Pengertian, Jenis dan Standar Auditing Perusahaan

Pengertian, Jenis dan Standar Audit Perusahaan – Pengertian audit yaitu suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti empiris secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.

Auditing umumnya digolongkan menjadi 3 golongan:

1. Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit )

Audit laporan keuangan adalah audit terhadap laporan keuangan yang dilakukan oleh auditor independen untuk menyatakan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.

2. Audit Kepatuhan (Compliance Audit)

Audit kepatuhan adalah audit yang bertujuan untuk menentukan apakah yang diaudit telah sesuai dengan kondisi atau peraturan tertentu. Audit kepatuhan ini biasanya banyak dilaksanakan di pemerintahan.

3. Audit Operasional (Operational Audit)

Audit operasional adalah review secara sistematik kegiatan organisasi yang bertujuan untuk mengevaluasi kinerja, mengidentifikasi kesempatan untuk peningkatan, dan membuat rekomendasi untuk perbaikan atau tindakan lebih lanjut. Pihak yang memerlukan audit operasional adalah manajemen atau pihak ketiga.

Auditor dalam melaksanakan proses auditnya harus memperhatikan 7 elemen dalam pelaksanaan audit

1. Proses yang sistematis

Dalam pelaksanaannya auditing dilakukan berdasarkan proses-proses rangkaian dan prosedur yang bersifat terstruktur, terorganisir, dan logis sesuai dengan ketentuannya.

2. Menghimpun dan mengevaluasi bukti secara obyektif

Pelaksanaan audit dilakukan dengan menghimpun bukti-bukti yang mendasari asersi-asersi yang dibuat individu atau entitas. Auditor kemudian melakukan evaluasi terhadap bukti-bukti yang diperoleh tersebut. Dalam penghimpunan dan pengevaluasian bukti-bukti auditor harus bersikap objektif dalam pengungkapan fakta secara apa adanya, tidak memihak, dan tidak berprasangka buruk terhadap individu atau entitas yang membuat representasi tersebut.

3. Asersi-asersi tentang berbagai tindakan dan kejadian ekonomi

Asersi merupakan pernyataan secara keseluruhan oleh pihak yang bertanggung jawab atas pernyataan tersebut. Jadi, asersi atau pernyataan tentang tindakan dan kejadian ekonomi merupakan proses pengidentifikasian, pengukuran, dan penyampaian informasi ekonomi yang dinyatakan dalam satuan uang.

4. Menentukan tingkat kesesuaian

Tingkat kesesuaian tersebut dapat dijelaskan dalam bentuk kualitatif maupun kuantitatif. Bentuk kualitatif contohnya kewajaran laporan keuangan. Penghimpunan dan pengevaluasian bukti-bukti dimaksudkan untuk menentukan dekat tidaknya atau sesuai tidaknya asersi-asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan.

5. Kriteria yang ditentukan

Kriteria dapat berupa prinsip akuntansi yang berlaku umum atau standar akuntasi keuangan, dan anggaran atau ukuran lain kinerja manajemen. Kriteria yang ditentukan merupakan standar-standar pengukur untuk mempertimbangkan (judgment) representasi-representasi atau asersi-asersi.

6. Menyampaikan hasil-hasilnya

Hasil-hasil audit dikomunikasikan melalui laporan tertulis yang mengindikasikan tingkat kesesuaian antara asersi-asersi dan kriteria yang telah ditentukan. Komunikasi dari hasil audit dapat memperkuat atau memperlemah kredibilitas atau pernyataan yang dibuat.

7. Para pemakai yang berkepentingan

Para pemakai yang berkepentingan dari hasil audit diantaranya, investor maupun calon investor di pasar modal, pemegang saham, kreditor maupun calon kreditor, badan pemerintahan, manajemen usaha, dan publik pada umumnya.

Pada umumnya prinsip-prinsip akuntansi yang sudah berlaku umum merupakan kriteria audit yang tepat untuk menilai praktek-praktek pelaporan keuangan organisasi yang diaudit, sehingga auditor harus menjalankan pekerjaan auditnya sesuai dengan standar audit. Pengertian standar auditing adalah suatu ukuran pelaksanaan tindakan yang merupakan pedoman umum bagi auditor dalam melaksanakan audit. Standar auditing mengandung pula pengertian sebagai ukuran baku atas mutu jasa auditing.

Pengertian, Jenis dan Standar Auditing Perusahaan

Berdasarkan yang tercantum dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), Standar audit dibagi menjadi tiga kelompok

adalah sebagai berikut:

#1. Standar Umum

Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis cukup sebagai auditor.

Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi, dalam sikap mental harus diperhatikan oleh auditor.

Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.

#2. Standar Pekerjaan Lapangan

Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.

Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.

Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.

#3. Standar Pelaporan

Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.

Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor.

Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggungjawab yang dipikul oleh auditor.

Apa itu Audit Report lag ?

Audit report lag adalah rentang waktu penyelesaian pelaksanaan audit laporan keuangan tahunan yaitu sejak tanggal tutup buku perusahaan sampai dengan tanggal yang tertera pada laporan auditor independen. Audit report lag dapat didefinisikan sebagai rentang waktu dalam menyelesaikan pekerjaan audit hingga tanggal diterbitkannya laporan audit.

Audit report lag adalah rentang waktu penyeleseaian pelaksanaan audit laporan keuangan tahunan, diukur berdasarkan lamanya hari yang dibutuhkan untuk memperoleh laporan auditor independen atas audit laporan keuangan tahunan perusahaan yaitu per 31 Desember sampai tanggal yang tertera pada laporan auditor independen. Audit report lag dapat diukur dari tanggal tutup buku perusahaan sampai tanggal laporan auditor independen yang dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut.

Audit Report Lag = Tanggal Laporan Audit – Tanggal Laporan Keuangan

Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan merupakan gambaran besar kecilnya perusahaan yang ditentukan berdasarkan sebuah ukuran yang dapat dinilai.  Perusahaan yang tergolong perusahaan besar biasanya lebih cepat menyelesaikan proses audit atas laporan keuangannya.

Keputusan ketua Bapepam-LK No. Kep. 11/PM/1997 menyebutkan perusahaan kecil dan menengah berdasarkan aktiva (kekayaan) adalah badan hukum yang memiliki total aktiva tidak lebih dari seratus milyar, sedangkan perusahaan besar adalah badan hukum yang total aktivanya diatas seratus milyar.

Dalam penelitian ini, ukuran perusahaan (SIZE) diukur menggunakan log total asset peusahaan yang tercantum dalam laporan keuangan perusahaan pada akhir periode. Total aset merupakan jumlah dari aset lancar, aset tidak lancar, aset tidak berwujud dan aset lainnya (Indriyani dan Supriyati, 2012).

Opini Audit

Opini auditor yaitu pendapat yang diberikan auditor atas laporan keuangan sebagai hasil akhir dari proses audit

Ada lima kemungkinan pernyataan pendapat auditor independen yaitu:

#1. Pendapat wajar tanpa pengecualian (Unqualified Opinion)

Laporan keuangan dianggap menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha suatu organisasi, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia jika memenuhi kondisi berikut ini:

a) Prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia digunakan untuk menyusun laporan keuangan.

b) Perubahan penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dari periode ke periode telah cukup dijelaskan.

c) Informasi dalam catatan-catatan yang mendukungnya telah digambarkan dan dijelaskan dengan cukup dalam laporan keuangan, sesuai dengan akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

#2. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan tambahan bahasa penjelasan (Unqualified Opinion Report With Explanatory Language)

Jika terdapat hal-hal yang memerlukan bahasa penjelasan, namun laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan klien, auditor dapat menambahkan laporan hasil auditnya dengan bahasa penjelas. Berbagai penyebab paling penting adanya tambahan bahasa penjelas:

  1. Adanya ketidakpastian yang material.
  2. Adanya keraguan atas kelangsungan hidup perusahaan.
  3. Auditor setuju dengan penyimpangan terhadap prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
  4. Pendapat wajar dengan pengecualian (Qualified Opinion)

#3. Pendapat wajar dengan pengecualian akan diberikan oleh auditor jika dijumpai hal-hal sebagai berikut:

  1. Lingkup audit dibatasi oleh klien.
  2. Auditor tidak dapat melaksanakan prosedur audit penting atau tidak dapat memperoleh informasi penting karena kondisi-kondisi yang berada di luar kekuasaan klien maupun auditor.
  3. Laporan keuangan tidak disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
  4. Prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan tidak diterapkan secara konsisten.

#4. Pendapat tidak wajar (Adverse Opinion)

Auditor akan memberikan pendapat tidak wajar jika laporan keuangan klien tidak disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia sehingga tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas perusahaan klien.

Selain auditor memberikan pendapat tidak wajar jika tidak dibatasi lingkup auditnya, sehingga auditor dapat mengumpulkan bukti kompeten yang cukup untuk mendukung pendapatnya. Jika laporan keuangan diberi pendapat tidak wajar, maka informasi yang disajikan oleh klien dalam laporan keuangan sama sekali tidak dapat dipercaya, sehingga tidak dapat dipakai oleh pemakai informasi untuk pengambilan keputusan.

#5. Pernyataan tidak memberikan pendapat (Disclaimer Opinion)

Jika auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit, maka laporan audit ini disebut dengan laporan tanpa pendapat (no opinion report). Kondisi yang menyebabkan auditor tidak memberikan pendapat adalah:

  1. Pembatasan yang luar biasa sifatnya terhadap lingkup audit.
  2. Auditor tidak independen dalam hubungannya dengan kliennya.

Perbedaan antara pernyataan tidak memberikan pendapat dengan pendapat tidak wajar adalah pendapat tidak wajar diberikan dalam keadaan auditor mengetahui adanya ketidakwajaran laporan keuangan pendapat karena ia tidak cukup memperoleh bukti mengenai kewajaran laporan keuangan yang diaudit.

Qualified opinion dilihat sebagai bad news dan akan memperlambat proses audit. Hal ini terjadi karena proses pemberian pendapat qualified tersebut melibatkan negoisasi dengan klien, konsultasi dengan partner audit yang lebih senior atau staf teknis dan perluasan ruang.

Pada penelitian ini alat ukur yang digunakan dalam variabel opini auditor adalah dengan menggunakan variabel dummy. Apabila mendapatkan opini unqualified opinion diberi kode 1 sedangkan jika mendapat opini selain unqualified opinion diberi kode 0.

Demikian artikel tentang Pengertian, Jenis dan Standar Auditing Perusahaan

Baca juga : Pengertian Akuntansi dan Program MYOB Accounting

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !