PENYAKIT BULAI PADA JAGUNG

Penyakit bulai pada jagung masih mendominasi penyebab kegagalan panen pada pertanaman jagung. Akhir-akhir ini banyak dilaporkan terjadinya ledakan penyakit bulai pada tanaman jagung seperti yang terjadi di Kediri (Jawa Timur), Simalungun (Sumatera Utara) , dan Bengkayang (Kalimantan Barat). Penyakit bulai yang sudah mewabah akan menyebabkan kehilangan hasil minimal 30 % bahkan tanaman tidak akan menghasilkan sama sekali. 
Penyakit bulai pada jagung yang disebabkan oleh cendawan jenis Peronosclerospora sp. sangat merusak pertanaman jagung di Indonesia. Penyakit ini dilaporkan dapat menyebabkan penurunan hasil hingga 100 % pada varietas yang rentan. Pada fase vegetatif (0 – 14 hari setelah tanam) adalah masa riskan pada tanaman jagung diserang bulai. Di Indonesia ada 2 jenis cendawan yang dapat menyebabkan penyakit bulai yaitu P. maydis (Rac.) Shaw di Jawa dan P. philippinensis (Westo Shaw di Minahasa. Namun pada tahun 2003 telah ditemukan P. sorghi di Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara.
Salah satu kendala dalam usahatani jagung di lahan kering maupun lahan rawa pasang surut dan lahan lebak di Kalimantan Selatan adalah penyakit bulai yang disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis. Pada musim hujan maupun kemarau, penyakit ini selalu menyerang pertanaman jagung di daerah Kalimantan Selatan. Dengan demikian penyakit bulai ini merupakan penyakit utama tanaman jagung di Kalimantan.Selatan

Gejala penyakit bulai 

  1. Ada bercak berwarna klorotik memanjang searah tulang daun dengan batas yang jelas.
  2. Adanya tepung berwarna putih pada bercak tersebut (terlihat lebih jelas saat pagi hari).
  3. Daun yang terkena bercak menjadi sempit dan kaku.
  4. Tanaman menjadi terhambat petumbuhannya bahkan bisa tak bertongkol.
  5. Tanaman muda yang terserang biasanya akan mati (umur tanaman dibawah 1 bulan).
  6. Kadang-kadang terbentuk anakan yang banyak, daun menggulung dan terpuntir 
Gejala yang disebabkan P. philippinensis berbeda dengan P. maydis daun berklorotik cenderung lebih bergaris-garis, Batang sangat kurang memanjang sehingga tanaman sering berbentuk kipas. 
Pada waktu permukaan daun berembun, miselium membentuk konidiofor yang keluar melalui mulut kulit. Dari satu mulut kulit dapat keluar satu konidiofor atau lebih. Mula-mula konidiofor berbentuk batang,dan segera membentuk cabang-cabang dikotom, yang maing-masing membentuk cabang lagi. 
Penyakit bulai dapat menimbulkan gejala sistemik yang meluas keseluruh badan tanaman dan dapat menimbulkan gejala lokal (setempat). Ini tergantung dari meluasnya cendawan penyebab penyakit di dalam tanaman yang terinfeksi. Gejala sistemik hanya terjadi bila cendawan dari daun yang terinfeksi dapat mencapai titik tumbuh sehingga dapat menginfeksi semua daun yang dibentuk oleh titik tumbuh itu. Pada tanaman yang masih muda, daun-daun yang baru saja membuka mempunyai bercak klorotis kecil-kecil. 
Bercak ini akan berkembang menjadi jalur yang sejajar dengan tulang induk, sehingga cendawan penyebab penyakit berkembang menuju kepangkal daun.Pada umumnya daun di atas daun yang berbecak itu tidak bergejala. Daun-daun yang berkembang sesudah itu mempunyai daun klorotis merata atau bergaris-garis. Di waktu pagi haripada sisi bawah daun terdapat lapisan beledu putih yang terdiri dari konidiofordan konidium. Konidium yang masih muda berbentuk bulat, dan yang sudah masak dapat menjadi jorong, dengan ukuran 12 – 19 x 10 – 23 μm dengan rata-rata 19,2 x 17,0 μm untuk P. maydid sedangkan untuk P. philippinensis ukuran konidiofornya 260 – 580 μm, konidiumnya berukuran 14 – 55 x 8 – 20 μm dengan rata-rata 33,0 x 13,3 μm. Adanya benang-benang cendawan dalam ruang antarselnya maka daun-daun tampak kaku, agak menutup, dan lebih tegak. 
Tanaman waktu terinfeksi masih sangat muda, biasanya tanaman tidak membentuk buah, tetapi bila terjadi pada tanaman yang lebih tua tanaman dapat tumbuh terus dan membentuk buah. Buah yang terbentuk sering mempunyai tangkai yang panjang, dengan kelobot yang tidak menutup pada ujungnya, dan hanya membentuk sedikit biji. Bila cendawan didaun terinfeksi pertama kali tidak dapat mencapai titik tumbuh, gejala hanya terdapat pada daun-daun sebagai garis-garis klorotik, yang disebut juga sebagai gejala lokal (Semangun,1968 dalam Semangun, 2004).

Siklus hidup :

Cendawan tidak dapat bertahan hidup secara saprofitik, tidak terdapat tanda-tanda bahwa cendawan bertahan dalam tanah.Pertanaman dibekas pertanaman yang terserang berat oleh bulai dapat sehat sama sekali. Oleh karena itu cendawan harus bertahan dari musim ke musim pada tanaman hidup.

Epidemiologi :

Pembentukan konidia jamur ini menghendaki air bebas, gelap, dan suhu tertentu, P. maydis di bawah suhu 24 oC, P. philippinensis 21-26 oC. Ada beberapa faktor yang mendorong percepatan perkembangan penyakit bulai yaitu, suhu udara yang relatif tinggi yang disertai kelembaban tinggi.

Tanaman Inang :

Beberapa jenis serealia yang dilaporkan sebagai inang lain dari patogen penyebab bulai jagung adalah Avena sativa (oat), Digitaria spp. (jampang merah), Euchlaena spp. (jagung liar), Heteropogon contartus, Panicum spp.(millet, jewawut), Setaria spp.(pokem/seperti gandum), Saccharum spp.(tebu), Sorghum spp., Pennisetum spp. (rumput gajah), dan Zea mays (jagung).

Komponen pengendalian penyakit bulai pada jagung ada lima yaitu :

  1. perlakuan fungisida metalaksil pada benih jagung 
  2. menanam varietas jagung tahan penyakit bulai; 
  3. eradikasi tanaman jagung terserang penyakit bulai; 
  4. penanaman jagung secara serempak dan 
  5. periode bebas tanaman jagung 
Dari 10 varietas jagung yang diuji ketahanannya, varietas/galur BISI-8-16, BMD-2 dan BIMA-3 memiliki persentase serangan penyakit bulai yang terendah yaitu berturut-turut 1,5; 6,5 dan 12,0%. Sedangkan ketujuh varietas jagung lainnya memiliki persentase serangan penyakit bulai lebih tinggi berkisar antara 18,5-59,5%. 
Pada percobaan lain dengan ditingkatkannya pemberian fungisida saromil ternyata pemberian seromil tidak berpengaruh terhadap serangan penyakit bulai pada tanaman jagung, di mana dengan ditingkatkan pemberian dosis seromil justru dapat meningkatkan serangan penyakit bulai. Hal ini diduga pemberian fungisida tidak efektif lagi karena varietas jagung yang ditanam memang memiliki ketahanan yang sangat rendah terhadap serangan penyakit bulai. 
Dilihat dari Tabel 3 dan 4 bahwa di Kab. Bengkayang (Kal-Bar) penggunaan fungisida saromil untuk seed treatment sudah tidak effektif lagi, walaupun dengan meningkatkan dosis fungisida.Ini berarti bahwa cendawan yang menyebabkan penyakit bulai di daerah ini sudah resisten. 

PENYAKIT BULAI DI SULAWESI SELATAN

Sulawesi selatan (Kab. Maros dan Sidrap) serangan penyakit bulai pada jagung disebabkan oleh cendawan P. maydis karena setelah dilihat di mikroskop konidiumnya berbentuk bulat , yang membuktikan bahwa pathogen bulai yang menyerang tanaman jagung masih tetap sama yaitu P. maydis.
Evaluasi ketahanan calon hibrida QPM terhadap serangan bulai pada musim hujan 2008/2009 di Maros ada enam entri F1 yang menunjukan serangan bulai lebih rendah dari Anoman (59%) yakni MSQ.K1CO.8-1-1 x Mr14Q, Mr4Q x Mr14Q, MSQ.K1CO.45-1-1 x Mr14Q, MSQ.K1CO.61-1-1 x Mr14Q, MSQ.K1CO.76-1-1 x Mr14Q, MSQ.K1CO.153-1-1 x Mr14Q, dan CML161xCML165.
Hasil penelitian di Maros penggunaan Saromil yang berbahan aktif metalaksil sebagai seed treatment masih efektif untuk pengendalian penyakit bulai.
Hasil pengamatan terhadap serangan penyakit bulai yang disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis, pada saat 14 hst terlihat bahwa intensitas kerusakan dapat mencapai 25-30% pada tanam awal bulan januari dan Februari sedangkan yang terendah adalah pada saat tanam awal bulan oktober dan Nopember dengan tingkat kerusakan sekitar 2-3%. 
Adapun Gejala serangan terlihat pada permukaan daun yaitu terdapat garis-garis sejajar dengan tulang daun yang berwarna putih sampai kuning, diikuti dengan garis-garis khlorotik sampai coklat bila infeksi makin lanjut. Tanaman terlihat kerdil dan tidak berproduksi. Jamur berkembang secara sistemik sehingga bila patogen mencapai titik tumbuh, maka seluruh daun muda yang muncul mengalami khlorotik sedangkan daun pertama sampai keempat sebagian masih hijau. Ini merupakan ciri-ciri infeksi patogen melalui udara. Bila biji jagung sudah terinfeksi maka bibit muda yang tumbuh memperlihatkan gejala khlorotik pada seluruh daun sehingga tanaman cepat mati. Pada permukaan bawah daun yang terinfeksi banyak terbentuk tepung putih yang merupakan spora patogen tersebut. 
Hasil analisis data intensitas kerusakan pada pengamatan 21 hst, menunjukkan berbedaan yang sangat nyata, dimana kerusakan terendah 3,33% pada perlakuan tanam pada awal bulan Oktober, dimana pada sat ini curah hujan hanya 65 mm. Sedangkan pada perlakuan tanam awal Jbulan anuari dan Februari kerusakan dapat mencapai 60,77 % dan 67,37%. Tingginya intensitas kerusakan tanaman oleh penyakit bulai disebabkan oleh keadan curah hujan yang cukup tinggi yaitu berkisar antara 345 mm-360 mm. Dengan keadaan curah hujan yang cukup tinggi ini dapat meningkatkan kelebaban yang tinggi pula. Dengan kelembaban yang tinggi ini dapat memicu berkembangnya yang baik bagi cendawan tersebut. Karena pembentukan spora patogen membutuhkan udara yang lembab (> 90%) dan hangat pada suhu sekitar 23oC serta gelap. 
Produksi sporangia (sporulasi) sangat banyak terjadi pada malam hari antara pukul 03.00-05.00. Kemudian spora tersebar oleh tiupan angin di pagi hari sampai beberapa kilometer dan bila spora menempel pada daun jagung muda yang basah maka dalam waktu satu jam spora tersebut akan berkecambah kemudian menginfeksi daun melalui stomata. Penyebaran penyakit bulai ini ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia, dengan kerugian yang diakibatkannya mencapai 100% (Sudjadi, 1988). Begitu juga dengan pengamatan pada 28 hst serangan penykit bulai selalu meningkat terutanam pada perlakuan tanam awal bulan Desember, awal Januari dan awal Februari, masing-masing dengan intensitas kerusakan 60,60%, 98,50% dan 99,80%. (Tabel). Tingginya intensitas kerusakan tanaman jagung oleh penykit bulai ini disebabakan oleh adanya faktor pendungkung terutama keadaan curah hujan yang tinggi dan hujan sering terjadinya pada malam hari sehingga dapat meningkatkan kelembaban yang tinggi sehingga perkembangan penyakit bulai juga meningkat. Sudjadi (1988) melaporkan bahwa pembentukan spora patogen membutuhkan udara yang lembab (> 90%) dan hangat pada suhu sekitar 23oC serta gelap. 
Produksi sporangia (sporulasi) sangat banyak terjadi pada malam hari antara pukul 03.00-05.00. Hal ini sesuai dengan Asikin (2002 dan 2003), melaporkan bahwa cuhan hujan yang tinggi sangat membantu perkembangan dari sporan dari penyakit bulai ini yang terjadi didaerah pasang surut dan lebak. Kemudian spora tersebar oleh tiupan angin di pagi hari sampai beberapa kilometer dan bila spora menempel pada daun jagung muda yang basah maka dalam waktu satu jam spora tersebut akan berkecambah kemudian menginfeksi daun melalui stomata. 
Penyebaran penyakit bulai ini ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia, seperti di wilayah lahan rawa (rawa pasang surut dan lebak) dengan kerugian yang diakibatkannya mencapai 100%. Penyebab meningkatnya serangan penyakit bulai tersebut selain faktor curah hujan dan kelembaban disebabkan jugaoleh faktor varietas yang sudah rentan, penanaman jagung berkesenambungan. 
Hal ini terbukti bahwa pada lokasi penelitian tersebut merupakan lahan yang terus-menerus selalu ditanami jagung atau monokultur jagung. Penyakit bulai tersebut dapat hidup pada inang seperti jenis teki dan rerumputan lainnya yang ada disekitar lokasi penelitian tersebut. Dan selin itu juga penyakit bulai ini dapat bertahan pada bekas atau tunggul-tunggul dari batang jagung tersebut untuk sementara. Tetapi pada saat yang menguntungkan seperti curah hujan dan kelembaban yang mulai tinggi penyakit tersebut mulai mengembangkan sporanya lagi pada inang utamanya seperti jagung.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !