Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME)

Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME)
Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME)
Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME)
a. Pengertian Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME)
Pendekatan adalah cara umum dalam memandang permasalahan atau objek. Sedangkan pendekatan pembelajaran adalah titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih umum, menginspirasi, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu . 
Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) adalah suatu proses membangun pemahaman siswa terhadap materi matematika dengan menggunakan masalah kontekstual sebagai titik awal dalam belajar matematika yang sesuai dengan prinsip dan karakteristik pembelajaran matematika realistik . 
Jadi pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) adalah pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah realistik atau masalah sehari-hari sebagai sumber inspirasi dalam pembentukan konsep atau dengan kata lain pembelajaran matematika yang berlandaskan pada hal-hal nyata atau riil bagi siswa.
Kata “realistik” sering disalahartikan sebagai “real-world”, yaitu dunia nyata. Banyak pihak yang menganggap bahwa pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran matematika yang harus menggunakan masalah sehari-hari. Penggunaan kata “realistik” sebenarnya berasal dari bahasa Belanda “zinch realistic” yang berarti “untuk dibayangkan” atau “to imagine”. Penggunaan kata realistik tersebut tidak sekedar menunjukkan adanya koneksi dengan dunia nyata (real-world) tetapi lebih mengacu pada fokus pendidikan matematika realistik dalam menempatkan penekanan penggunaan suatu situasi yang bisa dibayangkan (imagineable) oleh siswa .
Teori pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) sejalan dengan teori belajar yang berkembang saat ini, seperti kontruktivisme dan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching Learning, disingkat CTL). Namun, baik pendekatan kontruktivisme maupun CTL mewakili teori belajar secara umum. Jadi, RME (Realistic Mathematic Education) merupakan teori pembelajaran yang dikembangkan khusus untuk matematika .
b. Karakteristik Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME)
Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) secara garis besar memiliki lima karakteristik. Menurut Treffers dan Van den Heuvel-Panhuizen, karakteristik RME adalah penggunaan konteks, penggunaan model, penggunaan hasil konstruksi siswa, interaktivitas dan keterkaitan (intertwinment) dan dijelaskan sebagai berikut :
1) Penggunaan Konteks
Konteks atau permasalahan realistik digunakan sebagai titik awal pembelajaran. konteks tidak harus berupa masalah dunia nyata namun bisa dalam bentuk penggunaan alat peraga atau situasi lain selama hal tersebut bermakna dan bisa dibayangkan dalam pikiran siswa. 
Melalui penggunaan konteks, siswa dilibatkan secara aktif untuk melakukan kegiatan eksplorasi permasalahan. Hasil eksplorasi siswa tidak hanya bertujuan untuk menemukan jawaban akhir dari permasalahan yang diberikan, tetapi juga diarahkan untuk mengembangkan berbagai strategi penyelesaian masalah yang bisa digunakan. Manfaat lain penggunaan konteks diawal pembelajaran adalah untuk meningkatkan motivasi dan ketertarikan siswa dalam belajar matematika. 
2) Penggunaan  Model (matematisasi)
Dalam pendekatan Realistic Mathematic Education (RME), model digunakan dalam melakukan matematisasi secara progresif. Penggunaan model berfungsi sebagai jembatan dari pengetahuan matematika tingkat konkrit menuju pengetahuan matematika tingkat formal.
3) Pemanfaatan Hasil Kontruksi Siswa 
Mengacu pada pendapat Freudenthal bahwa matematika tidak diberikan kepada siswa sebagai produk yang siap dipakai tetapi sebagai suatu konsep yang dibangun oleh siswa maka dalam pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. 
Siswa memiliki kebebasan untuk mengembangkan strategi pemecahan masalah sehingga diharapkan akan diperoleh strategi yang bervariasi. Hasil kerja dan konstruksi siswa selanjutnya digunakan untuk landasan pengembangan konsep matematika.
Karakteristik ini tidak hanya bermanfaat dalam membantu siswa memahami konsep matematika, tetapi juga sekaligus mengembangkan aktivitas dan kreativitas siswa. 
4) Interaktivitas
Interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru dan siswa dengan sarana pendukung lainnya merupakan hal yang mendasar dalam pendekatan Realistic Mathematic Education (RME). Secara eksplisit bentuk-bentuk interaksi yang berupa negosiasi, penjelasan, pembenaran, setuju, tidak setuju, pertanyaan atau refleksi digunakan untuk mencapai bentuk formal dari bentuk-bentuk informal siswa.
5) Keterkaitan (intertwinment)
Konsep-konsep matematika tidak bersifat parsial, namun banyak konsep matematika yang memiliki keterkaitan karena matematika bukanlah sekumpulan domain (Bilangan, Geometri, Aljabar, Statistik, dan sebagainya) yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu sistem yang terbentuk dari hubungan antara domain tersebut. Oleh karena itu, konsep-konsep matematika tidak dikenalkan kepada siswa secara terpisah satu sama lain. 
c. Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME)
Berdasarkan pengertian dan karakteristiknya, implementasi pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) pada pembelajaran matematika terdapat langkah-langkah sebagai berikut :
a. Memahami masalah kontekstual
Pada langkah ini guru menyajikan masalah kontekstual kepada siswa. Selanjutnya guru meminta siswa untuk memahami masalah itu terlebih dahulu. Karakteristik pembelajaran matematika realistik yang muncul pada langkah ini adalah penggunaan konteks. Penggunaan konteks dunia nyata terlihat pada penyajian masalah kontekstual sebagai titik tolak aktivitas pembelajaran siswa.
b. Menjelaskan masalah kontekstual
Langkah ini ditempuh saat siswa mengalami kesulitan memahami masalah kontekstual. Pada langkah  ini guru memberikan bantuan dengan memberi petunjuk dan pertanyaan seperlunya yang dapat mengarahkan siswa untuk memahami masalah.
Karakteristik pembelajaran matematika realistik yang muncul pada langkah ini adalah interaktivitas, yaitu terjadinya interaksi  antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa. Sedangkan prinsip bimbingan setidaknya telah muncul ketika guru mencoba memberi arahan kepada siswa dalam memahami masalah.
c. Menyelesaikan masalah kontekstual
Pada tahap ini siswa didorong menyelesaikan masalah kontekstual secara individual atau kelompok berdasar kemampuannya memanfaatkan petunjuk-petunjuk yang telah disediakan. Siswa mempunyai kebebasan menggunakan caranya sendiri. Dalam proses memecahkan masalah, sesungguhnya siswa dipancing atau diarahkan untuk berfikir menemukan dan mengkonstruksi pengetahuan untuk dirinya. 
Pada tahap ini dimungkinkan bagi guru untuk memberikan bantuan seperlunya kepada siswa yang benar-benar memerlukan bantuan. Karakteristik yang dapat dimunculkan adalah penggunaan model. Dalam menyelesaikan masalah siswa mempunyai kebebasan membangun model atas masalah tersebut.
d. Membandingkan dan mendiskusikan jawaban
Pada tahap ini guru mula-mula meminta siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban dengan pasangannya. Diskusi ini adalah wahana bagi sepasang siswa mendiskusikan jawaban masing-masing. Dari diskusi ini diharapkan muncul jawaban yang dapat disepakati oleh kedua siswa. Selanjutnya guru meminta siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban yang dimilikinya dalam diskusi kelas. Pada tahap ini guru menunjuk atau memberikan kesempatan kepada pasangan siswa untuk mengemukakan jawaban yang dimilikinya ke muka kelas dan mendorong siswa yang lain untuk mencermati dan menanggapi jawaban yang muncul dimuka kelas.
Karakteristik pembelajaran matematika realistik yang muncul pada tahap ini adalah interaktivitas dan pemanfaatan hasil konstruksi siswa. Interaktivitas dapat terjadi antara siswa dengan siswa juga antara guru dengan siswa. Dalam diskusi ini konstruksi siswa berguna dalam pemecahan masalah.
e. Menyimpulkan
Dari hasil diskusi kelas guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan mengenai pemecahan masalah, konsep, prosedur atau prinsip yang telah dibangun bersama. Pada tahap ini karakteristik pembelajaran matematika realistik yang muncul adalah interaktivitas serta pemanfaatan hasil konstruksi siswa.
d. Kelebihan Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME)
Terdapat beberapa kelebihan dari pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) antara lain :
  1. Siswa sebagai subyek belajar
  2. Siswa lebih memperoleh kesempatan meningkatkan hubungan kerjasama antar teman
  3. Siswa memperoleh kesempatan lebih untuk mengembangkan aktivitas, kreativitas sikap kritis, kemandirian, dan mampu mengkomunikasi dengan orang lain
  4. Siswa lebih memiliki peluang-peluang untuk menggunakan keterampilan-keterampilan dan pengetahuan baru yang diperlukan dalam kehidupan yang sebenarnya
  5. Tugas guru sebagai fasilitator, yaitu memfasilitasi siswa selama pembelajaran berlangsung

e. Kelemahan Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME)
Selain memiliki kelebihan, pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) juga memiliki beberapa kelemahan antara lain:
  1. Upaya mengimplementasikan pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) membutuhkan perubahan pandangan yang sangat mendasar mengenai beberapa hal yang tidak mudah dipraktikkan, misalnya mengenai siswa, guru dan peranan soal kontekstual.
  2. Pencarian soal-soal kontekstual yang memenuhi syarat-syarat yang dituntut pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) tidak selalu mudah untuk setiap topik matematika yang perlu dipelajari siswa, terlebih karena soal-soal tersebut harus bisa diselesaikan dengan bermacam-macam cara.
  3. Upaya mendorong siswa agar menemukan berbagai cara untuk menyelesaikan soal juga merupakan hal yang tidak mudah dilakukan oleh siswa.

Loading...

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.