Produk-produk ekonomis pohon/ tanaman aren

Aren [Arenga pinnata (Wurmb.) Merr.] merupakan salah satu sumber daya alam di daerah tropis, distribusinya tersebar luas, sangat diperlukan dan mudah didapatkan untuk keperluan sehari-hari oleh masyarakat setempat sebagai sumber daya yang berkesinambungan. Berikut adalah beberapa produk dari tanaman aren :

  • Pengolahan Kolang-Kaling (Cangkaleng)
Pengolahan cangkaleng ini merupakan pemanfaatan aren yang berasal dari buah muda tandan bunga betina (caruluk). Dalam proses pengolahan cangkaleng ini dimulai dengan pemetikkan caruluk terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan cara pengolahannya. Berdasarkan pengetahuan responden, caruluk atau buah aren yang dapat dipetik untuk dijadikan cangkaleng (kolang-kaling) yaitu buah aren yang muda. Biasanya buah aren yang berusia sekitar 1–1,5 tahun atau buah aren yang langari-nya sudah disadap sebanyak 5-7 kali. Pemetikan buah aren ini adalah dengan cara memotong tandan caruluk dengan golok tebas yang tandannya diikat terkebih dahulu dengan tali tambang kemudian diulur ke bawah. Hal ini ditujukan agar pemetik tidak terkena getah dari buah aren yang akan menimbulkan rasa gatal. Pengolahan buah aren dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara dibakar atau direbus. Buah-buah aren yang dibakar dapat sekaligus dengan tandannya atau dilepas satu per satu dari tandannya terlebih dahulu. Hasil pembakaran bisasanya tidak merata bahkan terdapat buah-buah yang hangus, kelemahan ini dapat diatasi dengan perebusan (Irawan et al, 2009).
  • Pembuatan Rokok Kawung (Kolobot)
Pohon kawung yang baik untuk diambil pucuk daunnya adalah pohon yang berumur 3-8 tahun. Pohon kawung yang sudah disadap, pucuknya kurang baik untuk dijadikan kolobot. Proses pengambilan pucuk daun kawung ini cukup dengan memanjat pohon kemudian dipilih tandan daun yang daunnya muda lalu potong tandannya dengan golok. Pengrajin kolobot ini kadang membeli pucuk daun kawung dari pohon orang lain seharga Rp. 1.000,-/pohon. Kolobot adalah pembungkus rokok yang terbuat dari daun kawung, dikenal dengan istilah rokok daun kawung. Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan kolobot adalah peso paud, dan gantar (tongkat bambu). Setelah tandan daun dipotong dari tandannya, tiap helai pucuk daun kawung dilepaskan satu per satu dari tandannya dengan menggunakan golok. Tiap helai daun dibuang tulang daunnya, proses ini disebut dengan disebet. Kemudian dipaud, yaitu melepaskan lapisan kutikula daun (kulumud) yang terdapat pada daun dengan peso paud. Selanjutnya digulung/digolongan, kemudian dijemur dibawah sinar matahari dengan cara digantung pada sebatang bambu yang disebut gantar (Irawan et al, 2009).
  • Pengolahan Aci Kawung
Pohon kawung yang memiliki produksi nira yang tinggi biasanya memiliki produksi aci kawung yang tinggi pula. Pohon kawung yang memiliki produksi aci kawung yang tinggi ditandai dengan pertumbuhan pohon yang subur dengan daun-daun yang rimbun dan panjang. Waktu yang tepat untuk memanen aci kawung adalah pada saat muncul tandan bunga yang pertama, karena pada saat itu kandungan pati yang terkandung sangat banyak. Batang kawung yang akan diambil acinya ditebang dengan menggunakan patik dan golok tebas, kemudian dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Tiap potongnya biasanya berukuran panjang antara 1,5 – 2 m untuk memudahkan pengangkutan. Potongan batang kawung ini kemudian diangkut ke pabrik untuk proses pengolahan dengan menggunakan truk. Penebangan dan pengangkutan ini dilakukan setiap 4 hari sekali sebanyak 1 truk batang kawung yang berisi sekitar ± 5-8 pohon kawung. Setelah tiba di pabrik pengolahan, tiap potong batang kawung tersebut dibelah kembali secara membujur menjadi 4-6 bagian yang sama besar. Belahan batang kemudian dibersihkan dari bagian kulit luar dan kulit dalamnya, sehingga yang tersisa hanya bagian tengah batang saja yang biasa disebut dengan empulur (Irawan et al, 2009).
Bagian empulur inilah yang dimasukkan ke dalam mesin pemarut sehingga menghasilkan serat-serat yang terbagi menjadi 2 bagian, yaitu serat kasar yang disebut jajaba dan serat lembut yang disebut cipo. Kemudian serat-serat tersebut dimasukkan ke dalam bak pemerasan yang telah berisi air. Proses pemerasan ini dapat dilakukan dengan cara diaduk dengan menggunakan tongkat kayu atau dapat juga dengan cara diinjak-injak. Dari bak pemerasan serat-serat ini langsung ditampung dalam bak penyaringan. Hasil dari penyaringan tersebut kemudian ditampung dalam bak penampungan dan dibiarkan selama ± 4 – 5 jam. Setelah dibiarkan selama 20 beberapa jam, maka akan terbentuk endapan aci pada lapisan bawah dan air lapisan bawah dibuang. Proses pembuangan air ini dikenal dengan istilah dibedahkeun. Hasil endapan pertama disaring kembali dengan menggunakan kain saring untuk menghasilkan endapan aci kawung yang lebih putih. Setelah terbentuk endapan putih, kemudian dimasukkan ke dalam karung lalu digantung selama 1 hari untuk proses pengeringan. Setelah terbentuk bongkahan putih, lalu dihancurkan sampai terbentuk serbuk dan dijemur selama 3-5 hari. Selanjutnya aci kawung dimasukkan ke dalam karung dan siap untuk dipasarkan (Irawan et al, 2009).

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !