Potensi Bakteri Pseudomonas sp. dalam Proses Bioremediasi Minyak Bumi

Kemajuan dalam bidang industri di Indonesia meningkat dari tahun ke
tahun. Peningkatan ini dapat memberikan berbagai dampak positif seperti terbukanya
lapangan kerja, membaiknya sarana transportasi dan komunikasi, serta
meningkatnya taraf sosial ekonomi masyarakat. Kebutuhan energi untuk aktivitas
kehidupan manusia tidak lepas dari pemanfaatan sumber energi minyak bumi.
Berbagai kegiatan yang dilakukan seperti eksplorasi, eksploitasi, penyimpanan,
pengolahan, dan distribusi dari minyak mentah maupun minyak olahan akan menyebabkan
kebocoran atau tumpahan minyak ke lingkungan. Suatu kenyataan yang perlu
disadari bahwa perkembangan kegiatan industri secara umum juga merupakan sektor
yang sangat potensial sebagai sumber pencemaran yang akan merugikan bagi
kesehatan dan lingkungan (Assegaf, 1993).

Pengolahan minyak mentah (crude oil) yang membutuhkan energi,
disamping melalui proses fisik dan kimia dalam pengolahan bahan baku cenderung
menghasilkan polusi seperti : partikel, gas karbon monoksida (CO), gas
karbondioksida (CO2), gas belerang oksida (SO2), dan uap
air. Sesuai dengan jenis produksinya, maka minyak tidak dapat lepas dari
masalah limbah dan polusi yang timbul terutama pada lingkungan yaitu pencemaran
air, tanah, dan udara. (Peter et al., 1989; Setiani, 2005).
Minyak bumi itu sendiri adalah campuran hidrokarbon yang terbentuk
berjuta-juta tahun lalu di masa lampau sebagai hasil dekomposisi bahan-bahan
organik dari tumbuhan dan hewan. Minyak bumi berupa cairan kental berwarna kehitaman
yang terdapat dalam cekungan-cekungan kerak bumi dan merupakan campuran sangat
kompleks dari senyawa-senyawa hidrokarbon dan bukan hidrokarbon. Dewasa ini
terdapat 500 senyawa yang pernah dideteksi dalam suatu cuplikan minyak bumi
yang terdiri dari minyak bumi fraksi ringan dan fraksi berat. Minyak bumi
fraksi ringan, komponen utamanya adalah n-alkana dengan atom C15-17, sedangkan
minyak bumi fraksi berat komponen utamanya adalah fraksi hidrokarbon dengan
tidik didih tinggi (Farrington dkk, 1975).
Limbah lumpur minyak bumi (LMB) merupakan limbah akhir dari serangkaian
proses dalam industri pengilangan minyak bumi. Kegiatan operasinya dimulai dari
eksplorasi, produksi (pengolahan sampai pemurnian) sampai penimbunan dan
berpotensi menghasilkan limbah berupa lumpur minyak bumi (oily sludge)
(Rossiana et al., 2007). Limbah lumpur minyak bumi terdiri dari senyawa
hidrokarbon yang merupakan polialifatik hidrokarbon seperti alkana (n-normal,
iso dan siklo) dan poliaromatik hidrokarbon (PAH) seperti naftaeno, benzena,
naftalena, benzo(a)pirena, air, unsur logam (As, Cd, Cr, Hg, Pb, Zn, Ni, Cu)
serta non hidrokarbon seperti senyawa nitrogen, sulfur, oksigen dan aspal
(Connell & Miller, 1995). Limbah tersebut termasuk dalam kategori limbah B3
yaitu limbah bahan berbahaya dan beracun karena sifat dan konsentrasinya dapat
membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan hidup.
Penanggulangan pencemaran minyak dapat
dilakukan secara fisik dan kimia (Mangkoedihardjo, 2005), namun cara
penanggulangan ini memiliki beberapa kelemahan, diantaranya dalam jangka waktu
yang lama dapat menimbulkan dampak negatif pada lingkungan (Sofa, 2008). Secara
fisik, pemulihan lingkungan yang tercemar oleh minyak bumi memerlukan biaya
yang sangat tinggi untuk pengangkutan dan pengadaan energi guna membakar materi
yang tercemar. Selain itu, penanggulangan secara fisik umumnya digunakan pada
langkah awal penanganan, terutama apabila minyak belum tersebar ke mana-mana.
Penggunaan senyawa kimia sebagai penetralisir juga memakan biaya yang cukup
besar. Selain itu, metode ini memerlukan teknologi dan peralatan canggih untuk
menarik kembali bahan kimia dari lingkungan agar tidak menimbulkan dampak
negatif yang lain. Mengingat dampak pencemaran minyak bumi baik dalam
konsentrasi rendah maupun tinggi cukup serius, maka manusia terus berusaha
mencari teknologi yang paling mudah, murah dan tidak menimbulkan dampak
lanjutan (Nugroho, 2006).
Salah satu alternatif penanggulangan lingkungan tercemar minyak adalah
dengan teknik bioremediasi, yaitu suatu teknologi yang ramah lingkungan,
efektif dan ekonomis dengan memanfaatkan aktivitas mikroba seperti bakteri.
Melalui teknologi ini diharapkan dapat mereduksi minyak buangan yang ada dan
mendapatkan produk samping dari aktivitas tersebut. Menurut Zam (2006), dari
segi biaya dan kelestarian lingkungan, bioremediasi lebih murah dan berwawasan
lingkungan dibandingkan dengan metode pemulihan lingkungan baik secara fisika
maupun kimiawi. Bioremediasi berasal dari kata bio dan remediasi atau
“remediate” yang artinya menyelesaikan masalah. Secara umum
bioremediasi dimaksudkan sebagai penggunaan mikroba untuk menyelesaikan
masalah-masalah lingkungan atau untuk menghilangkan senyawa yang tidak diinginkan
dari tanah, lumpur, air tanah atau air permukaan sehingga lingkungan tersebut
kembali bersih dan alamiah.
Assegaf, 1993. Nilai Normal Faal Paru Orang Indonesia Pada Usia
Sekolah dan Pekerja Dewasa Berdasarkan Rekomendasi American Thoracic Society
(ATS) 1987, Airlangga University Press. Surabaya.
Ayu. 2010. Pseudomonas aeruginosa. http://ayu1508.wordpress.com/2010/01/03/pseudomonas-aeruginosa/.
Diakses 26/11/11.
Connel, D.W. & G.J. Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi
Pencemaran
. Jakarta. UI Press.
Farrington, J. W., P.A. Meyers, In: G. Eglinton (Ed.). Environment
Chemistry Vol.1, The Chemical Society, London, 1975, p.109.
Hadi, Sapto Nugroho. 2003. Degadrasi Minyak Bumi Via “Tangan”
Mikroorganisme. www.che-mis-try.org/artikel_kimia/kimia_material/degradasi_minyak_bumi_via_tangan_mikroorganisme/.
Diakses 26/11/11
Komarudin, Agus Nurul. 2010. Metode Penanggulangan Tumpahan Minyak di
Laut. http://agusnurul.blogspot.com/2011/02/metode-penanggulangan-tumpahan-mintak.html.
diakses 26/11/11.
Mangkoedihardjo, S. 2005. Seleksi Teknologi Pemulihan untuk Ekosistem
Laut Tercemar Minyak (Remediation Technologies Selection for Oil-Polluted
Marine Ecosystem
). Seminar Nasional Teori dan Aplikasi Teknologi
Kelautan ITS
. Surabaya: 1-9.
Nugroho,A. 2006. Biodegradasi sludge minyak bumi dalam
skala mikrokosmos. Makara Teknologi. 10(2): 82-89.
Rossiana, N., Supriatun, T., Dhahiyat, Y., 2007. Fitoremediasi Limbah
Cair Dengan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes (Mart) Solms) Dan
Limbah Padat Industri Minyak Bumi Dengan Sengon (Paraserianthes falcataria L.
Nielsen) Bermikoriza, Laporan Penelitian Fakultas Matematika Dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran

Syaktil, Agung Dhamar. 2010.
Multi-Proses Remediasi di dalam Penanganan Tumpahan Minyak (Oil Spill) di
Perairan Laut dan Pesisir. http://pksplipb.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=118&Itemid=9. Diakses 26/11/11

Setiani, O. 2005. Kesehatan Lingkungan Industri, Program
Magister Kesehatan Lingkungan Universitas Diponegoro, Semarang.
Sofa, P. 2008. Penanganan Limbah dengan Bioremediasi. http://massofa.wordpress.com/2008/10/14/penanganan-limbah-dengan-bioremediasi/.
Diakses 26/11/11
Udiharto. M. 1993. Pengaruh aktivitas Bassilus
stearotthermophillus
terhadap tegangan permukaan crude oil. Lembaran
Lemigas. No.(1):31-35.
Zam, S.I. 2006. Bioremediasi Limbah Pengilangan Minyak Bumi PERTAMINA
UP II Sungai Pakning dengan Menggunakan Bakteri Indigen. Tesis: Abstrak.
Program Studi Bioteknologi, Institut Teknologi Bandung: 1-16.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !