.
   
Ketika manusia ingin mendapatkan predikat bahwa mereka telah bertaqwa kepada Allah SWT, tentunya tidak hanya cukup dengan diucapkan saja, namun perlu adanya tindakan dan amal perbuatan yang mencerminkan hal tersebut. Dalam hal ini, banyak yang menjadi perantara, cara, atau tindakan yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah menjalankan Ibadah. 
   
Bentuk Ibadah, tentunya tidak hanya ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah SWT, namun bagaimana sesuatu itu dapat bernilai sebagai Ibadah sehingga kita bisa mendapatkan pahala, ridla dan barokah dari Allah SWT. Salah satu bentuk ibadah itu adalah ibadah yang kita jalin diantara sesama hamba Allah, yaitu ibadah kepada setiap manusia. 
   
Tentunya ketika kita tahu, bahwa setiap manusia di muka bumi ini adalah sauadara, maka kita akan mempunyai rasa dan naluri bagaimana kita akan merawat, menjaga, dan menyayangi diantara sesamanya. Sehingga banyak manfaat yang bisa didapatkan dan perpecahan dapat disingkirkan. Dan perlu diketahui pula bahwa Allah SWT juga sangat menyukai setiap kaumnya yang saling menjaga dan menyayangi karena Dia semata.
   
Dari hal tersebut, pada kesempatan kali ini sebagai pemakalah, saya akan memberikan batasan terkait dengan materi yang disampaikan yaitu tentang Menyambung Tali Ukhuwah dan Hadits yang menerangkannya. 

A. PENGERTIAN UKHUWAH

Ukhuwah berasal dari kata خ ا( bahasa arab) yang artinya adalah saudara. Ukhuwah berarti persaudaraan. Dalam hal ini, yang dimaksudkan dengan saudara itu sendiri adalah bukan hanya dan tidak hanya terbatas kepada saudara yang masih ada hubungan kekeluargaan, akan tetapi saudara seiman, sehingga tidak dibatasi oleh sekat dan pembatas keturunan, kebangsaan, kedaerahan, dan sebagainya.  
   
Hal tersebut, dapat kita ketahui bahwa Allah SWT juga telah berfirman dalam alqur’an: setiap mukmin adalah saudara yang diperintahkan Allah SWT untuk saling mengikrarkan perdamaian dan berbuat kebajikan diantara satu dengan yang lainnya, dalam rangka untuk taat dan bertaqwa kepada-Nya. Firman Allah SWT:
Yang artinya: 
Setiap mukmin adalah saudara, maka demikian lah antara dua saudaramu itu dan takutlah kepada Allah SWT semoga engkau mendapat rahmat. 

B. PERINTAH SILATURRAHMI

Silaturrahmi adalah istilah yang sangat akrab dan populer didalam pergaulan kehidupan umat manusia. Istilah itu sesungguhnya berasal dari kata bahasa arab yang artinya menyambung tali kasing sayang, yang tidak lain hal itu merupakan kebutuhan setiap makhluk kidup termasuk di dalamnya binatang. 
   
Makna perintah Allah kepada para muslim semua, agar mereka menjadi orang – orang yang berukhuwah adalah hendaknya mereka konsisten dalam melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya, serta menjaga diri dari segala sifat tercela, sehingga mereka dengan demikian menjadi orang – orang yang berukhuwah dalam Islam. 
   
Kasih sayang merupakan salah satu sifat yang dimiliki oleh Allah SWT, yang sangat banyak disebutkan dalam Al Qur’an. Sebagai kaum yang percaya kepada-Nya tentu harus berupaya untuk meneladani sifat keutamaan Allah SWT tersebut dalam menjalani kehidupannya. Karena sesuai dengan janjinya Allah akan menjadikan kasih sayang ada dalam hati orang – orang beriman dan beramal saleh. Sebagaimana firman-Nya:
Yang artinya:
Sesungguhnya orang – orang yang beriman dan beramal shaleh, yang Maha Rahman (Allah) akan mengadakan bagi mereka perasaan kasih sayang bagi sesamanya.  
Berangkat dari ayat tersebut, secara logika setiap mukmin hendaknya hidup berdampingandengan penuh kasih sayang. Namun, dalam kenyataannya dapat kita ketahui bahwa kehidupan dimasa kini penuh dengan adanya permusuhan, perselisihan, pertikaian, perselisihan, pertengkaran, adu domba, dan sifat – sifat tidak terpuji lainnya yang semuanya menunjukkan kering dan munimnya sifat kasih sayang terhadap sesamanya.
   
Sedangkan Islam dalam berbagai ayat Al Qur’an maupun hadits Nabi sebagai sumber ajarannya telah banyak menganjurkan pentingnya akan pengaplikasian dari sifat kasih sayang terhadap sesamanya, serta melarang setiap sifat yang berbau permusuhan dan pertikaian.
Hadits Nabi Muhammad SAW, berbunyi: 
ان الله تعا لى كتب في ام الكتا ب قبل ان يخلق السموات والارض انني انا الرحمن خلقت الرحم وشقفت لها اسما من اسمى فمن و صلها وصله ومن قطعها قطعته (راواهو الطبرنى عن جرير)
Yang artinya:
“Sesungguhnya Allah ta’ala telah menuliskan dalam pokok kitab, sebelum menciptakan langit dan bumi, Aku Maha Penyayang. Aku ciptakan kasih sayang dan Aku ambil kalimat itu dari salah satu nama-Ku. Sebab itu siapa yang memperhubungkan kasih sayang (Silaturrahmi), Aku akan menghubungi orang itu. Sebaliknya siapa yang memutuskan kasih sayang, Aku memutuskan pula hubungan dengan orang itu”. 
Telah diungkapkan juga oleh Juwariyah yang diambil dari sumber Al-Jami’ ash-shaghir Jilid II karya Abdurrahman Jalaluddin, dimana perintah untuk saling mengasihi itu ditunjukkan Nabi SAW melalui sabdanya:
عن سهل بن سعد ر ضي الله عنه, عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: ار حم من في الارض يرحمك من في السماء (حديث حسن رواه الطبرنى)
Yang artinya:
Dari Sahal bin Sa’ad r.a. berkata: Nabi SAW, Sayangilah penduduk bumi niscaya akan menyayangimu yang ada di langit. 
Hadits diatas memerintahkan kepada kita untuk menyayangi semua yang hidup di bumi termasuk di dalamnya, binatang dan tumbuh – tumbuhan. Perlu diketahui, jika kita manusia dapat melakukan hal itu maka Allah SWT dan para Malaikat akan menyayangi kita. Namun sebaliknya, jika manusia hidup dengan saling benci diantara sesama dan  makhluk hidup, dan tidak menyayangi lingkungan maka tidak menutup kemungkinan Allah juga tidak akan menyayangi mereka. 
   
Sedangkan Allah SWT, apabila telah menyayangi dan mencintai hamba-Nya akan menaruh cinta-Nya itu dihati para malaikat, dan demikian pula apabila Dia membenci hambanya maka akan menaruh kebencian-Nya dihati semua anak Adam.
Seperti sabda Nabi yang diambil dalam kitab Al-Jami’ash-Shaghir, jilid II, oleh Abdurrahman Jalaluddin, yang berbunyi:
عن انس رضي الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه و سلم: اذا احب الله عبدا قذف حبه في قلوب الملا ئكة, واذا ابغض الله عبدا قذف بغضه في قلوب الملا ئكةثم يقذفه في القلوب الادميين (رواه ابن نعيم في الحليه)
Yang artinya:
Dari Anas r.a. berkata: Nabi SAW bersabda: apabila Allah SWT telah mencintai seorang hamba Dia menaruh cinta-Nya di hati para Malaikat dan apabila Allah membenci seorang hamba Dia menaruh kebencian-Nya di hati para Malaikat kemudian menaruhnya di hati anak Adam. (H.R. Ibnu Na’im dalam kitabnya Al-Hilyah).
Karena jika itu seseorang memiliki sifat kasih sayang terhadap sesama maka Allah SWT akan mengasihinya dan kasih Allah SWT tersebut diletakkan di hati para Malaikat dan semua anak Adam, sehingga para Malikat dan semua manusia akan mengasihi orang yang memberikan kasihnya kepada orang lain, dan demikian sebaliknya. 
   
Kasih sayang akan sanggup menjadi perekat tali persaudaraan antar sesama, dan sebaliknya permusuhan dan kebencian akan menjadi penyebab terputusnya tali persaudaraan dan persahabatan yang dilarang oleh agama. 
   
Oleh karena itu, menyambung tali persaudaraan akan dapat menjadi sarana kelapangan rizki dan panjang umurnya. Hal ini telah disebutkan dalam hadits Nabi, yang berbunyi:.
عن انس رضي الله عنه النبي صلى الله عليه و سلم قال: من احب ان يبسط له في رزقه وينسا له في اثره فاليصل رحمه (متفق عليه)
Yang artinya:
Dari r.a dia berkata: Barang siapa ingin dilapangkan rizkinya dan ditangguhkan atau dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali kasih dengan keluarganya. (H. R. Bukhari Muslim). 
Dalam hadits riwayat Bukhari dikatakan bahwa menyambung tali persaudaraan atau kekeluargaan bukanlah sekedar mengimbangi kebajikan yang telah dilakukan sanak keluarga akan tetapi penyambung tali kekeluargaan adalah orang yang ketika ada keluarga – yang karena sebab – memutuskan hubungan kekeluargaan dengannya, dia sanggup dan bersedia untuk memperbaiki dan menyambungtali yang telah diputuskan tersebut. 
   
Dalam hadits riwayat Bukhari dikatakan bahwa Rahim/ kasih sayang atau kekeluargaan itu tergantung di Arsy, siapa yang menyambungkannya dan memutuskannya Allah akan memutuskannya. Hadits tersebut dikutip oleh Juwariyah dari Kitab Riyadhushalihin, Jus I karangan Imam Nawawi, yang berbunyi sebagai berikut:
عن عائشة رضي الله عنها عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: الر حم معلقة با لعرش تقول: من وصلني و صله الله, و من قطعنى قطعه الله (متفق عليه)
Yang artinya: dari ‘Aisyah r.a dari Nabi SAW bersabda: rahim/ kekeluargaan itu tergantung di ‘Arsy. Rahim itu berkata: Barang siapa menyambungku Allah akan menyambungnya dan barangsiapa memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya. (H. R. Bukhari Muslim).
Manusia hanya akan jadi seperti apa yang dia usahakan, demikian pula dengan jalinan tali kasih dalam pergaulan, ketika seseorang mempererat tali kekeluargaan maka tali itu akan menjadi lekat dan kuat, akan tetapi sebaliknya ketika dia mengupayakan untuk memutuskan tali tersebut maka akan hilanglah keharmonisan sebuah persahabatan atau persaudaraan, sehingga yang tinggal hanyalah kagalauan dalam hidup karena ketika dia putuskan hubungan dengan keluarga maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya. 
   
Ketika Allah telah memutuskan hubungan dengan hamba-Nya maka tidak ada lain yang terjadi dalam diri hamba itu kecuali penderitaan, dan jika seorang hamba memiliki hubungan yang harmonis dengan Allah sebagai pencipta dan pemiliknya maka hanya kebahagiaan dan ketentraman yang dia rasakan. Karena itu, ketika seorang sahabat meminta kepada Nabi untuk ditunjukkan terhadap amal yang dapat memasukannya ke surga, Nabi mengatakan bahwa salah satunya adalah adalah menyambung tali persaudaraan. Tentang hal ini sabda Nabi dari kitab Riyadhus Shalihin karangan Imam Nawawi Jus I, berbunyi:
عن ابى ايوب خا لد بن زيد الانصا رى رضى الله عنه: ان رجلا قال: يا رسول الله اخبرني بعمل يدخلني الجنة فقال النبي صلى الله عليه و سلم: تعبد الله ولا تشرك به شيئا, و تقيم الصلاة وتؤتى الزكاة وتصل الرحم (متفق عليه)
Yang artinya:
Dari Abu Ayub Khalid bin Zaid r.a bahwa seseorang telah berkata: Wahai Rasulullah kabarkanlah kepadaku tentang amalan yang dapat masukkanku ke surga! Maka Nabi bersabda: Engkau sembah Allah SWT dan jangan engkau sekutukan dia dengan sesuatupun, engkau dirikan shalat, engkau bayarkan zakat, dan engkau sambung tali persaudaraan (H.R. Bukhari Muslim)
Dalam hadits diatas secara tegas Nabi menyampaikan bahwa sillaturrahmi termasuk amalan yang dapat memasukkan orang ke dalam surga Allah, apabila orang itu beriman, mendirikan shalat, memberikan hak fakir miskin dengan mengeluarkan zakat.  

D. LARANGAN MEMUTUSKAN HUBUNGAN SILATURRAHMI

Nabi SAW bersabda:
عن جا بر بن مطعم قال: قال النبي صلى الله عليه و سلم: لا يدخل الجنة قا طع ويعنى قا طع الرحم (متفق عليه) 
Yang artinya:
Dari Jabir bin Muth’im berkata: Rasulullah SAW bersabda: Tidak masuk surga orang yang memutuskan, yaitu memutuskan hubungan persaudaraan. (H.R. Bukhari Muslim).
Orang yang memutuskan hubungan persaudaraan berarti dia telah berbuat maksiat karena telah melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya tentang kewajiban umat Islam untuk menyambung tali persaudaraan. Bahkan sekedar menjauhi dan meninggalkan saudaranya lebih dari tiga malam dengan niat memutuskan hubungan persaudaraan pun tidak dibenarkan. Sebagaimana sabda Nabi yang diambil dari kitab At-Tajriid ash-Shariih oleh Juwariyah, yang berbunyi:
عن ابى ايوب الانصارى رضى الله عنه ان رسو ل الله صلى الله عليه وسلم قال: لا يحل لرجل ن يهجر اخا ه فوق ثلا ث ليا ل يلتقيا نفيعرض هذا ويعرض هذا وخيرهما الذى يبدا بالسلام.
Yang artinya:
Dari Abu Ayub al-anshari r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda: tidak dihalalkan bagi seseorang meninggalkan saudaranya sampai lebih dari tiga malam, keduanya bertemu dan saling berpaling, sedangkan yang terbaik diantara keduanya adalah yang memulai dengan salam. 
Dalam sabdanya yang lain Nabi mengatakan:
عن ابى هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : هن اعمل امتى تعرض عشية الخميس ليلة الجمعة, فلا يقبل عمل قا طع الرحم (رواه البخا ر)
Yang artinya:
Dari Abu Hurairah r.a berkata Rasulullah saw bersabda: sesungguhnya amal umatku dilaporkan (kepada Allah) pada hari kamis malam jum’at, maka tidaklah diterima amal orang yang memutuskan hubungan persaudaraan (H. R. Bukhari).  
Kemudian sabda Nabi yang diambil dari kitab Subulussalam Jus IV oleh Juwariyah, berbunyi:
وعن ابن مسعود قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم : ان ابواب السماء مغلقة دون قا طع الرحم (رواه الطبرني)
Yang artinya;
Dari Ibnu Mas’ud r.a berkata: sesungguhnya pintu – pintu langit itu tertutup untuk orang yang memutuskan hubungan persaudaraan. (H. R. Thabrani).
Dua hadits diatas memperjelas betapa Nabi telah mengutuk perbuatan dari orang – orang yang memutusan tali silaturrahmi atau hubungan persaudaraan, yang secara tegas diperintahkan Allah SWT untuk senantiasa menyambungnya, sehingga dikatakan bahwa amal seseorang yang dalam keadaan memutuskan hubungan persaudaraan tidak diterima oleh Allah, dan oleh karenanya dikatakan pula bahwa pintu – pintu langit yang disana penuh dengan berkah juga tertutup untuk orang – orang yang memutuskan hubungan tali persaudaraan. 
   
Hal itu dapat dipahami karena kecintaan seseorang terhadap saudaranya merupakan bukti dari keimnan seseorang, sehingga ketika seseorang telah memutuskan hubungan kasih sayang terhadap sesama sebagai bentuk persaudaraan maka dia telah kehilangan sebagian dari keimannya, karena keimanan yang sempurna menuntut kecintaan terhadap sesama muslim sebagaimana cintanya terhadap diri sendiri.
Sabda Nabi SAW:
عن انس رضى الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم انه قال: والذى نفسي بيده   لا يؤمن عبد حتى يحب لاخيه ما يحب لنفسه (متفق عليه)
Yang artinya:
Dari Anas r.a dari Nabi SAW berkata: Demi dzat yang jiwaku ada di tangan – Nya, tidaklah sempurna keimanan seorang hamba sehingga dia menyintai saudaranya sebagaimana menyintai dirinya sendiri. (H. R. Bukhari Muslim). 
Cinta akan selalu melahirkan perhatian dan kepedulian, cinta juga akan membuat seseoang rela berkorban, karena itu untuk mewujudkan rasa cinta terhadap sesama Nabi memerintahkan kepada umatnya agar menolong saudaranya baik dalam keadaan dhalim atau madhlum. Sebagaimana hadits  Nabi yang diambil dari Jawahirul Bukhari karangan Musthofa Muhammad ‘Imaroh oleh Juwariyah, yang berbunyi:
عن انس رضى الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم انه قال: انصر اخاك ظا لما او مظلوما قال يا رسول الله هذا ننصره مظلوم فكيف ننصره ظالما ؟ قال:تاء خذ فوق يدي (تمنعه عن الظلم بالفعل ان لم يمتنع با لقول)
Yang artinya:
Dari Anas r.a berkata: tolonglah saudaramu dalam keadaan menganiaya atau teraniaya. Mereka berkata: Wahai rosul Allah SWT ini kami tolong karena teraniaya, bagaimana kami menolong orang aniaya? Nabi bersabda: Engkau cegah dari kedhaliman dengan tangan kalau tidak bisa dengan lisan. 
Pepatah mengatakn bahwa teman sejati adalah orang yang bisa membantu menangis bukan yang membuatmu tertawa. Nasehat atau peringatan adalah sesuatu yang terkadang menyakitkan, akan tetapi sebenarnya dia merupakan bentuk dari kasih sayang, karena membiarkan orang yang melakukan kesalahan sama dengan menjerumuskan. Karena itu, jagalah persaudaraan dan pertemanan dengan bersedia sling tolong menolong dalam kebaikan agar selamat dalam menjalani kehidupan. 

E. MANFAAT SILATURRAHMI

Silaturahmi merupakan ibadah yang sangat agung, mudah dan membawa berkah. Kaum muslimin hendaknya tidak melalaikan dan melupakannya. Sehingga perlu meluangkan waktu untuk melaksanakan amal shalih ini. Demikian banyak dan mudahnya alat transportasi dan komunikasi, seharusnya menambah semangat kaum muslimin bersilaturahmi. Bukankah silaturahmi merupakan satu kebutuhan yang dituntut fitrah manusia? Karena dapat menyempurnakan rasa cinta dan interaksi sosial antar umat manusia. Silaturahmi juga merupakan dalil dan tanda kedermawanan serta ketinggian akhlak seseorang.
   
Silaturahim termasuk akhlak yang mulia. Dianjurkan dan diseru oleh Islam. Diperingatkan untuk tidak memutuskannya. Allah Ta’ala telah menyeru hambanya berkaitan dengan menyambung tali silaturahmi dalam sembilan belas ayat di kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala memperingatkan orang yang memutuskannya dengan laknat dan adzab, diantara firmanNya,
Yang artinya: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka, dan dibutakanNya penglihatan mereka.” 
Artinya : “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” 
Kini dapat kita mengerti, betapa pentingnya silaturahmi dalam Islam. Maka melihat pentingnya silaturahmi tersebut, berikut merupakan 10 manfaat Silaturahmi, yaitu: 
  1. Mendapatkan ridho dari Allah SWT.
  2. Membuat orang yang kita dikunjungi berbahagia. Hal ini amat sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, yaitu “Amal yang paling utama adalah membuat seseorang berbahagia.”
  3. Menyenangkan malaikat, karena malaikat juga sangat senang bersilaturahmi.
  4. Disenangi oleh manusia.
  5. Membuat iblis dan setan marah.
  6. Memanjangkan usia.
  7. Menambah banyak dan berkah rejekinya.
  8. Membuat senang orang yang telah wafat. Sebenarnya mereka itu tahu keadaan kita yang masih hidup, namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka merasa bahagia jika keluarga yang ditinggalkannya tetap menjalin hubungan baik.
  9. Memupuk rasa cinta kasih terhadap sesama, meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan, mempererat dan memperkuat tali persaudaraan dan persahabatan.
  10. Menambah pahala setelah kematiannya, karena kebaikannya (dalam hal ini, suka bersilaturahmi) akan selalu dikenang sehingga membuat orang lain selalu mendoakannya.

Setelah kita ketahui, bahwa jalinan kasih sayang kita bina dengan cara ber-Silaturrahmi, ternyata banyak manfaatnya. Baik untuk manfaat dunia maupun manfaat yang menghantarkan kita di akhirat kelak. Adapun jika kita melakukan perbuatan yang sekiranya dimaksudkan untuk memutuskan tali silaturrahim, maka Allah SWT kelak memberikan balasan yang mengerikan juga. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menjalin Silaturrahmi demi kebahagiaan kita di dunia maupun di akhirat.

DAFTAR PUSTAKA
Fahruddin H.S dan Irfan Fahruddin SH. 2001. Pilihan Sabda Rasul, Jakarta: Bumi Aksara.
Juwariyah. 2010.  Hadis Tarbawi, Yogyakarta: Teras.
Mahfud, Abdul Halim. 2000. Fiqh Ukhuwah (Merajut Benang Ukhuwah Islamiyah). Solo. Era Internedia.
Zakariya , Imam Abi. -. Riyadhu Ash-Shalihin,Terj. Ahmad Sunarto, Jus I, Jakarta: Pustaka. 
Al Qur’an Terjemah
http://tawbat.com/keutamaan-silaturahmi/, diakses pada tanggal 28 Maret 2013, pukul 16.43 WIB.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *