Prinsip Pengendalian Hama Dengan Musuh Alami

Prinsip Pengendalian Hama Dengan Musuh Alami – Hmm, pagi tadi saya melihat tayangan televisi yang menginspirasi, apa? Yaitu cara para petani untuk membasmi dan meanggulangi hama tanaman pertanian dengan musuh alami. Tepatnya di desa Pelikan Kabupaten banyumas.

Masyarakat desa tersebut bertani tanpa menggunakan bahan-bahan pestisida untuk menanggulangi hama dan penyakit tanaman pertanian milik mereka. Saya jadi ingat tempo duloe, ketika pupuk dan obat kimia belum ada, bagaimana kakek nenek kita mengolah pertanian mereka.

Baik, berikut adalah penjelasa prinsip bagaimana mengendalikan hama secara alami, Istilah ilmiahnya adalah ‘Pengendalian Hayati”.

Teknik pengendalian hayati dengan parasitoid dan predator Alami

Sampai saat ini dapat dikelompokan dalam 3 kategori yaitu ; 1.Introduktiosi, 2. Augmentasi dan 3 konservsi. Ketiga teknik pengendalian hayati tersebut berbeda dalam sasaran dan tujuannya tetapi dalam pelaksanaannya sering digunakan bersama-sama. Baik mari kita ulas satu persatu.

#1. Introduksi

Teknik introduksi atau importasi musuh alami seringkali disebut sebagai praktek klasik pengendalian hayati. Hal ini disebab kan  sejak diketahui sebagian besar usaha pengendalian hayati menggunakan teknik tersebut.

Keberhasilan  Penggunaan tetknik intruduksi tersebut dimulai    dengan introduksi kumbang cedalia, Rodolia cardinalis dari benua Australia ke kalifornia untuk mengendalikan hama kutu prisai  Icerya purchasi yang menyerang perkebunan jeruk di Kalifornia. Pada saat itu deketahui bahwa hama kutu jeruk tersebut berasal dari australia. Keberhasilan tekni introduksi  ini kemudian dicobakan pada hama-hama lain dan banyak juga juga yang berhasil baik secara lengkap substansial maupun parsial.

Di Indonesia pengendalian dengan introduksi parasitoid  yang berhasil antara lain introduksi parasitoid;  Pediobius parvulus dari Fiji tahun 1920   ke ind untk pengendalian hama kumbang kelapa Promecotheca reichei. Pada beberapa daerah dilaporkan bawa parasitasi dapat mendekati 100%, Juga pemasukan parasitoid Tetrastichus brontispae dari pulau jawa ke Sulawesi selatan dan Sulawesi utara dapat berhasil menekan populasi hama brontispa longissima. Parasitoid telur Leefmansia bicolor pernah dimasukan dari pulau ke pulau talaud., juga parasitoid Chelonus sp dimasukan dari Bogor ke pulau Flores untk mengendalikan hama bunga kelapa Batrachedra( Kalshoven, 1981 ). Di Indonesia kasus yang paling baru terjadi pada tahun 1986 – 1990 yaitu introduksi predator Curinus Coreolius dari Hawai untk pengendalian hama kutu loncat lamtoro Heteropsylla sp.

Tujuan Introduksi

Walau telah banyak usaha introduksi musuh alami yang berhasil dilakikan tetapi untuk menjelaskan teori dasar teknik introduksi tersebut sangat sulit karena kerumitan mekanisme dan susunan ekosistem pertanian.  Introduksi spesies parasitoid atau parasitoid yang eksotik ( berasal dari luar daerah ) pada suattu daerah paling sedikit diarahkan pada 2 tujuan yaitu ;

  1. Adanya” Kekosongan”, nice atau relung pada sistem kehidupan hama yang dapatdiisi oleh spesies yang diintroduksikan terjadi terutama bagi berbagai jenis hama pendatang ang dengan melalui banyak cara dapat memasuki daerah atau komunitas baru. Hama migran ternyata dapat menyesuaikan dengan keadaan lingkungan baru yang akhirnya menjadi hama yang membahayakan karena ditempat tersebut tidak ada musuh alami yang sesuai dan efektif. Usaha Introduktif bertujuan mencari musuh alami hama tersebut didaerah asalnya dan memasukannya ke daerah baru. Di daerah asal hama tersebut mungkin tidak menjadi masalah bagi petani karena populasinyatelahdapat diatur dan dikendalikan oleh agen musuh alami setempat.
  2. Pada sistem kehidupan hama tidak terjadi kekosongan relung, tetapi organisme pengendalian alami yang ada ternyata kurang memiliki kemampuan pengaturan populasi yang kuat. Musuh alami setempat mungkin dapat diganti atau perananya diambil alih oleh spesies introduksi yang lebih kuat daya pengaturnya. Usaha ini sering disebut pergantian kompetitif atau” competitiv competitive displacement”. Agar spesies introduktif dapat berhasil untuk menggantikan atau mengusir spesies asli tentu diperlukan banyak persaratan fisiologi dan ekologi yang khas.
  3. Langkah-angkah introduksi.

Mengingat introduksi musuh alami termasuk dalam rekayasa biolog, agar teknik ini berhasil diperlukan banyak usaha persiapan dan studi yang mendalam terutama tentang sifat penyebaran, sifat biologi dan ekologi spesies hama dan musuhalami yang yang akan di introduksikan dan keadaan ekosistem setempat. Sampai saat ini upaya introduksi musuh alami ada juga yang berhasil mengendalikan hama secara berlanjut meskipun hanya dilandasi dengan metode coba-cobaatau metode” trial and error” . Namun untuk peningkatan efisiensi dan efektivitas pengendalian pendekatan semacam itu tidak dianjurkan.

Ada beberapa langkah klasik yang perlu ditempuh untuk melakukan introduksi musuh alami pada suatu tempat. Langkah-langkah tersebut dilakukan dengan urutan sebagai berikut;

1). Penjelajahan atau eksplorasi di negeri asal.

2). Pengiriman parasitoid dan predator dari negeri asal.

3). Karantina parasitoid dan predator yang diimpor.

4). Perbanyakan parasitoid dan predator dalam laboratorium.

5).  Pelepasan dan pemapanan parasitoid dan predator yang diimpor.

6). Evaluasi efektivitas pengendali hayati.

Manfaat Introduksi

Jika berhasil, nilai manfaat yang diperoleh dari pemasukan musuh Alami sangat besar karena hasilnya mantap,mapan dan akan berumur panjang sehingga   keuntungan yang maksimal. Namun perlu diperhatikan adanya dua keterbatasan teknik introduksi ini.

1). Teknik tersebut umumnya berhasil diterapkan pada spesies hama        yang eksotik ( berasal dari luar ) utk hama asli /setempat kurang berhasil.

2). Banyak ahli berpendapat bahwa keberhasilan teknik ini berkaitan dengan stabilitas agroekosistem. Umumnya Introduksi berhasil diterapkan pada ekosistem pertanaman tahunan seperti di perkebunan kelapa,jeruk dll. Ekosistem dipertanaman tahunan relatif stabil bila dibandingkan dengan ekosistem pertanaman musiman seperti persawaahan. Upaya introduksi musuh alami ke pertanaman musiman perlu dipelajari lebih lanjut tentang peluang dan kemungkinan peningkatan efektivitasnya.

#2. Augmentasi

Teknik augmentasi atau teknik peningkatan merupakan aktivitas pengendalian hayati yang bertujuan meningkatkan jumlah musuh alami atau pengaruhnya. Sasaran ini dapat dicapai dengan dua cara augmentasi:

1. Dengan  melepas sejumlah tambahan musuh alami tersebut dalam waktu singkat musuh alami mampu menurunkan populasi hama.

2 .Dengan memodifikasian ekosistem sedemikian rupa sehingga jumlah dan efektivitas musuh alami dapat ditingkatkan.

Pelepasan sejumlah populasi musuh alami diekosistem secara teknik augmentasi sebetulnya samajuga dengan pelepasan musuh alami dengan tekik introduksi.Dengan teknik augmentasi diharapkan populasi hama sementara waktu ( satu musim atau kurang )dengan cepat dapat ditekan sehingga tidak merugikan. Pelepasan musuh alami introduksibertujuan untuk dalam jangka panjang  mampu menurunkan aras keseimbangan populasi hama sehingga tetap berada di bawah aras ekonomi.

Karena itu pelepasan musuh alami secara augmentasi harus dilakukan secara periodik. Perbedaan lain pelepasan augmentasi menggunakan musuh alami yang sudah berfungsi diekosistem, sedangkan pelepasan introduksi menggunakan musuh alami yang dimasukan dari luar ekosistem.

Pelepasan periodik dapat dibedakan dalam tiga bentuk tergantung pada maksud dan frekuensi pelepasan serta sumber musuh alamiyang dilepaskan. Tiga pelepasan periodik tsb adalah:

a).Pelepasan inokulatif

Pelepasan musuh alami dilakukan satu kali dalam satu musim atau dalam satu tahun dengan tujuan agar musuh alami tersebut dapat mengadakan kolonisasi dan menyebar luas secara alami dan menjaga populasi hama tetap berada pada aras keseimbangannya.Pelepasan musuh alami disini dimaksud agar secara teratur peranan dan kondisi musuh alami tetap dipertahankan dan diringkatkan. Secara periodik popuasi musuh alami berkurang karena keadaan lingkungan yang tidak sesuai.Pengendalian hama tidak diharapkan dari hasil kerja musuh alami yang dilepas tetapi oleh keturunannya.

b). Pelepasan Suplemen

Pelepasan musuh alami dapat dilakukan setelah dari kegiatan sampling diketahui populasi hama mulai meninggal kan populasi musuh alaminya. Tujuan pelepasan untuk membantu musuh alami yang sudah ada agar kembali berfungsi dan dapat mengendalikan populasi hama.

c).Pelepasan inundatif atau pelepasan masal

Jika pada kedua car pelepasan sebelumnya diharapkan keturunan dari individu musuh alami yang dilepaskan yang terus berfungsi memperkuat berfungsinya kembali musuh alami sebagai pengendali alami, maka pelepasan inundatif mengharapkan agar individu-individu musuh alami yang dilepas secara sekaligus dapat menurunkan populasi hama secara cepat terutama setelah ratusan ribu atau jutaan individu parasitoid atau predator dilepaskan.Pelepasan inundatif parasitoid sering disebut penggunaan “ insektisida biologi” karena dalam hal ini musuh alami seakan-akan diharapkan dapat bekeja secepat pestisida kimiawa dalam penurunan populasi hama.

Karena jumlah musuh alami yang dilepas sangat banyak diperlukan teknik perbanyakan masal musuh alami yang cepat dan ekonomis. Umumnya inang bagi perbanyakan masal musuh alami bukan serangga inang hama tetapi  serangga alternatif yang lebih mudah diperbanyak di ruang perbanyakan.

Contoh;  untuk memperbanyak parasit telur Trichogramma sp dilaboratorium digunakan inang pengganti yai Sitotroga cerealia yang menyerang gabah.

Baca juga : 

Beberapa cara untuk memodifikasi ekosistem adalah:

1). Perlindungan ekosistem dari penggunaan pestisida kimiawi

2). Pengembangan musuh alami yang tahan atau toleran terhadap pestisida

3). Perlindungan atau penjagaan stadia tdk aktif

4). Menghindari praktek budidaya tanaman yang merugikan musuh alami

5). Penjagaan keanekaragaman komunitas setempat

6). Penyediaan inang alternatif

7). Penyediaan pakan alami ( nektar, polen,madu)

8). Penyediaan pakan suplemen

9). Pembuatan perlindungan musuh alami

10).Pengurangan populasipredator yang tidak diprlukan

11).Pengendalian semut pemakan madu

12).Pengaturan suhu

13).Kurangi debu yang mengganggu efektivitas musuh alami

#3. Konservaasi musuh alami

Dalam penerapan PHT konservasi musuh alami terutama pemanfaatan predator dan parasitoid merupakan teknik pengendalian hayati yang sering dilakukan dan dianjurkan. Teknin konservasi bertujuan menghindarkan tindakan-tindakan yang dapat menurunkan populasi musuh alami. Banyak tindakan agronomi yang secara langsung dan tidak langsung dapat merugikan populasi musuh alami terutama penggunaan pestisida kimia. Pengendalian hama tanpa menggunakan pestisida atau kalau digunakan secara selektif berarti usahakonservasi musuh alami telah dilaksanakan.Beberapa teknik augmentasi yang memanipulasi ekosistem seperti yang telah diuraikan dapat dimasukan sebagai teknik konservasi. Ada beberapa cara konservasi;

a). Menekan pemakaian pestisida

b). Hindari pemakaian pestisida secara terus menerus( Musuh alami peka thdp pestisida eran) parasitoid lebih peka drpd predator.

c). Usahakan tanaman yang beranekaragan/heterogen

d). Ciptakan iklim mikro

e). Melestarikan tanaman bunga

Parasitoid dan predator akan sulit untuk mempertahankan hidup setelah panen karena inang tdk dijumpai lagi.

Nah, itu adalah 3 prinsip utama pengendalian hayati untuk saat ini. Artikel ini dibuat karena semakin banyaknya penggunaan pestisida yang pada akhirnya merusak lingkungan itu sendiri, kita harus mulai berfikir untuk kembali ke alam dalam pengendalian hama tersebut.

 

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !