Pendidikan Anti Korupsi

Pendidikan Anti Korupsi

Korupsi yang terjadi di Indonesia, sudah mencapai taraf  yang memprihatinkan dan jika dibiarkan akan menyebabkan bangsa ini terpuruk dalam kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan. Hal ini disebabkan karena dengan adanya korupsi segala program-program pembangunan tidak dapat dijalankan sebagaimana mestinya karena dana-dana yang seharusnya digunakan untuk melaksanakan program itu akhirnya hanya sampai sepersekian persen saja dari dana yang sebenarnya dikeluarkan oleh pemerintah.

Korupsi juga tidak hanya berkaitan dengan masalah ekonomi saja, yang menyebabkan distribusi pendapatan yang tidak seimbang, yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin, tetapi juga berkaitan dengan persoalan sosial, budaya, dan juga politik. Akibat praktik korupsi yang dilakukan di setiap lini birokrasi menyebabkan terjadinya penyimpangan terhadap segala aspek kepentingan rakyat. Negara akhirnya tidak sanggup untuk memenuhi hajat hidup orang banyak, seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945. Praktik penyelenggaraan negara tak ubahnya seperti sarang penyamun dan perampok berkedok birokrat dan elit politik. Dimana para pelaku kejahatan itu adalah orang-orang dan institusi yang diberi amanat oleh rakyat untuk mengelola kekayaan alam Indonesia untuk mewujudkan tujuan negara yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 : “Mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia “.

Tindakan korupsi pada dasarnya merupakan bentuk keserakahan dan ketidakpedulian terhadap orang lain. Orang yang melakukan korupsi bukan saja disebabkan mereka itu tidak mempunyai pendapatan yang memadai, bahkan secara umum mereka mempunyai pendapatan yang “berlebih” untuk ukuran rakyat Indonesia secara umum, namun lebih karena keserakahan dan kerakusan mereka pada harta dan pemenuhan kebutuhan ekonomi yang berlebihan. Para koruptor juga merupakan tipe-tipe orang yang tidak mempunyai kepekaan sosial yang tinggi, mereka tidak perduli dengan kesengsaraan dan penderitaan orang lain (baca : rakyat ) yang disebabkan oleh tindakan mereka. Para koruptor lebih mementingkan kepentingan dunia semata sehingga melupakan akhirat karena keserakah mereka dan ketamakan mereka, mereka seakan tidak tahu dan tidak mau tahu akan tujuan hidup mereka yang sebenarnya yaitu untuk mendapatkan kehidupan di akhirat sehingga mereka kemudian melakukan tindakan yang akan merugikan diri mereka kelak di akhirat. Tindakan yamg mereka lakukan antara lain, tidak memegang amanah, tidak berkata yang benar, berakhlak jelek dan tamak. Rasulullah sudah memperingatkan kita agar menjauhi sikap-sikap tersebut agar kita termasuk orang yang beruntung.

Empat perkara yang apabila ada padamu, tidak akan merugikan lepasnya segala sesuatu dari dunia dari padamu yaitu memelihara amanah, tutur kata yang benar, akhlak yang baik dan bersih dari tamak ( HR Ahmad)

Rasa malu juga sudah tidak ada lagi pada diri para koruptor, meskipun masyarakat acap kali menghujat, mengkritik, mencaci maki mereka,mereka tetap tidak peduli dan tidak malu sedikitpun. Seperti peribahasa : “ anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu “. 

Rasa malu memang hal yang seharusnya mampu mengekang keinginan hati untuk melakukan tindakan-tindakan yang berlawanan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Orang yang punya rasa malu tentu akan berfikir panjang sebelum melakukan sebuah tindakan yang dianggap melanggar norma. Dia akan malu jika perbuatannya itu nanti bisa diketahui orang lain, keluarga, teman, masyarakat umum. Belum lagi rasa malu pada Allah yang Maha Tahu. Itulah mengapa rasa malu merupakan salah satu bagian dalam iman sebagai mana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari : “ Malu itu cabang dari iman”.

Rasa malu juga menjadi jalan keselamatan bagi seorang hamba, dan hilangnya rasa malu adalah  jalan bagi kehancuran seorang hamba. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah :

“Sesungguhmya Allah Azza wa Jalla, jika dia menghendaki untuk membinasakan ( menghancurkan ) seorang hamba, maka Dia akan mencabut rasa malu dari hamba tersebut. Jika  rasa malu telah tercabut darinya maka Allah tidak akan mendapati hamba tersebut kecuali orang yang dimurkai dan dibenci-Nya . jika ia telah menjadi orang yang dimurkai dan dibenci-Nya, maka tercabutlah amanah. Jika sikap amanah telah tercabut darinya maka Allah tidak akan mendapatinya kecuali kecuali sebagai  orang yang berkhianat dan pembuat khianat, maka akan tercabutlah darinya kasih sayang ( rahmat) Allah. Jika rahmat telah tercabut darinya maka ia tidak lain adalah orang yang terkutuk. Dan jika Allah telah menetapkannya sebagi orang yang terkutuk, maka tercabutlah perlindungan Islam darinya” (HR. Ibnu Majah ).

Betapa rasa malu dapat menjadi perisai diri, dimana jika orang sudah tidak punya rasa malu, orang itu pasti akan menjadi orang yang dimurkai oleh Allah karena orang yang sudah tidak punya rasa malu pasti akan mampu berbuat apa saja sesuai dengan apa yang dikehendakinya, tanpa peduli dengan orang lain dan tanpa memperdulikan apa yang akan diakibatkan oleh perbuatannya itu.  Rasulullah juga bersabda dalam Hadist yang diriwayatkan oleh  Imam Bukhori :

  “Kalau kamu sudah tidak punya malu,berbuatlah sekehendak hati kamu “. ( HR Bukhori )

Hilangnya rasa  malu kemudian akan diikuti hilangnya amanah, sehingga orang yang sudah tidak punya malu akhirnya akan menjadi orang yang suka berkhianat dan pembuat khianat. Korupsi adalah salah satu perbuatan yang mencerminkan sikap pengkhianatan terhadap amanah dan kepercayaaan rakyat demi untuk memperkaya diri, mengenyangkan perutnya sendiri tanpa perduli apakah rakyatnya bisa makan atau sekedar mengganjal perutnya dengan makanan.

Korupsi juga menjadi indikator lemahnya keimanan dan rasa malu pada Allah. Karena salah satu indikator bahwa seseorang itu beriman adalah seberapa besar orang itu mampu memegang amanah dan memenuhi janji-janjinya ( biasanya dilakukan pada masa-masa menjelang Pemilu dan Pilpres / Pilkada oleh para calon wakil rakyat dan pemimpin Negeri ). Dalam sebuah hadist disebutkan :

“Tidak sempurna iman seseorang yang tidak amanah dan tidak sempurna agama orang yang tidak menunaikan janji”.

Korupsi yang terjadi di Indonesia sekarang ini tidak lagi menjadi urusan pribadi, melainkan sudah bersifat umum dan sistematik. Oleh karena itu muncul istilah korupsi berjamaah, yaitu  korupsi yang dilakukan secara kolektif. Korupsi ini sudah meraksasa dan menggurita, mencengkeram setiap lini kehidupan masyarakat. Korupsi terjadi di semua instansi  pemerintahan, bahkan di Kementrian Pendidikan yang seharusnya menjadi pelopor dan “tulodho” bagi instansi lain agar tidak melakukan korupsi. Kementrian Agama yang seharusnya merupakan kementrian yang paling banyak berisi orang -orang yang faham akan ilmu agama pun tak luput dari fenomena korupsi jamaah. Bahkan menurut survey yang dilakukan oleh KPK di tahun 2011, Kementrian Agama adalah kementrian terkorup di Indonesia.  

Hilangnya rasa malu pada para koruptor mungkin saja terjadi karena korupsi yang mereka lakukan secara  bersama-sama, baik unsur pimpinan maupun bawahan sehingga rasa malu tidak lagi ada pada diri mereka, karena semua orang dalam instansi mereka juga “kecipratan” . Sehingga mereka itu sama-sama untung, sama-sama saling melindungi dan sama-sama tidak malu lagi. 

Untuk dapat menghilangkan budaya korupsi diperlukan usaha keras dari pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat untuk memberantasnya dengan upaya melahirkan generasi baru yang mampu mengembangkan sistem nilai yang menolak korupsi secara tegas. Menurut Bustro Muqoddas, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, kunci dalam pencegahan korupsi terletak pada pembangunan intergritas manusia Indonesia. Saat ini Indonesia , membutuhkan manusia yang memiliki sifat jujur dan profesional serta memiliki jiwa kepemimpinan dan keteladanan yang baik. Karena tanpa integritas Indonesia akan terpinggirkan .

Pendidikan anti korupsi menjadi alternatif untuk melahirkan generasi baru yang mampu mengembangkan sistem nilai yang menolak korupsi secara tegas. Dalam konteks Pendidikn Antikorupsi, mestinya bersifat sistematis dan massif. Cara sistematif yang bisa ditempuh adalah dengan melaksanakan pendidikan anti korupsi secara intensif. Pandidikan antikorupsi bisa digunakan untuk menanamkan nilai-niali kejujuran, rasa malu untuk melanggar hukum, dan tidak mudah menyerah untuk kebaikan sehingga pendidikan ini menjadi sarana sadar untuk melakukan upaya/ tindakan pemberantasan  korupsi.

Pendidikan antikorupsi yang sedianya akan dilaksanakan di sekolah mulai dari jenjang pendidikan rendah sampai jenjanmg pendidikan tinggi melalui kurikulum berbasis Pendidikan Karakter Bangsa tidak akan dapat memperoleh hasil yang maksimal jika pendidikan anti korupsi tidak mulai diajarkan dalam keluarga, Karena keluarga adalah tempat pertama seorang individu tumbuh dan berkembang. Sesuai dengan tugas keluarga dalam melaksanakan misinya sebagai penyelenggara pendidikan yang bertanggung jawab, mengutamakan pembentukan pribadi anak, dengan demikian faktor utama yang mempengaruhi perkembangan pribadi anak adalah kehidupan keluarga beserta aspeknya. Orang tua mempunyai peran yang sangat vital dalm pembentukan kepribadian anak,  seperti yang disabdakan Rasulullah SAW dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah :

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani, maupun seorang Majusi”

Sebuah keluarga yang orang tuanya menjadi orang yang jujur dalam kesehariannya, tentu akan mendidik anak-anaknya dengan ajaran kejujuran. Orang tersebut tentu akan mengajarkan nilai-nilai kejujuran itu pada anaknya, akan mengajarkan rasa malu untuk melakukan kecurangan dan pengkhianatan. Berbeda dengan keluarga tersebut, keluarga seorang koruptor walaupun tidak secara langsung mengajarkan anak-anaknya untuk menjadi seorang koruptor juga, tentunya sifat ketidakjujuran dan  pengkhianatan orang tuanya akan mempengaruhi kepribadian anaknya karena perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor keturunan dan lingkungan. Aliran nativisme menyatakan bahwa seseorang akan menjadi “orang “ sebagaimana adanya yang telah ditentukan oleh kemampuan dan sifatnya yang dibawa sejak ia dilahirkan. Dan aliran empirisme menyatakan bahwa seseorang diibaratkan sebagai kertas putih yang masih putih bersih. Ia akan menjadi manusia seperti yang dikehendaki oleh lingkungannya. Pengaruh itu akan saling terpadu dan memberi andil “ menjadikan manusia sebagai manusia” 

Dari hal-hal diatas dapat kita simpulkan bahwa korupsi yang terjadi di Indonesia disebabkan karena mentalitas manusia Indonesia yang sudah rusak sehingga banyak oranag yang sudah kehilangan rasa malu yang pada akhirnya mereka dengan mudah melakukan tindakan yang bertentangan dengan norma yang berlaku dalam mastarakat dan melakukan tindakan pengkhianatan terhadap amanat yang dipercayakan padanya. Pendidikan antikorupsi yang bertujuan membentuk generasi baru yang siap melawan korupsi akan lebih efektif jika diawali dari lingkunagan keluarga dengan pemberian contoh dan teladan dari orang tua untuk selalu bertindak jujur dan menjaga amanah, sehingga kedepannya tidak akan lagi ada tindakan-tindakan korupsi yang secara nyata telah menghancurkan Negara Indonesia sehingga Indonesia sekarang ini menjadi negara yang dipenuhi dengan kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan 


Referensi
1. Dr. Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana 2006
2. Prof. Dr. H. Sunarto, Perkembangan Peserta didik, Rineka Cipta, Jakarta :2008, hlm.188
3. Republika, 17 Maret 2012
4. Okezone.com, selasa 29 November 2011, diskses :  Rabu 21-03-2012 pkl 12.05 WIB

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.