MODEL DESAIN SISTEM INSTRUKSIONAL BERORIENTASI PENCAPAIAN KOMPETENSI

MODEL DESAIN SISTEM  INSTRUKSIONAL 
BERORIENTASI PENCAPAIAN KOMPETENSI
Kurikulum merupakan hal yang sangat penting dalam lembaga pendidikan sebagai pengatur, pembentuk dan pencapaian suatu tujuan pendidikan dalam suatu negara. Seiring dengan munculnya beberapa undang-undang tentang kebijakan dan ketetapan pemerintah mengenai pendidikan dibeberapa provinsi, maka munculah kurikulum yang berorientasikan pada pencapaian kompetensi seperti KBK dan KTSP. Kurikulum ini merupakan upaya untuk mempersiapkan peserta didik agar mempunyai kemampuan dan keterampilan yang maksimal dan bermutu tinggi.
Akan tetapi, penyusunan pada kurikulum ini direncanakan dan dikendalikan secara nasional baik itu penetapan standar, penetapan kalender dan jam pelajaran serta yang lainnya. Padahal suatu daerah memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Dengan adanya hal ini, maka muculah kurikulum baru yang disebut DSI-PK yang akan dibahas lebih luas di bab selanjutnya.
  
A. Awal Mula  Desain Sistem Instruksional Berorientasi  Pencapaian  Kompetensi (DSI-PK).
           Awal Mula munculnya Desain Sistem Instruksional Berorientasi Pencapaian Kompetensi(DSI-PK) adalah yang  pertama, lahirnya Undang-Undang NO.22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah; Tap MPR No.IV/MPR/1999 tentang Arah Kebijakan Pendidikan Dimasa Depan; Undang-Undang No.25 Tahun  2000 tentang Kewenangan Pemerintahan dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom; serta lahirnya Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional , berimplikasi pada kebijakan penyelenggaran perubahan system pengelolaan  pendidikan dari yang bersifat sentralis ke desentralis. Jika sebelumnya pengelolaan pendidikan menjadi wewenang pusat maka setelah adanya undang-undang ini, maka pemerintah daerah memiliki wewenang untuk mengelola pendidikan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan daerah masing-masing.
           Kurikulum yang berorientasi pada pencapaian kompetensi, seperti Kurikulum Berbasis Kompetensi(KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), lahir seiring dengan lahirnya berbagai kebijakan tersebut. Kurikulum berorientasi pada pencapaian kompetensi (KBK dan KTSP) adalah upaya untuk mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial yang bermutu tinggi. Sehingga para guru harus mampu menjabarkan kurikulum secara kreatif dan inovatif dalam sistem instruksional yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan daerah.
           Kedua, kurikulum berorientasi pada pencapaian  kompetensi (KBK dan KTSP), memiliki perbedaan yang mendasar dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya. Secara filosofis kurikulum ini lebih menekankan pada tujuan untuk membentuk manusia yang memiliki kemampuan dasar (competency oriented) bukan manusia yang hanya menguasai bahan pelajaran (content oriented) . Maka kurikulum ini berorientasi pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik, sehingga pengembangan kurikulum ini  selanjutnya diserahkan  kepada guru yang dianggap lebih mengenal potensi peserta didik yang diajarnya dan keadaan daerah lingkungannya. 
Ketiga, kurikulum berorientasi pencapaian kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai oleh siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan (Depdiknas 2002) .
           Pada kurikulum ini ada sejumlah kompetensi yang pada dasarnya merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak dan harus dicapai oleh peserta didik sesuai dengan tingkatannya.
           Ada dua makna yang tersirat dalam kurikulum berorientasi pencapaian kompetensi. Pertama, mengharapkan adanya hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman  belajara yang bermakna. Kedua, memberikan peluang pada siswa sesuai dengan keberagaman yang dimiliki masing-masing.
           Kurikulum berorientasi pencapaian kompetensi memiliki tiga karakteristik utama yakni ;
  1. Memuat sejumlah kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa
  2. Implementsi pembelajaran menekankan kepada proses pengalaman dengan memperhatikan keberagaman setiap individu
  3. Evaluasi dalam kurikulum berorientasi pencapaian kompetensi menekankan pada evaluasi hasil dan proses belajar .

Depdiknas (2002) mengemukakan karakteristik kurikulum berorientasi pencapaian kompetensi secara lebih rinci sebagai berikut:
  1. Menekankan  kepada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
  2. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
  3. Penyampaian dalam pembelajaran mengunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
  4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
  5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

B. Model DSI-PK
1. Pengertian Model DSI-PK
           Model Desain Sistem Istruksional Berorientasi Pencapaian Kompetensi (DSI-PK) adalah gambaran proses rancangan sistematis tentang pengembangan pembelajaran baik menganai proses maupun bahan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dalam upaya pencapaian kompetensi. 
Kompetensi adalah kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki peserta didik. Pengembangan sistem pembelajaran yang berorientasi pada kompetensi merupakan pengembangan dan penjabaran dari Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang menekankan pencapaian kompetensi-kompetensi tertentu.  
2. Prosedur Pengembangan Model DSI-PK
           Prosedur pengembangan DSI-PK terdiri dari tiga bagian penting yaitu:
           a Analisis Kebutuhan
           Yaitu proses penjaringan informasi tentang kompetensi yang dibutuhkan anak didik sesuai dengan jenjang pendidikan. Dalam proses ini ada dua hal pokok yaitu analisis kebutuhan akademis dan kebutuhan non-akademis. Kebutuhan akademis adalah kebutuhan sesuai dengan tuntutan kurikulum yang tergambarkan dalam setiap bidang studi. Kebutuhan non-akademis adalah kebutuhan diluar kurikulum baik kebutuhan personal, kebutuhan sosial, ataupun kebutuhan vokasional. Kebutuhan ini dijaring dengan berbagai tehnik seperti wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Berdasarkan studi pendahuluan, selanjutnya ditentukan topik atau tema pembelajaran berdasarkan kebutuhan akademis atau non-akademis atau gabungan dari keduanya.
           b Pengembangan
           Yaitu proses mengorganisasikan materi pelajaran dan pengembangan proses pembelajaran. Mata pelajaran disusun sesuai dengan kompetensi yang diharapkan, baik menyangkut data, fakta, konsep, prinsip, atau keterampilan. Dan prosesnya menunjukan bagaimana seharusnya siswa mengalami kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini meliputi hal yang semestinya dilakukan oleh siswa dan guru dalam upaya mencapai kompetensi.
           c Pengembangan Alat Evaluasi
           Dalam pengembangan alat evaluasi memiliki dua fungsi utama, yaitu evaluasi formatife dan evaluasi sumatife. Evaluasi formatife dilakukan untuk melihat sejauh mana efektivias program yang telah disusun  oleh guru. Evaluasi sumatife digunakan untuk memperoleh informasi keberhasilan siswa mencapai kompetensi. 
3. Karakteristik Model DSI-PK
           Desain sistem instruksional adalah proses merancang atau merencanakan secara sistematis tentang analisis kebutuhan  dan tujuan belajar, merancang materi pembelajaran serta merancang pengembangan strategi dan tehnik pembelajaran termasuk merancang pemanfaatan berbagai  sumber daya dan potensi yang tersedia untuk mencapai tujuan belajar. Didalamnya juga menyangkut hal yang berhubungan dengan kepentingan pembelajaran seperti uji coba, revisi, kegiatan evaluasi hasil belajar dan lain-lain. 
           Sesuai dengan kebijakan pemerintah, bahwa pengembangan kurikulum dan proses perencanaan pendidikan diserahkan kepada daerah termasuk guru di sekolah, maka kemampuan mendesain instruksional bagi setiap guru merupakan suatu yang sangat penting. DSI-PK merupakan model desain yang diharapkan dapat digunakan oleh setiap guru sebagai pedoman untuk mengembangan sistem instruksional  sesuai dengan karakteristik kurikulum yang berorientasi pada pencapaian kompetensi. 
Karakteristik model desain sistem instruksional (DSI-PK) sebagai berikut:
  1. DSI-PK merupakan model desain yang sederhana dengan tahapan yang jelas dan bersifat praktis.
  2. Model desain secara jelas menggambarkan langkah-langkah yang harus ditempuh, dimaksudkan untuk menuntun secara konkret bagi guru sehingga tidak dihadapkan pada persoalan yang rumit.
  3. Merupakan pengembangan dari analisa kebutuhan, yaitu tidak hanya menyangkut kebutuhan akademis tetapi juga kebutuhan personal sesuai dengan tuntutan sosial kedaerahan.
  4. Model ini ditekankan pada penguasaan kompetensi sebagai hasil belajar yang dapat diukur. 

Loading...
Dalam referensi lain juga disebutkan beberapa karakteristik model DSI-PK yang berorientasi pada pencapaian tujuan yaitu:
  1. Memuat sejumlah kompetensi yang harus dikuasai  siswa.
  2. Menekankan proses pengalaman dengan memperhatikan keragaman  tiap individu.
  3. Evaluasi hasil dan proses belajar.  

           Sebagaimana kita ketahui sebelumnya bahwa kurikulum KBK dan KTSP merupakan upaya untuk mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial yang bermutu tinggi. Sedangkan kompetensi yang dikembangkan adalah keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam perubahan, pertentangan, ketidak menentuan, ketidakpastian, dan kerumitan dalam kehidupan, seperti yang terjadi pada era globalisasi ini dan ini merupakan standar yang ditetapkan dalam standar nasional.  
           Peserta didik diharapkan agar memiliki kemampuan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial yang bermutu tinggi. Kecakapan hidup (life skill) yang harus dimiliki siswa; kecakapan mengenal diri (self awarness), kecakapan berpikir rasional (thinking skill), kecakapan sosial (social skill), kecakapan akademis (academic skill), dan kecakapan vokasional (vocational skill). Standar ini juga ditandai dengan pembentukan akhlak yang mulia untuk mewujudkan manusia Indonesia yang berkepribadian dan beretos kerja, berpartisispasi aktif, demokratis, dan berwawasan kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.  
           Akan tetapi setiap daerah mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Oleh karena itu, ditetapkannya undang-undang dan peraturan pemerintah untuk mencapai kompetensi dasar sesuai keadaan sekolah di masing-masing daerah. Dalam rangka ini model DSI-PK dikembangkan. Dalam model ini rancangan pembelajaran tidak hanya menyangkut rancangan kompetensi akademis sesuai isi kurikulum, tetapi juga menyangkut rancangan kompetensi nonakadamis, yaitu sesuai tuntutan dan kondisi daerah dimana siswa tinggal. 
           Kerangaka berfikir DSI-PK adalah menggunakan pendekatan system, yaitu keseluruhan bagian yang saling berkaitan dan bekerja sama untuk mencapai hasil yang ditatapkan sesuai kebutuhan yang ditentukan. Dan suatu sistem yang melibatkan beberapa kompenen diarahkan untuk mencapai tujuan. 
           Penelaahan juga sangat mempengaruhi hasil yang diharapkan. Oleh karena itu, sistem erat kaitanya dan berguna untuk menyusun suatu perencanaan. Perencanaan merupakan suatu proses dan cara berfikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan. Melalui proses ini dapat ditentukan berbagai hal yang mendukung tercapainya suatu tujuan, termasuk memprediksi setiap hambatan yang mungkin muncul salama proses berlangsung.   
DAFTAR PUSTAKA
Wina Sanjaya. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. 2008. Jakarta: Kencana.
http://0700259khansa.blogspot.com/2011/03/model-desain-instruksional-dan.html diakses pada tanggal 10 April 2013 pukul 19.55 WIB
www.scribd.com/doc/14802873/Perencanaan-Sistem-PAI diakses pada tanggal 10 April 2013 pukul 19.35 WIB

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.