Belajar Orang Dewasa dan Anak-Anak, Apakah Sama?

Belajar dewasa Dan Anak-Anak – Ada poin-poin penting dalam mengartikan makna belajar. Menurut KBBI (2007:17) Belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Sangat sederhana, namun kaya maka.

Pengertian tersebut bukan semata untuk di tujuakan pada proses belajar yang identik oleh seorang anak, namun juga menyangkut proses belajar untuk orang dewasa. Dewasa lebih cenderung pada logika sementara anak lebih cenderung menangkap hal-hal baru dan menyimpan dalam memori.

Pengertian lain :

Belajar adalah proses eksperiensial (pengalaman) yang menghasilkan perubahan perilaku yang relatif permanen dan yang tidak dapat dijelaskan dengan keadaan sementara kedewasaan, atau tendensi alamiah.

Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga mati nanti.

belajar dari Seorang guru yang sedang berfoto akrab dengan siswa-siswinya

Seorang guru yang sedang berfoto akrab dengan siswa-siswinya

Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya. Juga belajar itu memiliki tujuan akan lebih baik, kalau si subjek belajar berarti mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik.

Dari keempat definisi belajar yang sudah di jabarkan di atas, maka silahkan ambil kesimpulan sendiri mana yang menurut Anda terbaik atau mewakili makna belajar versi Anda.

Jika di sekat-sekat dan di kelompokan, Ada beberapa pengertian lain baik yang dilihat secara mikro maupun secara makro, dilihat dalam arti luas maupun terbatas/khusus.

Dalam pengertian luas, belajar dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya. Relevan dengan ini, ada pengertian bahwa belajar adalah “penambahan pengetahuan”. Selanjutnya ada, yang mendefinisikan: “belajar adalah berubah”. Dalam hal ini yang dimaksudkan belajar berarti berusaha mengubah tingkah laku. Jadi belajar akan membawa suatu perubahan pada individu-individu yang belajar.

Secara umum, belajar boleh dikatakan juga sebagai suatu proses interaksi antara diri manusia (id – ego – super ego) dengan lingkungannya, yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep, ataupun teori. Dalam hal ini terkandung suatu maksud bahwa proses interaksi itu adalah:

  1. Proses internalisasi dari sesuatu ke dalam diri yang belajar, dan
  2. Dilakukan secara aktif, dengan segenap panca indera ikut berperan.

Mengenai perubahan status abilitas itu meliputi tiga ranah/matra, yaitu: matra kognitif, afektif, dan psikomotorik. Masing-masing matra atau domain ini dirinci lagi menjadi beberapa jangkauan kemampuan (level of competence). Rincian ini dapat disebutkan sebagai berikut:

Kognitif Domain:

1). Knowledge (pengetahuan, ingatan).

2). Comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh).

3). Analysis (menguraikan, menentukan hubungan).

4).Synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru).

5). Evaluation (menilai)

6). Aplication (menerapkan)

Affective Domain:

1). Recieving (sikap menerima).

2). Responding (memberikan respon).

3). Valuing (nilai).

4). Organization (organisasi).

5). Characterization (karakteristik).

Psychomotor Domain:

1). Initiatory level.

2). Pre-rotine level.

3). Rountinized level.

Guna melengkapi pengertian mengenai makna belajar, perlu kiranya dikemukakan prinsip-prinsip yang berkaitan dengan belajar.

Berikut beberapa prinsip penting yang harus diketahui dalam ranah belajar :

  1. Belajar pada hakikatnya menyangkut potensi manusiawi dan kelakuannya.
  2. Belajar memerlukan proses dan pemahaman serta kematangan diri para siswa.
  3. Belajar akan lebih mantap dan efektif, bila didorong dengan motivasi, terutama motivasi dari dalam/dasar kebutuhan/kesadaran atau intrinsic motivation, lain halnya belajar dengan rasa takut atau dibarengi dengan rasa tertekan dan menderita.
  4. Dalam banyak hal, belajar merupakan proses percobaan (dengan kemungkinan berbuat keliru) dan condotioning atau pembiasaan.
  5. Kemampuan belajar seseorang siswa harus diperhitungkan dalam rangka menentukan isi pelajaran.
  6. Belajar dapat melakukan tiga cara yaitu:

1). Diajar secara langsung

2). Kontrol, kontak, penghayatan, pengalaman langsung (seperti anak belajar bicara, sopan santun, dan lain-lain).

3). Pengenalan dan atau peniruan

  1. Belajar melalui praktik atau mengalami secara langsung akan lebih efektif mampu membina sikap, keterampilan, cara berpikir kritis dan lain-lain, bila dibandingkan dengan belajar hafalan saja.
  2. Perkembangan pengalaman anak didik akan banyak memengaruhi kemampuan belajar yang bersangkutan.
  3. Bahan pelajaran yang bermakna/berarti, lebih mudah dan menarik untuk dipelajari, dari pada bahan yang kurang bermakna.
  4. Informasi tentang kelakuan baik, pengetahuan, kesalahan serta keberhasilan siswa, banyak membantu kelancaran dan gairah belajar.
  5. Belajar sedapat mungkin diubah ke dalam bentuk aneka ragam tugas, sehingga anak-anak melakukan dialog dalam dirinya atau mengalaminya sendiri.

Demikian artikel berjudul Apa Pengertian Belajar Itu? Apakah Dewasa dan Anak Sama Saja?

Baca juga : Tujuan Belajar Seorang Manusia

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !