Berita

Perbedaan Cara Orasi JOKOWI dan PRABOWO Pada Saat Kampanye

Melanjutkan postingan sebelumnya berjudul “Menguak Visi Misi JOKOWI vs PRABOWO di Bidang Kesehatan dan Pendidikan

memang sedikit keluar dari tema blog yang bertema Kesehatan, pendidikan dan Lingkungan, hal ini dilakukan sebagai partisipasai untuk memeriahkan PILPRES yang akan dilaksanakan 9 juli mendatang.

Kedua calon mempunyai cara-cara sendiri dalam melakukan orasi politik kepada masyarakat. Menurut penulis, kedua capres memiliki perbedaan mencolok dalam hal satu ini. Baiklah, mari kita bahas satu persatu keunikan dari masing-masing presiden kita pada saat menyampaikan orasi poltik.

PRABOWO : Sesuai dengan latar belakang militer beliau, orasi dilakukan dengan penuh semangat, berapi-api dan membangkitkan semangat nasionalisme. Kata-kata yang keluar terdengar lugas, tegas dan meyakinkan. Sedikit mengingatkan presiden pertama kita Ir. Soekarno ketika beliau berorasi. Menurut pandangan saya Visi misi yang disampaikan berupa gagasan-gagasan, ide-ide baru yang terangkai dalam bingkai ide yang masih bersifat umum yang disampaikan lugas dan tegas dengan bahasa yang sedikit hiperbol. Bagi saya sebagai pendengar, orasi beliau akan menggugah rasa semangat nasionalis didalam diri kita didukung dengan ide-ide nasional yang disampaikan. Baju yang dikenakan mendukung image kewibawaan beliau, diperkuat dengan menunggang kuda image wibawa semakin terasa. Metode kepemimpinan beliau jika kita identikan mirip dengan pemimpin-pemimpin pada awal kemerdekaan Indonesia, seperti Bung Karno dan Soeharto. Pertanyaanya apakah kepemimpinan dengan metode seperti ini yang dibutuhkan oleh masyartakat saat ini?.

  • JOKOWI : Melihat calon presiden satu ini yang mendobrak kebiasaan pemimpin-pemimpin lama negeri ini, membawa metode memimpin baru yang belum pernah dilakukan pemimpin-pemimpin sebelumnya. Biasanya pemimpin berwibawa dan eksklusif, calon presiden ini jauh dari itu semua. Lihat saja ketika beliau menjabat menjadi walikota solo dan gubernur DKI Jakarta. Metode kepemimpinan yang dibawa istilah ngetrenya disebut “BLUSUKAN” melihat permasalahan masyarakat secara langsung dengan turun melihat dan berinteraksi dengan masyarakat. Cara menyampaikan orasi pada saat kampanye juga terlihat bahwa calon presiden yang satu ini dekat dengan rakyatnya. Bahasanya tidak tinggi-tinggi, tidak muluk-muluk dan tidak berapi-api. Bahkan terkesan kurang dapat berorasi. JOKOWI mengajak berbicara dan berinteraksi dengan masyarakat tanpa ada sekat. Bahkan terkesan tidak perduli dengan batasan pemimpin dan masyarakatnya. Cara kepemimpinan Jokowi membumi. Bahasa yang digunakan merupakan bahasa sederhana yang dimengerti masyarakat. Mengunkapkan ide-ide sederhana yang dimengerti masyarakat, menyelesaikan masalah dengan langsung pada pokok masalah dan cara nyata untuk menyelesaikan masalah tersebut. Namun pertanyaanya, apakah metode ini akan cocok untuk Indonesia saat ini?.

Demikian uraian singkat yang bisa wisata sains sampaikan, artikel ini bukan untuk mempengaruhi pembaca. Artikel ini dibuat berdasarkan opini admin, dan dibuat seobjektif mungkin. Jika ada kalimat yang tidak sesuai dengan pembaca kami mohon maaf, sekali lagi artikel ini dibuat berdasarkan pandangan penulis dan seobjektif mungkin.

Siapapun presiden yang akan terpilih semoga PEMILU akan berjalan dengan damai. Dan saya yakin siapapun yang terpihih pasti akan melakukan hal terbaik untuk negeri ini, bukan untuk mencari kekayaan dan menumpuk kekayaan. Kami masyarakat butuh sosok pemimpin yang dapat menginspirasi dan merubah yang tidak baik menjadi lebih baik.

Semoga uraian singkat ini dapat bermanfaat untuk pembaca.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !