Mari Galakan Pancasila sebagai dasar pendidikan karakter

Pancasila sebagai dasar pendidikan karakter – Di dalam lini pendidikan, seorang guru dituntut memilikki tanggung jawab yang besar untuk menghasilkan output- output (peserta didik) yang berkarakter dan memilikki kepribadian unggul. Namun, lain dari itu, seorang guru juga dibebani tugas yang berat untuk menciptakan siswa-siswi yang cerdas, berintelektual, dan memilikki daya saing tinggi di bidang akademis. Karena itu, tak heran, jika untuk memenuhi  standar pencapaian pendidikan di indonesia, suatu sistem disekolah manapun mengharuskan para siswanya mengikuti pemadatan materi hingga jam tertentu demi memenuhi standar pencapain tersebut.

Inilah realita yang kini tengah dihgadapi negara kita. Sekolah seolah mengharuskan siswanya untuk memenuhi target kurikulum dan standar pencapaian studi tanpa memerhatikan tujuan utama dari pendidikan itu sendiri. Sehingga, siswa hanya berlomba mengejar target studi tanpa mementingkan nilai-nilai lain yang seharusnya menjadi inti dari pendidikan tersebut.

Padahal, jika kita telaah lebih jauh, kita pasti akan menemukan fakta bahwa tujuan pencapaian utama dari pendidikan bukan hanya hasil studi yang memilikki nilai tinggi dari segi kuantitas. Memang, tak bisa dipungkiri, ini pun akan menjadi nilai plus yang tidak bisa dipisahkan dari pola pikir pesrta didik. Tetapi, ada banyak hal yang terlupakan dari pendidikan di indonesia dalam waktu satu dekade ini. Yaitu, fungsi sekolah yang seharusnya menjadi pusat pendidikan, bukan pusat pengajaran.

Pancasila sebagai dasar pendidikan karakter

Menilik kembali tujuan pendidikan yang tercantum dalam pembukaan uud 1945 alinea ke IV, yaitu “….untuk mencerdaskan kehidupan bangsa”, maka jika sekolah hanya menuntut siswanya untuk unggul secara akademis saja, maka ini adalah suatu kesalahan besar. Karena, kecerdasan masihlah sangat luas maknanya. Cerdas, tidak hanya cerdas secara intelektual saja, tetapi memilikki jiwa sosial, rasa tanggung jawab, tenggang rasa, dan solidaritas tinggi terhadap masyarakat, itupun merupakan bagian dari pola pikir cerdas.

Berbicara mengenai tujuan pendidikan, maka kita tidak akan lepas dari pendidikan karakter.

Seperti disebuttkan diatas, bahwa sekolah seharusnya bukan menjadi pusat pengajaran, tetapi menjadi pusat pendidikan. Karena, ketika sudah memasukki dunia pendidikan, maka masyarakat akan sepenuhnya percaya pada pihak sekolah bahwa siswa akan di didik agar menjadi manusia yang berkarakter. Mengapa demikian? Karena, persepsi  masyarakat kita mengenai pendidikan yang berhasil bukan dinilai dari pencapaian berdasarkan kuantitas. Tetapi, masyarakat melihatnya berdasarkan kepribadian yang tercermin dari peserta didik ketika sudah terjun ke masyarakat.

Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadi pilra yang sangat penting dalam mewujudkan hal ini. Penulis bukan kemudian mengesampingkan tujuan kurikulum dan akademis. Tetapi, prestasi  siswa yang hanya diukur berdasarkan kuantitas dalam mata pelajaran sehari-hari saja, tanpa adanya karakter yang unggul dari mereka, maka pendidikan belum bisa dikatakan berhasil.

Misal dalam contoh berikut, seorang siswa sma selalu berhasil meraih gelar peringkat pararel sepanjang masa pendidikannya. Tetapi dia memilikki sifat yang sombong, individualis, dan tidak bisa bergaul dengan masyarakat yang tidak sesuai dengan kemauannya. Diapun menjadi anak yang angkuh dan sangat minim solidaritas terhadap masyarakat. Sedangkan siswa yang kedua, memilikki prestasi ayng biasa saja disekolah. Tetapi dia disenangi teman-temannya dan mendapat pujian dari masyarakat, karena sikapnya yang sopan, ramah, memilikki rasa pengabdian yang tinggi.

Dari sini, pasti sudah dapat ditarik kesimpulan. Bahwa, pendidikan yang hanya mendewakan nilai akademis, tidaklah sesuai dengan tujuan pendidikan yang seharusnya. Karena pendidikan tanpa penanaman karakter, maka hasilnya adalah output- output yang individualis, kaku, dan tidak berbudaya.

Demikian pun dengan pendidikan yang hanya ditujukan untuk meraih target kurikulum, maka ini tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila yang seharusnya menjadi tolok ukur utama pendidikan siswa.

Karena itu, disamping penanaman mutu pendidikan untuk mengejar target kurikulum, sebagai bagian dari calon guur, penulis menginginkan sekali adanya realisasi pendidikan karakter didalam semua bidang, yang dilandaskan pada pancasila. Penulis mengamati, bahwa pendidikan karakter yang akhir-akhir ini digalakkan, sepertinya masih hanya sekedar wacana dan belum menyeluruh ke semua bidang. Contoh konkretnya, di dalam buku-buku yang menjadi pedoman pembelajaran siswa, biasanya tertulis “terintegrasi pendidikan karakter”. Namun sayangnya, inti dari pendidikan karakter tidak pula digalakkan oleh guru. Sehingga, pendidikan karakter tidak meresap ke sendi- sendi pola pikir siswa.

Berdasarkan nilai- nilai dalam pancasila, berikut adalah ekspektasi penulis untuk mewujudkan pendidikan karakter terhadap siswa-siswi :

(Pertama) Sila ketuhanan yang maha esa

(Kedua) Anak didik memilikki kalitas dari segi keimanan dan kataqwaan yang kuat dalam kehidupan beragama.

Ini bisa diimplementasikan melalui praktik-praktik kegiatan beragama, yang biasa dilakukan pada kegiatan sehari- hari. Misalnya, pada waktu memasukki waktu solat, maka semua pihak sekolah harus selalu melaksanakannya secara berjamaah untuk mereka yang bergama muslim. Dan harus terdapat mata pelajaran agama untuk menunjang  kehidupan beragama antarsiswa. Kegiatan peringatan hari besar agama bisa menjadi tambahan untuk meralisasikan nilai pancasila ini.

(Ketiga) Meningkatkan toleransi antarumat beragama

Inilah poin penting yang harus dilakukan guru untuk menunjang pendidikan karakter untuk siswa. Guru harus menanamkan rasa toleransi antarumat beragama pada siswa- siswinya. Mengingat dinegara ini, terdapat banyak agama yang dianut warga negaranya. Wujud dari toleransi, adalah tidak adanya paksaan terhadap umat agama lain untuk mengikuti kehendak pribadi, dan tidak memndang sebelah mata pada siswa yang beragama berbeda- beda.

(Keempat) Menciptakan akhlakul karimah pada siswa dengan menjadikan diri sendiri sebagai contoh.

Di dalam iklim pendidikan, guru sering disebut menjadi akronim “digugu dan ditiru”, dalam arti dipercaya dan dicontoh. Maka, semua aspek kehidupan guru seharusnya bisa menjadi teladan bagi siswa. Dari cara berbicara, tingkah laku, dan cara berpenampilan. Kemudian, baru guru menularkannya pada siswa. Inipun bisa menjadi cara terwujudnya pendidikan karakter untuk mewujudkan output yang berkepribadian.

(Kelima) Sila kemanusiaan yang adil dan beradab.

Baca juga : Konsep bela Negara di Indonesia

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !