MODEL PEMBELAJARAN REMIDIAL DAN PENGAYAAN

MODEL PEMBELAJARAN REMIDIAL DAN PENGAYAAN

A.    Model Pembelajaran

1.    Pengertian Model Pembelajaran
Menurut Joyce  seperti yang dikutip oleh Hamruni (2012: 5) model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain. Sedangkan menurut Arends yang dikutip Hamruni (2012: 5), model pengajaran mengarah kepada suatu pendekatan pembelajaran tertentu termasuk didalammya tujuan, sintaks, lingkungan, dan sistem pengelolaannya.

MODEL PEMBELAJARAN REMIDIAL DAN PENGAYAAN
MODEL PEMBELAJARAN REMIDIAL DAN PENGAYAAN

Menurut  Soekamto dkk, yang dikutip oleh Ngalimun menyatakan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktifitas pembelajaran (Ngalimun, 2013: 10).

Sedangkan menurut Supriyono yang dikutip oleh Subur, model pembelajaran adalah pola yang dipergunakan sebagai pedoman dalam perencanaan pembelajaran di kelas dan biasanya menggambarkan langkah-langkah atau prosedur yang ditempuh guru untuk menciptakan aktifitas pembelajaran yang efektfi, efisien, dan menarik (Subur, 2014: 11).

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas.

2.    Fungsi Model Pembelajaran
Fungsi model pembelajaran adalah sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam melaksanakan pembelajaran (Trianto, 2013: 52). Sedangkan menurut Ngalimun, model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman perancangan dan pelaksanaan pembelajaran (2013: 29).

3.    Ciri-ciri Model Pembelajaran

Ciri model pembelajaran yang membedakannya dengan strategi, metode, dan prosedur yaitu:

  1. Rasional teoritik logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya
  2. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana peserta didik belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai)
  3. Tingkah laku pembelajaran yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil, dan lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai (Ngalimun, 2013: 8).

B.    Pembelajaran Remedial

1.    Pengertian Pembelajaran Remedial
Remedial menurut Kamus Besar Indonesia, mempunyai arti bersifat menyembuhkan atau berhubungan dengan perbaikan pengajaran atau pengajaran ulang bagi siswa yang hasil belajarnya jelek (KBBI, 2000: 1161).

Remedial adalah pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai ketuntasan pada Kompetensi Dasar tertentu menggunakan berbagai metode diakhiri dengan penilaian untuk mengukur kembali tingkat ketuntasan peserta didik (Ischak S.W. dan Warji, 1987: 33). Maka dalam pembelajaran, remedial diperlukan untuk menyebuhkan atau membuat baik materi dari pelajaran yang dikiranya sulit untuk dipahami, maka siswa harus mengulang materi tersebut untuk membuat siswa tersebut paham dengam materinya. Pembelajaran remedial perlu diadakan bila telah diketahui terlebih dahulu apa dan bagaimana kesulitan belajar yang dialami peserta didik maka dapat kita ketahui bahwa tujuan guru melaksanakan kegiatan remedial adalah membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran agar mencapai hasil belajar yang lebih baik.

2.    Tujuan Remedial
Tujuan guru melaksanakan kegiatan remedial adalah membantu siswa yang mengalami kesulitan menguasai kompetensi yang telah ditentukan agar mencapai hasil belajar yang lebih baik. Secara umum tujuan dari kegiatan remedial ini adalah untuk membantu siswa mencapai kompetensi atau tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan berdasarkan kurikulum yang yang berlaku. Sedangkan secara khusus, kegiatan remedial bertujuan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar yang dihadapinya dengan memperbaiki cara mengajarnya (Ischak S.W. dan Warji, 1987: 33). Maka dengan pengajaran remedial siswa dapat memahami dirinya menyangkut prestasi belajar siswa, kemudian memperbaiki cara-cara belajar yang lebih baik, dengan dorongan dan motivasi maka siswa akan lebih baik untuk memahami materi-materi tersebut.

3.    Prinsip Pembelajaran Remedial
Pada prinsipnya semua siswa dapat mencapai ketuntasan belajar yang diharapkan,hanya saja, masing-masing siswa memiliki kecepatan yang berbeda sehingga menimbulkan perbedaan waktu dalam pencapaiannya. Karena itu perlu adanya program pembelajaran remedial agar semua siswa dapat mencapai ketuntasan belajar.
Prinsip-prinsip pembelajaran remedial yaitu:

  1. Adaptif
  2. Interaktif
  3. Fleksible dalam metode dan penilaian
  4. Pemberian umpan balik secepat mungkin
  5. Pelayanan sepanjang waktu (Sakinah, 2013: 1)..

4.    Fungsi Remedial

Fungsi remedial terdapat 6 bagian yaitu:

  1. Fungsi korektif. Memperbaiki cara mengajar dan cara belajar. Kegiatan remedial mempunyai fungsi korektif bagi kegiatan pembelajaran karena melalui kegiatan remedial ini guru memperbaiki cara mengajarnya dan siswa memperbaiki cara belajarnya.
  2. Fungsi Pemahaman. Kegiatan remedial mempunyai fungsi pemahaman karena dalam kegiatan remedial akan terjadi proses pemahaman baik pada diri guru maupun diri siswa.
  3. Fungsi penyesuaian. Kegiatan remedial memiliki fungsi penyesuaian karena pelaksanaan kegiatan remedial disesuaikan dengan kesulitan yang dihadapi individu siswa. Tujuan dan materi pelajaran disesuaikan dengan kesulitan yang dihadapi individu siswa. Maka siswa akan termotivasi untuk belajar lebih giat sehingga dapat mencapai prestasi belajar siswa yang lebih baik.
  4. Fungsi Pengayaan. Kegiatan remedial mempunyai fungsi pengayaan bagi proses pembelajaran karena melalui kegiatan remedial guru memanfaatkan sumber belajar, metode mengajar atau alat bantu pembelajaran yang lebih bervariasi dari yang diterapkan guru dalam pembelajaran biasa.
  5. Fungsi Akselerasi. Kegiatan remedial memiliki fungsi akselerasi terhadap proses pembelajaran karena melalui kegiatan remedial guru dapat mempercepat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
  6. Fungsi Terapeutik. Kegiatan remedial memiliki fungsi terapeutik karena melalui kegiatan remedial guru dapat membantu mengatasi kesulitan siswa yang berkaitan dengan aspek sosial pribadi (Sakinah, 2013: 1-2).

5.    Pelaksanaan Pembelajaran Remedial
Kegiatan remedial dapat dilaksanakan sebelum kegiatan pembelajaran, setelah kegiatan pembelajaran atau selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam kegiatan remedial yaitu:

a.      Analisis hasil diagnosis   
Diagnosis kesulitan belajar adalah suatu proses pemeriksaan terhadap siswa yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. Melalui kegiatan diagnosis, guru akan mengetahui para siswa yang perlu mendapat bantuan. Untuk keperluan kegiatan remedial, tentu yang menjadi sorotan adalah siswa-siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar yang ditunjukkan dengan tidak tercapainya kriteria keberhasilan belajar. Setelah guru mengetahui siswa-siswa mana yang harus mendapatkan remedial, informasi selanjutnya yang harus diketahui guru adalah topik atau materi apa yang belum dikuasai oleh siswa tersebut. Sebelum merancang kegiatan remedial, terlebih dahulu harus mengetahui mengapa siswa mengalami kesulitan dalam menguasai materi pelajaran.

b.     Identifikasi penyebab kesulitan 
Sebelum mulai merancang kegiatan remedial, terlebih dahulu guru harus mengetahui mengapa siswa mengalami kesulitan dalam mencapai kompetensi yang diharapkan atau menguasai materi pelajaran. Setelah diketahui siswa-siswa yang perlu mendapatkan remedial, topik yang belum dikuasai setiap siswa, serta faktor penyebab kesulitan, langkah selanjutnya adalah menyusun rencana pembelajaran.

c.     Penyusunan rencana             
Guru merumuskan kompetensi atau tujuan pembelajaran, kemudian menentukan materi ajar, lalu guru memilih dan merancang kegiatan remedial sesuai masalah dan faktor penyebab kesulitan serta karakteristik siswa dan merencanakan waktu yang diperlukan untuk melaksanankan kegiatan remedial.
Sama halnya pada pembelajaran pada umumnya, komponen-komponen yang harus direncanakan dalam melaksanakan kegiatan remedial adalah sebagai berikut:
1)    Merumuskan indikator hasil belajar
2)    Menentukan materi yang sesuai dengan indikator hasil belajar
3)    Memilih strategi dan metode yang sesuai dengan karakteristik siswa
4)    Merencanakan waktu yang diperlukan
5)    Menentukan jenis, prosedur dan alat penilaian.
d.     Pelaksanaan kegiatan  

Biasanya kegiatan remedial dilaksanakan di luar jam belajar biasa. Oleh karena itu dituntut kerelaan dari guru untuk menyediakan waktu tambahan di luar jam belajar, untuk membantu siswa yang memerlukan. Sebaiknya pelaksanaan kegiatan remedial dilakukan sesegera mungkin, karena semakin cepat siswa dibantu mengatasi kesulitan yang dihadapinya, semakin besar kemungkinan siswa tersebut berhasil dalam belajarnya.

e.     Evaluasi      
Untuk mengetahui berhasil tidaknya kegiatan remedial yang telah dilaksanakan, kita harus melaksanakan penilaian. Penilaian ini dapat dilakukan dengan cara mengkaji kemajuan belajar siswa. Apabila siswa mengalami kemajuan belajar sesuai yang diharapkan, berarti kegiatan remedial yang direncanakan dan dilaksanakan cukup efektif membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Tetapi, apabila siswa tidak mengalami kemajuan dalam belajarnya berarti kegiatan remedial yang direncanakan dan dilaksanakan kurang efektif (Sakinah, 2013: 3).

Sedangkan menurut Mimin Haryati, cara yang dapat ditempuh dalam melaksanakan pembelajaran remedial adalah sebagai berikut:

  • Pemberian bimbingan secara khusus dan perorangan bagi para peserta didik yang belum atau mengalami kesulitan dalam pencapaian indikator dari suatu kompetensi yang telah ditentukan. Cara ini merupakan cara yang paling mudah untuk dilakukan kerena hal ini merupakan implikasi dari peranan seorang guru menjadi fasilitator.
  • Pemberian tugas-tugas atau perlakuan (treatment) secara khusus dimana hal ini merupakan penyederhanaan dari sistem pembelajaran reguler (Mimin Haryati, 2010: 112).

Adapun penyederhanaan dari sistem pembelajaran reguler yang dilaksanakan dapat dilakukan dengan cara:

  • Penyederhanaan isi atau materi ajar untuk setiap kompetensi dasar tertentu.
  • Penyederhanaan dalam penyampaian materi atau bahan ajar tertentu misalnya dengan menggunakan grafik, gambar, model, skema, rangkuman materi dan lain sebagainya.
  • Penyederhanaan soal ujian yang diberikan (Mimin Haryati, 2010: 112).

Beberapa teknik dan strategi yang dipergunakan dalam pelaksanaan pembelajaran remedial antara lain:
a.    Pemberian Tugas
Dalam pemberian tugas dapat dilakukan dengan berbagai jenis antara lain dengan pemberian rangkuman baik dilakukan secara individual maupun secara kelompok, dan sebagainya

b.  Melakukan Aktivitas Fisik
Ada konsep-konseps yang lebih mudah dipahami lewat aktivitas fisik dan menggunakan berbagai media dan alat pembelajaran sehingga dapat mengkonkritkan konsep yang dipelajarinya, selain itu hendaknya banyak memberi kesempatan kepada siswa untuk mengunakan media terebut, karena siswa pada umumnya perkembangan berpikir mereka berada pada tingkat operasional konkrit. Mereka akan dapat mencerna dengan baik konsep yang divisualisasikan atau dikonkritkan.

c.  Kegiatan Kelompok
Diskusi kelompok dapat digunakan guru untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Yang perlu diperhatikan guru dalam menetapkan kelompok dalam kegiatan remedial adalah dalam menentukan anggota kelompok. Kegiatan kelompok dapat efektif dalam membantu siswa, jika diantara anggota kelompok ada siswa yang benar-benar menguasai materi dan mampu memberi penjelasan kepada siswa lainnya.

d.  Tutorial Sebaya
Kegiatan tutorial dapat dipilih sebagai kegiatan remedial. Dalam kegiatan ini seorang guru meminta bantuan kepada siswa yang lebih pandai untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Siswa yang dijadikan tutor bisa berasal dari kelas yang sama atau dari kelas yang lebih tinggi. Apabila menggunakan tutor yang sebaya sangat membantu sekali, karena tingkat pemahaman dan penyampaian tutor yang sebaya lebih dimengerti oleh siswa yang bermasalah, selain itu mereka tidak merasa canggung dalam menanyakan setiap permasalahan karena usia mereka sama sehingga mudah dimengerti olehnya.

e.  Menggunakan Sumber Lain
Selain dengan pembelajaran ulang, kegiatan kelompok, tutorial, guru juga dapat menggunakan sumber belajar lain yang relevan dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan memahami materi pelajaran.  Atau juga siswa diminta membaca sumber lain dan bahkan kalau mungkin mendatangkan anggota masyarakat yang mempunyai keahlian yang sesuai dengan materi yang dipelajari (Sakinah, 2013: 3).

C.    Pembelajaran Pengayaan

1.    Pengertian Pembelajaran Pengayaan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengayaan adalah proses, cara, perbuatan mengayakan, memperkaya, memperbanyak tentang pengetahuan dan sebagainya (KBBI, 2000: 640). Namun pengertian dalam pembelajaran pengayaan yaitu suatu kegiatan yang diberikan kepada siswa kelompok cepat agar mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal dengan memanfaatkan sisa waktu yang dimilikinya (Sakinah, 2013: 4).

Pengayaan juga berarti pemberian tambahan pengetahuan dan ketrampilan sesuai dengan kapasitasnya pada peserta didik yang memiliki kecepatan lebih dalam pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan (Mimin Haryati, 2010: 112).

2.    Tujuan Pengayaan
Kegiatan pengayaan dilaksanakan dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam penguasaan materi pelajaran yang berkaitan dengan tugas belajar yang sedang dilaksanakan sehingga tercapai tingkat perkembangan yang optimal. Siswa yang cepat menguasai kompetensi dan tugas belajarnya tentu saja memiliki kelebihan waktu yang perlu dimanfaatkan. Kelebihan waktu yang tidak dimanfaatkan dengan baik akan menimbulkan hal-hal negatif yang bisa mengganggu siswa lain yang sedang aktif mengikuti pembelajaran, maka dari itu guru harus memberikan tugas pengayaan bagi siswa yang cepat menguasai pembelajaran. Kegiatan pengayaan dilaksanakan dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam penguasaan materi pelajaran yang berkaitan dengan tugas belajar yang sedang dilaksanakan sehingga tercapai tingkat perkembangan yang optimal (Haedar Rauf, 2012: 2).

3.    Pelaksanaan Pengayaan
Pemberian pembelajaran pengayaan pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan lebih, baik dalam kecepatan maupun kualitas belajarnya. Agar pemberian pengayaan tepat sasaran maka perlu ditempuh langkah-langkah sistematis, yaitu:

a.    Identifikasi Kelebihan Kemampuan Belajar

Identifikasi kemampuan berlebih peserta didik dimaksudkan untuk mengetahui jenis serta tingkat kelebihan belajar peserta didik. Kelebihan kemampuan belajar itu antara lain meliputi:

  1. Belajar lebih cepat, peserta didik yang memiliki kecepatan belajar tinggi ditandai dengan cepatnya penguasaan mata pelajaran tertentu.
  2. Menyimpan informasi lebih mudah, yaitu peserta didik yang memiliki kemampuan menyimpan informasi lebih mudah ingatannya dan mudah diakses untuk digunakan.
  3. Keingintahuan yang tinggi, banyak bertanya dan menyelidiki merupakan tanda bahwa seorang peserta didik memiliki hasrat ingin tahu yang tinggi.
  4. Berpikir mandiri, peserta didik dengan kemampuan berpikir mandiri umumnya lebih menyukai tugas mandiri serta mempunyai kapasitas sebagai pemimpin.
  5. Superior dalam berpikir abstrak, peserta didik yang superior dalam berpikir abstrak umumnya menyukai kegiatan pemecahan masalah.
  6. Memiliki banyak minat, mudah termotivasi untuk meminati masalah baru dan berpartisipasi dalam banyak kegiatan (Sakinah, 2013: 4).

Adapun teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemampuan berlebih peserta didik dapat dilakukan antara lain melalui:

  1. Tes IQ (Intelligence Quotient) adalah tes yang digunakan untuk mengetahui tingkat kecerdasan peserta didik. Dari tes ini dapat diketahui tingkat kemampuan spasial, interpersonal, musikal, intrapersonal, verbal, logik/matematik, kinestetik, naturalistik, dan sebagainya.
  2. Tes inventori yaitu tes yang digunakan untuk menemukan dan mengumpulkan data mengenai bakat, minat, hobi, kebiasaan belajar, dan sebagainya.
  3. Wawancara dilakukan dengan mengadakan interaksi lisan dengan peserta didik untuk menggali lebih dalam mengenai program pengayaan yang diminati peserta didik.
  4. Pengamatan (observasi) dilakukan dengan jalan melihat secara cermat perilaku belajar peserta didik. Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui jenis maupun tingkat pengayaan yang perlu diprogramkan untuk peserta didik (Haedar Rauf, 2012: 2).

b.   Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan

Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran pengayaan dapat dilakukan antara lain melalui:

  1. Belajar kelompok, sekelompok peserta didik yang memiliki minat tertentu diberikan pembelajaran bersama pada jam-jam pelajaran sekolah biasa.
  2. Belajar mandiri, secara mandiri peserta didik belajar mengenai sesuatu yang diminati.
  3. Pembelajaran berbasis tema, memadukan kurikulum di bawah tema besar sehingga peserta didik dapat mempelajari hubungan antara berbagai disiplin ilmu.
  4. Pemadatan kurikulum, pemberian pembelajaran hanya untuk kompetensi/materi yang belum diketahui peserta didik. Dengan demikian tersedia waktu bagi peserta didik untuk memperoleh kompetensi/materi baru, atau bekerja dalam proyek secara mandiri sesuai dengan kapasitas maupun kapabilitas masing-masing (Sakinah, 2013: 4).

Sedangkan menurut Mimin Haryati, beberapa hal yang dapat dilakukan dalam rangka melaksanakan pembelajaran pengayaan adalah sebagai berikut:

  1. Pemberian materi tambahan atau berdiskusi tentang suatu hal yang berkaitan dengan materi ajar berikutnya, bersama teman kelompoknya yang mengalami hal serupa dengan tujuan memperluas wawasannya.
  2. Menganalisis tugas-tugas yang diberikan guru sebagai materi ajar tambahan.
  3. Mengerjakan soal-soal latihan tambahan yang bersifat pengayaan (Mimin Haryati, 2010: 113).

Dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pengayaan, guru menerapkan pendekatan individu. Kegiatan pengayaan lebih bersifat fleksibel dibandingkan dengan kegiatan remedial. Artinya, kegiatan pengayaan dalam rangka memanfaatkan sisa waktu merupakan kegiatan yang menyenangkan dan dapat merangsang kreatifitas siswa secara mandiri.

Ada beberapa kegiatan yang dapat dirancang dan dilaksanakan oleh guru dalam kaitannya dengan pengayaan. Berikut ini adalah beberapa kegiatan pengayaan yang dikemukakan oleh Julaeha dan dikutip oleh Sakinah, yaitu:

a)    Tutor Sebaya
Selain efektif dalam kegiatan remedial, tutor sebaya juga efektif digunakan dalam kegiatan pengayaan. Melalui keiatan tutor sebaya, pemahaman siswa terhadap suatu konsep akan meningkat karena selain mereka harus menguasai konsep yang akan dijelaskan mereka juga harus mencari teknik menjelaskan konsep tersebut kepada temannya. Selain itu tutor sebaya juga dapat mengembangkan kemampuan kognitif tingkat tinggi.

b)    Mengembangkan Latihan
Siswa kelompok cepat dapat diminta untuk mengembangkan latihan praktis yang dapat dilaksanakan oleh teman-temannya yang lambat. Kegiatan ini dapat dilakukan untuk pendalaman materi yang menuntut banyak latihan, misalnya pada mata pelajaran matematika. Guru juga bisa meminta siswa kelompok cepat untuk membuat soal-soal latihan beserta jawabannya yang akan digunakan dalam kegiatan remedial atau sebagai bahan latihan dalam kegiatan tutor sebaya.

c)    Mengembangkan Media dan Sumber Pembelajaran
Siswa kelompok cepat diberi kesempatan untuk membuat hasil karya berupa model, permainan atau karya tulis yang berkaitan dengan materi yang dipelajari yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber belajar bagi siswa kelompok lambat.

d)    Melakukan Proyek
Keterlibatan siswa dalam suatu proyek atau mempersiapkan suatu laporan khusus berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari merupakan kegiatan pengayaan yang paling menyenangkan. Kegiatan ini mampu meningkatkan motivasi belajar, kesempatan mengembangkan bakat, dan menambah wawasan baru bagi siswa kelompok cepat.

e)    Memberikan Permainan Masalah atau Kompetensi Antarsiswa
Dalam kegiatan ini, guru dapat memberikan tugas kepada siswa untuk memecahkan suatu masalah atau permainan yang berkaitan dengan materi pelajaran agar mereka merasa tertantang. Melalui kegiatan ini, mereka akan berusaha untuk memecahkan masalah atau permainan dan mereka juga akan belajar satu sama lain dengan membandingkan strategi/teknik yang mereka gunakan dalam memecahkan permasalahan atau permainan yang diberikan (Sakinah, 2013: 4).

Loading...
About Tohir 849 Articles
Kalo satu lidi bisa patah dengan mudah, tapi seratus lidi yang bersatu akan sangat susah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*