Pengaruh Dikotomi Pendidikan

PENGARUH DIKOTOMI PENDIDIKAN

A.    PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan salah satu sarana yang sangat menentukan untuk tercapainya tujuan pembangunan nasional, karena lewat pendidikanlah akan dibentuk Sumber Daya Manusia yang bermutu untuk melaksanakan program pembangunan nasional. Pendidikan yang bermutu akan menciptakan manusia yang bermutu, pendidikan yang seadanya akan membentuk manusia yang seadanya juga. Itulah mengapa pendidikan mempunyai peran yang sangat vital dalam mensukseskan Pembangunan Nasional. 
Indonesia  sebelum datangnya para penjajah  adalah negara yang terdiri dari beberapa kerajaan besar maupun kecil. Indonesia  kaya sumber daya alam, tanah yang subur dan memiliki kekayaan laut yang melimpah merupakan penyebab kaya dan makmurnya kerajaan-kerajaan tersebut. Bahkan Sriwijaya yang pada saat itu menjadi sebuah kerajaan besar dengan wilayah hampir meliputi seluruh Nusantara sudah mampu menjalin hubungan dengan Kekhalifahan Mu’awiyah bin Abi Sofyan ( 661 M) dan Khalifah Umar Bin Abd. Aziz (717-720 M).  Hal itu membuktikan bahwa Sriwijaya adalah sebuah kerajaan besar yang berpengaruh di dunia. Selain itu di Sriwijaya juga berdiri perguruan tinggi, hal itu menjadi bukti bahwa wilayah Nusantara saat itu adalah wilayah yang maju baik dalam bidang ekonomi, keagamaan, maupun pendidikan.
Datangnya penjajah, Portugis yang kemudian disusul oleh  Belanda   membawa banyak perubahan besar pada bangsa Indonesia, wilayah yang awalnya adalah wilayah yang gemah ripah loh jinawi akhirnya menjadi wilayah yang miskin karena kekayaan alamnya diangkut oleh para penjajah. Tidak hanya kemiskinan, penjajah  juga membawa Indonesia menjadi bangsa yang dilingkupi keterbelakangan dan kebodohan.
Sekolah Dasar yang pertama untuk kaum pribumi berdiri tahun 1819 atas inisiatif Gubernur Jenderal Van de Capellen, yang bertujuan agar penduduk pribuni bisa baca tulis huruf Latin sehingga bisa membantu pemerintah Belanda, disamping itu juga sebagai “pesaing” pesantren dan pendidikan keagamaan yang dilangsungkan di masjid dan mushola oleh para ulama saat itu. Pendidikan yang diadakan oleh pemerintah Belanda menerapkan sistem pendidikan yang dikotomis, dimana mereka hanya mengajarkan ilmu pengetahuan yang kering dari nilai-nilai spiritualitas, bahkan mereka kemudian membatasi kegiatan pendidikan yang diadakan oleh para ulama karena mereka melihat pendidikan di pesantren itu kemudian melahirkan perlawanan terhadap penjajahan dan jihad membebaskan bangsa ini dari Kristenisasi dan westernisasi dari para penjajah.
Sementara selama masa pendudukan Jepang pendidikan di Indonesia secara umum terbengkelai, karena murid-murid tiap hari hanya disuruh gerak jalan, baris berbaris, kerja bakti ( romusha), bernyanyi dan sebagainya.
Pada awal kemerdekaan, pendidikan di Indonesia diserahkan pada Departemen Agama dan Departemen P dan K (Depdikbud). Oleh karena itu maka dikeluarkan peraturan-peraturan bersama antara kedua departemen itu untuk mengelola pendidikan agama di sekolah-sekolah umum (negeri atau swasta). Adapun pembinaan pendidikan agama ditangani oleh Departemen Agama sendiri. Pendidikan Agama baru diajarkan  pada kelas IV Sekolah Rakyat, kecuali untuk daerah-daerah yang masyarakat agamanya kuat maka diajarkan mulai dari kelas I. Itu saja jika ada orang tua yang keberatan, siswa tersebut boleh tidak mengikuti pelajaran agama. Baru setelah tahun 1966 pendidikan agama menjadi pelajaran wajib bagi seluruh siswa dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi Umum di seluruh Indonesia.
Jadi pada awal kemerdekaan Indonesia pemerintah masih mendikotomikan pendidikan, dimana lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu umum berada dibawah naungan Depdikbud sedangkan lembaga pendidikan keagamaan berada dibawah Departemen Agama. Meskipun dalam lembaga pendidikan umum juga ada pendidikan agama namun dengan porsi yang sedikit.

B.    ISI

a.    Sejarah Dikotomi Ilmu Pengetahuan

Sepanjang sejarahnya sejak awal pemikiran Islam terlihat dua pola yang saling berlomba mengembangkan diri, dan mempunyai pengaruh yang besar dalam perkembangan pola pendidikan Islam. Dari pola pemikiran yang bersifat tradisional, yang selalu mendasarkan diri pada wahyu, yang kemudian berkembang menjadi pola pemikiran sufistik dan pola pendidikan sufi yang sangat memperhatikan aspek-aspek batiniyah dan akhlak. Sedangkan dari pola pendidikan yang rasional, yang mementingkan akal pikiran, menimbulkan pola pendidikan yang empiris rasional. Pola pendidikan ini sangat memperhatikan pendidikan intelektual dan penguasaan material. Pada masa kejayaan Islam yaitu abad VIII sampai abad XIII M, kedua pola pemikiran itu menghiasi dunia Islam sebagai dua pola yang terpadu dan saling melengkapi.
Selanjutnya diungkapkan oleh M.M Syarif bahwa pemikiran Islam menurun pada abad XIII, diantaranya karena telah berkelebihannya filsafat Al Ghazali yang bercorak sufistik di dunia Islam bagian Timur dan filsafat Ibn Rusy yang bercorak rasional, menimbulkan pertentangan yang pada akhirnya menimbulkan ketakutan dari kaum muslimin untuk mendekati ilmu filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya dan mereka membiarkan orang-orang  Eropa mengambil ilmu-ilmu itu.
Setelah pola pemikiran rasional diambil alih oleh dunia barat, maka pola pemikiran orang Islam hanya pada hal-hal yang bersifat non materi sehingga  tidak ada lagi perhatian terhadap pendidikan intelektual. Ditambah lagi dengan hancurnya kota Baghdad dan Granada sabagai pusat-pusat kebudayaan dan pendidikan Islam menyebabkan kemunduran pendidikan Islam terutama yang berkaitan dengan bidang material dan intelektual. Untuk Eropa mengalami banyak kemajuan dalam bidang ilmu pengatahuan sedangkan kaum muslimin semakin lemah dan lebih banyak memfokuskan pada bidang keagamaan yang kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran tradisional yang hanya mengembalikan segala sesuatu kepada Tuhan, tanpa ada usaha keras, karena menganggap segala sesuatu terjadi hanya karena kehendak-Nya.
Pola pemikiran diatas akhirnya mendikotomikan ilmu pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama. Maka  mulailah pemisahan antara ilmu pengetahuan umum dengan ilmu pengetahuan agama.

b.    Akibat Dikotomi Ilmu Pengetahuan bagi sistem pendidikan di Indonesia

Adanya dikotomi ilmu yang pernah diterapkan oleh penjajah di Indonesia mempunyai pengaruh yang cukup signifikan sampai sekarang meskipun Indonesia telah merdeka selama 67 tahun. Tujuan pendidikan masih menyerupai tujuan pendidikan di jaman penjajahan yaitu untuk menghasilkan golongan teokrat elit dengan memberi bekal ilmu pengetahuan modern, ketrampilan dan keahlian yang dibutuhkan dengan sistem pendidikan yang dikotomis dan jauh dari sentuhan spiritualitas. Hal itu dapat dilihat dari  minimnya jam pelajaran agama terutama di sekolah-sekolah negeri.
Untuk satu minggu jadwal mata pelajaran agama hanya 2 jam saja. Dan pelajaran agama hanya dianggap sebagai “pelengkap penderita”, karena di dunia kerja, lapangan pekerjaan  untuk orang yang ahli di bidang agama hanya sebatas pekerjaan yang berkaitan dengan keagamaan saja, seperti pegawai Kementrian Agama, guru agama, penceramah, dll, dan sulit bagi lulusan sekolah agama untuk bekerja di bidang yang lain. Hal ini tentu berbeda dengan bidang pengetahuan yang lain yang mempunyai lebih banyak lapangan kerja. Dan dalam bidang pengetahuan yang lain itu bisa terjadi pertukaran profesi dari satu bidang kebidang yang lain.
Yang cukup riskan dari adanya dikotomi ilmu pengetahuan ini, terbentuklah lembaga-lembaga pendidikan Islam yang lemah dalam ranah metodologi. Lemahnya daya kreatifitas dan metodologi ini akhirnya mengarahkan pendidikan Islam pada pola belajar mengajar yang lazimnya di sebut Paulo Freire dengan banking concept of education, dimana peserta didik dijadikan sebagai tempat menanam saham, mereka disuplai, sehingga mereka tidak memikirkan apa-apa lagi dan menjadikan peserta didik pasif dan tidak dapat berfikir kreatif untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang problematis. Sementara lembaga-lembaga pendidikan umum dalam pengajarannya lebih mengutamakan ilmu-ilmu sains, sehingga terjadi penganak-tirian ilmu agama.
Hal ini tentu saja menjadikan ilmu umum itu menjadi ilmu yang kering dari nilai-nilai agama. Sehingga pada akhirnya lulusan dari lembaga pendidikan agama menjadi santri yang tidak tahu ilmu pengetahuan umum, dan lulusan lembaga pendidikan umum, menjadi murid yang jauh dari nilai-nilai keagamaan.
Pengembangan pendidikan yang intergratif sebagai kebalikan dari pendidikan yang dikotomis, sebenarnya sudah menjadi agenda negara. Dalam UU SISDIKNAS disebutkan bahwa fungsi dan tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, bertujuan untuk lebih berkembangnya peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan  serta bertanggung jawab.

C.    ANALISISA KONSEPTUAL

Dikotomi ilmu pengetahuan meskipun secara teori telah di”hapus”, namun pada kenyataannya masih kita lihat adanya pendikotomian secara terselubung, dimana ilmu-ilmu umum lebih dianak emaskan dibanding dengan ilmu agama. Hal itu karena masih terkungkungnya pemikiran para pendidik dan masyrakat pada umumnya yang menganggap bahwa antara ilmu pengetahuan umum tidak ada hubungannya dengan ilmu agama, karena ilmu umum bersifat rasional-material, sedangkan ilmu agama mendasarkan pada keyakinan yang bersifat dogmatis. Pemikiran dan keyakinan seperti itu belum dapat sepenuhnya hilang dari pemikiran dan keyakinan masyarakat dan pandangan yang menganggap bahwa pendidikan agama hanya berkaitan dengan urusan ibadah saja, antara makhluk dengan Tuhannya. Sedangkan ilmu umum adalah ilmu untuk mendapatkan kehidupan dunia. Sarana untuk mencari kerja dan penghasilan.
Pemikiran ini bertentangan dengan pemikiran para beberapa tokoh dan pemerhati pendidikan. Karena menurut para ahli pendidikan agama dan umum itu harus berintegrasi dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan seperti yang tertuang dalam UU SISDIKNAS th.2003
Indonesia, sebagai negara muslim terbesar dan sebagai negara yang berketuhanan, seharusnya mampu menghilangkan dikotomi pendidikan, karena pada intinya semua ilmu itu berasal dari Tuhan, yang dipelajari manusia lewat ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah. Pendidikan yang ideal untuk menjadikan Indonesia sebagi negara yang maju namun tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ketuhanan adalah sistem pendidikan yang benar-benar mampu mengintegrasikan semua ilmu, dimana ilmu-ilmu itu menjadi satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan.
Karakter pendidikan yang diharapkan adalah pendidikan agama (Islam) yang berintegrasi dengan ilmu-ilmu umum. Karakteristik Pendidikan Islam yang diharapkan adalah sebagai berikut :
  1. Pendidikan yang integralistik: pendidikan yang berorientasikan Rabbaniyyah (ketuhanan), insaniyyah (kemanusiaan), dan ‘alamiyyah (alam jagat raya), ketiganya berintegral mewujudkan manusia yang rahmatan lil ‘alamin
  2. Pendidikan yang humanistik: model pendidikan yang memandang manusia sebagai makhluk hidup, mampu melangsungkan kehidupannya
  3. Pendidikan pragmatik: pendidikan yang memandang manusia sebagai makhluk yang selalu membutuhkan sesuatu untuk melangsungkan mengembangkan dan mempertahankan kehidupannya, serta peka terhadap masalah-masalah sosial kemanusiaan
Kemudian, Pendidikan yang diharapkan adalah  pendidikan yang menonjolkan dan mengutamakan pendidikan agama dan pendidikan akhlak, bersifat menyeluruh, memperhatikan manusia seutuhnya, meliputi intelektual, psikologis, sosial, spiritual, seimbang mencakup berbagai ilmu pengetahuan, seni, jasmani, militer, tekhnik, kejuruan, bahasa-bahasa asing, sesuai perkembangan dan kebutuhan dinamis, menggalakkan percobaan dan penelitian.
Pendidikan yang dinamis dan mampu mengantarkan kebahagiaan bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat adalah pendidikan yang bersifat komprehensif, universal, menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia, bersifat intergral, tidak saja berkaitan dengan ilmu-inlmu untuk kebahagiaan di akhirat saja, tetapi juga untuk kebahagiaan di dunia sesuai dengan tuntutan kehidupan manusia yang dinamis.
Al Quran dan Al Hadist sebagai sumber utama sekaligus konsep dasar pendidikan (Islam), sangat konsen terhadap manusia dan melihatnya secara utuh tanpa pandangan dikotomis antara yang bersifat materi dengan yang bersifat non materi. Ini bukti konkrit bahwa pendidikan Islam yang berdasarkan Al Qur’an itu sangat memperhatikan perkembangan alam dan perkembangan kehidupan manusia serta watak manusia itu sendiri . 
Hai tu sesuai dengan al Qur’an surat al Ahzab :72
 “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat  kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh”.
Dengan melihat sisi emas peradaban Islam yang pernah mengalami perkembangan pesat pada abad pertengahan dengan banyak menelorkan banyak ilmuwan khususnya filosof yang sekaligus ilmuwan. Kondisi umat Islam sekarang terekonsialiasi pada karakteristik peradaban yang pernah dikembangkan saat itu berlandaskan pada dua hal :
  1. Berkembangnya nilai-nilai masyarakat yang terbuka (open society) yang menghasilkan kontak dengan kebudayaan-kebudayaan lain.
  2. Perkembangan humanisme yang melahirkan perhatian terhadap masalah hubungan antar sesama manusia.
Kedua prinsip ini yang menjadi spirit untuk membangun kehidupan yang modern. Artinya adalah nilai-nilai toleran, terbuka dan juga nilai kebebasan merupakan akar peradaban Islam untuk mencapai perkembangan yang cemerlang.
Oleh sebab itu, agar pola belajar mengajar dengan pola pikir nomatif- doktriner banyak direkonstruksi oleh para praktisi pendidkan agar out put dari sistem pandidikan Islam dapat bersaing dengan out put pendidikan sekuler. Disamping itu agar umat Islam bisa bangkit dari keterpurukan dan ketertinggalan dari sistem pendidikan sekuler, maka perlu  minimalisasi dikotomi pendidikan Islam dengan langkah-langkah konstruktif, antara lain :
  1. Wajib atas kaum muslim untuk memahami dan mensosialisasi secara intensif dan simultan adanya pandangan bahwa segala ilmu yang baik, benar, manfaat dan kemaslahatannya adalah sama nilainya di sisi Allah. Tidak ada pembedaan dan dikotomi ilmu pengetahuan.
  2. Ulama dan tokoh-tokoh Islam, hendaknya mengkampanyekan secara sistematis, simultan dan berkelanjutan tantang pentingnya ekplorasi itu dikalangan umat Islam.
  3. Ulama dan tokoh Islam harus memelopori penyusunan dan penjelasan konsep riil atas intergalitas dan integrasi ilmu.
  4. Pemerintah dan pengelola/penyelenggara pendidikan hendaknya membuat sebuah sistem pendidikan yang terpadu dan profesional, dengan melibatkan seluruh komponen terkait sehingga tercipta generasi yang berkualitas tinggi dalam IMTAK dan IPTEK.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Syaibaniy, Omar Muhammad Al-Toumi. Falsafah Pendidikan Islam. Terj. Hasan    Langgulung.  Jakarta : Bulan Bintang. 1975.
Arifin, Anwar. Paradigma Baru Pendidikan Nasional dalam Undang-Undang Sisdiknas. Jakarta : Dirjen Kelembagaan Agama Islam. 2003.
Baharuddin, H, dkk. Dikotomi Pendidikan Islam. Bandung :Rosda Karya. 2011.
Fajar, A. Malik. Reorientasi Pendidikan Islam. Jakarta : Fajar Dunia.1999.
Raharjo, M. Dawam. Gerakan Rakyat dan Negara. Jakarta : Prisma. 1985.
Saidan.  Perbandingan Pemikiran Hasan al-Bana dan M. Natsir. Jakarta : Kementrian Agama RI.  2011
Zuhairi,dkk. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara. 2010.
NB: untuk karya yang dimuat katanya penulis diberi SG, tapi saya belum menerima untuk SG yang memuat karya saya bulan ini.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.