Artikel

“Ilmu Pranata Mangsa”, Sains Jawa Yang Kini Mulai Senja

“Ilmu Pranata Mangsa”, Sains Jawa Yang Kini Mulai Ditinggalkan – Konten sains yang dikembangkan dalam pembelajaran sains di Indonesia banyak  diadaptasi  atau  bahkan  diadopsi  dari sains Barat. Pola pikir (budaya) pengembangan sains juga berasal dari Barat, yang belum tentu sama dengan budaya Indonesia. Namun terdapat budaya dan kearifan lokal yang mampu menerapkan sains dalam perjalanannya, salah satunya adalah budaya jawa.

Budaya Jawa adalah pancaran atau pengejawantahan budi manusia Jawa yang mencakup kemauan, cita-cita, ide maupun semangat dalam mencapai kesejahteraan, keselamatan lahir dan batin.

Budaya Jawa penuh dengan nilai kearifan baik dalam bentuk kerjasama maupun untuk hidup alami.Rakyat Jawa sebagiah besar (70%) tinggal di daerah pedesaan dengan menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Pertanian merupakan salah satu pekerjaan yang diwariskan secara turun menurun dari nenek moyang. Sehingga kebiasaan yang dilakukan dalam bertani pada jaman dulu masih bisa ditemukan pada pertanian tradisional.

Budaya sebagai sesuatu yang membuat kehidupan menjadi lebih bernilai untuk ditempuh. Secara geografis Tanah Jawa yang berada diantara dua benua dan dua lautan akan mengalami dua musim kemarau dan penghujan. Tetapi pada sebagian masyarakat Jawa menyatakan ada empat musim, yaitu:

Musim penghujan (rendeng),

musim mareng (pancaroba),

musim kemarau (ketiga),

musim labuh (menjelang hujan).

Keempat musim ini sangat dikenal oleh petani-petani tradisional Jawa dan dibakukan sebagai sistem pranata mangsa.

Pranata mangsa Jawa
Pranata mangsa Jawa

Ilmu pranata mangsa sampai sekarang masih digunakan oleh sebagian “kecil” masyarakat Jawa khususnya para petani dan pujangga. Hal ini berkaitan dengan bergesernya penghidupan sebagian masyarakat dari pertanian menjadi buruh pabrik atau sektor lain yang tidak berhubungan langsung dengan pertanian. Faktor lain adalah terjadinya perubahan musim yang ekstrim, sehingga seolah menyebabkan tidak berlakunya pranata mangsa. Oleh karena itu pranata mangsa yang sudah mapan, yang digunakan sebagai pedoman petani di Jawa Tengah sejak dahulu nampaknya perlu adanya koreksi.

Pranata Mangsa ; Buah Kecerdasan Budaya Jawa

Pranata mangsa merupakan hasil budaya Jawa yang penuh dengan muatan sains. Bila sistem pranata mangsa telah ada sejak sebelum jaman Hindu, berarti pengetahuan alam mereka sudah cukup maju. Bahkan pada jaman kerajaan Mataram Islam di bawah Sultan Agung Hanyokrokusumo, sistem pranata mangsa dikembangkan menjadi sistem kalender. Namun, karena kurangnya dokumentasi dan karakeristik budaya Jawa penuh rasa “ewuh pekewuh” mengakibatkan kurang sosialisasinya budaya Jawa, maka perlu ada kajian sains asli dari budaya Jawa khususnya berkaitan dengan sistem pranata mangsa dalam rangka untuk dimanfaatkan bagi pembelajaran sains.

Penelitian sains asli budaya Jawa ini perlu dilakukan dengan menggunakan metode-metode penelitian yang cocok untuk jenis obyek yang diteliti serta sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini metode penelitian etnosains merupakan metode penelitian yang paling sesuai dengan tujuan penelitian. Dengan menggunakan paradigma etnosains, peteliti akan mencoba memahami sains yang ada dari sudut pandang tineliti (orang yang diteliti). Penelitian lewat perspektif etnosains akan memungkinkan peteliti mengungkap nilai dan pandangan hidup ini.

Perspektif etnosains sangat membantu peneliti dalam upaya-upaya pemberdayaan ini, sebab melalui perspektif ini peneliti akan dapat mengetahui jenis dimensi-dimensi dari lingkungan yang dimiliki dan dianggap penting oleh masyarakat pendukungnya. Pengembangan pengetahuan yang didasarkan atas pemahaman tentang dimensi-dimensi ini akan dapat membuat pengetahuan yang dikembangkan. Hal ini akan menjadi partisipasi kognitif sebagaimana yang dimaksud oleh Berger.

Pengembangan dan pemberdayaan etnosains membutuhkan kerjasama yang erat antara ilmuwan etnik/lokal dengan ilmuwan sosial-budaya dan ilmuwan fisik. Dalam hal ini, ahli-ahli antropologi dengan spesialisasi etnosains sangat diperlukan keterlibatannya, karena mereka inilah yang akan menjadi penghubung antara dua pemikiran yang selama ini terpisah jauh, yakni pemikiran etnik/lokal dan pemikiran modern science. Para ethnoscientists inilah yang harus menerjemahkan etnosains ke dalam bahasa high science

Bagaimana NasibPranata Mangsa Kini?

Selama ini para petani, paling tidak di Jawa, mempunyai berbagai cara dan sistem untuk menyesuaikan keadaan iklim dan cuaca. Cara dan sistem itu sudah demikian lama berlaku, dan mendarahdaging dalam kehidupan petani Jawa. Petani Jawa adalah bagian dari bangsa agraris di Indonesia, yang telah hidup dengan tradisi pertanian padi basah kurang lebih 2000 tahun lamanya.

Para petani itu, terutama yang mendiami daerah-daerah bekas kerajaan-kerajaan Jawa, mengikuti suatu sistem penanggalan pertanian, yang disebut pranatamangsa. Penanggalan tersebut mendasarkan diri pada tahun surya yang panjangnya 365 hari.Penanggalan yang telah diwarisi turun temurun ini konon dibakukan oleh Sri Susuhunan Paku Buawana VII di Surakarta, pada tanggal 22 Juni 1855.

Menurut Daldjoeni, pembakuan tersebut dimaksudkan untuk sekadar menguatkan sistem penanggalan yang mengatur tata kerja kaum tani dalam mengikuti peredaran musim dari tahun ke tahun.

Nenek moyang bangsa Indonesia sudah akrab dengan peredaran bintangbintang di langit yang mendasari pengetahuan tentang perulangan musim. Misalnya: rasi bintang Lumbung (Crux), Banyakangkrem (scorpio), Waluku (Orion), wuluh (pleyades), wulanjarngirim (Centauri), bimasakti (Milkmay), dll.   Pranatamangsa, arti harafiahnya adalah pengaturan musim. Agaknya, pemanfaatan pranatamangsa ini ikut menyumbang pada keberhasilan dan keagungan kerajaan-kerajaan Mataram Lama, Pajang dan Mataram Islam.

Dengan pranata mangsa tersebut, orang pada zaman itu mempunyai pedoman yang jelas untuk bertani, berdagang, menjalankan pemerintahan dan pertahanan negara. Daljoeni mengungkapkan bahwa dalam pranatamangsa terdapat pertalian yang mengagumkan antara aspek-aspeknya yang bersifat kosmografis, bioklimatogis yang mendasari kehidupan sosial-ekonomi dan sosial-budaya masyarakat bertani di pedesaan. Sebagai keseluruhan pranatamangsa mencerminkan ontologi menurut konsepsi Jawa serta akhetip alam pikiran petani Jawa yang dilukiskan dengan berbagai lambang yang berupa watak-watak mangsa dalam peristilahan kosmologis yang mencerminkan harmoni antara manusia, kosmos dan realitas.

Perhitungan pranata mangsa

Untuk mengetahui letak masing-masing mangsa, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa petani juga membagi setahun dalam empat mangsa utama, yakni mangsa terang (82 hari), semplah (99 hari), udan (86 hari), pengarep-arep (98 hari). Simetris dengan pembagian tersebut, juga ada pembagian mangsa utama seperti berikut ini: mangsa katiga (88 hari), labuh (95 hari), rendheng (94 hari), mareng (88 hari).

Peletakan yang simetris ini akan memberikan tempat dua belas mangsa dalam siklus tahunan yang selalu berulang. Di masa depan, diera teknologi informasi yang menghendaki segala sesuatu berjalan dengan cepat, akurat dan masimal, pranata mangsa pada posisi di persimpangan. Budaya pranatamangsa pasti merupakan salah satu titik atau lokasi dalam peta bahaya pemanasan global di atas. Jelasnya, pemanasan global pasti meniadakan budaya pranatamangsa itu. Apalagi, sekarang pun budaya pranatamangsa hampir tak mempunyai jejak dan bekasnya lagi dalam kehidupan petani Jawa yang sedang berupaya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang makin melambung.

Eksploitasi tanah pertanian, penggunaan pupuk dan pestisida telah mengubah kesetimbangan alam. Memang karena modernitas dengan segala akibatnya, baik yang positif maupun yang negatif, budaya pranatamangsa ini sedang dalam keadaan pudar. Apalagi nanti, jika perubahan iklim betul-betul terjadi, bisa jadi budaya pranatamangsa akan sirna sama sekali. Itu berarti, modernitas yang ikut menyebabkan terjadinya perubahan iklim, melenyapkan suatu kekayaan budaya yang telah demikian lama menghidupi dan menuntun petani Jawa dalam mengolah tanah dan pertaniannya.

Kesimpulan ku sebagai sebagai penulis dari Jawa ;

Sistem kalender pranata mangsa sudah ada sejak jaman Aji Saka. Sistem kalender ini disusun menggunakan dasar titen (observasi) terhadap perubahan letak matahari, rasi bintang dan keadaan alam yang periodik. Sistem kalender pranata mangsa merupakan system kalender yang lengkap karena dapat menggabungkan kejadian yang ada di langit (sama’) dan bumi (ardli’).

Kalender pranata mangsa mengungkap perilaku hewan, dan tumbuhan yang ada di Jawa, karakter tanah yang dipengaruhi oleh perubahan suhu. Selama ini pranata mangsa dianggap sebagai “ilmu” karena disusun dalam kitab primbon, dan kitab primbon oleh sebagian masyarakat dianggap tabu untuk dipelajari (bahkan ironisnya di bilang “syirik”.

Semog pencetakan kitab primbon  qomarrulsyamsi secara umum sejak tahun 1990 diharapkan membawa perubahan masyarakat dalam memaknai pranata mangsa. Agar masyarakat mampu mengenal budaya dan ilmu yang diciptakan asli oleh nenek moyang.

Bahwa Barat tidak selalu hebat. !

Baca juga :

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !