Wawancara kerja dengan telepon ?Kumpulan tips sukses wawancara kerja

PENDEKATAN KEPEMIMPINAN

PENDEKATAN KEPEMIMPINAN
PENDEKATAN KEPEMIMPINAN
PENDEKATAN KEPEMIMPINAN
Pada dasarnya manusia diciptakan mempunyai sifat pemimpin. Khususnya pemimpin bagi dirinya sendiri. Jika seorang mampu memimpin dirinya sendiri maka besar kemungkinan dapat juga menjadi pemimpin bagi orang lain atau organisasi.
 Suatu organisasi akan berhasil atau gagal itu pada dasarnya ditentukan oleh seorang pemimpin. Suatu ungkapan mulia yang mengatakan pelaksanaan suatu pekerjaan, merupakan ungkapan yang mendudukan posisi pemimpin dalam suatu organisasi pada posisi yang terpenting.
Kepemimpinan merupakan suatu seni, kesanggupan, atau teknik untuk membuat sekelompok orang bawahan dalam organisasi formal atau para pengikut atau simpatisan dalam organisasi informal mengikuti atau menaati segala apa yang dikehendakinya, membuat mereka begitu antusias atau bersemangat untuk mengikutinya, bahkan berkorban untuknya.
Oleh karena itu disini pemakalah akan memaparkan beberapa pendekatan kepemimpinan yang sekiranya sangat penting dibahas, karena dengan mengetahui pendekatan dalam kepemimpinan, maka seorang akan dapat mempelajari bagaimana menjadi pemimpin yang baik.
Perilaku pemimpin secara eliditas harus dapat mendorong kinerja staf dan para bawahannya dengan menunjukkan rasa bersahabat, dekat, dan penuh pertimbangan terhadap semua pihak, baik sebagai individu maupun kelompok. Perilaku instrumental merupakan tugas-tugas yang diorientasikan dan secara langsung diklarifikasi dalam peranan dan tugas-tugas para staf.
Dengan demikian, keberadaan seorang pemimpin dalam setiap lembaga termasuk di dalamnya lembaga pendidikan dalam tugas dan fungsinya dituntut untuk memiliki kebijaksanaan dan wawasan yang luas, terampil dalam berbagai disiplin ilmu. Pola kepemimpinan pun juga akan berpengaruh dan bahkan menentukan terhadap kemajuan sebuah lembaga. Menerut carrol dan Tosi ada tiga pendekatan atau teori kepemimpinan yaitu pendekatan sifat, pendekatan perilaku,dan pendekatan situasional.
A. Pendekatan Sifat
Pada mulanya timbul suatu pemikiran bahwa pemimpin itu dilahirkan, pemimpin bukan di buat. Pemikiran ini disebut pemikiran “hereditary” atau turun menurun . Pendekatan sifat pada kepemimpinan artinya rupa dari keadaan pada suatu benda, tanda lahiriyah, ciri khas yang ada pada sesuatu untuk membedakan dari yang lain. Allah berfirman dalam QS AL-Nahl 67:78
“ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak menngetahui apapun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.”
Selanjutnya, Rasulullah bersabda bahwa” setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah, potensi), kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majuzi”.(HR. Muslim).
Berdasarkan dalil diatas Islam memandang bahwa sifat kepemimpinan tidak dibawa sejak lahir, tetapi seorang pemimpin mempunyai potensi untuk menjadi seorang pemimpin.teori awal tentang sifat ini dapat ditelusuri kembali mulai dari zaman Yunani Kuno dan zaman Roma. Ketika itu semua orang yakin bahwa pemimpin itu dilahirkan , bukan dibuat. Teori Great  Man mengatakan bahwa seseorang dilahirkan sebagai pemimpin, ia akan menjadi pemimpin, apakah ia mempunyai sifat atau tidak mempunyai sifat sebagai pemimpin . 
Teori the great men dapat memberi arti lebih realistik terhadap pendekatan sifat dari pemimpin. Sifat sifat kepemimpinan itu tidak seluruhnya dilahirkan, tetapi dapat juga diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman seseorang. Dengan demikian, maka perhatian terhadap kepemimpinan dilahirkan kepada sifat-sifat umum yang dimiliki oleh pemimpin, tidak lagi menekankan apakah pemimpin itu dilahirkan atau dibuat.
Para peneliti melakukan penelitian di tahun 1930-1950, hasil penelitian diperoleh bahwa kecerdasan selalu muncul dengan presentase yang tinggi, inisiatif rasa humor, antusiasme, kejujuran simpati, dan percaya pada diri sendiri.
Menyadari bahwa tidak ada korelasi sebab akibat dari sifat-sifat yang diamati dalam penelitian dengan keberhasilan seorang manajer, maka di simpulkan empat sifat umum yang mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi yaitu :
1. Kecerdasan 
Pada umumnya pemimpin mempunyai tingkat kecerdasan lebih tinggi dibandingkan dengan yang dipimpin atau bawahannya.
2. Kedewasaan 
Pemimpin cenderung menjadi sempurna dan mempunyai emosi yang stabil serta perhatian yang luas terhadap aktivitas sosial.
3. Motivasi diri dan dorongan berprestasi 
Pemimpin cenderung mempunyai motivasi yang kuat untuk berprestasi.
4. Sikap hubungan kemanusiaan
Pemimpin yang berhasil mau mengakui harga diri dan kehormatan yang dipimpin atau bawahannya.
Dalam menentukan pendekatan sifat ini ada dua jenis pendekatan yaitu
1. Membandingkan sifat orang yang tampil sebagai pemimpin dengan orang yang tidak menjadi pemimpin.
Pemimpin lebih percaya diri dan terbuka, mau menerima saran dari orang lain. Tetapi kadang banyak juga pemimpin yang tidak mempunyai sifat seperti itu, dan kadang  ada juga orang yang tidak mempunyai sifat tersebut tetapi menjadi seorang pemimpin.
2. Membandingkan sifat pemimpin efektif dengan pemimpin yang tidak efektif.
Inteligensi, inisiatif, dan kepercayaan diri berkaitan dengan tingkat manajerial dan prestasi kerja yang tinggi. Kepemimpinan yang efektif tidak tergantung pada sifat-sifat tertentu, melainkan lebih pada beberapa sifat-sifat pemimpin itu dengan kebutuhan dan situasi.
B. Pendekatan Tingkah Laku
Pendekatan perilaku adalah keberhasilan dan kegagalan seorang pemimpin itu dilakukan oleh gaya bersikap dan bertindak pemimpin yang bersangkutan . Gaya bersikap dan bertindak akan tampak dari cara memberi perintah, memberi tugas, cara berkomunikasi, cara membuat keputusan,cara mendorong semangat kerja bawahan, cara menegakkan disiplin,carapengawasan dan lain-lain. Bila dalam melakukan tindakan dengan cara lugas, keras, sepihak yang penting tugas selesai dengan baik, dan yang bersalah langsung dihukum, gaya kepemimpinan itu cenderung bergaya otoriter. Sebaliknya jika dalam melakukan kegiatan tersebut pemimpin dengan cara halus, simpatik, interaksi timbal balik, menghargai pendapat dan lain-lalin. Maka gaya kepemimpinan ini bergaya kepemimpinan demokratis.
Pandangan klasik menganggap sikap pegawai itu pasif dalam arti enggan bekerja, malas, takut memikul tanggung jawab, bekerja berdasarkan perintah. Sebaliknya pandangan modern pegawai itu manusia yang memiliki perasaan, emosi, kehendak aktif dan tanggung jawab. Pandangan klasik menimbulkan gaya kepemimpinan otoriter sedangkan pandangan modern menimbulkan gaya kepemimpinan demokratis. 
Dari dua pandangan di atas menimbulkan gaya kepemimpinan yang berbeda. Dalam pendekatan perilaku kepemimpinan ada beberapa teori yang dapat dipakai sebagai acuan atau rumusan untuk mengukur kepemimpinan yang efektif yaitu :
1. Teori X dan Teori Y dari Douglas McGregor
a. Anggapan –anggapan teori X 
  1. Rata –rata manusia malas bekerja dan menghindari pekerjaan
  2. Perlu paksaan dalam menjalankan tugas untuk mencapai tujuan.
  3. Manusia lebih ingin diarahkan, menghindari tanggung jawab ambisi yang kecil, dan jaminan hidup atas segalanya.

b. Anggapan –anggapan teori Y
  1. Penggunaan usaha fisik dan mental dalam bekerja adalah kodrat manusia seperti beriman dan istirahat.
  2. Potensi intelektual hanya digunakan sebagian saja.
  3. Kapasitas besar untuk berimajinasi,kreatifitas kecerdasan dalam menyelesaikan masalah.
  4. Rata- rata manusia dalam keadaan yang layak, belajar tidak hanya untuk menerima, tetapi mencari tanggung jawab.

2. Teori Robert
Teori ini menguraikan mengenai berbagai faktor yang memengaruhi pilihan manajer akan gaya kepemimpinanya bahwa seorang manajer kekuasaan.
C. Pendekatan Kontingensi
Pendekatan kontingensi disebut juga pendekatan situasional, sebagai teknik manajemen yang paling baik dalam memberikan kontribusi untuk pencapaian sasaran organisasi dan mungkin bervariasi dalam situasi atauu lingkungan yang berbeda. Ada tiga pandangan tentang kepemimpinan situasional, yaitu:
  1. Teori yang dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard
  2. Teori yang dikembangkan oleh Fiedler
  3. Teori yang dikembangkan oleh Martin G.Evans dan RJ House

Teori kepemimpinan situasional, yang dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard menguraikan bagaimana pemimpin harus menyesuaikan gaya kepemimpinan mereka sebagai respons pada keinginan untuk berhasil dalam pekerjaanya, pengalaman, kemampuan dan kemauan dari bawahan mereka yang terus berubah.
 Selanjutnya dikatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif bervariasi dengan kesiapan karyawan. Kesiapan adalah keinginan untuk berprestasi, kemauan untuk menerima tanggung jawab dan kemampuan yang berhubungan dengan tugas, ketrampilan dan pengalaman. Sasaran dan pengetahuan dari pengikut merupakan variabel penting dalam menentukan gaya yang efektif.
Faktor – faktor dalam situasi yang mempengaruhi gaya kepemimpinan difokuskan pada :
1. Tuntutan tugas
2. Harapan dan tingkah laku rekan setingkat
3. Karakteristik, harapan dan tingkah laku karyawan
4. Budaya organisasi dan kebijakan
Konsep kepemimpinan menurut Thierauf ada tiga kekuatan utama yang meliputi
1. Pimpinan
2. Bawahan
3. Situasi
Daya setiap kekuatan itu akan berubah dari situasi kepada situasi lainya, akan tetapi manajer yang peka terhadap kekuatan-kekuatan itu akan lebih baik pada saat ia menilai masalah yang dihadapinya dan menentukan jenis perilaku kepemimpinan apakah yang paling cocok.
Sedangkan Fiedler, mengemukakan bahwa cukup sulit bagi seorang manajer untuk mengubah gaya manajemenya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan budaya organisasinya, seorang manajer cenderung tidak fleksibel dan mengubah gaya manajerial tidak efisiensi dan tidak ada gunanya. Karena tidak ada satupun gaya yang paling cocok untuk segala situasi, maka akan lebih baik kalau memilihkan posisi yang cocok untuk seorang manajer yang mempunyai sifat tertentu. Sebagai contoh seorang manajer yang demokratis diberikan posisi pada organisasi yang memerlukan manajer yang cenderung demokratis. 
Kemungkinan yang lain menurut Fiedler mengubah lingkungan organisasi tersebut agar cocok dengan manajer. Fiedler mengukur gaya kepemimpinan dengan skala yang menunjukan tingkat seseorang menguraikan secara menguntungkan atau merugikan rekan sekerjanya yang paling tidak disukai.
Fiedler mengidentifikasi tiga macam variabel yang membentuk gaya kepemimpinan yang efektif, yaitu :
1. Hubungan pemimpin dengan anggotanya
Yakni bila hubungan antara pemimpin dan anggota baik, anggota telah menganggap pemimpinya mampu, berkepribadian dan berkarakter, maka pemimpin tidak perlu mengandalkan pangkat. Sebaliknya jika anggota tidak mempercayai dan tidak menyukai serta menilai manajer tidak mampu, maka manajer akan menggunakan powernya.
2. Struktur tugas
Tugas yang terstruktur adalah tugas yang prosedurnya jelas dengan petunjuk-petunjuk pelaksanaan.
3. Posisi kekuatan pemimpin
Yakni pemimpin perusahaan membawa kekuasaan dan wewenang yang sangat kuat.
Pendekatan jalur sasaran pada kepemimpinan didasarkan pada motivasi harapan. Martin G.Evan dan Robert J. House menyatakan bahwa motivasiseseorang tergantung pada imbalan dan valensi atau daya tarik imbalan itu. Evan mengatakan bahwa gaya kepemimpinan manajer mempengaruhi imbalan yang tersedia bagi karyawan, juga persepsi karyawan mengenai jalur untuk mempengaruhinya.
 Seorang manajer yang berorientasi pada karyawan dia akan menawarkan tidak hanya gaji yang tinggi dan promosi, tetapi juga dukungan, dorongan rasa aman dan rasa hormat. Evan mengatakan bahwa gaya kepemimpinan yang efektif dalam memotivasi karyawan ialah tergantung pada tipe imbalan yang paling mereka inginkan dan memberi motivasi juga dapat diartikan sebagai suatu tindakan untuk memberikan fasilitas dan kondisi yang memungkinkan bagi pekerja untuk melaksanakan tugasnya dengan menyenangkan dan bermaksud baik.
DAFTAR PUSTAKA
Moedjiono,Imam . 2002 . Kepemimpinan dan Keorganisasian . Yogjakarta : UUI Press.
Rivai, Veithzal dan Deddy Mulyadi . 2011. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi edisi ketiga . Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Danim , Sudarwan . 2010. Kepemimpinan Pendidikan . Bandung : Alfabeta.
Sutarto. 2006. Dasar-Dasar kepemimpinan Administrasi . Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Rivai, Veithzal . 2007 . Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi . Jakarta : PT Raja Grafindo persada .
Purwanto , Ngalim . 2009. Administrasi dan Supervisi Pendidikan . Bandung :PT Remaja Rosda karya

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *