Peran Orang Tua Dalam Menumbuhkan Motivasi Belajar Anak

PERAN ORANG TUA DALAM MENUMBUHKAN MOTIVASI BELAJAR ANAK – Anak merupakan  amanat Allah SWT yang dititipkan kepada kedua orang tuanya, karena itu anak dilahirkan dalam keadaan suci dan bersih.  Bagaimana jadinya kelak di kemudian hari bergantung kepada orang tuanya mendidik, membina dan mengarahkan.
Peran Orang Tua Dalam Menumbuhkan Motivasi Belajar Anak
Peran Orang Tua Dalam Menumbuhkan Motivasi Belajar Anak
Pendidikan ialah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan. Bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam keluarga.  Anak mula-mula menerima pendidikan dari orang tua, karena orang tua adalah pendidik utama sekaligus pertama bagi anak-anaknya.

Kesadaran orang tua terhadap tanggung jawab dan peranannya sebagai pendidik yang pertama  dan utama sangatlah mempengaruhi perkembangan diri anak. Keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat juga merupakan pangkal dari terbentuknya masyarakat.  Oleh karena itu keluarga merupakan wadah yang pertama dan fundamental bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik maka untuk mendukung keberhasilan belajar anaknya perlu adanya dorongan atau motivasi dari keluarga terutama orang tuanya sebagai pendidik yang utama.  Dalam makalah ini akan membahas tentang peran orang tua dalam meningkatkan motivasi belajar anak.  Anak yang dimaksud dalam makalah ini adalah anak pada usia Sekolah Dasar (SD) yaitu mereka yang berusia 6,0 tahun sampai dengan 12 bulan. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tentang pengertian orang tua adalah ayah, ibu kandung.  Zakiah Daradjat dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam menulis bahwa orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan.  Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. 

Menurut Noer Aly orang tua adalah orang dewasa yang memikul tanggung jawab pendidikan, sebab secara alami anak pada masa-masa awal kehidupannya berada di tengah-tengah ibu dan ayahnya.  Dari merekalah anak mulai mengenal pendidikannya. Dari definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa orang tua adalah orang tua kandung atau wali yang mempunyai tanggung jawab dalam pendidikan anak. Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak pada kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya  memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan.  Situasi pendidikan itu terwujud bekal adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak.

Orang tua ibu dan ayah memegang peranan penting dan amat berpengaruh  atas pendidikan anak-anaknya.  Seorang ayah, di samping memiliki kewajiban untuk mencari nafkah bagi keluarganya, dia juga berkewajiban untuk mencari tambahan ilmu bagi dirinya karena dengan ilmu-ilmu itu dia akan dapat membimbing dan mendidik diri sendiri dan keluarga menjadi lebih baik. 

Demikian halnya dengan seorang ibu, di samping memiliki kewajiban dan pemeliharaan keluarga dia pun tetap memiliki kewajiban untuk mencari ilmu.  Hal itu karena ibulah yang selalu  dekat dengan anak-anaknya. Dengan demikian jelaslah bahwa  orang tua memiliki kedudukan dan tanggung jawab yang sangat besar terhadap anaknya, karena mereka mempunyai tanggung jawab memberi nafkah, mendidik, mengasuh, serta memelihara anaknya untuk mempersiapkan dan mewujudkan kebahagiaan hidup anak di masa depan.  Atau dengan kata lain  bahwa orang tua  umumnya merasa bertanggung jawab atas segalanya dari kelangsungan hidup anak-anaknya, karena tidak diragukan lagi bahwa tanggung jawab pendidikan secara mendasar terpikul pada orang tua.

Peran Orang Tua Dalam Pendidikan

Sebagai pemimpin dalam keluarga orang tua harus mendahulukan pendidikan dalam keluarganya agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang  tidak baik.  Peran orang tua sangat menentukan keberhasilan pendidikan anak-anaknya, di antaranya orang tua berperan sebagai :

a. Pendidik (edukator)
Pendidik dalam Islam yang pertama dan utama adalah orang tua, yang bertanggung jawab terhadap anak didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi afektif, potensi kognitif dan potensi psikomotor.

b.Pendorong (motivator)
Motivasi adalah daya penggerak atau pendorong untuk melakukan sesuatu pekerjaan.  Yang bisa  berasal dari dalam diri (intrinsik) yaitu dorongan yang datang dari hati sanubari, umumnya karena kesadaran akan pentingnya sesuatu.  Dan motivasi yang berasal dari luar (ekstrinsik) yaitu dorongan yang datang dari luar diri (lingkungan), misalnya dari orang tua, guru, teman-teman dan anggota masyarakat.

Di sinilah orang tua berperan menumbuhkan motivasi atau rangsangan dari luar yang kemudian mampu secara alamiah menumbuhkan motivasi dari dalam diri anak tersebut.

c.       Fasilitator
Anak yang sedang belajar selain harus terpenuhi kebutuhan pokoknya, juga membutuhkan fasilitas belajar seperti ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis menulis, buku dan lain-lain.  Jadi orang tua  berkewajiban memenuhi fasilitas belajar agar proses belajar berjalan dengan lancar.

d.      Pembimbing
Sebagai orang tua tidak hanya berkewajiban memberikan fasilitas dan biaya sekolah saja.  Tetapi anak juga membutuhkan bimbingan dari orang tuanya.

Sekolah merupakan kegiatan yang berat dalam proses belajar banyak dijumpai kesulitan, kadang-kadang anak mengalami lemah semangat.  Orang tua wajib memberikan pengertian dan mendorongnya membantu sedapat mungkin kesulitan yang dialami anak di sekolah. 

Oleh sebab itu orang tua harus mempunyai waktu dalam mendampingi anak-anaknya.  Pada saat itulah anak diberi pengarahan dan nasehat agar lebih giat belajar.

Tanggung Jawab Orang Tua Dalam Pendidikan
Orang tua bukan hanya menjadi bapak dan ibu bagi anak-anaknya tetapi juga menjadi pendidik yang bertanggung jawab  atas pendidikan anak-anaknya.

“The family is responsible for preparing the young child to live in society for teaching the child the language, the attitudes and some of the basic skills he or she will need”. (Keluarga bertanggung jawab  untuk mempersiapkan anak kecil untuk hidup di masyarakat untuk mengajari anak berbahasa, bersikap dan beberapa kemampuan dasar yang dia laki-laki atau perempuan butuhkan).

Menurut Zakiah Daradjat tanggung jawab pendidikan Islam yang dibebankan orang tua sekurang-kurangnya adalah:

  1. Memelihara dan membesarkan anak.  Ini adalah bentuk yang paling sederhana  dari tanggung jawab setiap orang tua dan merupakan dorongan alami untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia.
  2. Melindungi dan menjamin kesamaan, baik jasmaniah maupun rohaniah, dari berbagai gangguan penyakit dan dari penyelewengan kehidupan dan tujuan hidup yang sesuai dengan falsafat hidup dan agama yang dianutnya.
  3. Memberi pengajaran dalam arti yang luas sehingga anak memperoleh peluang untuk memiliki pengetahuan dan kecakapan seluas dan setinggi mungkin yang akan dicapainya.
  4. Membahagiakan anak, baik dunia maupun akherat, sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup muslim.


Motivasi Belajar Anak

Kata “motif” diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.  Berawal dari kata “motif” itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif.

Dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan  kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar.  Keterangan di atas, ternyata motivasi memiliki posisi penentu bagi kegiatan hidup manusia dalam usaha mencapai cita-cita.  Oleh karena itu tanpa motivasi, proses belajar  tidak akan berjalan dengan baik.

Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual.  Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar

Sedangkan menurut WS. Winkel menjelaskan  bahwa, motivasi belajar adalah keseluruhan  daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menumbuhkan kegiatan belajar,  menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah kepada kegiatan untuk mencapai tujuan belajar.

Dengan demikian, motivasi belajar  memegang peranan penting dalam memberikan semangat belajar sehingga anak akan memacu motivasi dan energinya untuk belajar.

Fungsi Motivasi
Tanpa adanya motivasi (dorongan) usaha seseorang tidak akan dapat mencapai hasil yang baik, begitu juga sebaliknya.  Demikian juga  dalam mencapai hal belajar, belajar akan lebih baik jika selalu disertai dengan motivasi yang sungguh-sungguh.  Maka tidaklah mengherankan apabila ada seseorang yang mampu mencapai prestasi sesuai dengan yang diharapkan.

Dalam proses belajar mengajar, motivasi mempunyai peran dan fungsi  yang sangat penting.  Di antara fungsi motivasi belajar adalah:

  1. Mendorong manusia untuk bertindak atau berbuat, jadi berfungsi sebagai penggerak atau sebagai motor yang memberikan energi atau kekuatan kepada seseorang untuk melakukan suatu tugas.
  2. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah  perbuatan suatu tujuan dan cita-cita.
  3. Menyeleksi perbuatan, menentukan perbuatan mana yang harus  dilakukan, yang sesuai guna mencapai tujuan.

Macam-macam motivasi belajar 
Kebanyakan para ahli membagi motivasi menjadi dua tipe umum yang kemudian lebih dikenal dengan motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

1)      Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah motif-motif  yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.

Di sini individu bertingkah laku karena mendapatkan energi dan pengaruh yang tidak dapat dilihat, karena sumber pendorong individu tersebut  untuk bertingkah laku berasal dari dalam dirinya.

2)      Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar.

Dalam belajar, anak memerlukan perhatian dan pengarahan yang khusus dari orang tua, seringkali jika mereka tidak menerima umpan balik yang baik, berkenaan dengan hasil maka mereka akan menjadi lambat atau mereka menjadi malas belajar.

d.      Upaya menumbuhkan motivasi belajar
Untuk dapat memperoleh hasil belajar yang optimal dalam belajar maka seorang  anak perlu mendapatkan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik.  Oleh karena itu hendaknya orang tua senantiasa memotivasi anak agar lebih giat dalam belajar.

Ada beberapa cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di rumah, yaitu:

1)      Mengetahui hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan akan mendorong anak untuk lebih giat belajar.  Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri anak untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya akan terus meningkat.

Seorang anak biasanya akan merasa malu apabila prestasinya merosot, oleh karena itu orang tua hendaknya jangan segan-segan untuk menanyakan hasil yang dicapai oleh anaknya.

2)      Memberikan hadiah dan hukuman
Metode pemberian hadiah (reward) dikatakan sebagai motivasi yaitu apabila hadiah tersebut disukai oleh anak sekalipun kecil/murah harganya.  Sebaliknya hadiah tidak akan disukai oleh anak apabila hadiah tersebut tidak disukai oleh anak atau anak tidak berbakat untuk suatu pekerjaan.

Sebagai contoh hadiah yang diberikan untuk gambar yang terbaik mungkin tidak akan menarik bagi anak yang tidak memiliki bakat menggambar.

Demikian halnya dengan hukuman-hukuman dapat menjadi reinforcementyang negatif, tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijaksana dapat menjadi alat motivasi.

3)      Menyediakan alat atau fasilitas yang dibutuhkan
Anak yang sedang belajar selain harus terpenuhi kebutuhan pokoknya, juga membutuhkan fasilitas belajar seperti ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis menulis, buku dan lain-lain.

Dengan demikian pula adanya kesediaan dari orang  tua untuk memenuhi kebutuhan fasilitas belajar anaknya dapat mendorong anak untuk lebih giat belajar, sehingga anak dapat meningkatkan prestasi belajarnya.

Tinggalkan komentar