Pengenalan Hewan Avertebrata dan Vertebrata

Pengenalan Hewan Avertebrata dan Vertebrata – Lebih dari sejuta spesies hewan masih hidup saat ini, dan terdapat kemungkinan bahwa setidaknya sejuta organisme baru akan diidentifikasi oleh generasi ahli biologi masa depan. Hewan dikelompokkan ke dalam sekitar 35 phylum, namun jumlah sebenarnya tergantung pada perbedaan pandangan para ahli sistematika. Hewan menempati hampir semua lingkungan di bumi, tetapi anggota terbanyak sebagian besar phylum adalah spesies akuatik. Lautan yang kemungkinan merupakan tempat asal mula jenis-jenis hewan pertama, masih merupakan rumah bagi sejumlah besar phylum hewan. Fauna air tawar sangatlah banyak tetapi tidak sekaya keanekaragaman fauna laut.

Kingdom Animalia atau kerajaan hewan merupakan kingdom yang diduga memiliki jumlah spesies paling banyak. Berdasarkan ada tidaknya tulang belakang, hewan dibagi
menjadi avertebrata dan vertebrata. Semua hewan bertulang belakang dikelompokkan ke dalam invertebrata. Adapun hewan bertulang belakang dikelompokkan ke dalam vertebrata.

Di dunia ini terdapat 40 phyla hewan avertebrata. Hewan avertebrata dikelompokkan atas dasar banyaknya sel penyusun tubuh, banyaknya lapisan tubuh pada perkembangan embrio Metazoa, struktur atau konstruksi tubuh hewan Metazoa, kesimetrian tubuh, pembentukan mulut dan anus, kondisi rongga tubuh, ada tidaknya lofofora, metamerisme dan tagmatisasi. Berdasarkan kedelapan pengelompokan tersebut, yang termasuk ciri morfologi diantaranya kesimetrian tubuh dan ada tidaknya
segmentasi tubuh.

Morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk luar suatu organisme. Bentuk luar dari organisme ini merupakan salah satu ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam mempelajari organisme. Adapun yang dimaksud dengan bentuk luar organisme ini adalah bentuk tubuh, termasuk di dalamnya warna tubuh yang kelihatan dari luar.

Pada dasarnya bentuk luar dari ikan dan berbagai jenis hewan air lainnya mulai dari lahir hingga ikan tersebut tua dapat berubah-ubah, terutama pada ikan dan hewan air lainnya yang mengalami metamorfosis dan mengalami proses adaptasi terhadap lingkungan (habitat). Namun demikian pada sebagian besar ikan bentuk tubuhnya relatif tetap, sehingga kalaupun terjadi perubahan, perubahan bentuk tubuhnya relatif sangat sedikit.

Bentuk tubuh pada mahluk hidup, termasuk pada hewan air erat kaitannya dengan anatomi, sehingga ada baiknya sebelum melihat anatominya; terlebih dahulu kita melihat bentuk tubuh atau penampilan (morfologi) hewan tersebut. Morfologi adalah bentuk tubuh (termasuk warna) yang kelihatan dari luar. Oleh karena itu, untuk membuat suatu pengklasifikasian dibutuhkan adanya pengamatan morfologi dari parameter yang sudah ditentukan, sehingga dari parameter morfologi dapat dilakukan pengenalan dan pengklasifikasian hewan vertebrata dan avertebrata khususnya pada hewan yang dipraktikumkan yaitu belalang, burung Kutilang, kelinci, ular Cincin, udang Galah, bulu babi, ikan Nilem dan cacing Tanah.

Pengenalan Hewan Avertebrata dan Vertebrata

Pada dasarnya morfologi dari setiap jenis hewan air yang masih dekat kekerabatanya mempunyai kemiripan-kemiripan, seperti anatomi dan morfologi udang, kepiting dan lobster hampir sama. Hal yang sama juga akan kita dapati pada berbagai jenis ikan serta pada berbagai jenis hewan lainnya. Kita mengenal berbagai jenis hewan air, diantaranya yang paling umum kita kenal adalah ikan, udang, molusca, amphibi dan sebagainya.

Adapun yang dimaksud dengan ikan adalah hewan bertulang belakang (vertebrata) yang berdarah dingin, hidup di air, bergerak dan mempertahankan keseimbangan tubuhnya dengan menggunakan sirip dan bernafas dengan insang, namun selain menggunakan insang ada juga ikan yang memiliki alat pernafasan tambahan yang fungsinya sama dengan paru-paru.

Peninjauan pada jumlah lapisan tubuh, dinding tubuh hewan avertebrata dapat terdiri atas 2 lapisan yaitu ektoderm dan endoderm (diploblastik) dan dapat terdiri atas 3 lapisan yaitu ektoderm, mesoderm dan endoderm (tripobalstik). Menurut kesimetrian tubuh, hewan avertebrata memiliki kesimetrian berbeda-beda.

Simetri radial adalah tipe simetri dimana tubuh secara mendasar membentuk silindris dan bagian-bagian tubuh secara radial mengelilingi satu sumbu tunggal, yang mengarah ke kedua ujung. Simetri bilateral adalah tipe simetri tubuh yang jika dibagi dua menurut antero-posterior akan menghasilkan paruhan yang sama seperti suatu benda dengan banyangannya dicermin. Dari segi pembentukan anus dan mulut, hewan avertebrata memiliki proses pembentukan mulut dan anus yang berbeda pada saat perkembangan embrio, terutama pada saat tahap gastrula. Jika lebih dahulu pembentukan mulut (bukaan abterior) daripada anus (bukaan posterior) disebut “Protostomia”, dan kelompok hewannya disebut Protostomata. Jika yang terjadi sebaliknya disebut Deuterotomia, sedangkan kelompok hewannya disebut Deuterostomata.

Menurut kondisi rongga tubuh, hewan avertebrata ada yang tidak memiliki rongga tubuh disebut Aselomata. Hewan yang memiliki rongga tubuh semu, yaitu rongga tubuh belum dilengkapi dengan peritonieum (mesoderm) disebut Pseudoselomata. Hewan yang telah memliki rongga tubuh yang sempurna, yaitu telah memiliki peritonium di bagian luar dan dalam untuk melindungi saluran pencernaan disebut peritoneum visceralis atau selomata. Serta ada tidaknya lofofora dan segmentasi tubuh, beberapa hewan avertebrata mengalami proses metamerisme dan tagmanisasi.

Di dunia ini terdapat 40 phyla hewan avertebrata. Terdapat berbagai parameter untuk mengelompokkan hewan-hewan avertebrata diantaranya dikelompokkan atas dasar banyaknya sel penyusun tubuh, hewan avertebrata dibagi atas 2 kelompok yaitu avertebrata bersel satu (uniseluler, Protozoa) yang dapat hidup secara soliter atau berkoloni dan avertebrata bersel banyak (Metazoa) yang dapat berkonstruksi seluler, jaringan atau organ. Berdasarkan konstruksi tubuh, Struktur tubuh hewan avertebarata dapat berupa kontruksi  seluler (pada Porifera), berkontruksi jaringan (Cnidaria dan Ctenophora) dan berkonstruksi organ (Metazoa).

Metamerisme adalah suatu gejala tubuh hewan avertebrata yang terdiri atas satu seri segmen atau somit yang tersusun secara linier sepanjang tubuh anterior – posterior. Tagmatisasi adalah suatu pola tubuh hewan avertebrata matamerik dimana beberapa atau banyak segmennya berfungsi menyusun beragam fungsi (disebut tagma). Setiap tagma secara struktural dan fisiologis berbeda, tagma kepala berfungsi dalam makan, tagma thorax berfungsi dalam lokomosi, dan tagma abdomen berfungsi dalam reproduksi.

Filum Echinodermata memiliki tubuh simetrik radial, umumnya pentameri yang mengelilingi oro-aboralis. Filum Annelida biasanya bertubuh panjang, bersegmen dan memiliki rambut untuk bergerak. Kelas Insecta kebanyakan dilengkapi sayap di daerah dada, tubuh mengalami tagmatisasi menjadi kepala, dada dan perut. Sedangkan kelas Crustacea umumnya hidup di air  dan melakukan respirasi dengan insang.

Mari mengenal dan Mengklasifikasikan  hewan vertebrata dan avertebrata lebih detail ;

Klasifikasi merupakan pengelompokan individu-individu ke dalam suatu kelompok tertentu. Pengelompokan ini disusun secara runtut sesuai dengan tingkatannya (hirarkinya), yaitu mulai dari yang lebih kecil tingkatannya hingga ke tingkatan yang lebih besar. Ilmu yang mempelajari prinsip dan cara klasifikasi makhluk hidup disebut taksonomi atau sistematik. Anggota dari masing-masing kelompok memiliki sifat atau ciri khas tertentu yang membedakan dengan anggota dari kelompok lainnya, atau sering disebut dengan karakter taksonomi. Karakter taksonomi meliputi karakter kualitatif (diekspresikan dengan gambar atau kata-kata), misalnya warna dan bentuk, dan karakter kuantitatif (dapat dihitung atau diukur), misalnya jumlah kaki dan jari Karakter taksonomi meliputi karakter morfologi, etiologi, ekologi, fisiologi dan biogeografi.

Berdasarkan ada tidaknya sistem tulang belakang, hewan dibagi menjadi dua yaitu hewan vertebrata dan hewan avertebrata. Vertebrata adalah subfilum terbesar dari Chordata yang mencakup semua hewan yang memiliki tulang belakang yang disusun dari tulang rawan dan tulang sejati.

Tulang-tulang yang menyusun tulang belakang disebut vertebrae. Hewan vertebrata memiliki struktur tubuh yang jauh lebih sempurna dibandingkan dengan hewan avertebrata, dan memiliki tali yang merupakan susunan tempat terkumpulnya sel-sel saraf dan memiliki perpanjangan kumpulan saraf dari otak. Tali ini tidak di memiliki oleh yang tidak bertulang punggung (avertebrata).

Dalam memenuhi kebutuhannya, hewan vertebrata telah memiliki sistem kerja dan sefalisasi yang lebih sempurna dibandingkan hewan avertebrata. Peredaran darah berpusat organ jantung dengan pembuluh-pembuluh menjadi salurannya.

Hewan vertebrata memiliki ciri-ciri khas sebagai berikut :

1.   Mempunyai rangka internal.

2.   Mempunyai tulang yang terentang dari balakang kepala sampai bagian ekor.

3.   Mempunyai otak yang dilindungi oleh tulang-tulang tengkorak.

4.   Tubuh berbentuk simetris bilateral.

5.  Mempunyai sepasang mata, sepasang kuping, kepala, leher, badan dan ekor walaupun ekor dan leher tidak mutlak ada contohnya pada katak.

6. Mempunyai kelenjar bundar, endoksin yang menghasilkan hormon untuk pengendalian, pertumbuhan dan proses fisiologis atau faal tubuh.

7.   Susunan saraf terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang.

8.  Alat pencernaan memanjang mulai dari mulut sampai ke anus yang terletak di sebelah vertran (depan) dan tulang belakang.

9.   Memiliki sistem sirkulasi tertutup.

Vertebrata merupakan subfilum dari Chordata yang memiliki anggota yang cukup besar dan paling dikenal. Tubuhnya dibagi menjadi tiga bagian yang cukup jelas yaitu kepala, badan dan ekor. Kepala dengan rangka dalam, cranium, di dalamnya terdapat otak, karena mempunyai cranium ini vertebrata dikenal juga sebagai craniata. Notochhord sebagai penyongkong berakhir pada cranium dan pada tingkat yang telah maju diganti oleh unsur-unsur tulang rawan atau tulang sejati yang membentuk tulang belakang.

Kelompok ini dikatakan vertebrata karena mempunyai tulang belakang yang beruas-ruas (vertebrae). Pemenuhan kebutuhannya, hewan vertebrata memiliki sistem kerja yang sempurna, peredaran darah berpusat pada organ jantung dengan pembuluh-pembuluh menjadi salurannya.

Avertebrata adalah hewan yang tidak bertulang belakang, serta memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana daripada kelompok hewan bertulang belakang. sistem pencernaan, pernapasan dan peredaran darah lebih sederhana dibandingkan hewan vertebrata. Menurut kondisi rongga tubuh, hewan avertebrata ada yang tidak memiliki rongga tubuh, disebut Aselomata.

Hewan yang memiliki rongga tubuh semu, yaitu rongga tubuh belum dilengkapi dengan peritonieum (mesoderm) yang disebut Pseudoselomata. Hewan yang telah memiliki rongga tubuh yang sempurna, yaitu telah memiliki peritonium di bagian luar dan dalam untuk melindungi saluran pencernaan disebut Peritoneum visceralis atau selomata. Beberapa hewan avertebrata mengalami proses metamerisme dan tagmatisasi.

Simetri adalah suatu keadaan pada tubuh organisme yang apabila dibagi oleh suatu bidang tertentu maka kedua belahannya yang satu merupakan bayangan cermin dari yang lain. Simetri tubuh terdiri atas dua bangun, yaitu simetri radial dan simetri bilateral. Simetri radial adalah suatu tipe simetri pada tubuh yang secara radial mengelilingi suatu
sumbu pusat tunggal. Tubuh hewan, tidak jelas sisi kanan dan kirinya, karena masing-masing busur sisi tubuh, identik terhadap busur lainnya.

Apabila suatu irisan diarahkan ke setiap dua radius yang berlawanan, maka irisan tersebut akan membagi tubuh hewan avertebrata simetri radial menjadi dua tengahan yang serupa. Contoh: hewan-hewan dari phyla Cnidaria dan Ctenophora. Ctenophora adalah sebuah divisi dari metazoa laut. Morfologi ctenophore ditandai dengan adanya satu set delapan baris sisir yang disebut dengan cilia dan digunakan untuk berenang. Kebanyakan ctenophora memiliki sepasang tentakel makanan yang mengandung sel-sel khusus yang disebut perekat colloblasts.

Hewan dengan simetri bilateral berarti mampu menjadi dibelah dua menjadi dua bagian
yang sama sehingga satu bagian adalah bayangan cermin dari yang lain. Tubuh hewan simetri bilateral, menunjukan pembagian yang jelas antara kepala, thoraks dan abdomen.

Contoh : classis Insecta dari phylum Arthtropoda

Tubuh hewan avertebrata ada pula yang terdiri atas segmen-segmen atau metamer. Metamerisme adalah suatu gejala tubuh hewan avertebrata yang terdiri atas satu seri segmen atau somit yang tersusun secara linier sepanjang tubuh anterior–posterior.

Tagmatisasi adalah suatu pola tubuh hewan avertebrata matamerik dimana beberapa atau banyak segmennya berfungsi menyusun beragam fungsi (disebut tagma). Setiap tagma secara struktural dan fisiologis berbeda, tagma kepala berfungsi dalam makan, tagma thorax berfungsi dalam lokomosi, dan tagma abdomen berfungsi dalam reproduksi.

Contoh Hewan Vertebrata dan Avertebrata Dan Penjelasan Lengkapnya ;

Ikan Nilem (Osteochilus hasselti), burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster), ular Taliwangsa (Boiga dendrophila), dan kelinci (Brachylagus sp). Sedangkan hewan avertebrata contohnya belalang (Valanga sp), cacing tanah (Pheretima sp), Bulu Babi (Diadema sp), dan udang Galah (Macrobrachium rosenbergii).

1.   Ikan Nilem (Osteochilus hasselti)

Ikan Nilem tergolong dalam ordo Ostariophysi dan famili Cyprinida seperti ikan Mas dan ikan Tawes. Bentuk badannya mirip ikan Mas tetapi badannya lebih memanjang dengan sirip punggung yang relatif lebih panjang. Warna badan ikan Nilem adalah coklat hijau kehitaman dan merah, mulut relatif lebar dengan mulut yang berkerut-kerut.

Tubuh ikan Nilem terdiri atas caput, truncus dan cauda dimana tak ada batas yang nyata sebagai batas antara truncus dan ekor di pandang anus. Osteochilus hasselti banyak terdapat di daerah Jawa Barat. Ikan Nilem ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi produk unggulan perikanan budidaya dari kawasan Priangan.

Dari sisi ekonomi, budidaya ikan ini sangat menguntungkan. Nilai ekonomis ikan ini akan meningkat setelah dijadikan berbagai produk olahan, misalnya baby fish goreng, dendeng dan pindang, di asap dan di kalengkan (Mulyasari, 2010).

Menurut Jasin (1989), Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) diklasifikasikan dalam:

Phylum :  Chordata

Subphylum : Vertebrata

Class :  Pisces

Ordo :  Ostariophysi

Familia :  Cyprinidea

Genus  :  Osteochilus

Spesies :  Osteochilus hasselti

2. Cacing tanah (Pheretima sp.)

 Annelida (Cacing Gelang/ Cincin) merupakan binatang triploblastik selomata, tubuhnya bersegmen. Setiap segmen dibatasi oleh sekat (septum). Sudah memiliki sistem syaraf,
pencernaan, ekskresi, reproduksi dan sistem pembuluh. Hidup di air tawar, laut, darat atau parasit. Peranan Annelida dalam kehidupan: Menyuburkan tanah, karena membantu menghancurkan tanah dan membantu aerasi tanah misal Cacing Palolo.

Sebagai makanan, misal Cacing Palolo dan Cacing Wawo. Menghasilkan zat hirudin atau  zat antikoagulan atau zat anti pembekuan darah, misal lintah. Cacing tanah termasuk hewan tingkat rendah karena tidak mempunyai tulang belakang (invertebrata).

Menurut Saanin (1968), cacing tanah (Pheretima sp.) diklasifikasikan dalam:

Kingdom : Animalia

Phylum : Annelida

Classis : Oligochaeta

Ordo : Ophistopora

 Famillia : Megascolecidae

 Genus : Pheretima

 Species : Pheretima sp.

3. Burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster)

Burung kutilang adalah sejenis burung pengicau dari suku Pycnonotidae. Burung yang berukuran sedang, panjang tubuh total (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 20 cm. Sisi atas tubuh (punggung, ekor) berwarna coklat kelabu, sisi bawah (tenggorokan, leher, dada dan perut) putih keabu-abuan. Bagian atas kepala, mulai dari dahi, topi dan jambul, berwarna hitam.

Tungging (di muka ekor) nampak jelas berwarna putih, serta penutup pantat berwarna jingga. Iris mata berwarna merah, paruh dan kaki hitam.

Menurut Jasin(1989), klasifikasi burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Class :Aves

Ordo : Passeriformes

Familia :Pycnonotidae

Genus :Pycnonotus

Spesies : Pycnonotus aurigaster        

3. Udang Galah (Macrobachium rosenbergii)

Udang adalah binatang yang hidup di perairan, khususnya sungai maupun laut atau danau. Udang menjadi dewasa dan bertelur hanya di habitat air laut. Betina mampu menelurkan 50.000 hingga 1 juta telur, yang akan menetas setelah 24 jam menjadi larva (nauplius). Nauplius kemudian bermetamorfosis memasuki fase ke dua yaitu zoea
(jamak zoeae).

Zoea memakan ganggang liar. Setelah beberapa hari bermetamorfosis lagi menjadi mysis (jamak myses). Mysis memakan ganggang dan zooplankton. Setelah tiga sampai empat hari kemudian mereka bermetamorfosis terakhir kali memasuki tahap postlarvae: udang muda yang sudah memiliki ciri-ciri hewan dewasa.

Menurut Jasin (1989), klasifikasi udang galah adalah sebagai berikut :

Phylum : Arthropoda

Classis : Crustacea

Ordo : Decapoda

Family : Plaemonidea

Genus : Macrobachium

Spesies : Macrobachium rosenbergii

4. Kelinci (Brachylagus sp.)

Kelinci memiliki panjang tubuh sekitar 260-400 mm dan memiliki empat gigi seri (dua di atas, dua di bawah) yang tumbuh terus menerus sepanjang hidupnya, dan dua pasang gigi di bagian atas belakang gigi seri, berbeda dengan para tikus (hanya memiliki 2 gigi seri atas dan bawah). Kelinci punya telinga panjang, kaki belakang besar dan pendek, ekor berbulu halus. Kelinci bergerak dengan melompat-lompat, dengan kaki panjang dan belakang mereka yang kuat. Jari-jari kaki kelinci panjang, dan berselaput untuk menjaga dari penyebaran selain sebagai binatang melompat.

Menurut Jasin (1989), klasifikasi Kelinci (Brachylagus sp.) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Superphylum : Chordata

Phylum : Vertebrata

Class : Mammalia

Ordo : Lagomorpha

Family : Leporidae

Genus : Brachylagus

Spesies : Brachylagus sp.

5. Belalang (Valanga sp.)

Belalang (Valanga sp.) merupakan hewan yang berciri-ciri antenna pendek, pronotum tidak memanjang ke belakang, tarsi beruas 3 buah, femur kaki belakang membesar, ovipositor pendek. Ukuran tubuh betina lebih besar dibandingkan dengan yang jantan. Sebagian besar berwarna abu-abu atau kecoklatan dan beberapa mempunyai warna cerah pada sayap belakang. Mempunyai alat suara (tympani) yang terletak di ruas abdomen pertama.

Belalang ditemukan di daerah berumput, daerah kering, pepohonan, padi, t3mbakau, jagung, tebu. Induk meletakkan telur-telurnya di tanah dalam suatu kantung dengan lapisan cukup kuat. Setelah menetas nimfa naik untuk mulai merusak tanaman, biasanya menggigit daun dari tepi atau bagian tengah, aktif pada siang hari. Jenis jantan menyanyi dengan cara menggosokkan sisi dalam femur belakang dengan sisi bawah sayap depan atau dengan menggetarkan sayap belakang saat terbang. Mampu bermigrasi ke tempat yang jauh.

Menurut Lilies (1991), sistem klasifikasinya adalah:

Kingdom : Animalia

Phylum : Arthropoda

Class : Insecta

Ordo : Orthoptera

Familia : Acrididae

Genus : Valanga

Species : Valanga sp. 

6. Ular Cincin Emas (Boiga dandrophila)

Boiga adalah besar genus dari agak berbisa, belakang bertaring, colubridular biasanya dikenal sebagai ular bermata kucing atau kucing ular saja. Ular jenis ini merupakan ular yang hidup di daerah mangrove, sehingga disebut ular mangrove. Mereka terutama ditemukan di tenggara Asia, India dan Australia.

Namun karena sifat mereka sangat kuat dan kemampuan beradaptasi sudah menyebar ke banyak habitat yang cocok lainnya di seluruh dunia.

Menurut Brotowidjojo (1990), sistem klasifikasinya adalah:

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Class : Reptilia

Ordo : Squamata

Sub Order : Serpentes

Familia : Colubridae

Sub Familia : Colubrinae

Genus : Boiga

Spesies : Boiga dandrophila

Ular cincin emas memiliki simetri bilateral berarti mampu dibelah menjadi dua bagian yang sama sehingga satu bagian adalah bayangan cermin dari yang lain. Tubuh hewan
simetri bilateral, menunjukkan pembagian yang jelas antara kepala, thoraks dan abdomen, dan mengalami tagmatisasi.

8. Bulu Babi (Diadema sp.)

Echinodermata merupakan salah satu komponen penting dalam hal keanekaragaman fauna di daerah terumbu karang. Hal ini karena terumbu karang berperan sebagai tempat berlindung dan sumber pakan bagi fauna echinodermata. Secara ekologi fauna Echinodermata berperan sangat penting dalam ekosistem terumbu karang, terutama dalam rantai makanan (food web), karena biota tersebut umumnya sebagai pemakan detritus dan predator.

Bulu Babi termasuk filum Echinodermata, bentuk dasar tubuh segi lima. Mempunyai lima pasang garis kaki tabung dan duri panjang yang dapat digerakkan. Kaki tabung dan duri memungkinkan binatang ini merangkak di permukaan karang dan juga dapat digunakan untuk berjalan di pasir. Cangkang luarnya tipis dan tersusun dari lempengan-lempengan yang berhubungan satu sama lain.

Ekosistem lamun merupakan habitat dari berbagai jenis fauna invertebrata, salah satunya kelompok Echinodermata yang merupakan kelompok biota penghuni namun yang cukup menonjol, terutama dari kelas Echinoidea (Bulu Babi).

Kelompok Echinodermata ini dapat hidup menempati berbagai macam habitat seperti zona rataan terumbu, daerah pertumbuhan algae, padang lamun, koloni karang hidup dan karang mati dan beting karang (rubbles  dan  boulders).

Hewan ini memiliki kaki tabung yang langsing panjang, mencuat diantara duri-durinya. Duri dan kaki tabungnya digunakan untuk bergerak merayap di dasar laut. Ada yang mempunyai duri yang panjang, lancip, pendek dan tumpul. Mulutnya terletak dibagian bawah menghadap kedasar laut sedangkan anusya menghadap keatas di puncak bulatan cangkang. Makanannya terutama alga, tetapi ada beberapa jenis yang juga memakan hewan-hewan kecil lainnya.

Menurut Darbohoesodo (1976), sistem klasifikasinya adalah:

Kingdom : Animalia

Phylum : Echinoderm

Class : Echinoidea

Subclass : Euchinoidea

Ordo : Cidaroidea

Familia : Diadematidae

Genus : Diadema

Spesies : Diadema setosum

Kesimpulan Tentang Hewan Vertebrata dan Avertebrata ;

1. Ciri-ciri yang tampak pada hewan vertebrata adalah mempunyai tulang belakang yang beruas-ruas (vertebrae) sedangkan pada hewan avertebrata tidak memiliki tulang belakang.

2. Cacing Tanah, udang Galah, belalang dan bulu babi termasuk hewan avertebrata.
Ular Taliwangsa, ikan Nilem dan burung Kutilang  termasuk hewan vertebrata.

Demikian ulasan seputar Pengenalan Hewan Avertebrata dan Vertebrata, semoga bermanfaat.

Bacaan Lebih Lanjut ;

Campbell, A. Neil, et al. 2004. Biology Edisi Kelima Jilid Kedua. Erlangga, Jakarta.