Opini

Jangan Ngomongin Orang Belum Tentu Kita Lebih Baik Darinya

Jangan Ngomongin Orang Belum Tentu Kita Lebih Baik Darinya – Untuk memulai menulis masalah ini tidak gampang karena ketika aku menulis dengan judul “Jangan ngomongin orang belum tentu kita lebih baik darinya”. Aku juga secara tidak langsung akan ngomongin orang.

Parahnya hal yang kita obrolkan dengan teman biasanya adalah sisi keburukan seseorang.

Ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari bahkan tak jarang kita juga melakukan hal seperti itu meski hanya sebagai pendengar.

Ngomongin Orang

Di dalam dinamika sosial masyarakat yang ada kita tidak mungkin dapat menghindar dari penilaian seseorang.

Peniaian seseorang terhadap kita ada yang positif namun tak jarang juga bernada negatif.

Sebagai manusia biasa kita juga sering kali melakukan kesalahan baik dalam berucap atau dalam bertindak.

Kalaupun kita menjadi sosok pendiam dengan tujuan meminimalisir kesalahan berbicara, dikalangan teman-teman mengatakan kamu tidak asyik, tidak familiar.

Padahal ketika kita berada dalam komunitas tertentu sering kali kita mempergunjingkan masalah seseorang iya kan?

Ya meski tidak semuanya benar toh ketika kita bertemu dengan individu atau komunal ujung-ujungnya pasti kita ngomongin seseorang. Ntah itu dalam bidang karir atau dalam bidang percintaan.

Kita tidak terbiasa mendengarkan kabar keberhasilan seseorang lalu kita merespon dengan suka cita, yang sering kita respon ialah hal negatifnya saja.

contohnya seperti ini “Halah dia sukses kan karena ikut kakanya. Dan berbagai kalimat negatif yang lain.

Memang sudah menjadi tabiat manusia mungkin saling menilai antar manusia satu dengan yang lain. Mempergunjingkan sesuatu seseolah-olah kita sudah tahu segalanya.

Entah kenapa kita lebih dominan berpikiran negatif terhadap seseorang, bahkan dengan teman yang paling akrab sekalipun.

Kita masih sering mempermasalahlan hal-hal yang sepele yang tidak terlalu penting namun bisa menjadikan  pertengkaran.

Kita punya sisi lucu masing-masing jadi jangan saling menertawakan, dikiranya yang sering mengatakan lucu dia tidak lucu apa? Sama kok kita sama-sama lucu.

Yang salah kaprah adalah ketika kita sudah bisa menertawakan kelucuan tingkah polah manusia, kita merasa derajat kita berada di atas mereka. Itu salah kaprah. Kita sama saja dengan mereka.

Kalau begitu sebaik-baiknya manusia itu manusia yang seperti apa? Aku tidak berani untuk menjawab dengan pasti, namun ada yang menjawab “yang bermanfaat bagi sesama”.

“Bermanfaat” dalam kontek tertentu, tujuan bermanfaat juga banyak diselewengkan sekarang, kelihatanya bermanfaat namun sebenarnya memanfaatkan orang lain.

Ahh entahlah karena menurutku kebaikan tidak selamanya murni seratus persen, namun beberapa persen sudah tercampur dengan kepentingan.

Intinya bahwa kita sama-sama terlahir sebagai pendosa, iya kan? Kalimat ini yang menunjukan “Manusia tempat salah dan lupa”. Haha

Kita terlahir sudah salah, hidup berperilaku salah, dan terbiasa menyalahkan orang lain untuk menutupi kesalahan diri sendiri.

Atau ada disini yang mengatakan dia suci, dia tidak pernah melakukan kesalahan, dia terhormat dihadapan-Nya.

Jelas tidak ada, kita sudah terbelenggu dengan salah dan lupa. Terus saja seperti itu berputar melingkar dalam satu titik dan suatu ketika kita akan kembali ke titik yang sama.

Akan terus seperti itu mungkin, sampai generasi manusia berakhir akan tetap seperti itu. Semoga tidak demikian.

Semakin banyak menulis makan akan semakin banyak aku menyalahkan seseorang, ya sudahlah pada intinya aku cuma ingin berbagi, walaupun membingungkan.

Toh manusia adalah makhluk-makhluk bingung yang sering merasa sok tahu. Nah dalam posisi ini aku sedang memerankan perilaku sok tahu.

Sekian semoga ada manfaatnya.

 

2 Comments

  1. Super sekali…terharu awak…..seperti sedang mendengarkan frederick niche…anda berbakat menjadi Filsuf mas agus..

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !