www.FolderBisnis.comSajian lengkap seluk beluk usaha dari strategi sampai promosi

Psikologi: Pendidikan Orang Dewasa yang Efektif

Psikologi: Pendidikan Orang Dewasa (Andragogi) yang Efektif. Pemberdayaan masyarakat sebagai salah satu strategi pembangunan sangatlah tepat untuk menggerakkan dinamika masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pendidikan dipentingkan karena sebagai salah satu cara yang ampuh untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pembangunan masyarakat juga dilihat dari aspek pembangunan sosial dan pembangunan komunitas yang sesuai. Masyarakat memiliki sebuah ciri khas bagaimana dan apa kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan. Fenomena di Indonesia salah pilih dalam menentukan aspek pembangunan masyarakat.

Pada pembangunan peran dinamika kelompok adalah alat atau media. Melalui dinamika kelompok yang dinamis pembangunan akan lebih efektif dan tepat sasaran dalam menentukan visi misi. Saat ini, banyak kelompok dengan tujuan yang baik tetapi sedikit sekali pendekatan yang diterapkan.

#1. Pengertian Pendidikan Orang Dewasa

Pendidikan Orang Dewasa (POD) merupakan proses pendidikan yang diorganisasikan melalui pesan atau isi, metode dan pelaksanaan yang ditujukan pada orang dewasa dengan rentang usia antara 17 – 45 tahun. Pendidikan merupakan kegiatan yang mengatur perkembangan manusia secara terarah untuk menjadi manusia yang baik dan berguna.

Pendidikan orang dewasa menekankan pada sudut pandang psikologi yakni kematangan (maturity), kemandirian (independensi) warga belajar. Orang dewasa adalah pribadi yang matang dan independen, dan telah mengalami beberapa tahapan proses psikologis tertentu, berbeda dengan anak-anak. Ia tidak lagi mengidentifikasi diri seperti orang diluar dirinya. Mereka telah memiliki standar sendiri, memiliki pengalaman dan butuh penghargaan. Materi pelajaran harus sesuai dengan kebutuhannya.

Enam prinsip dalam praktek pembelajaran orang dewasa agar dapat diterapkan secara efektif, yaitu: 1) adanya partisipasi secara sukarela, 2) adanya perasaan respek secara timbal balik, 3) Adanya semangat berkolaborasi dan kooperasi, 4) adanya aksi dan refleksi, 5) tersedianya kesempatan refleksi kritis dan 6) adanya iklim pembelajaran yang kondusif untuk belajar secara mandiri.

#2. Hambatan Belajar Pendidikan Orang Dewasa

Hambatan Fisiologis

1. Kejelasan Pendengaran

Kemampuan mendengar penderita presbikusis akan berkurang secara berangsur, biasanya terjadi bersamaan pada kedua telinga. Telinga menjadi sakit bila lawan bicaranya memperkeras suara. Selain itu penderita presbikusis juga mengalami kesulitan dalam memahami percakapan terutama di lingkungan bising, hal ini disebabkan oleh berkurangnya kemampuan membedakan (diskriminasi) suku kata yang hampir mirip (KPGPKUL, 2011).

Psikologi pendidikan orang dewasa
Psikologi pendidikan orang dewasa

Penurunan fisiologi pendengaran disebabkan penurunan kepekaan terhadap frekuensi yang berbeda seiring dengan pertambahan usia terutama rentang frekuensi yang didengar. Ia pun juga menguatkan melalui teori frekuensi tentang pendengaran bahwa area yang berbeda dari membran basilar merespon frekuensi yang berbeda pula, hal tersebut karena keseluruhan membrane basilar bertindak sebagai microphone, bergetar sebagai suatu keseluruhan respon terhadap suatu suara.

Sebagai contoh pada saat lansia mengajukan pertanyaan kepada pemateri, kemudian pemateri menjawab dengan cukup jelas pada orang muda oleh lansia diminta untuk diulang dan berbicara lebih keras.

2. Jarak Penglihatan

Rabun jauh memiliki titik dekat penglihatan kurang dari 25 cm dan titik jauh dalam jarak tertentu. Mereka dapat melihat dengan jelas benda-benda yang berjarak sekitar 25 cm. Tetapi mereka tidak dapat melihat benda-benda berjarak jauh. Hal ini disebabkan karena lensa mata penderita rabun jauh tidak dapat menjadi lebih pipih sehingga benda-benda yang berjarak jauh bayangannya terbentuk di depan retina. Sedangkan rabun dekat mempunyai titik dekat penglihatan lebih dari 25 cm dan titik jauh penglihatan tak terhingga. Penderita rabun dekat dapat melihat dengan jelas keberadaan benda-benda berjarak jauh walaupun tanpa berakomodasi. Namun sayangnya mereka tidak dapat melihat benda-benda berjarak dekat sehingga membutuhkan alat bantu penglihatan.

Dengan bertambahnya usia, titik-dekat penglihatan, atau titik terdekat yang dapat dilihat secara jelas, mulai bergerak makin jauh. Pada usia 20 tahun seseorang dapat melihat jelas suatu benda pada jarak 10 cm dari matanya, namun pada usia 40 tahun titik dekat penglihatan itu sudah menjauh sampai 23 cm. Pada orang tua, rabun dekat merupakan bagian dari proses penuaan yang secara alamiah dialami oleh hampir semua orang. Penderita akan menemukan perubahan kemampuan penglihatan dekatnya pertama kali pada pertengahan usia empat puluhan.

Contohnya seorang ibu yang membaca resep pada sebuah majalah yang tulisannya tidak terlalu besar. Maka perlu dijauhkan maupun didekatkan agar dapat dibaca dengan jelas.

3. Kemampuan Merespon Warna

Sel batang adalah reseptor yang tipis dan berbentuk silinder yang sangat sensitif terhadap cahaya. Sel kerucut adalah reseptor yang berbentuk kerucut dan peka terhadap cahaya, serta bertanggung jawab untuk fokus yang jelas dan persepsi warna, terutama pada cahaya yang terang. Sel batang dan kerucut ini tersebar secara tidak merata di seluruh bagian retina. Sel kerucut terkonsentrasi pada bagian tertentu yang disebut fovea. Fovea adalah bagian yang sangat sensitif dari retina. Sel kerucut terutama bertanggung jawab untuk memfokuskan persepsi warna secara lebih jelas, terutama dalam situasi cahaya yang terang dan mampu melakukan adaptasi terang atau proses menyesuaikan dengan cahaya terang setelah berada pada cahaya gelap lebih cepat yaitu hanya dalam waktu kurang lebih dari satu menit. Sedangkan sel batang memerlukan waktu 20 – 30 menit untuk adaptasi gelap atau proses menyesuaikan diri dengan kondisi gelap.

Berdasarkan pernyataan tersebut dapat di analisis bahwa peserta didik mengalami ketidaknyamanan dalam melihat warna kontras disebabkan oleh penurunan fungsi atau degenerasi sel kerucut. King (2010) menambahkan bahwa penurunan fungsi pada kedua sel reseptor tersebut mengakibatkan penurunan atensi dan set persepsi peserta didik.

Contohnya orang lanjut usia menyebutkan warna biru dengan warna hijau, kemudian beberapa kasus juga menyebutkan lansia sulit membedakan antara warna silver dengan warna abu-abu.

4. Gangguan konsentrasi

Penurunan konsentrasi belajar adalah penurunan pemusatan perhatian dalam proses tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan dan penilaian terhadap atau mengenai sikap dan nilai-nilai pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai bidang studi. Konsentrasi belajar yang menjadi salah satu aspek penting bagi penerima dalam memahami dan mengerti suatu pembelajaran, tercermin melalui setiap tingkah laku (behavior) yang dilakukan.

Penurunan kemampuan proses penilaian menyebabkan penurunan kemampuan untuk meregulasi perilaku individu melalui proses mediasi kognitif akibatnya peserta didik tidak / kurang mampu menyadari diri secara reflektif dan juga seberapa berharga tindakannya berdasarkan tujuan yang telah dibuat untuk dirinya. Lebih spesifiknya lagi, proses penilaian bergantung pada standar pribadi, performa rujukan, pemberian nilai pada kegiatan dan atribusi terhadap performa.

Contohnya adalah semakin tinggi pohon maka angin yang meniupnya akn semakin kencang, dapat diartikan sebagai orang dewasa pasti memiliki tanggungjawab lebih berat dari pada orang muda. Dapat dibuktikan ketika orang dewasa mengikuti pelatihan terdapat orang-orang dewasa yang melamun. Dapat diperkirakan orang tersebut sedang memikirkan masalah yang dihadapi, oleh sebab itu sulit konsentrasi terhadap materi pelatihan yang diberikan.

Hambatan Psikologis

1. Perlu motivasi bukan kegiatan diajar.

Motivasi merupakan faktor yangmengarahkan dan memberikan energi pada tingkah laku manusia dan organisme lainnya karena memiliki aspek biologis, kognitif dan sosial, serta kompleksitas.

Banyak orang dewasa yang merasa sudah tua yakin bahwa mereka lebih sukar dilatih. Mereka kurang bisa menyesuaikan diri dengan perubahan dan terlalu  tua untuk belajar. Sifat ini akan lebih menekan apabila mereka diperlakukan seperti anak-anak. Orang tua yang diperlakukan seperti anak-anak akan menimbulkan banyak masalah seperti motivasi yang rendah, serta bakan dan pengalaman mereka tidak dapat dimanfaatkan dan dikembangkan.

Faktor penyebabnya motif adalah faktor yang menyebabkan individu bertingkah laku atau bersikap tertentu. Ekspektasi atau harapan adalah adanya kekuatan dari kecenderungan untuk bekerja secara benar tergantung pada kekuatan dari pengharapan bahwa kerja akan diikuti dengan pemberian jaminan, fasilitas dan lingkungan atau outcome yang menarik. Insentif adalah perangsang yang menjadikan sebab berlangsungnya kegiatan, memelihara kegiatan agar mengarah langsung kepada satu tujuan yang lebih baik dari yang lain.

Contohnya ketika seorang lanjut usia berkeinginan belajar untuk membuat sebuah karya sering terhambat karena motivasi yang kurang seperti berfikir sudah lanjut usia kurang produktif lagi.

2. Kebutuhan menjadi kemauan belajar

Salah satu prinsip belajar orang dewasa adalah belajar karena adanya suatu kebutuhan. Kebutuhan yang paling dasar adalah kebutuhan fisik atau sandang / pangan. Sebelum seseorang merasakan kebutuhan fisik berupa sandang, pangan, dan papan, maka setiap individu belum membutuhkan atau merasakan apa yang dinamakan sebagai harga diri. Setelah kebutuhan dasar itu terpenuhi, maka seseorang perlu rasa aman jauh dari rasa takut, kecemasan, dan kekhawatiran. Apabila rasa aman telah terpenuhi, maka setiap individu butuh penghargaan terhadap hak azasi dirinya yang diakui oleh setiap individu di luar dirinya. Jika kesemuanya itu terpenuhi barulah individu itu merasakan mempunyai harga diri.

Orang dewasa hanya akan belajar kalau terlihat adanya atau sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhannya. Setiap individu orang dewasa dapat belajar secara efektif bila setiap individu mampu menemukan makna pribadi bagi dirinya dan memandang makna yang baik itu berhubungan dengan keperluan pribadinya.

Sebagai contoh petani ikan harus belajar tentang berbagai penyakit ikan dan cara mengatasi penyakit tersebut agar ikan hasil budidayanya tetap terjaga kualitasnya.

3. Menjadikan pengalaman sebagai harta yang berharga

Pengalaman merupakan sumber terkaya dalam pembelajaran sehingga orang dewasa semakin kaya akan pengalaman dan termotivasi untuk melakukan upaya peningkatan hidup. Dengan belajar orang dewasa akan mendapatkan pengalaman yang lebih banyak lagi.

Individu tumbuh matang akan mengumpulkan sejumlah besar pengalaman dimana hal ini menyebabkan dirinya menjadi sumber belajar yang kaya, dan pada waktu yang sama memberikan dia dasar yang luas untuk belajar sesuatu yang baru. Oleh karena itu, dalam teknologi andragogi terjadi penurunan penggunaan teknik transmital seperti yang dipakai dalam pendidikan tradisional dan lebih-lebih mengembangkan teknik pengalaman (experimental-technique).

Penyebab dari hal tersebut adalah orang dewasa kurang maksimal dalam memahami sebuah teori baru, akibatnya mudah lupa dan dilupakan tetapi apabila sudah pernah melakukan, maka teori itu akan cepat dipahami. Oleh sebab itu, latar belakang pendidikan, latar belakang kebudayaan, dan pengalaman masa lampau masing-masing individu dapat memberi warna yang berbeda pada setiap keputusan yang diambil.

Contohnya orang dewasa yang dituntut untuk menguasai alat elektronik oleh pekerjaannya, maka harus bisa menguasainya. Tetapi karena memang sudah berfikiran menggunakan media elektronik susah dan sejak masih muda tidak pernah berjibaku dengan alat elektronik seringkali akan lama untuk fasih dalam menggunakan media elektronik tersebut.

4. Orang dewasa menganggap belajar msebagai individualisme

Proses pembelajaran orang dewasa merupakan hal yang unik dan khusus serta bersifat individual. Setiap individu orang dewasa memiliki strategi sendiri untuk memperlajari dan menemukan pemecahan masalah yang dihadapinya dalam pembelajaran tersebut. Dengan adanya peluang untuk mengamati cara atau strategi individu lain dalam belajar, diharapkan hal itu dapat memperbaiki dan menyempurnakan caranya sendiri dalam belajar, sebagai upaya koreksi yang lebih efektif. Sebagai contoh, antara orang dewasa satu dengan orang dewasa lainnya memiliki kemampuan daya tangkap masing-masing yang berbeda.

Terlepas dari benar atau salahnya, segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan, teori, sistem nilainya perlu dihargai. Tidak menghargainya, maka akan mematikan gairah belajar orang dewasa. Namun demikian, pembelajaran orang dewasa perlu pula mendapatkan kepercayaan dari pembimbingnya, dan pada akhirnya mereka harus mempunyai kepercayaan pada dirinya sendiri. Tanpa kepercayaandiri tersebut, maka suasana belajar yang kondusif tak akan pernah terwujud.

Contohnya memang dalam sebuah pendidikan pasti terdapat sebuah tugas dan ujian yang sifatnya mandiri. Mandiri dapat diartikan karya sendiri tanpa campur tangan dari orang lain. Sebagian orang dewasa berdalih bahwa tugas mandiri tidak menciptakan suasana kerjasama. Dan ujian dapat mengakibatkan sebuah diskriminasi kepada yang endapat peringkat rendah.

#3. Perilaku yang Menghambat

1. Sebagai orang dewasa selalu ingin dihormati

Sikap saling menghormati merupakan bagian dari pendidikan di mana merupakan upaya untuk memperbaiki karakter bangsa dengan cara memberikan harga atau memberikan penilaian yang baik karena suasana saling menghormati atau menghargai tersebutmuncul karena setiap orang (termasuk sasaran pendidikan dan pendidik) ingin dihargai.

Adanya keinginan untuk dihargai tersebut muncul karena kodrat manusia itu sendiri di mana kodrat tersebut merupakan kata kunci utama munculnya keinginan untuk di hormati terutama dalam berkomunikasi saat mendidik orang dewasa, yaitu orang terutama tertarik pada diri mereka sendiri, bukan pada orang lain, dengan kata lain, orang lain sepuluh ribu kali lebih tertarik pada dirinya sendiri daripada orang lain (lawan bicara) di dunia ini dan hal tersebut akan tetap berlaku sampai akhir zaman, karena manusia di tempatkan di bumi dengan kodrat seperti itu.

Contoh pada kasus ini adalah ketika orang dewasa belajar dengan tentor yang lebih muda dan kemudian tentor memberikan tugas dengan tutur kata yang dirasa kurang sopan, maka perasaan jengkel dan kesal pasti ada karena merasa kurang dihormati sebagai orang yang lebih tua dari tentor tersebut.

2. Keinginan untuk aktif dalam proses pendidikan yang terhambat.

Aktif secara fisiologi artinya sasaran pendidikan aktif secara jasmaniah atau berkaitan dengan faktor – faktor fisik antara lain pendengaran, penglihatan, struktur tubuhnya, sedangkan aktif secara psikologi adalah sasaran pendidikan aktif secara non – fisik di mana terdiri atas faktor intelektif dan faktor non – intelektif. Faktor intelektif meliputi (1) faktor potensial yaitu kecerdasan dan bakat; (2) faktor kecakapan nyata berupa prestasi yang telah di miliki sedangkan faktor non – intelektif berupa (1) unsur – unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi dan penyesuaian diri; (2) faktor kematangan fisik maupun psikis; (3) faktor lingkungan spiritual dan keamanan. Emosi merupakan perasaaan yang secara umum memiliki elemen fisiologis dan kognitif serta memengaruhi perilaku terutama dalam proses pembelajaran, dalam hal ini adalah terjadinya reaksiintingtif terhadap kejadian tubuh yang terjadi sebagai respon terhadap beberapa situasi atau kejadian lingkungan.

Sebagai manusia pasti memiliki kemauan dan kemampuan dalam kompetisi dalam rangka peningkatan kompetensi individu. Dapat diperkirakan contoh dalam kasus ini, dalam sebuah kelompok belajar orang dewasa seringkali ada yang siap menyampaikan jawaban, aspirasi dan menerima tantangan dari tentor/ kompetitor lain tetapi terbatasi waktu, anggota belajar dan gagasan yang ingin dimunculkan.

3. Mengharapkan yang cepat dan praktis tetapi harus memecahkan sendiri

Orang dewasa kecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan problem kehidupan (problem centered orientation), hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-olah merupakan kebutuhna untuk menghadapi problem hidupnya. Pada orang dewasa perspektif waktu belajarnya lebih bersifat segera mengambil manfaat atau aplikasi diri sesuatu yang dipelajari.

Suatu kegiatan pendidikan orang dewasa, apabila metode yang diterapkan pendidik/penyelenggara tidak terlalu berkenan di hatinya atau tidak memenuhi harapannya, maka diantara kemungkinan reaksi yang timbul salah satunya “Anda kan ahli, katakan bagaimana mestinya” Reaksi ini muncul karena diharapkan mendapatkan resep atau pemecahan masalah yang lengkap tanpa menyadari orang dewasa seharusnya mampu memecahkan masalahnya sendiri.

Contohnya orang dewasa ketika diberikan tugas sebuah penelitian ilmiah tentang pembuatan bioteknologi dari algae. Dapat diperkirakan bahwa pada orang dewasa yang tidak mau repot dan menunggu lama sering kali menggunakan jasa orang lain untuk mengerjakan atau membeli dalam bentuk setengah jadi supaya prosesi penelitian cepat terselesaikan.

4. Keraguan akan ilmu, apakah dapat diterapkan atau tidak.

Untuk menghindari terjadinya skeptis tersebut maka antar penyuluh perlu memahami dan menerapkan cara terampil meyakinkan orang. Caranya adalah anda tidak membuat pernyataan itu secara langsung, melainkan mengutip seseorang. Ia juga menambahkan bahwa agar pendidik tidak merasa ragu apakah materi yang diajarkan sesuai maka perlu melakukan regulasi diri yaitu dengan cara memotivasi diri untuk menyusun tujuan – tujuan pribadi, merencanakan strategi serta mengevaluasi dan memodifikasi perilaku yang akan mereka lakukan, tetapi juga menghindari lingkungan dan impuls emosional yang akan mengganggu perkembangan seseorang.

Seseorang akan merasa cemas jika tidak memiliki konstruk, ketika seseorang telah “kehilangan peganganstrukturalnya pada peristiwa, ketika seseorang terjebak dalam konstruk yang buruk”. Orang melindungi dirinya dari kecemasan dalam berbagai caradiantaranya individu mungkin memperluas suatu konstruk dan memudahkannya untuk bisa diaplikasikan pada berbagai jenis peristiwa, atau mereka mungkin membatasi konstruk mereka dan berfokus pada detail tertentu.

Ketidakselarasan antara harapan peserta didik dengan harapan penyelenggara menimbulkan keraguan. Keraguan (skeptis) tersebut biasanya sering di alami oleh penyelenggara / pendidik / penyuluh apakah materi yang di ajarkan pada peserta sesuai atau tidak dengan harapan peserta didik, hal tersebut keraguan muncul karena diawali dari kecemasan.

5. Mengaharapkan memunculkan jati diri.

Suasana pendidikan harus di arahkan agar peserta didik menemukan katakunci diri mereka, dengan dua cara pertama adalah mendeteksi diri apakah peserta sudah mengalami perubahan signifikan menuju arah yang sesuai atau mengalami penurunan dan kedua adalah arahkan peserta untuk mengikuti perubahan luar dengan cara perlahan – lahan mengubah kebiasaan dari segala sesuatu yang diperlukan hingga pada akhirnya sepenuhnya berubah mengikuti alur irama baru selanjutnya adalah pendidik harus melihat passion atau sesuatu kegiatan atau aktivitas membuat peserta didik merasa senang, rela mengorbankan waktu, tenaga dan dana untuk melatihnya sehingga pendidik dapat mengarahkan peserta peserta didik sesuai minat dan bakatnya.

Fiest dan Fiest (2010) menyarankan untuk menemukan hakikat jati dirinya secararasional pendidik perlu memberikan penghargaan diri yang positif. Penghargaan positif itu didefinisikan sebagai pengalaman menghargai diri sendiri. Hal tersebut harus diyakini oleh pendidik bahwa menerima penghargaan positif dari orang lain diperlukan dalam memberikan penghargaan positif pada diri sendiri.

Contohnya peserta didik dari kalangan mantan nara pidana membutuhkan sebuah power atau kekuatan untuk membalikkan keadaan agar bisa menyesuaikan kembali dengan lingkungan sekitar selepas dari jeruji besi, yaitu dengan menentukan jati diri yang baru agar lebih bisa diterima di tengah-tengah masyarakat.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *