Pembentukan Nilai-Nilai Agama

Pembentukan Nilai-Nilai Agama

Pembentukan Nilai-Nilai Agama
Pembentukan Nilai-Nilai Agama

Pengertian Nilai-Nilai Agama

Nilai-nilai agama adalah pengetahuan dasar berupa ajaran yang bersumber kepada wahyu Allah yang meliputi keyakinan, pikiran, akhlak, dan amal dengan orientasi pahala dan dosa sehingga ajaran islam tersebut dapat merasuk kedalam diri manusia sebagai pedoman dalam hidupnya.
Pembentukan nilai-nilai agama adalah suatu upaya mengembangkan pengetahuan dan potensi yang ada mengenai masalah dasar yaitu berupa ajaran yang bersumber pada firman/wahyu Allah yang meliputi akhlak, aqidah dan ibadah dengan orientasi pahala dan dosa sehinggaa ajaran-ajaran Islam tersebut dapat merasuk kedalam diri manusia, karena pembentukan nilai-nilai agama sedini mungkin akan lebih terpatri dalam diri anak-anak dibandingkan bila pembentukan nilai-nilai agama dilakukan ketika anak sudah dewasa.

Bentuk-Bentuk Nilai-Nilai Agama

Pada usia ini anak perlu diberi pelajaran tentang kebiasaan-kebiasaan melakukan akhlak karimah. Sehubungan dengan ini Zakiyah Daradjat sebagai mana dikutip oleh Elfi Yuliani Rochmah (2005:162) mengemukakan bahwa umur TK adalah umur yang paling subur untuk menanamkan nilai-nilai agama pada anak, umur penumbuhan kebiasaan-kebiasaan yang sesuai dengan ajaran agama, melalui permainan dan perlakuan orang tua dan guru.
Bentuk nilai-nilai agama yang dimaksud adalah:
  1. Akhlak, disebut juga tingkah laku atau sifat yang melekat dalam jiwa seseorang. Dan dari sifat itu timbul perbuatan-perbuatan yang mudah dilakukan tanpa adanya pertimbangan pemikiran terlebih dahulu.
  2. Aqidah, dianggap sebagai sistim kepercayaan atau keyakinan yang tidak ada keraguan sedikitpun dari yang meyakininya.
  3. Ibadah, pernyataan atau bakti terhadap Tuhan dengan orientasi mendapatkan pahala apabila melaksanakannya.

Tujuan Pembentukan Nilai-Nilai Agama

Adanya krisis identitas diri atau hancurnya iman membuat orang tak mampu lagi untuk menentukan nasib sendiri, menderita dan tak berdaya karena tidak percaya dengan adanya pertolongan Allah Swt. Untuk menghindari permasalahan tersebut pada generasi sekarang dan masa yang akan datang maka seharusnya pembentukan nilai-nilai agama itu dilakukan kepada anak sedini mungkin, sebagai generasi yang akan datang.
Mengacu dari permasalahan diatas maka dapat dirumuskan tujuan pembentukan nilai-nilai agama adalah memberikan suatu bekal bagi anak-anak berupa ajaran-ajaran agama Islam sebagai pedoman dan patokan dalam hidupnya agar ia dapat menjadi anggota yang bermanfaat baik bagi dirinya dan bagi masyarakat dalam memiliki kehidupan yang sempurna dan pribadi muslim. Serta mendapatkan perubahan yang diinginkan, yang diusahakan melalui proses pembentukan nilai-nilai agama Islam bagi perubahan pada ranah kognitif, psikomotor dan afektif.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nilai-Nilai Agama

1. Faktor Keluarga

Keluarga merupakan lembaga utama dan utama dalam mendidik anak. Keluarga yang agamis sangat besar dalam mempengaruhi anak untuk pembentukan nilai agama. Dalam agama semua anggota-anggotanya setian akan melakukan aktivitas apapun selalu didahului oleh bacaan-bacaan al-Qur’an. Dalam arti selalu mensosialisasikan aspek ketauhidannya dalam hidup dan kehidupannya sebagai manusia yang agamis. Relasi antara anggota keluarga yang terpenting  adalah relasi orang tua dengan anak. Selain itu, relasi anak dengan saudaranya atau dengan anggota keluarga yang lain juga turut mempengaruhi nilai-nilai agama. Apabila semua didikan orang tua  itu berdasarkan nilai-nilai Ilahiyah, maka akan terwujud anak-anak yang islami juga.

2. Faktor pendidikan

Adapun tingkatan pendidikan seseorang akan sangat mempengaruhi segala sikap  dan tindakannya. Pendidikan agama di lembaga pendidikan bagaimanapun akan memberikan pengaruh bagi pembentukan jiwa keagamaan anak. Dengan demikian pengaruh kelembagaan pendidikan dalam pembentukan nilai-nilai agama pada anak sangat tergantung  dari kemampuan para pendidik untuk menimbulkan tiga proses yang harus dilakukan, yaitu:
  1. Pendidikan agama yang dilakukan harus bisa menarik perhatian anak didik. Untuk menopang pencapaian itu maka guru agama harus dapat merencanakan materi, metode serta alat-alat bantu yang memungkinkan anak-anak memberikan perhatiannya.
  2. Para guru agama harus mampu memberikan pemahaman kepada anak didik tentang materi pandidikan yang akan diberikannya. Pemahaman ini kan lebih mudah diserap jika pendidikan agama yang diberikan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
  3. Penerimaan siswa terhadap meteri pendidikan agama yang diberikan. Penerimaan ini sangat tergantung dengan hubungan antara meteri dengan kebutuhan dan nilai bagi kehidupan anak didik. Sikap menerima tersebut pada garis besarnya banyak ditentukan oleh sikap pendidikan itu sendiri, antara lain memiliki keahlian dalam bidang agama, dan memiliki sifat-sifat yang sejalan dengan ajaran agama seperti jujur dan dapat dipercaya. Kedua ciri itu akan sangat menentukan dalam mengubah sikap anak.

3. Faktor lingkungan

Lingkungan merupakan faktor sangat kuat yang dapat mempengaruhi upaya pembentukan nilai-nilai agama pada anak. Islam mengakui bahwa fitrah (potensi) manusia itu merupakan dua hal yang saling bertentangan satu sama lain yaitu fitrah untuk berbuat baik (islam) dan fitrah untuk berbuat buruk (kafir). Dalam kondisi demikian lingkungan merupakan saran untuk mengembangkan fitrah tersebut. 
Apabila lingkungan yang melatar belakangi perkembangan anak itu lebih kondusif dalam mengembangkan fitrah (potensi) secara maksimal, akan terjadi perkembangan yang positif. Apabila lingkungan yang melatarbelakangi  perkembangan anak itu destruktif dalam mengembangkan fitrah (potensi) itu, akan terjadi sebalikya, yaitu perkembangan yang negatif.
Pembentukan nilai-nilai kesopanan atau nilai-nilai yang berkaitan dengan aspek spiritual akan lebih efektif jika seseorang berada dalam lingkungan yang menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut. Jadi ada hubungan antara lingkungan dan sikap masyarakat terhadap nilai agama. Di lingkungan masyarakat santri barang kali akan lebih memberi pengaruh bagi pembentukan jiwa keagamaan dibandingkan dengan masyarakat lain yang memiliki ikatan longgar terhadap norma-norma keagamaan.
Dengan demikian, fungsi dan peran masyarakat dalam pembentukan jiwa keagamaan akan sangat tergantung dari seberapa jauh masyarakat tersebut menjunjung tinggi norma-norma keagamaan itu sendiri.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.