MODEL DESAIN PEMBELAJARAN MENURUT A. W. BATES

MODEL DESAIN PEMBELAJARAN MENURUT A. W. BATES

Seperti yang telah diuraikan dalam konsep, komponen dan prinsip desain pembelajaran, bahwa desain pembelajaran merupakan bagian penting dalam pembelajaran. Desain pembelajaran merupakan suatu sistem pembelajaran yang berfungsi sebagai acuan dalam melaksanakan sebuah kegiatan pembelajaran. “Instructional design as a process it is the systematic develoment of instructional specifications using learning and instruction theory to ensure the quality of instruction” (Seel, B and Glasgow Z, 1990: 4).

Salah satu syarat yang harus diperhatikan dalam mengembangkan desain pembelajaran adalah prinsip-prinsip kurikulum dan kondisi pembelajaran. Oleh karena itu, kita harus mengingat kembali prinsip-prinsip yang terkandung dalam pengembangan pembelajaran. Pengembangan pembelajaran adalah teknik pengelolaan dalam mencari masalah intruksional, oleh karena itu pengembangan pembelajaran perlu dikembangkan secara sistematis dan sistemik. 

Banyak model-model desain pembelajaran yang dikemukakan oleh para ahli, tetapi dalam kesempatan ini pemakalah hanya akan mengulas singkat tentang model desain pembelajaran yang diusung oleh Antony W. Bates.

A. Hakikat Desain Pembelajaran

Herbert Simon (Dick and Carry, 2006), mengartikan desain sebagai proses pemecahan masalah.
Tujuan sebuah desain adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi yang tersedia. Dengan demikian, suatu desain muncul karena kebutuhan manusia untuk memecahkan suatu persoalan. Melalui suatu desain, orang bisa melakukan langkah-langkah yang sistematis untuk memecahkan suatu persolanan yang dihadapi.

Desain instruksional yang baik harus memiliki beberapa kriteria, diantaranya berorientasi pada siswa, berpijak pada pendekatan sistem, dan teruji secara empiris. Desain sistem pembelajaran, berbeda dengan perencanaan sistem pembelajaran. Walaupun perencanaan pembelajaran berkaitan dengan desain pembelajaran, keduanya memiliki posisi yang berbeda. Perencanaan lebih menekankan pada proses pengambangan atau penerjemahan suatu kurikulum sekolah, sedangkan desain menekankan pada proses merancang program pembelajaran untuk membantu proses belajar siswa seperti yang dikemukakan oleh Anthony Bates. Dia merancang model pembelajaran terbuka dengan sistem pendidikan jarak jauh, dimana hal ini dilakukan karena terdapat hambatan, misalnya usia, lokasi geografis, keterbatasan waktu maupun situasi ekonomi. 

B. Sejarah Singkat Model Bates (Front End System Model)

Anthony (Tony) Bates, adalah salah satu pendidik jarak terkemuka yang mengembangkan model berdasarkan pada filosofi pembelajaran terbuka. Pendidikan terbuka, atau pembelajaran terbuka, adalah visi dari sistem pendidikan yang dapat diakses oleh setiap individu dengan pembatasan minimal. Filosofi ini menekankan fleksibilitas sistem untuk menghilangkan masalah yang disebabkan oleh hambatan, misalnya usia, lokasi geografis, keterbatasan waktu, dan situasi ekonomi. Bates menekankan pentingnya interaksi dan fleksibilitas karena ia merasa kurangnya hal tersebut dalam sistem pembelajaran jarak jauh.  
     
Pada tahun 1995, ketika model dikembangkan, Bates memiliki keinginan untuk menegaskan cara dimana teknologi modern akan mencapai pembelajaran terbuka. Dia mengungkapkan teknologi yang dapat memperluas akses terhadap pendidikan dan pelatihan, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan mengurangi biaya instruksional, serta menggalang popularitas, memiliki independensi struktur, mudah diakses, menghilangkan waktu dan hambatan situasional dan menghapus penghalang terbesar untuk belajar yaitu jarak antar tempat.
Pada saat itu ia menawarkan perkiraan berikut bagaimana teknologi dapat digunakan, seperti:
  1. Integrasi televisi, telekomunikasi dan komputer, melalui digitalisasi dan teknik kompresi,
  2. Mengurangi biaya dan lebih menggunakan / aplikasi telekomunikasi fleksibel melalui pekembangan seperti ISDN / serat optik / radio selular,
  3. Miniaturisasi (kamera kecil, mikrofon, layar tampilan resolusi tinggi kecil),
  4. Peningkatan portabilitas melalui penggunaan komunikasi radio,
  5. Peningkatan kekuatan pemrosesan, melalui pengembangan mikro-chup baru dan teknik perangkat lunak canggih,
  6. Peringkat lebih kuat dan user-friendly dan perangkat lunak, sehingga lebih mudah bagi pengguna untuk membuat dan mengkomunikasikan materi mereka sendiri.

Loading...

C. Tujuan Model Bates

Pembelajaran secara terbuka adalah tujuan utama atau kebijakan kependidikannya.  Karakrakteristik pendidikan terbuka yang utama dan terpenting adalah menghilangkan semua hambatan untuk belajar. Hal ini bukan berarti mengharuskan adanya persyaratan bagi siswa untuk belajar, dan untuk sebagian siswa yang memiliki keterbelakangan, dan sebuah langkah yang menentukan untuk menyediakan pendidikan pada bentuk yang sesuai untuk memecahkan masalah keterbelakangan tersebut. Tujuan yang lain adalah untuk menciptakan lingkungan belajar jarak jauh yang akan meningkatkan pengalaman bagi peserta melalui interaksi. Dalam mempertimbangkan pengaturan pendidikan, Bates juga mengklaim “karena jenis kelamin, ras, dan penampilan fisik, status, atau pengalaman yang tidak nampak, dan karena akses ke konferensi dapat dibuat dan disediakan bagi siswa dan guru secara sama, dan setiap orang yang berpartisipasi yang dinilai semata-mata pada nilai kontribusi mereka, meskipun hal ini sangat tergantung pada pendekatan yang dilakukan oleh tutor atau moderator” (Bates, 1995: 11). 

D. Pembelajaran Terbuka, Pembelajaran Fleksibel dan Pembelajaran Jarak Jauh

1. Pembelajaran Terbuka
Pembelajaran secara terbuka adalah tujuan utama atau kebijakan kependidikannya.  Karakrakteristik pendidikan terbuka yang utama dan terpenting adalah menghilangkan semua hambatan untuk belajar. Hal ini bukan berarti mengharuskan adanya persyaratan bagi siswa untuk belajar, dan untuk sebagian siswa yang memiliki keterbelakangan, dan sebuah langkah yang menentukan untuk menyediakan pendidikan pada bentuk yang sesuai untuk memecahkan masalah keterbelakangan tersebut.

Sebagai contoh, Tape Audio untuk siswa yang memiliki gangguan pada penglihatannya. Baiknya, tak sorangpun yang dilarang untuk mendapatkan program pembelajaran terbuka. Oleh karena itu, pembelajaran terbuka harus dilakukan sefleksibel mungkin. Keterbukaan mempunyai implikasi yang penting untuk pemanfaatan teknologi. Seandainya setiap siswa diizinkan untuk mendapatkan atau mengakses teknologi, maka teknologi yang tersedia memungkinkan untuk dimanfaatkan. 

     
2. Pembelajaran Fleksibel
Pembelajaran fleksibel adalah persyaratan dari keberlangsungan pembelajaran fleksibel. Hal ini tak mengenal lokasi goegrafi, sosial dan waktu yang sulit dijangkau, hampir sama dengan sejumlah institusi pendidikan. Pendidikan fleksibel termasuk pembelajaran jarak jauh, tetapi hal ini juga termasuk dalam pelatihan penyampaian secara tatap muka di tempat kerja atau stadium general di kampus. 
     
3. Pembelajaran Jarak Jauh
Pembelajaran jarak jauh di sisi lain kekurangan filosofi and memiliki banyak metode pendidikan. Siswa dapat belajar pada waktu yang lain, di tempat yang mereka suka seperti rumah, atau pusat kerja dan pembelajaran, dan tanpa tatap muka dengan pengajar. Jadi teknologi adalah suatu unsur kritik dari pembelajaran jarak jauh.

E. Front End System

Model desain pembelajaran yang dikemukakan oleh A. W. Bates sangat erat kaitannya dengan pengembangan bahan ajar yang dapat digunakan untuk penyelenggaraan sistem pendidikan jarak jauh.
Sistem pendidikan jarak jauh memiliki sejumlah karakteristik yang khas sebagai berikut:
1. Terpisahnya lokasi tutor dan siswa secara geografis
2. Adanya dukungan organisasi penyelenggara program
3. D igunakannya media dan teknologi pembelajaran
4. Berlangsungnya proses komunikasi dua arah
5. Terselenggaranya seminar yang mendukung kegiatan pembelajaran
6. Penyelenggaraan program pembelajaran berbasis industri.

F. Langkah-Langkah Model Front End System

1. Langkah Pertama
Langkah awal dalam model desain sistem pembelajaran yang dikemukakan oleh A. W. Bates adalah mengembangkan kerangka isi atau materi pelajaran (course outline development).  Kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan dalam langkah awal model Bates antara lain:
a. Mengidentifikasi sasaran atau siswa
b. Menganalisis kurikulum
c. Menentukan isi dan materi pelajaran
d. Menentukan pendekatan yang digunakan dalam proses pembelajaran.
2. Langkah Kedua
Dalam langkah ke II, Bates mengemukakan sebuah konsep yang dapat digunakan sebagai faktor untuk memilih jenis media dan teknologi yang akan digunakan dalam penyelenggaraan sistem pendidikan jarak jauh.
Konsep tersebut dikenal dengan istilah “action” yang merupakan singkatan beberapa faktor , yaitu:
a. Access
b. Cost
c. Teaching Function
d. Interaction or using friendliness
e. Organizational issues
f. Novelty
g. Speed.
Konsep “action” sebagai kriteria untuk menentukan media dan teknologi yang akan digunakan dalam menyampaikan substansi pelajaran dalam program sistem pendidikan jarak jauh merupakan suatu hal yang bersifat unik.
Robert Heinich (2005) mengemukakan beberapa jenis media yang dapat digunakan untuk menyampaikan substansi dalam program sistem pendidikan jarak jauh yaitu :
a. Media cetak
b. Media audio
c. Media video
d. Komputer
e. Multimedia
f. Jaringan komputer.
3. Langkah Ketiga
Langkah terakhir dari model desain sistem pembelajaran yang dikemukakan oleh Bates, yaitu penyampaian isi atau materi pelajaran kepada siswa yang mengikuti program sistem pendidikan jarak jauh. Dalam hal ini siswa berperan sebagai target audiens.
Untuk mendukung keberhasilan langkah ini diperlukan adanya beberapa sarana pendukung yaitu:
a. Gudang dan sarana penyimpanan dan bahan ajar
b. Perpustakaan sebagai tempat mencari referensi untuk pengembangan bahan ajar dan substansi
c. Sistem komunikasi dan teknologi untuk menyampaikan isi atau materi pelajaran kepada siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Bates, A. W. 2005. Technology, E-learning and Distance Education. Canada: Routledge and Francis Group.
Sanjaya, Wina. 2012. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Medis Group.
www.google.com.

Tinggalkan komentar