10 Langkah Produksi Asam Lemak Omega-3 Mikroorganisme

Produksi ASAM LEMAK OMEGA-3

Asam-asam lemak alami yang termasuk kelompok asam lemak omega-3 adalah asam linolenat (C18:3), EPA atau Eicosapentanoic acid (C20:5) dan DHA atau Docosaheksanoic acid (C22:6), sedangkan yang termasuk kelompok asam lemak omega-6 adalah asam linoleat (C18:2) dan asam arachidonat (C20:4). Asam lemak ini dinamakan omega-3 dan biasanya disimbolkan dengan n-3 (Wang et al. 1990).

Asam lemak omega-3 merupakan zat gizi yang sangat berperan dalam aktivitas biologi di bidang kesehatan. Asam lemak tidak jenuh linoleat berperan pada per-kembangan otak anak yang sedang tumbuh, meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah berbagi jenis penyakit degeneratif (Crawford, 1987). Asam lemak omega-3 termasuk asam lemak esensial karena manusia seperti mamalia lain tidak bisa membuat atau memproduksinya sendiri (Simopoulos, 2013).

Asam lemak omega-3 selain dapat diproduksi dari ikan, mikroorganisme seperti kapang juga dapat memproduksi asam lemak omega-3. Rhizopus oligosporus merupakan kapang yang secara tradisional digunakan dalam pembuatan tempe kedelai, kapang ini mampu memproduksi asam lemak omega-3 rantai panjang, khususnya linolenat (Kristifikosa, 1991).

Produksi ASAM LEMAK OMEGA-3

Menurut penelitian Affandi dan Yuniati (2012) dengan menggunakan substrat ampas sawit dan penambaan sukrosa dalam proses fermentasi Rhizoporus oligoporus dapat meningkatkan kandungan asam lemak linolenat. Penambahan sukrosa ini berfungsi untuk meningkatkan sumber karbon pada substrat.

Langkah-langkah produksi asam lemak omega-3 dengan menggunakan Rhizopus oligoporus menurut Affandi dan Yuniati (2012) adalah:

1. Rhizopus oligosporus ditumbuhkan pada media PDA (Potato Dextrose Agar) kemudian diinkubasi 2 hari pada suhu 300C. Kemudian inokulum diinokulasikan pada 10 mL aquades.

3. Ampas sawit 15,25 gr ditambahkan sukrosa 9,75 gr dalam labu Erlenmeyer, ditambah NaCl fisiologis 150 ml.

4. Substrat disterilkan pada suhu 1210 C selama 15 menit. Kemudian didinginkan.

5. Suspensi spora 0,5 % dari substrat ditumbuhkan pada substrat pada suhu ruang.

6. Inkubasi dilakukan selama 7 hari pada suhu kamar dan dilakukan pengocokkan dengan meletakkan substrat fermentasi pada shaker.

7. Lakukan uji komposisi asam lemak dianalisa menggunakan Kromatografi Gas. Sebelumnya hasil fermentasi dimasukkan ke dalam cawan dan dimasukkan ke tanur (muffle) suhu 600-6500 C sehingga diperoleh abu.

8. Kemudian abu ditimbang dan diekstraksi dengan pelarut khloroform dan metanol dengan perbandingan 2:1 (v/v).

9. Campuram tersebut dikocok selama 5 menit dan disimpan selama satu malam. Lapisan atas metanol dibuang dan lapisan organik yang mengandung lemak diekstraksi kembali dengan kloroform dan dikeringkan dengan gas nitrogen dan ekstrak tersebut dianalisis asam lemaknya.

10. Ekstrak lemak dan substrat dikonversikan menjadi asam lemaknya dan dimetilisasi dengan BF3/metanol dan komposisi asam lemak ditentukan dengan GC-MS (BIP5995A integrator 3392, Hawlet Packard, Avondale, PA). Dimensi kolom yang digunakan adalah 20×0,2 mm i.d dan dielusi dengan gas helium.

Suhu kolom selama 3 menit pertama diatur pada 200O C. Standar asam lemak diperoleh dari Alltecch Associate, Inc., Deerfield, IL).

Menurut Affandi dan Yuniati (2012)  penambahan sukrosa pada substrat dapat meningkatkan kandungan asam lemak menjadi 31,67%.

Asam lemak palmitat (C:16)  meningkat menjadi 44,73%, asam lemak stearat (C:18) meningkat 15,48%, asam lemak oleat (18:1) meningkat 23,85%, asam lemak linoleat (18:2) meningkat 51,81% dan asam lemak linolenat (C18:3) meningkat 103,12%. Jadi penambahan sumber karbon akan meningkat produksi asam lemak tidak jenuh.

About Tohir 829 Articles

Kalo satu lidi bisa patah dengan mudah, tapi seratus lidi yang bersatu akan sangat susah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*