Pakan Ternak dari Lumpur Sawit Dan Bungkil Inti Sawit

Pakan Ternak dari Lumpur Sawit Dan Bungkil Inti Sawit

Lumpur sawit dan bungkil inti sawit adalah hasil ikutan dari pengolahan minyak kelapa sawit. Bungkil inti sawit telah lama dimanfaatkan sebagai pakan ternak untuk ruminansia dan babi yang sedang dalam masa pertumbuhan. Sebaliknya lumpur sawit belum dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Beberapa perkebunan kelapa sawit masih cenderung menebarkan lumpur sawit ke areal perkebunan yang digunakan sebagai pupuk. Lumpur sawit (palm sludge) merupakan limbah pengolahan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), yang memungkinkan untuk dioptimalkan pemanfaatannya sebagai bahan pakan penyusun ransum unggas.
Penggunaan Lumpur sawit sebagai bahan pakan ayam pedaging akan memberikan keuntungan ganda yaitu  menambah variasi dan persediaan bahan baku ransum serta mengurangi pencemaran lingkungan, disamping dapat memberikan keuntungan lain dalam hal penekanan biaya ransum. Penggunaan limbah di atas sebagai ransum ternak harus melalui penanganan dan pengolahan lebih lanjut atau perlu sentuhan tehnologi untuk meningkatkan nilai gizi nya, dikarenakan bahan limbah ini mempunyai beberapa kelemahan yaitu serat kasar tinggi, kandungan protein dan kecernaan rendah (Zamora et al. 1989). Menurut Sinurat 1998 dalam Mirwandhono (2004), teknologi untuk meningkatkan mutu bahan pakan adalah dengan fermentasi.
Teknik ini sudah dilaporkan dapat meningkatkan nilai gizi Lumpur sawit (Sinurat et al., 1998. Pasaribu et al, 1998). Secara umum semua produk akhir fermentasi biasanya mengandung senyawa yang lebih sederhana dan mudah dicerna daripada bahan asalnya sehingga dapat meningkatkan nilai gizinya (Purwadaria et al., 1995; Sinurat dkk., 1996; Supriyati dkk., 1998). Fermentasi juga berfungsi sebagai salah satu cara pengolahan dalam rangka pengawetan bahan dan cara untuk mengurangi bahkan menghilangkan zat racun yang dikandung suatu bahan. Berbagai jenis mikroorganisme mempunyai kemampuan untuk mengkonversikan pati menjadi protein dengan  penambahan nitrogen anorganik melalui fermentasi. Kapang yang sering digunakan dalam teknologi fermentasi antara lain Aspergillus niger. A. niger merupakan salah satu jenis Aspergillus yang tidak menghasilkan mikotoksin sehingga tidak membahayakan. Produk fermentasi ini  mempunyai kandungan protein kasar dan protein sejati yang lebih tinggi dari bahan asalnya. Lumpur sawit memiliki komposisi   nutrisi yang setara dengan dedak padi.
Lumpur sawit mengandung protein kasar 13,3 %, lemak kasar 18,9%, serat kasar 16,3%, abu 12%, dan BETN 39,6% (Widyawati, 1991 dalam Mairizal dkk, 2008). Berdasarkan hasil penelitian  yang dilakukan di Balitnak Ciawi diketahui bahwa proses fermentasi Lumpur sawit dengan Aspergillus niger dapat meningkatkan nilai gizinya namun produk hasil fermentasi tersebut dalam aplikasinya hanya efektif digunakan sampai taraf 10% dalam ransum (Sinurat dkk. 2001).
  •  Potensi Limbah Sawit Sebagai Ransum Ternak

Tanaman kelapa sawit meghasilkan 4 jenis limbah utama yang digunakan sebagai bahan pakan ternak yaitu daun sawit, bungkil inti sawit, lumpur sawit dan serabut sawit. Limbah ini cukup melimpah sepanjang tahun, namun penggunaannya sebagai bahan pakan belum digunakan secara maksimal sampai sekarang.  Dari 693.015,64 ha kebun kelapa sawit dihasilkan tandan buah segar sebesar 10,40 juta ton per tahun dan akan dihasilkan limbah pabrik pengolahan sawit berupa lumpur sawit 0,52 juta ton dan bungkil inti sawit sebesar ,24 juta ton, dan serat buah 1,25 juta ton pertahun. Lumpur sawit adalah larutan buangan yang dihasilkan selama proses pemanasan minyak mentah sawit. Bahan ini merupakan emulsi mengandung sekitar 20% padatan, 0,5-1% sisa minyak dan sekitar 78-79% air (Devendra, 1997 dalam Mirwandhono 2004).

Alur Kasar Fermentasi Lumpur Sawit Menjadi Pakan Ternak
Pada prinsipnya, teknologi fermentasi limbah sawit ini adalah membiakkan mikroorganisme terpilih pada media lumpur sawit dengan kondisi tertentu sehingga mikroorganisme tersebut dapat perkembang dan merubah komposisi kimia media tersebut menjadi bernilai gizi lebih baik. Pada beberapa penelitian yang sudah dilakukan di Balai Penelitian Ternak, fermentasi dilakukan dengan menggunakan Aspergillus niger karena lebih mudah tumbuh pada media lumpur sawit dan nilai gizi hasil fermentasi dianggap cukup baik.
Proses/Alur Fermentasi Lumpur Sawit
  1. Lumpur Sawit disiapkan dengan dimasukan ke wadah ember.
  2. Setelah itu lumpur sawit di tambahkan air secukupnya, seperti kita akan memasak nasi, namun kurangi air sampai batas lumpur sawit. Yang penting lumpur sawit basah.
  3. Lakukan Pengukusan sampai matang, waktu menyesuaikan volume lumpur sawit yang di masak. Indikasinya lumpur sawit matang adalah pulen seperti kita sedang memasak nasi.
  4. Setelah masak, angin-anginkan dan tiriskan. Biarkan sampai dingin. Setelah itu campurkan Aspergillusi seperti kita akan membuat tape, bedanya kita bukan menggunakan ragi, tapi menggunakan Aspergillus niger. Lalu campur dengan pengadukan.
  5. Proses selanjutnya adalah fermentasi aerob. Fermentasi aerob dilakukan dengan membiarkan lumpur sawit di wadah tong atau ember, dengan keadaan terbuka. Proses ini dilakukan sekitar 1 hari.
  6. Setelah kurang lebih satu hari, tutup ember dengan rapat dan biarkan selama kurang lebih tiga hari. Ini yang di sebut dengan proses fermentasi anaerob/ fermentasi tanpa oksigen.
  7. Setelah itu lakukan pengeringan, dengan di panaskan di bawah sinar matahari.
  8. setelah agak kering, lakukan penggilingan untuk menghaluskan. Akan di dapat dalam bentuk bubuk seperti dedak.
  9. Lumpur sawit hasil fermentasi siap untuk di berikan ke pakan ternak.
Selain limbah sawit berupa lumpur sawit dan bungkil sawit, limbah daun dan pelepah sawit juga dapat di jadikan sebagai pakan ternak. Berikut cara mengolah daun dan pelepah sawit menjadi pakan ternak, biasanya pakan ternak untuk hewa ruminansia seperti sapi, kerbau atau kambing.

  1. Daun dan pelepah kelapa sawit dihancurkan dengan menggunakan cooper. 
  2. Campurkan dedak halus sebanyak 10% (bisa diganti dengan dedak halus).
  3. Campur solid (Limbah PKS) 10%.
  4. Gula merah atau gula putih secukupnya.
  5. Aduk sampai rata.
  6. Untuk merangsang fermentasi bisa digunakan starter (star bio).
  7. Masukkan ke dalam wadah (drum atau wadah lain).
  8. Tutup rapat.
  9. Biarkan 2 s/d 3 minggu sampai terjadi proses fermentasi.
  10. Sebelum diberikan ke ternak pakan lebih dahulu dianginkan untuk mengurangi gas akibat proses fermentasi.

Demikianlah alur fermentasi lumpur sawit. Semoga artikel ini dapat membantu. 

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !