Penjelasan Metode Analisis Landscape dan Contohnya

Analisis Landscape

Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk lahan (landform), proses-proses yang menyebabkan adanya pembentukan dan perubahan yang dialami oleh setiap bentuk lahan yang dijumpai di permukaan bumi. Termasuk yang terdapat di dasar laut ataupun yang ebrada di samudera. Geografi fisik mempelajari bentang lahan (landscape), yaitu bagian ruang dari permukaan bumi yang dibentuk oleh adanya interaksi dan interdependensi bentuk lahan.

Bentuklahan atau landform adalah permukaan lahan yang mempunyai relief khas karena pengaruh kuat dari struktur kulit bumi dan akibat proses alam yang bekerja pada batuan di dalam ruang tertentu, masing-masing bentuk lahan berbeda dalam struktur, proses geomorfologi, relief/topografi dan materi penyusunnya. Studi tentang bentuklahan ini disebut geomorfologi.

Istilah bentang lahan berasal dari kata landscape (Inggris) atau landscape (Belanda) atau landschaft (Jerman), yang secara umum berarti pemandangan. Bentuk lahan atau landform adalah bentukan alam dipermukaan bumi khususnya didaratan yang terjadi karena proses pembentukan tertentu dan melalui serangkaian evolusi tertentu. Bentanglahan merupakan gabungan dari bentuk lahan (landform). Bentuk lahan merupakan kenampakan tunggal, seperti sebuah bukit atau lembah sungai. Kombinasi dari kenampakan tersebut membentuk suatu bentanglahan, seperti daerah perbukitan yang baik bentuk maupun ukurannya bervariasi / berbeda-beda, dengan aliran air sungai di sela-selanya.

Tinjauan

Bentang lahan merupakan gabungan dari bentuk lahan (landform). Bentuklahan merupakan kenampakan tunggal, seperti sebuah bukit atau sebuah lembah sungai. Kombinasi dari kenampakan tersebut membentuk suatu bentanglahan, seperti daerah perbukitan yang bervariasi bentuk dan ukurannya dengan aliran air sungai di selaselanya.

Bentang lahan ialah sebagian ruang permukaan bumi yang terdiri atas sistem-sistem, yang dibentuk oleh interaksi dan interdependensi antara bentuklahan, batuan, bahan pelapukan batuan, tanah, air, udara, tetumbuhan, hewan, laut tepi pantai, energi dan manusia dengan segala aktivitasnya yang secara keseluruhan membentuk satu kesatuan.

Analisis Landscape

Bentanglahan merupakan bentangan permukaan bumi dengan seluruh fenomenanya, yang mencakup: bentuklahan, tanah, vegetasi, dan atribut-atribut lain yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia.

Pada aspek fisik geomorfologi dapat memberikan informasi melalui kajian dengan pendekatan geomorfologi. Pendekatan geomorfologi digunakan dalam melakakukan analisis dan klasifikasi medan (terrain analysis and classification) dengan beberapa parameter seperti yang dikemukakan oleh Zuidam, dimana pada intinya dalam analisis dan klasifikasi medan dapat dikemukakan sebagai berikut: Relief/morfologi meliputi bagian lereng, ketinggian, kemiringan lereng, panjang lereng, bentuk lereng, bentuk lembah, dan aspek relief yang lain. Yang kedua adalah Proses geomorfologi meliputi erosi dan tipe erosi, kecepatan dan daerah yang terpengaruh; banjir yang meliputi tipe, frekuensi, durasi, kedalaman, dan daerah yang terpengaruh; gerakan massa yang meliputi tipe, kecepatan, daerah yang terpengaruh. Yang ketiga adalah tipe material batuan meliputi batuan induk, material permukaan, kedalaman pelapukan. Yang keempat adalah vegetasi dan penggunaan lahan meliputi tipe vegetasi, kepadatan, tipe penggunaan lahan, periode, durasi, dan konservasi. Yang kelima adalah air tanah mencakup kelembaban permukaan, kedalaman air tanah, fluktuasi air tanah, dan kualitas air tanah. Yang terakhir adalah tanah mencakup kedalaman, kandungan humus, tekstur, drainase, dan daerah berbatu.

Geografi fisik mempelajari bentang lahan (landscape), yaitu bagian ruang dari permukaan bumi yang dibentuk oleh adanya interaksi dan interdependensi bentuk lahan. Perhatian utama geografi fisik adalah lapisan hidup (life layer) dari lingkungan fisik, yaitu zona tipis dari daratan dan lautan yang di dalamnya terdapat sebagian besar fenomena kehidupan.

Studi morfometri didasarkan pada sekumpulan data pengukuran yang mewakili variasi bentuk dan ukuran ikan. Dalam biologi perikanan pengukuran morfologi (analisis morfometri) digunakan untuk mengukur ciri-ciri khusus dan hubungan variasi dalam suatu taksonomi suatu stok populasi ikan.

Tanah-tanah volkan biasanya ditemukan di wilayah volkan, terbentuk dari bahan-bahan volkan, yaitu abu volkan, batuan basaltik, batuan andesitik, serta horison-horison tanahnya memenuhi persyaratan sifat andik sesuai dengan “Taksonomi Tanah” . Andisol merupakan grup tanah yang menunjuk kepada tanah yang berkembang dari bahan-bahan volkanik. Nama internasionalnya secara umum yaitu Andosol (FAO, Peta Tanah Dunia) atau Andisol (Taksonomi Tanah, USDA).

Studi morfometri didasarkan pada sekumpulan data pengukuran yang mewakili variasi bentuk dan ukuran ikan. Setiap ikan mempunyai ukuran yang berbeda-beda, tergantung pada umur, jenis kelamin, dan keadaan lingkungan hidupnya.

Variasi morfometri suatu populasi pada kondisi geografi yang berbeda dapat disebabkan oleh perbedaan struktur genetik dan kondisi lingkungan. Oleh karena itu sebaran dan variasi morfometri yang muncul merupakan

Berdasarkan uraian tentang pengertian geografi fisik seperti di atas,maka dapat disebutkan bahwa geomorfologi merupakan unsur geografi fisik dengan penekanan nya pada bentuk lahan beserta karakteristiknya. Oleh karena itu geomorfologi memiliki keterkaitan yang erat.Dalam studi geomorfologi dapat memberikan informasi yang berharga bagi geografi fisik.

Peranan geomorfologi adalah sebagai berikut: a.Geomorfologi elementer, yang memanfaatkan bentuk lahan untuk identifikasi batuan kerucut gunung api dan lain sebagainya, b.geomorfologi suplemen: memanfaatkan kejadian atau gejala geomorfologi untuk memecahkan masalah geologi misalnya erosi selektif untuk mengetahui jenis batuan dan struktur. c. Geomorfologi komplementer: memanfaatkan gejala geomorfologi untuk melacak fenomena geologi yang tidak jelas seperti penyimpangan arah aliransungai untuk melacak sesar. d. Geomorfologi independen: menerapkan geomorfologi untuk studi geologi pada daerah yang miskin singkapan , dengan kajian geomorfologi yang mendalam dapatmemberikan informasi yang bermanfaat.

Faktor geomorfologi yang terdiri atas bentuk lahan, proses, material penyusun, dan lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap pola pembagian tanah dari suatu daerah dan tingkat perkembangan tanah. Factor pembentuk tanah seperti batuan induk,iklim, relief, vegetasi, waktu, dan organisme sebagian merupakan aspek geomorfologi.satuan bentuk lahan yang menjadi sasaran utama dalam geomorfologi banyak digunakan untuk satuan pemetaan tanah. Jadi ada hubungan logis antara bentuk lahan dengan satuan peta tanah.

Lanskap dapat diartikan sebagai: (a)    suatu gabungan yang dari kenampakan-kenampakan bentuk lahan. (b)   Sebagai suatu ruang dipermukaan bumi yang terdiri dari sistem-sistem yang dibentuk oleh interaksi dan interdependesiantara bentuk lahan , batuan, tanah, air,udara, tetumbuhan, hewan, tepi pantai,energi dan manusia yang secarakeseluruhan membentuk satu kesatuan. (c)    Permukaan bumi dengan seluruh fenomenanya, yang mencakup bentuk lahan, tanah, vegetasi, dan atribut-atribut yang dipengaruhi oleh manusia.

Klasifikasikan bentuk lahan berdasarkan genesisnya menjadi 10 (sepuluh) macam bentuklahan asal proses,

yaitu:

1. Bentuklahan asal proses volkanik (V), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas gunung api. Contoh bentuklahan ini antara lain: kerucut gunungapi, madan lava, kawah, dan kaldera.

2. Bentuklahan asal proses struktural (S), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat pengaruh kuat struktur geologis. Pegunungan lipatan, pegunungan patahan, perbukitan, dan kubah, merupakan contoh-contoh untuk bentuklahan asal struktural.

3. Bentuklahan asal fluvial (F), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas sungai. Dataran banjir, rawa belakang, teras sungai, dan tanggul alam merupakan contoh-contoh satuan bentuklahan ini.

4. Bentuklahan asal proses solusional (S), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses pelarutan pada batuan yang mudah larut, seperti batu gamping dan dolomite, karst menara, karst kerucut, doline, uvala, polye, goa karst, dan logva, merupakan contoh-contoh bentuklahan ini.

5. Bentuklahan asal proses denudasional (D), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses degradasi seperti longsor dan erosi. Contoh satuan bentuklahan ini antara lain: bukit sisa, lembah sungai, peneplain, dan lahan rusak.

6. Bentuklahan asal proses eolin (E), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses angin. Contoh satuan bentuklahan ini antara lain: gumuk pasir barchan, parallel, parabolik, bintang, lidah, dan transversal.

7. Bentuklahan asal proses marine (M), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses laut oleh tenaga gelombang, arus, dan pasang-surut. Contoh satuan bentuklahan ini adalah: gisik pantai (beach), bura (spit), tombolo, laguna, dan beting gisik (beach ridge). Karena kebanyakan sungai dapat dikatakan bermuara ke laut, maka seringkali terjadi bentuklahan yang terjadi akibat kombinasi proses fluvial dan proses marine. Kombinasi ini disebut proses fluvio-marine. Contoh-contoh satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses fluvio marine ini antara lain delta dan estuari.

8. Bentuklahan asal glasial (G), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses gerakan es (gletser). Contoh satuan bentuklahan ini antara lain lembah menggantung dan morine.

9. Bentuklahan asal organik (O), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat pengaruh kuat aktivitas organisme (flora dan fauna). Contoh satuan bentuklahan ini adalah mangrove dan terumbu karang.

10. Bentuklahan asal antropogenik (A), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas manusia. Waduk, kota, dan pelabuhan, merupakan contoh-contoh satuan bentuklahan hasil proses antropogenik.

Prosedur Kerja

  1. Landform yang akan di analisis didatangi oleh para praktikan.
  2. Landform yang di analisis ditentukan aspek morfometrinya, yaitu : kemiringan bentuk lahan, kelas lereng dan tinggi tempatnya.
  3. Kemudian ditentukan aspek morfografi umumnya yaitu : group bentuk lahan, bahan induk dan sifat atau pemeriaan bentuk lahan.
  4. Landform yang di analisis ditentukan aspek morfogenesis umumnya, yaitu ditentukannya proses yang sedan dan sudah terjadi. Yang terdiri dari proses pasif, aktif dan dinamis.
  5. Kajian morfokronologi umumnya menentukan umur suatu bentuk lahan , torehan dan pola drainase.
  6. Aspek tanah dan tumbuh – tumbuhan dilihat untuk menentukan proses pembentukan tanah yang dominan, factor pembentuk tanah yang menguassainya dan pemberiaan nama.

Pembahasan

Pada praktikum Analisis Landscape ini praktikan mempelajari tentang menganalisis morfometri, morfografi, morfogenesis dan morfokronologi. Dan praktikan pun mempelajari berbagai macam tutupan lahan. Dari pengertiannya Landscape (inggris) adalah  bentanglahan, atau landscap  (Belanda) dan landschaft (Jerman), yang secara umum berarti pemandangan. Arti pemandangan mengandung 2 (dua) aspek, yaitu: (a) aspek visual dan (b) aspek estetika pada suatu lingkungan tertentu. Dan berdasarkan pengertian bentanglahan tersebut, maka dapat diketahui bahwa terdapat 8 (delapan) unsur penyusun bentanglahan, yaitu: udara, batuan, tanah, air, bentuklahan, flora, fauna, dan manusia, dengan segala aktivitasnya. Kedelapan unsur bentanglahan tersebut merupakan faktor-faktor penentu terbentuknya bentanglahan, yang terdiri atas: faktor geomorfik (G), litologik (L), edafik (E), klimatik (K), hidrologik (H), oseanik (O), biotik (B), dan faktor antropogenik (A). Dengan demikian, berdasarkan faktor-faktor pembentuknya, bentanglahan (Ls) dapat dirumuskan :

Ls = f (G, L, E, K, H, O, B, A)

Keterangan :

Ls : bentanglahan

G : geomorfik

L : litologik

E : edafik

K : klimatik

H : hidrologik

O : oseanik

B : biotic

A : antropogenik

Geomorfologi adalah ilmu atau seni yang mempelajari bentuklahan (landform), proses-proses yang menyebabkan pembentukan dan perubahan yang dialami oleh setiap bentuk lahan yang dijumpai di permukaan bumi termasuk yang terdapat di dasar laut/samudera. Pada aspek fisik geomorfologi dapat memberikan informasi melalui kajian dengan pendekatan geomorfologi. Pendekatan geomorfologi digunakan dalam melakakukan analisis dan klasifikasi medan (terrain analysis and classification) dengan beberapa parameter seperti, dimana pada intinya dalam analisis dan klasifikasi medan dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Relief/morfologi meliputi bagian lereng, ketinggian, kemiringan lereng, panjang lereng, bentuk lereng, bentuk lembah, dan aspek relief yang lain.
  2. Proses geomorfologi meliputi erosi dan tipe erosi, kecepatan dan daerah yang terpengaruh; banjir yang meliputi tipe, frekuensi, durasi, kedalaman, dan daerah yang terpengaruh; gerakan massa yang meliputi tipe, kecepatan, daerah yang terpengaruh.
  3. Tipe material batuan meliputi batuan induk, material permukaan, kedalaman pelapukan.
  4. Vegetasi dan penggunaan lahan meliputi tipe vegetasi, kepadatan, tipe penggunaan lahan, periode, durasi, dan konservasi.
  5. Air tanah mencakup kelembaban permukaan, kedalaman air tanah, fluktuasi air tanah, dan kualitas air tanah.
  6. Tanah mencakup kedalaman, kandungan humus, tekstur, drainase, dan daerah berbatu.

Kajian utama dari geomorfologi untuk bentang lahan adalah  morfologi (bentuk lahan) yang terdiri dari, morfografi ( uraian dari bentuk lahan), morfometri (ukuran bentuk lahan), morfogenesis ( proses pembentukan bentuk lahan), morfokronologi ( umur bentuk lahan) dan morfoarangemen ( tata ruang alamiah bentuk lahan). Kajian morfometri umumnya adalah  untuk  menentukan kemiringan bentuk lahan, bentuk wilayah, kelas lereng, dan tinggi tempat. Sedangkan morfografi adalah menentukan Group  bentuk lahan, bahan induk dan sifat atau pemeriaan bentuk lahan. Kajian morfogenesis adalah menentukan proses yang sedang dan sudah terjadi, kedua proses ini terdiri dari pasif, aktif dan dinamis. Sedangkan kajian morfokronologi umumnya menentukan umur, torehan dam pola drainase suatu bentuk lahan. Faktor  geomorfologi  yang  terdiri  atas  bentuk lahan, proses, material penyusun, dan lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap pola pembagian tanah dari suatu daerah dan tingkat perkembangan tanah. Faktor pembentuk tanah seperti batuan induk, iklim, relief, vegetasi, waktu, dan organism sebagian merupakan aspek geomorfologi. Satuan bentuk lahan yang menjadi sasaran utama dalam geomorfologi banyak digunakan untuk satuan pemetaan tanah. Jadi ada hubungan logis antara bentuk lahan dengan satuan peta tanah.

Bentuk lahan atau Iandform adalah bentukan alam dipermukaan bumi khususnya didaratan yang terjadi karena proses pembentukan tertentu dan melalui serangkaian evolusi tertentu pula , menjelaskan bahwa bentuk lahan merupakan suatu kenampakan medan yang terbentuk oleh proses alami, memiliki komposisi tertentu dan karakteristik fisikal dan visual dengan jalur tertentu yang terjadi dimanapun bentuk lahan tersebut terdapat. Berdasarkan pengertian bentuk lahan tersebut, jelas bahwa bentuk lahan yang berada dipermukaan bumi sangat bervariasi sehingga, dapat menampilkan berbagai macam potensi seperti potensi keindahan, potensi energi, dan lain sebagainya.

Klasifikasikan bentuklahan berdasarkan genesisnya menjadi 10 (sepuluh) macam bentuklahan asal proses, yaitu:

  1. Volkanik (V)

Bentuklahan asal proses volkanik (V), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas gunung api. Contoh bentuklahan ini antara lain: kerucut gunungapi, madan lava, kawah, dan kaldera.

  1. Struktural (S)

Bentuklahan asal proses struktural (S), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat pengaruh kuat struktur geologis. Pegunungan lipatan, pegunungan patahan, perbukitan, dan kubah, merupakan contoh-contoh untuk bentuklahan asal struktural.

  1. Fluvial (F)

Bentuklahan asal fluvial (F), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas sungai. Dataran banjir, rawa belakang, teras sungai, dan tanggul alam merupakan contoh-contoh satuan bentuklahan ini.

  1. solusional (S)

Bentuklahan asal proses solusional (S), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses pelarutan pada batuan yang mudah larut, seperti batu gamping dan dolomite, karst menara, karst kerucut, doline, uvala, polye, goa karst, dan logva, merupakan contoh-contoh bentuklahan ini.

  1. Denudasional (D)

Bentuklahan asal proses denudasional (D), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses degradasi seperti longsor dan erosi. Contoh satuan bentuklahan ini antara lain: bukit sisa, lembah sungai, peneplain, dan lahan rusak.

  1. Eolin (E)

Bentuklahan asal proses eolin (E), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses angin. Contoh satuan bentuklahan ini antara lain: gumuk pasir barchan, parallel, parabolik, bintang, lidah, dan transversal.

  1. Marine (M)

Bentuklahan asal proses marine (M), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses laut oleh tenaga gelombang, arus, dan pasang-surut. Contoh satuan bentuklahan ini adalah: gisik pantai (beach), bura (spit), tombolo, laguna, dan beting gisik (beach ridge). Karena kebanyakan sungai dapat dikatakan bermuara ke laut, maka seringkali terjadi bentuklahan yang terjadi akibat kombinasi proses fluvial dan proses marine. Kombinasi ini disebut proses fluvio-marine. Contoh-contoh satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses fluvio marine ini antara lain delta dan estuari.

  1. Glasial (G)

Bentuklahan asal glasial (G), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses gerakan es (gletser). Contoh satuan bentuklahan ini antara lain lembah menggantung dan morine.

  1. Organik (O)

Bentuklahan asal organik (O), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat pengaruh kuat aktivitas organisme (flora dan fauna). Contoh satuan bentuklahan ini adalah mangrove dan terumbu karang.

  1. Antropogenik (A)

Bentuklahan asal antropogenik (A), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas manusia. Waduk, kota, dan pelabuhan, merupakan contoh-contoh satuan bentuklahan hasil proses antropogenik.

Dari 10 klasifikasi bentuklahan (landform) tersebut kita dapat membedakan antara satu lahan dengan lahan yang lainnya. Identifikasi Satuan BentukLahan Marin. Pengaruh proses marin berlangsung intensif pada daerah pantai pesisir, khususnya pada garis pantai di wilayah pesisir tersebut, bahkan ada diantaranya yang sampai puluhan kilometer masuk ke pedalaman. Selain itu, berbagai proses lain seperti proses tektonik pada masa lalu, erupsi gunung api, perubahan muka air laut, dan lain – lain sangat besar pengaruhnya terhadap kondisi medan pantai dan pesisir beserta karakteristik lainnya. Adakalanya proses marin di kawasan ini berkombinasi dengan proses angin (aeolin). Medan yang terbentuk dari kombinasi dus proses ini bersifat spesifik. Berbagai proses berlangsung di daerah pantai dan pesisir, yang tenaganya berasal dari ombak, arus, pasang surut, tenaga tektonik, menurunnya permukaan air laut maupun lainnya. Proses ini berpengaruh terhadap medan dan karakteristikya, serta mempengaruhi perkembangan wilayah pantai maupun pesisir tersebut. Secara garis besar perkembangan pantai atau pesisir secara alami dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

Perkembangan daratan

  1. Penyusutan daratan.

Daerah pantai merupakan daerah yang masih terkena pengaruh dari aktifitas marin. Berdasarkan morfologinya, daerah pantai dibedakan menjadi empat kelompok,yaitu:

2. Daerah Pantai Bertebing Terjal

Pantai bertebing terjal di daerah tropik basah pada umumnya menunjukkan kenampakan yang mirip dengan lereng dan lembah pengikisandi daerah pedalaman. Aktifitas pasang-surut dan gelombang mengikis bagian tebing ini sehingga membentuk bekas-bekas abrasi seperti: tebing (cliff), tebing bergantung (notch), rataan gelombang (platform), dan bentuk lainnya.

3. Daerah Pantai Bergisik

Endapan pasir yang berada di daerah pantai pada umumnya memiliki lereng landai. Kebanyakan pasirnya berasal dari daerah pedalaman yang tersangkut oleh aliran sungai, kemudian terbawa arus laut sepanjang pantai, dan selanjutnya dihempas gelombang ke darat.

4. Daerah Pantai Berawa Payau

Rawa payau juga mencirikan daerah pesisir yang tumbuh. Proses sedimentasi merupakan penyebab bertambahnya daratan pada medan ini. Material penyusun umumnya berbutir halus dan medan ini berkembang pada lokasi yang gelombangnya kecil atau terhalang, pada pantai yang relative dangkal.

5. Terumbu Karang

Terumbu karang terbentuk oleh aktifitas binatang karang dan jasad renik lainnya.

Pada praktikum analisis landscape ini didapatkan sebuah hasil analisis berbentuk table yang terdiri dari table pengamatan morfometri, table pengamatan morfografi, table pengamtan morfogenesis dan table pengamtan morfokronologi. Dari 4 tabel pengamtan tersebut hasilnya didapatkan dari lokasi yang sama yaitu di Rempoh Baturaden, Jembatan Linggamas, Kaliori, Buntu, Gelempang Pasir dan Pantai Sodong. Dan berikut adalah paparan hasil dari keempat table pengamatan tersebut :

Contoh hasil pengamatan morfografi

Lokasi : Rempoah, Baturaden, Banyumas, Jawa Tengah

Koordinat            : 7021’49’’S – 109014’19’’E

Landform

–              Grup                      : Vulkanik

–              Sub-grup             : Kerucut Vulkan

–              Sub-sub grup     : Lereng Bawah

Pola aliran           : Dendritik

Pada pengamatan lokasi pertama yang bertempat dirempoah ini memiliki landform grup vulkanik, seub-grup kerucut vulak dan sub-sub grupnya lereng bawah. Pola aliran sungai dendritik memiliki bentuk yang tidak teratur, berkembang pada daerah dengan curah hujan tinggi serta tidak ada kenampakan struktur geologi yang dominan & komposisi batuan sama dan bentuk pola aliran ini menyerupai percabangan pohon.

Lokasi : Jembatan Linggamas, Desa Petir, Jawa Tengah

Koordinat            : 7028’19’’S – 109019’20’’E

Landform

–              Grup                      : Teras Sungai

–              Sub-grup             : Teras Bawah

–              Sub-sub grup     : Aluvial

Pola aliran           : Paralel

Pada lokasi kedua bertempat di Jembatan Linggamas, Desa Petir dimana memiliki bntuk lahan teras sungai, teras bawah dan alluvial pada sub-sub grupnya. Pola aliran sungai pada lokasi kedua ini adalah parallel yaitu : Pola aliran ini memiliki arah yang saling sejajar, terkendali oleh proses dan struktur geologi, pola ini terbentuk pada daerah yang kemiringan lerengnya dapat menghambat kerja angin atau faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya pembengkokan alur.

Lokasi : Kaliori, Jawa Tengah

Koordinat            : 7029’23’’S – 109018’36’’E

Landform

–              Grup                      : Tektonik dan Struktural

–              Sub-grup             : Landform Lipatan

–              Sub-sub grup     : Punggung Antiklin

Pola aliran           : Dendritik

Pada lokasi ketiga yang bertempat di kaliori memiliki landform grup tektonik dan structural, sub-grup landform lipatan dan sub-sub gruopnya adalah pinggung antiklin. Sedangkan pola aliran sungai yang terdapat di daerah kaliori ini adalah dendritik, sama dengan lokasi pertama yaitu memiliki bentuk yang tidak teratur, berkembang pada daerah dengan curah hujan tinggi serta tidak ada kenampakan struktur geologi yang dominan & komposisi batuan sama dan bentuk pola aliran ini menyerupai percabangan pohon.

Lokasi : Buntu, Jawa Tengah

Koordinat            : 7o35’40’’S – 109016’72’’E

Landform

–              Grup                      : Aluvial

–              Sub-grup             : Dataran Banjir

–              Sub-sub grup     : Rawa Belakang

Pola aliran           : Paralel

Pada lokasi keempat bertempat di buntu, di daerah mbuntu memiliki landform aluvail, dataran banter dan rawa belakang. Dimana pola aliran yang terdapat pada lokasi tersebut adalah parallel  yaitu : Pola aliran ini memiliki arah yang saling sejajar, terkendali oleh proses dan struktur geologi, pola ini terbentuk pada daerah yang kemiringan lerengnya dapat menghambat kerja angin atau faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya pembengkokan alur.

Lokasi : Gelempang Pasir, Jawa Tengah

Koordinat            : 7041’48’’S – 109010’30’’E

Landform

–              Grup                      : Tektonik Struktural

–              Sub-grup             : Brute

–              Sub-sub grup     : Bukit Sisa

Pola aliran           : Anular

Pada lokasi pengamatan kelima berlokasi di Glempang Pasir disini memilik landform grup tektonik structural, sub-grup brute, sub-sub grup bukit sisa. Dan pola aliran yang terdapat pada lokasi tersebut adalah anular, Pola aliran ini hampir sama dengan pola aliran radial, tetapi pada pola aliran anular aliran yang menyebar tadi kemudian masuk ke sungai subsekuen, pola ini terbentuk pada daerah dengan struktur kubah/dome.

Lokasi : Pantai Sodong, Cilacap Jawa Tengah

Koordinat            : 7041’29’’S – 109010’30”E

Landform

–              Grup                      : Marine

–              Sub-grup             : Pesisir

–              Sub-sub grup     : Punggung dan Cekungan Pesisir

Pola aliran           : Paralel

Lokasi yang terakhir adalah pantai sodong, dimana memiliki landform grup marine, sub-grup pesisir dan sub-sub grupnya adalah punggung dan cekungan pasir. Pada daerah pantai sodong ini memiliki pola aliran sungai parallel yaitu, Pola aliran ini memiliki arah yang saling sejajar, terkendali oleh proses dan struktur geologi, pola ini terbentuk pada daerah yang kemiringan lerengnya dapat menghambat kerja angin atau faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya pembengkokan alur.

Pengamatan Morfometri

Lokasi : Rempoah, Baturaden, Banyumas, Jawa Tengah

Koordinat            : 7021’49’’S – 109014’19’’E

Landform

–              Grup                      : Vulkanik

–              Sub-grup             : Kerucut Vulkan

–              Sub-sub grup     : Lereng Bawah

Tinggi tempat    : 283 mdpl

Kemiringa            : 10%

Bentuk Wilayah                : Bergelombang

Kelas lereng       : 8 – 15%

Batuan                  : Qvis, Lava Andesit dan Berongga

Tingkat Toreh    : Tidak Tertoreh

Pada pengamatan lokasi pertama ini memiliki bentuk wilayah bergelombang, dengan kelas kelerengan 8 -15%  ini merupakan daerah yang landai, dan memiliki daerah yang tidak tertoreh.

Lokasi : Jembatan Linggamas, Desa Petir, Jawa Tengah

Koordinat            : 7028’19’’S – 109019’20’’E

Landform

–              Grup                      : Teras Sungai

–              Sub-grup             : Teras Bawah

–              Sub-sub grup     : Aluvial

Tinggi tempat    : 62 mdpl

Kemiringan         : 50%

Bentuk Wilayah: Agak datar

Kelas lereng       : 1 – 3%

Batuan                  : Q.A Aluvial (krikil pasir)

Tingkat Toreh    : Tidak Tertoreh

Pada pengamatan kedua yang berlokasi di jembatan linggamas memiliki kemiringan 50% dengan kelas kelerengan 1 – 3 % yang artinya daerah tersebut datar. Dan tidak tertoreh.

Lokasi : Kaliori, Jawa Tengah

Koordinat            : 7029’23’’S – 109018’36’’E

Landform

–              Grup                      : Tektonik dan Struktural

–              Sub-grup             : Landform Lipatan

–              Sub-sub grup     : Punggung Antiklin

Tinggi tempat    : 119 mdpl

Kemiringan         : 35%

Bentuk Wilayah: Berbentuk kecil

Kelas lereng       : 15 – 30%

Batuan                  : TPT (formasi tapak) Batu pasir berbutir kasar

Tingkat Toreh    : Agak Tertoreh

Pada lokasi ketiga ini bertempat di Kaliori dimana ketinggannya adaah 119 mdpl dengan tingkat kemiringannya 35 % dan kelas kelerengannya 15 – 30 % yang artinya daerah tersebut curam.

Lokasi : Buntu, Jawa Tengah

Koordinat            : 7o35’40’’S – 109016’72’’E

Landform

–              Grup                      : Aluvial

–              Sub-grup             : Dataran Banjir

–              Sub-sub grup     : Rawa Belakang

Tinggi tempat    : 32 mdpl

Kemiringan         : 20%

Bentuk Wilayah: Cekung

Kelas lereng       : < 1

Batuan                  : Endapan Undak (krikil Pasir)

Tingkat Toreh    : Tidak Tertoreh

Pada lokasi keempat berlokasi dibuntu dengan ketinggian tempat 32 mdpl, kemiringan 20% dan bentuk wilayah yang cekung. Pad alokasi ini meiliki kelas kelerengan yang < 1 yang artinyadatar atau hamper datar.

Lokasi : Gelempang Pasir, Jawa Tengah

Koordinat            : 7041’48’’S – 109010’30’’E

Landform

–              Grup                      : Tektonik Struktural

–              Sub-grup             : Brute

–              Sub-sub grup     : Bukit Sisa

Tinggi tempat    : 30 mdpl

Kemiringan         : 40%

Bentuk Wilayah: Bukit

Kelas lereng       : 15 – 30%

Batuan                  :Perselingan tuff gelas, Tuf Kristal

Tingkat Toreh    : Agak tertoreh

Pada lokasi kelima ini berlokasi di Gelempang pasir dimana ketinggiannya 30 mdpl dan memiliki kelas kelerengan 15 – 30 % yang artinya curam dan agak tertoreh.

  1. Lokasi : Pantai Sodong, Cilacap Jawa Tengah

Koordinat            : 7041’29’’S – 109010’30”E

Landform

–              Grup                      : Marine

–              Sub-grup             : Pesisir

–              Sub-sub grup     : Punggung dan Cekungan Pesisir

Tinggi tempat    : 0 mdpl

Kemiringan         : 5%

Bentuk Wilayah: Datar

Kelas lereng       : 1 – 3%

Batuan                  :Endapan Undak

Tingkat Toreh    : Tidak Tertoreh

Pada lokasi terakhir pengamatan morfometri bertempat di Pantai Sodong diman ketingganya netral karena berada atau hamper setara dengan permukaan laut. Dengan kelas kelerengan 1 – 3 % yang artinya datar dan tidak tertoreh.

Pengamatan Morfogenesis

Lokasi : Rempoah, Baturaden, Banyumas, Jawa Tengah

Koordinat            : 7021’49’’S – 109014’19’’E

Landform

–              Grup                      : Vulkanik

–              Sub-grup             : Kerucut Vulkan

–              Sub-sub grup     : Lereng Bawah

Proses

–              Pasif                      : pelapukan : sudah lanjut

–              Aktif                      : Tektonik : Endogen

–              Dinamis                : –

Pada lokasi pertama ini proses yang pasif adalah pelapukan yang sudah lanjut, dan proses yang aktif adalah endogen. endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan perubahan pada kulit bumi. Tenaga endogen ini sifatnya membentuk permukaan bumi menjadi tidak rata. Mungkin saja di suatu daerah dulunya permukaan bumi rata (datar) tetapi akibat tenaga endogen ini berubah menjadi gunung, bukit, atau pegunungan.

Lokasi : Jembatan Linggamas, Desa Petir, Jawa Tengah

Koordinat            : 7028’19’’S – 109019’20’’E

Landform

–              Grup                      : Teras Sungai

–              Sub-grup             : Teras Bawah

–              Sub-sub grup     : Aluvial

Proses

–              Pasif                      : –

–              Aktif                      : –

–              Dinamis                : Erosi : Kuat, Pengendapan : ada

Pada lokasi kedua ini prosesnya hanyalah dinamis, dimana terjadi erosi yang kuat dan adanya pengendapan. Erosi adalah peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan, creep pada tanah dan material lain di bawah pengaruh gravitasi.

Lokasi : Kaliori, Jawa Tengah

Koordinat            : 7029’23’’S – 109018’36’’E

Landform

–              Grup                      : Tektonik dan Struktural

–              Sub-grup             : Landform Lipatan

–              Sub-sub grup     : Punggung Antiklin

proses

–              Pasif                      : –

–              Aktif                      : –

–              Dinamis                : Pergerakan massa : Aktif

Pada lokasi ketiga yang bertempat di kaliori ini proses yang terjadi dinamis, dimana adanya pergerakan masa yang aktif.

Lokasi : Buntu, Jawa Tengah

Koordinat            : 7o35’40’’S – 109016’72’’E

Landform

–              Grup                      : Aluvial

–              Sub-grup             : Dataran Banjir

–              Sub-sub grup     : Rawa Belakang

Proses

–              Pasif                      : –

–              Aktif                      : –

–              Dinamis                : Pengendapan : Aktif

Pada lokasi keempat yang bertempat di Buntu Jawa Tengah ini, memiliki proses yang dinamis dimana pengendapannya aktif.

Lokasi : Gelempang Pasir, Jawa Tengah

Koordinat            : 7041’48’’S – 109010’30’’E

Landform

–              Grup                      : Tektonik Struktural

–              Sub-grup             : Brute

–              Sub-sub grup     : Bukit Sisa

Proses

–              Pasif                      : Pelapukan : massa

–              Aktif                      : –

–              Dinamis                : Erosi : Sedikit, Pengendapan : Tidak ada

pada lokasi kelima yang bertempat di gelempang pasir ini memiliki proses pasif dan dinamis, dimana proses pasif itu adalah pelapukan massanya dan proses dinamisnya adalah terjadinya sedikit erosi. Erosi adalah peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan, creep pada tanah dan material lain di bawah pengaruh gravitasi.

Lokasi : Pantai Sodong, Cilacap Jawa Tengah

Koordinat            : 7041’29’’S – 109010’30”E

Landform

–              Grup                      : Marine

–              Sub-grup             : Pesisir

–              Sub-sub grup     : Punggung dan Cekungan Pesisir

Proses

–              Pasif                      : –

–              Aktif                      : –

–              Dinamis                : –

Dan pada okais terakhir yaitu Pantai Sodong, tidak memiliki proses sama sekali. Maupun proses aktif , pasif dan dinamis.

Pengamatan Morfokronologi

Lokasi : Rempoah, Baturaden, Banyumas, Jawa Tengah

Koordinat            : 7021’49’’S – 109014’19’’E

Landform

–              Grup                      : Vulkanik

–              Sub-grup             : Kerucut Vulkan

–              Sub-sub grup     : Lereng Bawah

Perkiran umur   : Quarter, Jaman Plistosen

Tingkat torehan                : Tidak Tertoreh

Tanah

–              Ketebalan           : Tipis

–              Proses pendogen: Kuartil Berlanjut

–              Nama                    : Andosol coklat dan Regosol coklat

Vegetasi

–              Alami     : –

–              Dibudidaya         : Pemukiman, Kebun campur

Lokasi : Jembatan Linggamas, Desa Petir, Jawa Tengah

Koordinat            : 7028’19’’S – 109019’20’’E

Landform

–              Grup                      : Teras Sungai

–              Sub-grup             : Teras Bawah

–              Sub-sub grup     : Aluvial

Perkiran umur   : Quarter Holosen

Tingkat torehan                : Tidak tertoreh

Tanah

–              Ketebalan           :  160 cm

–              Proses pendogen: Lanjut

–              Nama                    : Endapan sungai dan Inceptisol Basah

Vegetasi

–              Alami     : –

–              Dibudidaya         : Sawah, Kebun campur

  1. Lokasi : Kaliori, Jawa Tengah

Koordinat            : 7029’23’’S – 109018’36’’E

Landform

–              Grup                      : Tektonik dan Struktural

–              Sub-grup             : Landform Lipatan

–              Sub-sub grup     : Punggung Antiklin

Perkiran umur   : Tersier Kliose

Tingkat torehan                : Agak Tertoreh

Tanah

–              Ketebalan           : Tipis (500 cm)

–              Proses pendogen: Tidak ada

–              Nama                    : Ultisol

Vegetasi

–              Alami     : –

–              Dibudidaya         :  Campuran

Lokasi : Buntu, Jawa Tengah

Koordinat            : 7o35’40’’S – 109016’72’’E

Landform

–              Grup                      : Aluvial

–              Sub-grup             : Dataran Banjir

–              Sub-sub grup     : Rawa Belakang

Perkiran umur   : Quarter Plitosen

Tingkat torehan                : Tidak tertoreh

Tanah

–              Ketebalan           : Cukup Tebal

–              Proses pendogen: Tidak ada

–              Nama                    : Inceptisol

Vegetasi

–              Alami     : –

–              Dibudidaya         :  Sawah

Lokasi : Gelempang Pasir, Jawa Tengah

Koordinat            : 7041’48’’S – 109010’30’’E

Landform

–              Grup                      : Tektonik Struktural

–              Sub-grup             : Brute

–              Sub-sub grup     : Bukit Sisa

Perkiran umur   : Miosen awal

Tingkat torehan                : Agak tertoreh

Tanah

–              Ketebalan           : Tipis

–              Proses pendogen: Tidak adak

–              Nama                    : Entisol

Vegetasi

–              Alami     : –

–              Dibudidaya         : Sawah dan Perbukitan

Lokasi : Pantai Sodong, Cilacap Jawa Tengah

Koordinat            : 7041’29’’S – 109010’30”E

Landform

–              Grup                      : Marine

–              Sub-grup             : Pesisir

–              Sub-sub grup     : Punggung dan Cekungan Pesisir

Perkiran umur   : Pleistosen

Tingkat torehan                : Tidak Tertoreh

Tanah

–              Ketebalan           : Tipis, Batuan induk

–              Proses pendogen: Tidak ada

–              Nama                    : Entisol

Vegetasi

–              Alami     : –

–              Dibudidaya         : Campuran

Dan itulah hasil dari pengamatan praktikum analisis landscape yang menyangkut morfografi, morfometri, morfogenesis dan morfokronologi. Dimana pada setiap pengamatan memiliki 6 lokasi yang berbeda –beda.

Kesimpulan

  1. Geomorfologi adalah ilmu atau seni yang mempelajari bentuklahan (landform), proses-proses yang menyebabkan pembentukan dan perubahan yang dialami oleh setiap bentuk lahan yang dijumpai di permukaan bumi termasuk yang terdapat di dasar laut/samudera.
  2. Kajian morfometri umumnya adalah untuk  menentukan kemiringan bentuk lahan, bentuk wilayah, kelas lereng, dan tinggi tempat.
  3. morfografi adalah menentukan group bentuk lahan, bahan induk dan sifat atau pemeriaan bentuk lahan.
  4. Kajian morfogenesis adalah menentukan proses yang sedang dan sudah terjadi, kedua proses ini terdiri dari pasif, aktif dan dinamis. Sedangkan kajian.
  5. morfokronologi umumnya menentukan umur, torehan dam pola drainase suatu bentuk lahan.

Dikutip dari berbagai sumber :

Miller, M.,. dan 1961 Modigliani, F. Analyze Landscape on Netherland, Journal of Geomorphological. Netherland.

Misra, R.K dan Easton, M.D.L. 1999. A note on the number of morphometric characters used in fish stock delineation studies employing a MANOVA. 711 Bay St., Apt 1115, Toronto, Ont., Canada M5G 2J8, International EcoGen, 2015 McLallen Court, North Vancouver, BC, Canada V7P 3H6. Journal Fisheries Research 42 (1999) 191—194.

Turan, C., 1998. A note on the examination of morphometric differentiation among the rocks: The truss system. Turk. J. Zool., 23: 259-263.

Soil survey Staff, 1998. Kunci Taxonomi tanah. Edisi Kedua Bahasa Indonesia 1999. Pusat Penelititan Tanah dan Agroklimat. Badan Pengembangan Dan Penelitian Pertanian. IPB. Bogor.

Surastopo. dan Hadisumarno, Bintarto, R. 1982. Metode Analisis Geografi. LP3ES. Jakarta.

Suprapto Dibyosaputro, 1988. Bahaya Kerentanan Banjir Daerah Antara Kutoarjo – Prembun, Jawa Tengah (Suatu Pendekatan Geomorfologi). Fakultas Geografi, UGM. Yogyakarta

Sunarto dan Hartono, A. (1999). Perkembangan bentuk lahan wilayah jawa bagian timur: Rineka Cipta

Verstappen, H.Th, 1983. Applied Geomorphology. Geomorphological Surveys for Environmental Development. New York, El sevier.

Vink, A.P.A., 1983, in Davidson, D.A. (Ed)., Landscape Ecology and Land Use, Longman, London

Widiyanto, L. Santosa, M. Luthfi. 2006. Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah. Fakultas Geografi UGM. Yogyakarta

Zuidam, R.A. & Zuidam Cancelado, F.I.,1979and 1985, Terrain Analysis and Classification Using Areal Photographs, A Geomorphologycal Approach, Netherland, Enschede: ITC.

Loading...
About Tohir 839 Articles

Kalo satu lidi bisa patah dengan mudah, tapi seratus lidi yang bersatu akan sangat susah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*