PUASA

PUASA

Setiap ibadah yang disyari`atkan Allah kepada manusia pasti terkandung makna, yakni manfaat yang kembali kepada orang yang melakukan baik langsung maupun tidak langsung. 

Allah mengetahui apa yang manusia butuhkan, namun kadang kala keinginan manusia tidak selalu sama denggan apa yang Allah berikan. Allah memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Oleh karena itu dalam syari`at pasti ada manfaat sedangkan disetiap sesuatu yang bermanfaat menurut pandangan manusia belum tentu hal tersebut sesuai syari`at.

Terkadang manusia tidak mampu menemukan manfaat dari sebuah ibadah yang disyari`atkan Allah. Dianggapnya ibadah ini menyusahkan diri dan fisiknya serta membuang-buang waktu. Namun seiring dengan kedewasaan dan ilmu seseorang serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi manfaat ibadah akan tampak dimata kita.

Salah satunya adalah ibadah puasa. Allah telah menempatkan ibadah ini sebagai ibadah istimewa, sebab banyak makna dan hikmah mendalam yang terkandung didialamnya. Orang awam hanya memandang puasa sebagai aktifitas yang memperlemah diri, mengurangi produktivitas, menghambat kemajuan atau membuat malas. Padahal, puasa adalah ibadah istimewa yang membawa banyak manfaat bagi orang yang mengerjakannya baik secara fisik, ruhani, dan perjalanan hidupnya dikemudian hari.

B. Pembahasan
1. Pengertian Puasa
a. Menurut bahasa 
Puasa (shaum) pada dasarnya berarti menahan diri dari melakukan suatu perbuatan, baik makan, berbicara maupun berjalan.
b. Menurut Agama
Arti puasa menurut agama adalah bentuk menahan yang khusus pada waktu yang khusus dengan cara yang khusus pula. 
c. Menurut syara`
Shaum menurut syari`at, adalah:
امساك كمخصوص : وهو الامساك عن الاكل والشرب والجماع وغيرهاعلي وجه الشريعة

Menahan secara, yakni menahan dari makanan dan minum,nikah (bersenggama) dan lain-lain sesuai dengan cara yang di syari`atkan. 
Makna puasa secara syar`i yaitu menahan dan mencegah diri secara sadar dari makan, minum, bersetubuh dengan perempuan dan hal-hal semisalnya, selama sehari penuh. Yakni dari kemunculan fajar hingga terbenamnya matahari, dengan niat memenuhi perintah dan taqarub kepada Allah swt. 
Sebenarnya kaum Muslimin seharusnya lebih memasyarakatkan istilah  shaum daripada puasa. Sebab, puasa berasal dari bahasa Sansekerta dengan arti yang berbeda dengan puasa kaum Muslimin. Namun demikian, karena mayoritas dan sudah membudaya beratus-ratus tahun, istilah puasa menjadi istilah yang dimiliki oleh kaum Muslimin dengan pengertian sama dengan shaum. 

2. Syarat Puasa
Para ulama ahli fiqih membedakan syarat-syarat puasa atas:
a. Syarat wajib puasa, meliputi:
1) Dewasa  dan Berakal 
Perintah Allah mengenai puasa memang menyangkut kepada semua orang beriman. Tapi ada beberapa pengecualian. Diantaranya puasa hanya diwajibkan kepada mereka yang sudah dewasa dan sehat akalnya. Mereka yang belum baligh, puasanya belum dihitung, hanya latihan saja, dan jika mereka anak-anak yang belum baligh itu dididik orangtuanya, maka orang tua itulah yang mendapat pahalanya. Anak kecil dan orang gila tidak diwajibkan berpuasa, karena Rasulullah saw. sendiri yang menyatakannya. Beliau bersabda:
“Diangkat pena ( artinya tidak dicatat perbuatan mereka) atas tiga golongan. Anak kecil hingga ia dewasa, orang yang tidur hingga bangun, dan orang gila ia sembuh.” (HR Abu Dawud, an Nasa`i, dan Ibnu Majah) 
Anak laki-laki yang sudah dewasa ditandai dengan mimpi basah, atau kurang lebih berusia 15 tahun. Sedangkan anak wanita ditandai dengan haid atau menstruasi, kurang lebih sekitar umur 12 tahun. Namun demikian, sejak umur tujuh tahun sudah harus dilatih untuk berpuasa jika sudah kuat. Kemudian dipastikan ketika sudah berumur 10 tahun mereka melaksanakannya secara penuh, sehingga ketika mereka memasuki usia dewasamereka sudah terbiasa melakukan berbagai macam ibadah termasuk puasa.  
Demikian pula orang yang hilang ingatan. Ia tidak wajib berpuasa hingga ingatannya kembali normal. Ketika sudah sehat, menjadi wajib berpuasa namun tidak perlu mengqadha (mengganti) puasa yang ditinggalkannya ketika masa hilang ingatan. Sedangkan jika seseorang Cuma pingsan untuk beberapa hari, maka iatidak diwajibkan puasa, hanya saja ketika siuman ia harus mengganti puasanya sejumlah hari yang ditinggalkan.
Firman Allah dalam surat Al baqarah: 184, yaitu:
“ (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.

2) Kuat berpuasa (qadir)
Orang yang tidak kuat berpuasa baik karena tua atau sakit yang tidak dapat diharapkan sembuhnya, tidak dawajibkan atasnya berpuasa tapi wajib membayar fidyah. 
b. Syarat sah puasa, mencakup:
1) Islam 
Perintah Allah mewajibkan puasa ada di Al Qur`an surah al-Baqarah. Allah swt. Berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (al Baqarah: 183)
Diawal surat tersebut yang diseru adalah orang-orang yang beriman. Artinya orang yang menyatakan dirinya beriman kepada Allah dan Rasulullah saw. berarti wajib menjalankan puasa. Ringkasnya, yang wajib berpuasa dalah orang yang beragama islam, orang kafir tidak wajib. 
2) Mumayiz (mengerti dan mampu membedakan yang baik dengan yang tidak baik).
3) Suci dari haid, nifas dan wiladah
Untuk berpuasa perempuan disyaratkan bersih dari haid dan nifas. Begitu seorang perempuan haid atau nifas maka ia tidak sah berpuasa hingga bersih darinya. Diharamkan puasa atasnya adalah karena kasih sayang dalam rangka memelihara kondisi tubuhdan syarafnya, bukan karena rukhsoh yang berlebihan dalam rangka menjaga kesehatan tubuh dan jiwanya. 
Orang yang haid dan nifas harus mengqadha puasa, tetapi tidak ada qadha salat. Aisyah pernah ditanya tentang ini, ia menjawab, “Kami diperintahkan untuk mengqadha puasa, tetapi tidak diperintah untuk mengqadha salat”. (HR. Muslim) 
Kata-kata “diperintah”, mengandung maksud bahwa Nabi saw pernah memerintahkan kami untuk itu. Beliaulah pemegang otoritas perintah secara mutlak. Hikmah diperintahkannya qadha puasa dan bukan qadha salat adalah karena salat dikerjakan berulang-ulang sehingga qadha memberatkan. Berbeda dengan puasa yang hanya deiwajbkan setahun sekali. 
Jika seorang yang haid suci di tengah hari dengan arti darah tidak keluarlagi maka ia dianjurkan untuk berpuasa di sisa harinya, bukan diharuskan. Namun ada sebagian ulama yang mewajibkannya menahan diri atau berpuasa. Pendapat pertama itulah yang benar. 
Nifas dan wiladah disamakan dengan haid. Bedanya bila sang ibu itu menyusui anaknya ia boleh membayar fidiyah.

4) Dikerjakan dalam waktu atau hari diperbolehkan puasa.
3. Halangan Berpuasa
a. Orang yang sakit dan orang yang dalam bepergian
Orang yang diwajibkan menjalankan puasa adalah orang yang mampu dan kuat melaksanakannya. Jika mereka yang sedang  sakit. Baik sementara maupun permanen dan orang tua yang sudah tidak kuat berpuasa maka tidak diwajibkan bagi mereka untuk berpuasa. Namun jika sakitnya sementara, artinya ada kemungkinan sembuh maka ia boleh meninggalkan puasa, tetapi ketika ia sudah sembuh ia wajib mengqadha puasa yang ditinggalkannya.
Mereka yang bepergian alias musafir boleh tidak berpuasa. Dalam hal ini musafir diberikan kebebasan memilih apakah ia mau berpuasa atau berbuka. Hanya saja jika tidak berpuasa karena perjalanan maka ia harus mengqadha puasanya dihari yang lain seperti ayat 183 dalam surat Al Baqarah. Hal ini disampaikan Aisyah ketika mengatahu Hamzah bin Amar Al-aslami bertanya kepada Rasulullah, “Apakah saya harus berpuasa dalam perjalanan”(Hamzah termasuk orang yang banyak berpuasa). Nabi saw menjawab, “Terserah mana yang kamu suka, mau puasa boleh, tidak puasa juga boleh.” (HR. Bukhari dan Muslim) 
Tidak semua perjalanan membolehkan seseorang untuk berbuka. As Syaikh Abdul Fattah al Qadhi mengemukakan empat pendapat syarat perjalanan yang menjadikan puasa menjadi mubah bagi musafir, yaitu :
1) Perjalanan tersebut adalah perjalanan jauh yang memenuhi kriteria bolehnya meringkas sholat. Para ulama menetapkan jaraknya dua marhalah atau kurang lebih sekitar 85 km.
2) Hendaknya perjalanan itu dilakukan sebelum masuk waktu diwajibkannya puasa. Jika ia berangkat pada siang hari, maka hari itu ia wajib menyempurnakan puasanya. Sebab ketika puasa dimulai (fajar) dirinya masih berstatus muqim yang ketika itu tidak boleh membatalkan puasa.
3) Perjalanan itu adalah perjalanan mubah, bukan untuk maksiat.
4) Orang yang melakukan perjalanan tersebut mempunyai harapan dapat tinggal menetap, sehingga dapat meneruskan puasanya yang tertinggal dalam perjalanan itu. 

b. Orang yang merasa terlalu berat menjalankan puasa baik karena udzur ketuaannya ataupun karena sakit yang berkepanjangan, demikian pula bagi wanita hamil dan menyusui anaknya.
Bagi mereka yang tidak berpuasa karena tua dan kena penyakit berkepanjangan yang keduanya tidak perlu diqadha, tetapi mereka wajib membayar fidiyah sebanyak hari mereka tidak berpuasa. Fidiyah yang dimaksud adalah memberi makan fakir miskin dengan gandum, beras, kurma atau makanan lainnya. Banyak makanan yang diberikan kepada fakir miskin dalam hadits disebutkan 1 mud yakni sekitar ¾ liter beras. Rasulullah saw. menyatakan,
“Barang siapa yang telah lanjut usianya sehingga tidak mampu melaksanakan ibadah puasa, maka ia wajib membayar fidyah tiap-tiap satu hari satu gandum mud.”(HR. Bukhari) 
Menurut Ibnu Abbas termasuk orang yang berat untuk menjalankan puasa adalah selain orang yang telah lanjut usia juga wanita hamil dan menyusui. Pendapat ini dilatarbelakangi kaidah ushul bahwa “seseorang tidak boleh dibebani sesuatu yang tidak dapat dipikulnya”. 
Para ahli fiqih sepakat bahwa adalah hak bagi kedua perempuan yang hamil dan menyusui untuk berbuka. Tentang ini hadis Nabi saw. menyebutkan: “Sesungguhnya Allah mencabut puasa dan separo dari shalat musafir dan mencabut puasa dari perempuan hamil dan menyusui.” (HR. Nasa`i dan Ibnu Majah). 
Kewajiban keduanya setelah berbuka yaitu jika wanita tersebut mengkhawatirkan dirinya, yakni dirinya tidak mampu karena kepayahan, maka ia tidak wajib bayar fidiyah tetapi  tetap harus mengqadha puasanya. Jika yang dikhawatirkan adalah keselamatan bayinya, baik takut bayinya kurang gizi atau air susunya tidak mau keluar , maka fidiyah tersebut dibayarkan dan dirinya harus tetap mengqadha puasanya. Bagi wanita yang menyusui bayi orang lain, kewajiban fidiyah dibayarkan oleh orang tua si bayi.  
4. Perbedaan antara puasa orang Muslim dengan non Muslim
Puasa dalam islam merupakan ibadah yang unik, khas islam. Meskipun namanya sama, puasa orang islam berbeda dengan kaum-kaum lain. Adakah kaum lain juga ada aturan puasa? Jawabannya: ada. Al quran sendiri yang menyatakan hal itu ketika membahas perintah puasa Ramadhan. Allah swt berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al Baqarah: 183)
Yang dimaksud “orang-orang sebelum kamu” tentu adalah kaum lain, karena kaum Muslimin adalah umat terakhir dengan Nabi dan risalah terakhir. Berarti, orang Yahudi ada perintah puasa demikian pula orang Nasrani. Kita juga menyaksikan umat-umat lain ada syari`at puasa didalam agamanya, termasuk mereka yang beraliran animisme-dinamisme. 
Meskipun namanya sama tapi aturan puasa masing-masing agama berbeda. Islam aturannya jelas, yaitu menahan diri dari makan, minum da hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Agama lain ada yang berpuasa berhari-hari. Ada juga yang puasanya dalam hal memakan makanan yang disukainya saja, seperti sesorang menyukai daging maka puasanya adalah puasa tidak makan daging, tapi masih makan makanan lain. Ada banyak puasa, tapi puasa secara Islam Cuma satu.
Puasa dalam islam mempunyai makna yang mulia (khususnya puasa Ramadhan) dan dilaksanakan sekali dalam setahun untuk selam sebulan penuh tidak pandang orang berkabung atau Tuhan sedang memberi cobaan. Puasa dijalankan sebagai suatu ibadah kepada Allah untuk mencapai derajat `muttaqin`yaitu mencapai derajat rohani yang tinggi. Puasa dalam Islam merupakan arena dan metode untuk melatih disiplin tingkat tinggi bagi jasmani, akhlak dan rohani manusia. 
Nabi Musa a.s. diperintahkan melakukan puasa 40 hari terlebih dahulu sebagai syarat sebelum menerima Taurat. Pemimpin Bani Israil ini melakukan puasa dari tanggal 1 Dzulqa`dah sampai tanggal 10 Dzulhijjah. Puasa ini lalu dilakukan oleh rohaniawan diantara orang-orang Yahudi sampai kini. Mereka puasa hari kesepuluh pada bulan ketujuh menurut perhitungan mereka.  Alquran menyebutkan,
“ Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), Maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam… “. (Al A`raf: 142)
Bangsa-bangsa primitif yang tidak terjangkauoleh dakwah tiga agama besar (Yahudi, Nasrani dan Islam) pun ternyata melakukan puasa juga. Bangsa Mesir kuno misalnya, biasa melakukan puasa pada hari-hari besar mereka, sebagaimana kebiasaan para tokoh dan dukungan bangsa Mesir melakukan puasa 7 hari sampai 6 Minggu setiap tahunnya. 
Dalam agama Hindu, pengikut Brahma melakukan puasa selama 24 hari setahun atau 40 hari berturut-turut disertai dengan bacaan-bacaan kitab suci mereka. Pengikut Wisnu sangat berlebihan dalam puasanya. Ada yang tidur diatas paku menyiksa diri, berdiri terus tidak duduk, dan bahkan ada yang bergelimbungan dibawah terik matahari.
Para agama Biksu di Vietnam melakukan puasa sebagai protes terhadap orang atau bangsa lain yang dianggap berlaku tidak adil kepada mereka. Konon Mahatma Gandhi berpuasa selama 21 hari demi persahabatan dan persatuan atar umat Hindu dan Islam di India. 
Dalam masyarakat Jawa Kuno. Tradisi puasa sangat terkenal. Diantaranya ada puasa mutih (hanya memakan jenis makanan berwarna putih misalnya, nasi ptih, garam, dan lainnya). Ada puasa ngrowot (menghindari makan nasi putih). Puasa patigeni (berdian di ruangan tertutup yang gelap gulita dan tidak makan dan minum selama 3 hari 3 malam). Ada pula istilah puasa ngalong (tidak makan dan minum dengan menggelantungkan diri pada batang pepohonan di alam bebas). 
Uraian diatas menunjukkan tradisi puasa  didapati telah ada sejak lama, bahkan sejarahnya sangat tua, setua umur manusia itu sendiri. Hanya saja puasa dalam Islam konsep dan julukannya lebih konkret dan lebih elegan, sementara puasa mereka ketentuannya tidak baku, sehingga sering diubah-ubah oleh ulah tangan jahil sesuai dengan situasi dan kondisi. 

5. Hikmah Puasa
Beberapa pakar diantaranya Syekh Ali Ahmad al-Jarjawi yang merupakan salah satu jajaran ulama Al- azhar Kairo mengungkapkannya dalam buku Hikmatut Tasyrik wa Falsafatuhu. Didalam buku tersebut dikatakan bahwa ibadah puasa mengandung beberapa hikmah antara lain :
a. Ibadah puasa merupakan wujud rasa syukur kepada Allah karena ia merupakan ibadah yang diwajibkan. 
b. Puasa adalah alat untuk mengetes ketaatan dan amanah seorang Muslim.
c. Ibadah puasa dapat melepaskan diri manusia dari nafsu kebinatangan.
d. Sesungguhnya para dokter menyatakan bahwa manusia akan mampu makan dengan rakus dan tanpa batas.
e. Puasa dapat melemahkan nafsu sahwat.
f. Jika manusia dalam keadaan puasa ia akan merasakan panasnya lapar, sehingga membuahkan rasa kasih sayang kepada fakir miskin yang tidak mendapati pangan yang bisa menutup lapar dan dahaganya. 


DAFTAR PUSTAKA

Daradjat, Zakiyah. 1995.  Ilmu Fiqh Jilid I. Yogyakarta: Dhana Bakti Wakaf 

Faridl, Miftah. 2007. Puasa Ibadah Kaya Makna. Jakarta: Gema Insani.

Qardhawi, Yusuf. 2001. Fiqih Puasa. Surakarta: Intermedia Surakarta

Shofwan Sholehudin, Wawan. 2004. Risalah Shaum. Bandung: Taffakur Bandung

Loading...
About Tohir 839 Articles

Kalo satu lidi bisa patah dengan mudah, tapi seratus lidi yang bersatu akan sangat susah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*